Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Ketahuan


__ADS_3

Dokter yang mendengar pertanyaan Tuan Reindra tampak ragu untuk memberikan jawaban. Kini semuanya duduk di ruang tengah terlihat begitu antusias menunggu jawaban dari Dokter.


“Sepertinya ada kesalahan dengan pemeriksaan menantu anda, Tuan. Saya sudah memeriksa begitu teliti tidak ada janin saya temukan di kandungan menantu anda.” jelas Dokter yang membuat seisi rumah tercengang tidak


percaya.


Wajah Tuan Reindra dan Tuan Indrawan yang tadinya cerah menekuk seketika mendengar berita yang tidak mereka harapkan.


“Ada apa ini? tidak mungkin ada kesalahan.” ucap Tuan Reindra yang beberapa kali membungkam mulutnya gelisah.


Akhirnya ia segera meraih ponselnya dan menelfon seseorang. “Dok, katakan apa yang terjadi dengan menantu saya mengapa sampai ada kesalahan pemeriksaan seperti ini?” tanya Tuan Reindra dengan tegasnya.


Dokter yang baru saja mengangkat telfon begitu bergemetar lagi-lagi ia yang harus menerima akibat dari suami gila itu. “Ma-afkan saya Tuan, ini semua atas permintaan Tuan muda.” jelasnya dengan terbata-bata.


Tuan Reindra yang mendengar ucapan Dokter begitu marah tanpa bicara ia langsung memutus sambungan telfon.


Dan kembali menelfon seseorang. “Halo Tuan,” jawab Jac yang dengan sigapnya.


“Suruh Alfy pulang.” pintah Tuan Reindra tanpa basa basi dan kembali memutuskan sambungan telfon itu.


Alfy yang tengah sibuk berkutat dengan laptop di depannya melihat sosok Jac yang berdiri di sampingnya. “Ada apa?” tanyanya.


“Tuan Reindra meminta anda segera pulang, Tuan.” jawab Jac dengan ragunya.


Alfy yang mendengar seketika menepis senyuman kecil. Sepertinya keberadaannya di kantor membuat Jee tidak nyaman di rumah oleh sebab itu Tuan Reindra memintanya segera pulang. Dengan cepatnya Alfy melangkah keluar ruangan dan menuju mobil yang sudah terparkir dengan sempurna.


Di perjalanan Alfy terus meminta supir untuk melajukan mobil, ia benar-benar tidak sabar ingin memeluk istrinya. Belum sehari saja mereka berpisah rasanya sangat rindu bagaikan ribuan tahun lamanya.

__ADS_1


“Bisa cepat lagi, tidak?” tanyanya dengan ketus.


“Baik, Tuan.” jawab supir dengan sopannya.


Selama perjalanan, Alfy terus terlihat gelisah memindah-mindahkan posisi duduknya karena merasa perjalanan begitu lama. Beberapa menit berlalu kini tibalah pria tampan itu di depan rumah dengan wajah berseri-serinya.


Langkahnya begitu cepat. “Sayang, aku pulang.” teriak Alfy yang melangkah masuk ke dalam rumah. Dengan cepat pria itu mendekat pada Jee dan membuka kedua tangannya seolah memberikan peluang untuk memeluknya.


Tiba-tiba Tuan Reindra berteriak menghentikan gerakan Alfy yang mendekat. “Apa yang kau lakukan, Alfy?” teriaknya.


Alfy yang terkejut dengan teriakan Tuan Reindra menatap bingung dan menghentikan langkahnya, sampai ia tidak sempat untuk cemburu dengan hadirnya Fiky di rumah itu. Nyonya Syein yang mendekat ke arah Alfy seakan ingin menengahi antar Tuan Reindra dan Alfy.


“Fy, mengapa kau membohongi kita semua dengan kehamilan palsu istrimu?” tanya lembut Nyonya Syein.


Alfy yang terkejut ketika mendengar penjelasan Nyonya Syein bingung harus mengatakan apa kali ini. Bibirnya terdiam tanpa kata, Jee yang menatap kecewa pada suaminya terlihat berkaca-kaca di kedua mata indah itu.


“Katakan!” tegas Tuan Reindra kembali mengejutkan seisi ruangan itu.


Mendengar jawaban pria itu semua menatapnya tidak percaya, terdengar sangat tidak masuk akal jika membohongi satu keluarga hanya demi keegoisannya. Seharusnya ia bisa tegas pada istri jika tidak mengijinkan tanpa melakukan hal bodoh seperti ini.


“Kau itu suami, apa pantas melakukan hal rendah seperti itu. Sebagai suami wajib melarang jika tidak suka dengan keinginan istri.” sahut Tuan Indrawan yang menegaskan menantunya.


Jee yang sedih mendengar jawab Alfy berusaha menahan air matanya yang sejak tadi hampir jatuh, sementara Dokter dan Fiky sebagai orang luar hanya bisa berdiam menikmati adegan menegangkan di ruangan itu.


“Maafkan Alfy, Pah.” jawabnya dengan penuh penyesalan.


Tuan Reindra yang begitu kecewa kini memijat pelan keningnya sambil berusaha menenangkan diri. Tuan Indrawan yang melihat sahabatnya sangat syok akhirnya mengambil keputusan.

__ADS_1


“Mulai besok kalian tidak ada yang boleh meninggalkan rumah kemana pun selama satu bulan,” ucap Tuan Indrawan dengan kesal.


“Satu bulan?” tanya Jee dan Alfy serentak terkejut. Sampai akhirnya mereka saling melempar pandangan penuh fikiran tidak masuk akal.


“Iya satu bulan, dan itu hanya berada di dalam kamar tidak boleh keluar. Kalian harus memberikan kami cucu dalam masa hukuman itu.” tambah Tuan Indrawan yang membuat Tuan Reindra kembali menatap segar.


“Gila, enak banget jadi Alfy di kurung satu bulan di kamar bersama Jee. Hahh coba saja aku yang berada di posisinya. Astaga sudahlah bicara apa aku ini.” ucap Fiky dalam hati.


Jee dan Alfy tidak mengerti lagi dengan ambisi orangtua mereka sampai segila itu menghukum satu bulan untuk segera hamil. Memangnya membuat anak bisa secepat itu, tapi mau bagaimana lagi semua adalah kesalahan Alfy. Andai saja ia tidak berbohong tentu semua tidak akan sesulit ini untuk mereka lewati.


Tuan Reindra meminta selama Alfy menjalani hukuman semua pekerjaan akan di handle oleh Delon dan Jac. Alfy yang mendengar perintah Tuan Reindra tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Setelah kepergian Alfy dan Jee di ruangan itu akhirnya Fiky pun ikut meminta ijin untuk segera pulang.


Di perjalanan ia merasa berat melanjutkan pekerjaannya sebagai Dosen, akhirnya mobil melaju ke arah kampus. Fiky sudah mantap dengan keputusannya untuk mengundurkan diri. Setibanya di kampus ia segera menyatakan pengunduran dirinya.


Pihak kampus sangat menyayangkan hal itu, Fiky termasuk dosen yang memiliki kualitas sangat baik. Namun semua kembali pada pria itu lagi tidak ada yang bisa memaksanya untuk bertahan tentunya. Akhirnya ia pun resmi keluar dari kampus itu, dan saat ini waktunya untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan kedepannya.


Beberapa kali Fiky terus menghubungi Dara namun jawaban masih tetap sama, tidak bsia terhubung. Nomor Dara sepertinya tidak di gunakan lagi saat ini. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke rumah Dara.


***


“Maaf Bi, Dara ada?” tanya Fiky yang baru saja tiba di rumah gadis itu dan melihat wanita yang biasanya menjaga Dara di rumah.


“Maa, Nona Daranya tidak di rumah, sudah beberapa hari ia pergi ke Hongkong.” jelas Bibi yang dengan sopannya pada Fiky.


“Hongkong?” Suara Fiky terkejut mendengarnya.


Merasa lemas ketika mendengar kabar itu akhirnya Fiky kembali melangkah ke mobilnya. Wajah sedih terlihat jelas menutupi ketampanannya.

__ADS_1


Ia bingung harus melakukan apa kali ini, apa Dara akan benar-benar melupakan dirinya. Tidak pantas memang jika Fiky masih berharap Dara menunggu kedatangannya setelah apa yang sudah ia lakukan pada mantan kekasihnya itu.


Di dalam mobil Fiky sejenak mengistirahatkan fikirannya dengan menyandarkan kepala di sandaran kursi kemudinya. Setelah merasa lebih baik ia melajukan mobilnya dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu kemana harus melangkah saat ini benar-benar semua jalan seperti tertutup.


__ADS_2