
Di perjalanan menuju restoran Delon terus tersenyum kecil membayangkan tingkah wanita tadi yang saat ini sudah berada di sampingnya terdiam tanpa kata.
"Sya, kamu kenapa?" tanya Delon memecahkan keheningan.
"Em tidak apa-apa kok," jawab suster Syanin dengan malu.
"Sudahlah jangan malu padaku itu bukan hal yang memalukan," Delon berusaha membuat wanita itu percaya diri lagi.
Akhirnya setelah lama Delon berusaha akhirnya suster Syanin mulai melupakan kejadian tadi dan dia terlihat lebih santai dari sebelumnya.
Beberapa lama kemudian mereka sampai di sebuah restoran mewah suster Syanin yang tampak ragu melangkah masuk. Dengan cepat Delon menarik tangannya menggenggam tanpa melepaskan sampai tiba di sebuah meja yang terletak di pojok.
Delon menarik kursi untuk mempersilahkan suster Syanin duduk setelah memastikan wanita itu duduk ia kembali ke kursi yang satu lalu duduk dengan tubuh tegaknya.
Delon memang tampan dan lebih mudah mengerti tentang wanita di bandingkan dengan Jacobie namun entah justru itu yang membuat suster Syanin merasa Delon hanya sebatas teman. Tidak ada perasaan yang membuatnya bergetar saat dekat dengan pria itu berbeda dengan perasaannya pada Jacobie.
"Mengapa kau mengajakku kemari?" tanya suster Syanin berusaha mencari tahu.
"Aku hanya tidak selera jika makan sendirian," jawab Delon dengan santainya.
"Bukankah di rumah ada banyak orang?" lanjut suster Syanin lagi.
"Iya tapi mereka sudah makan semua karena aku dan Jac memilih makan belakangan saja," jelas Delon.
Mendengar nama Jacobie di sebut lagi-lagi membuat suster Syanin kehilangan fokusnya ia terdiam seketika.
Jika dia bersama Delon itu tandanya dia juga belum makan dan dengan siapa dia makan saat ini kenapa bukan dia yang datang padaku atau mungkin saat ini ia bersama wanita itu.
Suster Syanin terus memikirkan pria yang tidak bersamanya saat ini sedangkan Delon yang melihatnya sedang melamun tiba-tiba mendekatkan wajahnya di hadapan suster Syanin.
"Kau melamun apa?" tanya Delon yang sukses membuyarkan lamunan suster Syanin.
Namun hal itu ternyata mendapat adegan yang benar-benar di luar dugaannya saat menoleh ke arah depannya suster Syanin tanpa sengaja menoleh keras yang akhirnya kedua bibir mereka bertemu.
Mata Delon dan suster Syanin melotot tanpa bergerak satu sama lain entah apa yang mereka berdua fikirkan saat ini.
"Maafkan aku," ucap suster Syanin yang kini wajahnya memerah menahan malu.
"Aku yang minta maaf Sya," bantah Delon merasa tidak enak.
Namun sebenarnya perasaan Delon ada rasa senang bagaimana mungkin ia mendapatkan ciuman pertamanya pada wanita menggemaskan itu.
__ADS_1
Setelah beberapa lama kemudian makanan yang mereka pesan sudah tiba tanpa sabar menunggu suster Syanin melahapnya sangat cepat ternyata ia sangat kelaparan. Tapi entah itu karena kelaparan atau karena malu dan ingin segera cepat-cepat pulang ke rumahnya.
Delon yang melihat tingkah wanita itu hanya terkejut bagaimana bisa tubuh sekecil itu bisa makan dengan banyak sangat jauh dari perkiraannya.
Wajahnya hanya tersenyum menyaksikan tingkah suster Syanin sesekali ia menggelengkan kepalanya membayangkan kejadian-kejadian lucu yang ia dapat dari suster Syanin. Mungkin jika mereka berjodoh Delon harus lebih keras bekerja untuk memberi makan wanita kecil itu.
Sadar mendapat tatapan dari Delon kini suster Syanin mulai menghentikan makanannya yang tingal sedikit lagi habis.
"Sya, kenapa di sisa?" tanya Delon dengan lembutnya.
"Aku...sudah kenyang," jawab suster Syanin dengan ragu.
Setelah menunggu lama Delon akhirnya selesai juga makannya mereka duduk sebentar untuk minum akhirnya Delon mengajak suster Syanin pulang.
Sebenarnya ia belum ingin berpisah namun merasa kejadian hari ini semua di luar dugaan tentu membuat suster Syanin tidak nyaman berlama-lama dengannya.
Sedangkan di kediaman Syein Biglous Jacobie yang tengah makan sendirian di meja makan besar itu tampak melamun sambil mengacak-acak makanan di piringnya.
"Di luar sana banyak yang kelaparan tidak mendapatkan makan," Alfy yang datang tiba-tiba mengejutkan Jacobie.
Seketika lamunannya pun buyar dan berdiri dengan cepatnya lalu menunduk hormat.
Dengan ragu Jacobie menyendok makanan satu demi satu sendokan rasanya nasi yang terlihat lembek seketika berubah menjadi beras saat di telan Jacobie.
Tentu itu semua karena pandangan Alfy yang begitu menusuk ke dalam pandangan Jacobie yang sesekali menunduk merasa tidak nyaman.
Alfy yang memperhatikan tingkah Jacobie sedikit aneh jadi penasaran entah sejak kapan Tuan muda itu jadi mudah penasaran dengan yang ada di hadapannya. Padahal biasanya dia selalu bersikap masa bodoh dengan siapa pun itu.
"Apa yang kau fikirkan Jac?" tanya Alfy yang membuat Jacobie kesedakan dengan nasi yang sejak tadi berusaha ia telan dengan susah payahnya.
"Tidak ada Tuan," jawab Jacobie berusaha menyembunyikan sesuatu di dalam fikirannya.
"Kau mau ma*i yah," ucap Alfy yang sudah mengancamnya.
Lagi-lagi perduli dengan mengandalkan ancamannya tidak bisakah Tuan muda itu perduli dengan sikap lebih prihatin kenapa harus selalu terlihat ingin membun*h seperti itu sih.
"Saya hanya memikirkan tentang cara membuat Nona Friska mendapatkan hukuman yang berat Tuan.
Jacobie berusaha berbohong pada Alfy demi menutupi rasa cemburunya yang mungkin jika Alfy mengetahuinya akan menertawakannya sampai ma*i.
Setelah begitu lama memperhatikan tingkah Jac merasa muak akhirnya Alfy bergegas ke kamarnya menemui istrinya yang sudah sejak tadi tertidur dengan lelapnya.
__ADS_1
"Selamat tidur bidadariku," ucap Alfy yang mengecup kening istrinya dengan lembut.
Merasa lelah akhirnya ia juga ikut tertidur di samping Jee sampai akhirnya mereka menghabiskan malam itu dengan beristirahat yang panjang.
Delon yang baru saja tiba di rumah besar itu terkejut melihat Jac yang melamun di meja makan tanpa bergerak dengan cepat Delon menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Delon.
Jacobie yang tidak sadar dengan kehadiran Delon di kejutnya dengan tangan Delon yang memukul pundaknya tidak begitu kencang.
"Ada apa?" Begitu terkejutnya Jacobie melihat kedatangan Delon yang tiba-tiba.
"Kau melamun kenapa?" tanya Delon balik.
"Aku tidak apa-apa," jawab Jacobie berusaha berbohong lagi.
Mengapa sulit sekali yah pria itu untuk menyendir banyak sekali sepertinya yang mengganggunya entah Tuannya atau pun Delon semua begitu menyebalkan bagi Jacobie saat ini.
Delon yang malas mengganggunya akhirnya pergi ke tempat mereka tinggal di belakang rumah mewah itu ada kamar yang tidak kalah mewah dengan fasilitas yang begitu lengkap.
Kesendirian Jacobie ternyata mengundang Dokter Adeline untuk mendekat padanya tanpa ragu wanita itu melangkah cepat menghampiri Jacobie.
Dengan senyumannya ia duduk di kursi tepat di hadapan Jacobie melihat kehadiran wanita itu Jacobie merasa aneh dengan senyumannya.
Setelah mengingat yang terjadi terkahir kali antara mereka berdua dengan cepat Jacobie bergegas meninggalkan tempat itu.
"Ada apa denganmu?" tanya suster Adeline yang tampak merasa tidak nyaman jika Jacobie menghindarinya.
"Aku mengantuk," jawab Jacobie berbohong lagi.
Dasar nasibmu Jac memang tidak baik sepertinya malam itu sudah berapa kali kau berbohong dengan orang yang berbeda-beda.
"Begitu menakutkan kah diriku sampai kau menghindar padaku Jac?" gumam Dokter Adeline merasa tidak enak.
Pria itu kini sudah tidak ada lagi di rumah itu ia dengan cepat masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan memakai pakaian tidur. Tubuhnya benar-benar bersih seperti kulit wanita meskipun memiliki bulu di dadanya yang tampak sangat menyempurnakan postur tegaknya.
Mungkin karena Tuan Alfy seorang pria atletis dan tampan dan itu bisa menurun pada semua pekerja yang bersamanya. Rata-rata memiliki postur tubuh yang begitu bagus dan wajah yang tampan-tampan jika bergabung bersama Alfy mereka semua tampak serasi.
Halo lovers untuk episode ini cukup sampai sini duluyah besok author akan lanjutkan dengan cerita yang tentunya lebih menarik. Semoga kalian menyukainya yah dukung terus dengan like dan komen jika kalian memiliki masukan boleh untuk membuat cerita ini lebih sempurna.
Terimakasih salam hangat dari Marina Monalisa.
__ADS_1