
Zeyra yang menatap tajam ke arah Delon seakan ingin menghabisinya karena sudah membuatnya malu di depan banyak orang. Segera ia kendalikan amarahnya dan menghela nafas kasar.
“Memangnya Papah Zidan bicara apa?” lanjut Tuan Reindra yang penasaran.
“Kata Papah, kalau Zidan jangan selalu minta peyuk sama Mamah, soalnya Mamah bukan istri Zidan. Jadi kalo Zidan mau di peluk harus punya istri dulu.” jelas bocah kecil itu terdengar jelas.
Semua yang mendengar tertawa begitu juga dengan Delon dan Zidan mereka ikut tertawa berbeda halnya dengan Zeyra yang menekuk wajahnya kesal. Begaimana bisa Delon mengajari anak sekecil itu hal yang tidak masuk akal.
“Sudah, sudah lain kali Zidan jangan dengarin Papah lagi yah.” pintah Zeyra yang mengajak lainnya untuk masuk ke rumah. Semua berkumpul di ruang tengah sambil berbicara tentang Zidan yang begitu menggemaskan. Entah mengapa anak kitu terlihat pintar sekali terutama ketika berbicara apa pun yang ia dengar tentu tidak akan di sembunyikan dalam waktu lama. Cepat atau lambat semua pasti akan terungkap dari bibir mungil itu.
Nyonya Syein merasa ada yang kurang seperti mencari-cari sosok yang sejak tadi tidak ia lihat batang hidungnya.
“Jac mana, Zey? Bukannya tadi ingin menjemput kalian yah?” tanyanya denga penasaran.
Zeyra yang hanya tersenyum memilih untuk bungkam demi kemananan Abangnya, lagi-lagi Zidan yang mendengar kembali menyahut. “Tadi Paman kan pelgi dali lumah kayak malah gitu, Nek.” sahutnya membuat semuanya kembali menggelengkan kepala tertawa.
“Astaga sini cucu Nenek peluk dulu.” panggil Nyonya Syein yang merentangkan kedua tangannya menyambut bocah kecil itu.
Zidan yang berlari memeluk tubuh wanita tua itu hanya tertawa sambil memainkan mobil kecil yang berada di genggamannya saat ini.
“Kau menggemaskan sekali sayang.” lanjut Nyonya Syein mengecup beberapa kali pipi cubi itu.
“Iya, Nek seperti Papah waktu kecil kan Pah?” jawabnya dengan menatap Delon yang tersenyum.
Zeyra menyerah menghadapi tingkah anak dan Papahnya yang sama-sama gila pujian, semuanya hanya terus tertawa mendengar setiap ucapan yang Zidan lontarkan selalu sukses membuat semua terhibur.
***
__ADS_1
Jee dan Alfy yang baru saja tiba di bandara kini tengah melangkah keluar mereka terlihat sangat menarik, Alfy yang tidak memberikan kebebasan pada istrinya untuk menarik koper segera memanggil pengawalnya yang sudah menunggu kedatangannya.
Mereka segera menaiki mobil yang sudah terparkir dengan sempurna. Alfy merasa kesal karena Jac beberapa kali di hubungi selalu tidak menjawab. “Kemana perginya manusia itu?” ucapnya dalam hati sambil mendaratkan bokongnya di kursi mobil.
Setelah melewati tol bandara Jee yang sudah terlihat semakin membaik kembali memeluk suaminya dengan manja. “Ada apa?” tanya Alfy dengan pahamnya jika Jee menginginkan sesuatu.
“Em kalau sampai di rumah aku segera menghubungi perusahaan yang menawariku pekerjaan yah?” tanyanya diiringi senyuman manis yang terpancar di bibirnya.
Alfy yang tidak menjawab kembali terlihat menepis senyuman jahatnya, kali ini ia tidak boleh kalah dengan perusahaan itu. Jee yang tidak menunggu jawaban dari suaminya hanya menikmati perjalanan dengan terus memeluk tubuh kekar Alfy.
“Jangan bergerak terus.” ucap Alfy terdengar mengejutkan Jee.
“Kan aku hanya bergerak memperbaiki pelukanku, memangnya ada yang salah?” tanya Jee dengan memanyunkan bibirnya.
Alfy yang melihat bibir sang istri tanpa ada kata segera mel*mat kembali dan segera menghentikannya seketika. “Kau bergerak membuatku menginginkannya lagi karena terkena ini.” jawabnya sambil menggerakkan lengannya yang tersentuh oleh dua benda padat milik Jee.
Mendengar ucapan suaminya Jee segera merenggangkan pelukannya dan duduk menyandarkan tubuh di kursi mobil. Belum lama wanita itu terlihat tenang kini matanya mulai terkejut lagi.
Pesan singkat segera ia kirim yang memerintahkan untuk menemuinya di rumah saat ini juga. Setelah memastikan pesan terkirim Jee duduk dan melirik pria di sampingnya merasa kesal karena tidak di hiraukan Jee memilih untuk memejamkan matanya.
Beberapa menit berlalu, kini mobil sudah terparkir dengan sempurna. Beberapa suster sudah menyambut kedatangan pemilik rumah sakit itu. Jee yang tertidur tanpa terasa segera di gendong oleh Alfy.
“Sayang ada apa ini?” tanya Jee yang sangat terkejut ketika matanya melihat Alfy menggendong terlebih lagi tempat mereka saat ini bukan di rumah melainkan di rumah sakit.
Alfy hanya terus melangkah tanpa menghiraukan istrinya yang beberapa kali meminta untuk turun. Lagi-lagi keduanya berhasil mencuri perhatian pengunjung rumah sakit itu. “Astaga ada apa lagi yah dengan pengacara tampan itu?” lontaran demi lontaran terus keluar dari mulut mereka dengan tatapan prihatin dan juga kagum.
Andai saja mereka tahu yang sebenarnya mungkin rasa prihatin itu berubah dari sedih menjadi prihatin karena kekonyolannya. Alfy dan Jee yang baru saja tiba di ruang dokter segera di sambut dengan Dokter. Dokter yang tanpa menunggu lagi segera memeriksa pertu Jee sesuai denga ucapan Alfy dari pesan singkat itu.
__ADS_1
“Apa ini katanya hamil? Tidak ada sama sekali tanda kehamilan.” gumam Dokter yang sambil terus memerikanya. Jee yang semakin bingung mengapa terus mengganggu perut mulusnya ada apa sebenarnya.
“Mah, kami di rumah sakit.” ucap Alfy dari telfon.
“Hah, rumah sakit mana Fy?” tanya Nyonya Syein yang hampir jantungan.
“Sudah Mamah jangan syok seperti itu, kami di rumah sakit biasanya.” jawab Alfy dengan datarnya.
Seisi rumah serentah berdiri dengan wajah penuh khawatir saat mendengar suara Nyonya Syein yang menelfon. Tuan Reindra yang memegangi dadanya merasa sesak, Nyonya Syein yang mendengar penjelas Alfy segera berlari mendekat ke suaminya.
“Pah, jangan sakit katanya mau punya cucu.” ucap Nyonya Syein yang membuat Tuan Reindra seketika terkejut dan meloncat memeluk istrinya.
“Benarkah kita punya cucu?” tanyanya sekali lagi meyakinkan ucapan istrinya.
Seisi rumah semua terlihat bahagia mendengar kabar itu, dengan cepat mereka pun segera menuju rumah sakit. Kedatangan Alfy yang mendadak tidak lagi menjadi pertanyaan mereka yang jelas cucu adalah jawaban yang selama ini mereka nanti-nantikan.
Alfy yang baru saja masuk ke ruangan periksa terlihat bahagia, sedangkan Jee yang kebetulan menuju toilet tidak mendengar penjelasan Dokter. Ia berniat ingin menanyakan langsung pada suaminya namun niat itu ia urungkan karena kebelet buang air kecil.
“Bagaimana Dok?” tanya Alfy terlihat penuh semangat.
“Tuan, istri anda tidak hamil.” jelas Dokter dengan ragunya.
“Bagaimana bisa tidak hamil Dok? Semalam dia mual dan muntah.” bantah Alfy yang terlihat kecewa.
“Istri anda sepertinya meminum alkohol Tuan.” Dokter yang terlihat menduga-duga dari gejala yang di sebut Alfy.
Alfy yang terlihat kecewa kini terdiam seketika berfikir usahanya kali ini akan gagal, “Dok, saya tidak mau tahu bagaimana pun anda harus menyatakan jika istri saya hamil.” ucap Alfy dengan memaksa.
__ADS_1
“Ta-pi Tuan.” Ucapan Dokter yang sudah di tatap tajam oleh Alfy akhirnya menyetujuinya dengan berat hati. Benar-benar hal yang aneh bagaimana bisa istri tidka hamil di bilang hamil begitu fikir Dokter yang menatap pria di hadapannya sambil menghela nafas kasar.
Alfy tidak tahu apakah cara ini akan baik kedepannya atau tidak yang jelas ia tidak akan mengijinkan Jee bekerja dan bertemu pria-pria di luar sana.