
Di kantor Sailis Group, hari itu Tuan Adelio sedang ada meeting bersama beberapa direktur perusahaan untuk membahas mall yang akan mereka bangun di tengah Kota. Wenda yang sebagai sekertaris Direktur perusahaan Sailis Group kini ikut mendampingi meeting tersebut.
Di ruang meeting sudah tampak beberapa para petinggi yang terlihat begitu antusias melihat kedatangan Direktur Sailis Group. Dengan cepat mereka menyambut kedatangannya dengan berdiri kemudian menunduk hormat. Sementara Wenda yang baru saja masuk seketika membuat fokus salah satu direktur dari perusahaan itu menjadi buyar.
Beberapa kali matanya terus melirik ke arah Wenda tanpa mendengarkan paparan yang di terangkan oleh Tuan Adelio. Tuan Adelio yang menyadari tatapan pria itu seketika berdehem, “Ehem.”
Mendengar suara itu kini pria itu tampak panik memperbaiki pandangannya dan berusaha fokus menatap Tuan Adelio. Meskipun itu sangat terlambat tentunya, meeting hari itu sepertinya tidak berjalan dengan lancar.
“Baiklah, meeting hari ini kita bahas sampai di sini. Minggu depan kita akan lanjutkan lagi.” ucap Tuan Adelio yang menutup berkas di tangannya.
Semua yang ada di ruangan itu segera meninggalkan tempat dan terakhir pria itu yang baru saja mau beranjak dari kursinya. “Berhenti!”
Adelio yang berteriak sedikit menggema di telinganya. “A-da
apa Tuan?” tanyanya.
“Apa yang kau lihat dari sekertarisku? Sampai kau tidak fokus mendengarku berbicara.” ucap Tuan Adelio.
Wenda yang sudah sejak tadi keluar karena mendapat perintah dari Tuan Adelio merasa gelisah di ruang kerjanya. Tentu ia masih sangat mengingat siapa pria itu, dia adalah salah satu pria yang beberapa kali berhubungan dengannya. Dan tentu bukan karena ingin mendapatkan bayaran, melainkan untuk kepuasannya.
“Bagaimana ini? Apakah pekerjaanku akan berakhir sampai di sini?” gumam Wenda yang merasa sangat gelisah. Tangannya bergemetar ketakutan rasa malu sudah menjalar di sekujur tubuhnya menahan cercaan dari mulut Direkturnya tentu sangat menyakitkan. Fikirannya sudah berlarian di kepala Wenda. Bayangan wajah Adelio yang memecatnya dengan tawa penuh hinaan sudah terus menghujani kepala gadis itu.
Seketika penyesalan Wenda kembali merasuki jiwanya, kepercayaan dirinya kini sudah hilang bersama dengan datanganya waktu yang mempertemukan dia dengan pria masa lalunya.
“Pergi kau!” Suara yang terdengar kasar dari ruang meeting. Wenda yang mendengar suara itu berlari di ikuti dengan beberapa karyawan di kantor itu. Kegaduhan di ruang tengah membuat semuanya tampak penasaran begitu pun dengan Wenda. Tubuhnya sudah bergemetar hebat menahan rasa takut dan malunya yang kapan saja siap meledak.
Matanya terkejut melihat pria yang baru saja keluar dari ruangan tampak memar di sudut bibir kirinya dengan berlari cepat ia keluar meninggalkan kantor itu. Matanya yang tajam masih sempat menangkan tatapan Wenda yang berdiri di sampingnya. Wenda merasa bingung dengan apa yang baru saja ia lihat.
__ADS_1
Langkahnya terhenti ketika ingin masuk kembali ke ruang meeting karena melihat Tuan Adelio yang sudah menatap tajam ke arahnya. Nafasnya yang memburu terlihat dengan gerakan dadanya yang begitu cepat.
“Ikut ke ruangan!” ucap Tuan Adelio saat melewati Wenda yang berdiri mematung.
Wenda yang meuruti perintah Tuan Adelio hanya menunduk dan melangkah cepat di belakang pria itu. Tubuhnya sedikit menahan gemetar yang terus membuatnya kehilangan ketenangan. Di dalam ruangan Tuan Adelio yang duduk di kursinya terus menatap Wenda dengan dalam. Merasa mendapat tatapan yang aneh Wenda dengan berani melontarkan pertanyaan.
“Ada apa, Tuan?" tanyanya dengan sedikit ragu.
“Berani sekali pria itu menghina pekerjaku, dia mengatakan kau wanita pemuas. Apa maksudnya?” gerutu Tuan Adelio yang tampak membela Wenda.
“Apa, dia membelaku? Apa aku tidak salah dengar?” gumam Wenda yang sambil menatap bingung pada pria di hadapannya.
Tuan Adelio yang menyadari tatapan kagum dari Wenda seketika tersadarkan dan kembali dengan wajah angkuhnya. “Jangan berfikir aku membelamu, aku hanya tidak suka jika pekerjaku di rendahkan perusahaan lain.” lanjutnya.
“Ba-ik Tuan, terimakasih.” jawab Wenda yang merasa kesal.
Tidak ada yang tahu kebenarannya apakah Tuan Adelio benar hanya ingin membersihkan nama baik perusahaannya atau ada maksud tersendiri dengan kemarahannya saat mendengar nama Wenda di lecehkan.
“Sepertinya dia tertipu dengan mulut manisnya wanita jal*ng itu.” Ucap pria yang baru saja masuk ke mobilnya meninggalkan gedung Sailis Group.
***
“Kalau kau masih tidak bisa menjaga jarak dengan pria itu, biarkan aku yang akan memberinya jarak padamu.” ancam Alfy yang kini berdiri menatap tajam ke arah Jee di dalam kamar sambil duduk di sofa dengan menundukkan kepalanya.
“Aku sama sekali tidak dekat dengannya, aku selalu menjauh darinya, sayang.” jelas Jee yang merasa ketakutan.
“Panggil dia kemari sekarang.” pintah Alfy yang membuat Jee seketika terkejut tidak percaya. Matanya membulat dengan sempurna memandang tubuh tinggi suaminya yang berdiri di hadapannya. Seakan dalam hatinya berkata untuk apa memanggil pria asing ke rumahnya apa Alfy akan melakukan sesuatu yang bodoh lagi.
__ADS_1
“Sekarang?” tanya Jee yang tampak tidak yakin.
Alfy yang tidak ingin menjawab hanya terdiam dan berkacak pinggang sambil memasang wajah emosinya.
Jee yang segera mengirimkan pesan singkat pada Ravindra tampak merasa malu karena sudah berani mengambil nomor ponselnya dari panitia olimpiade tanpa seizinnya.
“Halo.” Terdengar suara pria dari seberang sana.
“Em iya, ini Ravindra yah?” tanya Jee dengan sedikit ragu karena Alfy yang memandangnya begitu tajam ketika mendengar istrinya menyebut nama pria lain.
“Iya. Sepertinya aku mengenal suara ini?” Ravindra yang tampak menebak-nebak jika itu suara wanita impiannya.
Jee yang merasa tidak ingin berlama-lama komunikasi segera berbicara tanpa basa basi ia menyuruh pria itu untuk datang mengunjungi rumahnya. Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut wanita itu, seketika hati Ravindra bergetar hebat. Ia tidak percaya jika Jee memiliki sifat seagresif itu padanya.
Tanpa menunggu lama Ravindra segera bersiap dan berlari menuju mobilnya. Mobil mewah itu melaju dengan cepatnya menuju alamat yang sudah Jee sebutkan saat di telfon tadi. Selama perjalanan Ravindra terus tersenyum-senyum malu, ternyata selama ini salah berfikir jika Jee adalah wanita yang sulit untuk ia dekati.
Tidak butuh waktu lama untuk Ravindra tiba di alamat itu, perlahan ia turun dari mobilnya dan memasuki rumah yang tampak mewah. Seketika langkahnya terhenti memperhatikan seluruh sudut rumah itu. Masih tidak percaya dengan bangunan yang sangat megah, tiba-tiba seorang pelayan datang menghampirinya.
“Tuan, silahkan masuk.” Ucap Bi Ria dengan ramah. Alfy tentu sudah memerintahkannya untuk mengajak Ravindra masuk. Belum sempat ia menyapa Jee yang ada di sofa seketika matanya terkejut ketika melihat Alfy yang tengah tidur di pangkuan Jee.
“Apa maksud mereka sedekat ini? Apa itu wajar jika seorang Kakak laki-laki sedekat itu dengan adiknya?” ucap batin Ravindra yang tampak mengira-ngira.
Sementara Alfy yang melihat respon terkejut Ravindra hanya tersenyum sinis tanpa menyapa padanya.
“Masuk, Rav.” Ucap Jee yang terlihat canggung dengan suasana di ruangan itu.
Perlahan langkah Ravindra mendekat dan ikut duduk di sofa namun tidak begitu dekat dengan jarak Alfy dan Jee yang masih bermesraan.
__ADS_1
“Ada apa Jee kau memanggilku kemari?” tanya Ravindra yang berusaha memecah ketegangan di antara mereka.