Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Kesalahan Tidak Akan Mudah Terhapuskan


__ADS_3

Di depan rumah terdengar suara ringisan seorang pria yang terus bersuara beberapa kali, kemarahan Alfy sama sekali tidak bisa di cegah. Semua yang ada di dalam rumah tampak saling melempar pandangan bertanya apa yang terjadi.


"Ada apa yah?" tanya Tuan Indrawan.


Dengan segera mereka semua berlari keluar untuk mendekat ke sumber suara.


"Alfy ada apa ini?" teriak Tuan Reindra melihat Alfy yang seperti orang kerasukan terus memukuli Nakula yang tidak berdaya.


Dengan cepat Alfy menghentikan gerakannya dan berdiri mematung terdengar suara nafasnya yang begitu memburu.


Delon yang melihat Nakula lemas berusaha membantunya berdiri namun ia menolak dan memilih mendekat pada Tuan Reindra.


"Paman, maafkan aku." ucap Nakula sambil menangis bersujud di kaki Tuan Reindra.


"Beraninya kau!" teriak Alfy yang baru saja ingin menarik Nakula namun terhenti karena mendapat tatapan sang Ayah.


"Sudahlah kau tidak perlu meminta maaf seperti ini, Delon bantu Nakula berdiri dan bawa dia masuk." pintah Tuan Reindra.


Alfy yang merasa kesal tanpa bicara segera masuk ke mobil dan di ikuti dengan Jacobie lalu mereka melaju ke kantor.


Setelah memastikan Nakula berbaring di kamar tamu, kini Delon bergegas menuju kantor untuk menyusul Alfy karena mereka memiliki pekerjaan yang tidak bisa di tunda-tunda lagi.


Dokter Adeline yang mendapat perintah dari Tuan Reindra untuk merawat Nakula dengan cepat menuju kamar pria itu membawa beberapa alat medisnya.


Sedangkan Jee yang baru bangun menatap ke segala sudut ruangan matanya menangkan tidak ada sosok pria yang ia cari. Perlahan ia beranjak turun dari tempat tidur dan membersihkan wajahnya lalu turun ke lantai dasar barangkali pria tampan yang ia cari berada di sana.


"Kau sudah bangun sayang?" tanya Nyonya Flora dengan senyuman hangat di wajahnya.


Jee yang tanpa menajawab justru bertanya balik. "Alfy mana, Mam?" tanyanya.


"Dia sudah ke kantor sayang." jawab Nyonya Flora.


Jee yang merasa kesal dengan suaminya yang tidak membangunkannya mulai memasang wajah cemberutnya sungguh menggemaskan.


"Jangan marah, suamimu sedang ada masalah kau harus bisa mengerti dia. Alfy saja bisa mengerti jika kau masih ngantuk dan memilih tidak membangunkan mu." jelas Nyonya Flora.


"Iya Mami." jawab Jee pelan lalu ikut duduk di meja makan bersama yang lain.


Sedangkan Dokter Adeline yang baru saja selesai memeriksa keadaan Nakula sudah kembali melangkah mendekat pada yang lainnya.


"Bagaimana, Dok sudah selesai?" tanya Tuan Reindra.

__ADS_1


"Iya Tuan dia perlu istirahat dulu agar bisa kembali kuat." jawab Dokter Adeline.


"Ada apa, Pah?" tanya Jee yang penasaran.


Tuan Reindra menceritakan tentang kejadian pagi ini Alfy yang begitu penuh dengan kemarahan saat melihat kedatangan Nakula di depan rumah. Dan memukulnya hingga Nakula tidak berdaya dan mereka membawa Nakula untuk masuk ke rumah. Jee terkejut dengan perbuatan suaminya sangat jarang bahkan tidak pernah ia melihat Alfy sebrutal itu pada orang.


"Jee, ayo saatnya periksa kesehatanmu." ajak Dokter Adeline.


Semua keluarga sedikit terkejut mendengar panggilan Dokter Adeline yang terdengar sedikit lebih akrab pada Jee namun mereka merasa lebih senang jika Jee melakukan pendekatan pada semua orang. Itu adalah hal yang sangat rendah hati bagi mereka.


"Ayo." ajak Jee duduk di ruang keluarga.


Semua keluarga ikut melangkah ke arah Jee untuk memastikan kesehatan putri mereka berharap akan ada kabar bahagia pagi ini setelah masalah yang mereka terima barusan.


Dokter Adeline tampak memeriksa semua bagian tubuh Jee di mulai dari tekanan darah dan terus semakin teliti memeriksa area lainnya. Wajahnya tampak raut yang biasa saja tidak ada tanda-tanda keseriusan akan ada hal buruk.


Setelah selesai, Dokter Adeline menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan legah wajahnya pun tersenyum.


"Alhamdulillah dari hasil pemeriksaan keadaan anda bisa di nyatakan sudah membaik dan bebas dari penyakit itu, namun alangkah baiknya jika kita melakukan tes di rumah sakit untuk lebih memastikannya." jelas Dokter Adeline.


"Alhamdulillah." ucap semua orang yang ada di ruangan itu bersamaan dengan beberapa pelayan.


Jee yang mendengarnya juga ikut tersenyum meskipun ada kesedihan karena Alfy saat ini sedang tidak ada di sisinya mendengarkan kabar bahagia itu.


Jee yang di tuntun oleh Nyonya Flora menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya terus memeluk tubuh putrinya dengan senang.


"Sayang akhirnya kau bisa sembuh juga." ucap Nyonya Flora.


"Iya Mi." jawab Jee dengan wajah datarnya.


"Kau marah dengan Alfy yah?" tanya Nyonya Flora.


"Tidak Mi." jawab Jee dengan wajah yang sudah menunduk.


Kini Nyonya Flora mengajak Jee duduk di kasur dan berbicara dengan lembut, ia berusaha memberi masukan pada Jee agar bisa bersifat lebih dewasa lagi. Alfy seorang pengacara ia harus memiliki tanggung jawab besar dan Jee sebagai seorang istri harus bisa kuat dari pada istri-istri orang pada umumnya. Sebisa mungkin seorang istri pengacara harus mendukung semua langkah suaminya agar bisa berjalan lancar. Nasib orang di luar sana yang kurang beruntung sangat bergantung pada kemampuan Alfy memberikan keadilan pada mereka.


Jee yang mendengar panjang lebar ceraman Nyonya Flora merasa sadar dengan kedudukannya. Ia tidak boleh egois untuk menahan Alfy terus menerus berada di sisinya sementara di luar sana ada orang yang lebih sengsara.


Kini Alfy yang baru saja sampai di kantor bersama Jacobie langsung bekerja ia berusaha mencari bukti yang lain.


"Sial, mengapa sidik jari di alat ini tidak terdeksi?" gerutu Jacobie.

__ADS_1


"Sepertinya mereka sudah mengetahui hal ini akan terjadi." ucap Alfy.


Belum lama mereka berbicara kini terdengar suara ponsel Alfy berdering dengan cepat ia meraih ponselnya dan menempelkan benda tipis itu di telinga.


"Halo Tuan Alfy, bagaimana dengan kasusmu saat ini?" tanya seorang pria di seberang sana dengan nada bicara terdengar mengejek.


"Siapa kau?" tanya Alfy yang terkejut.


"Wah rupanya kau tidak menyimpan nomor ponselku yah." lanjut pria itu.


Alfy yang berusaha menebak suara pria itu merasa seperi cukup familiar mendengarnya namun ia tidak ingin membuang-buang waktu untuk berfikir keras.


"Katakan! jika tidak-" (ucapan Alfy yang terpotong oleh pria itu).


"Jika tidak, kau akan mematikannya begitu." sahun pria itu.


"Perkenalkan, aku adalah Hengky wibowo pengacara yang kini mengambil alih kasus yang anda tangani Tuan Alfy." ucap pria itu.


Alfy yang terkejut mendengarnya merasa tidak percaya bagaimana bisa pekerjaannya di ambil alih orang lain, ia sama sekali tidak mempermasalahkan jika harus memberikan pekerjaan itu pada orang lain. Tapi mengapa dengan cara yang sama sekali tidak menghormati usahanya begitu mudahnya mengganti pengacara tanpa ada pembicaraan terlebih dulu.


Hengky yang di seberang sana sedang menebak-nebak wajah marah Alfy hanya tersenyum sinis dan penuh kemenangan. Ingatannya kembali terputar saat ia mendatangi kantor polisi dan menemui klien Alfy di lapas.


Flashback on


"Siapa anda?" tanya klien Alfy dengan tatapan penasarannya.


"Perkenalkan saya pengacara yang saat ini akan membantu anda." jawab Hengky dengan percaya dirinya.


Klien itu tidak percaya dengan ucapan Hengky dan setelah Hengky menceritakan jika ia merasa Alfy sedang bermain di belakangnya dan ia mengetahui jika Alfy adalah salah satunya orang yang mencuri barang bukti di kantor polisi itu. Klien yang mendengar semua cerita dai Hengky nampak tidak percaya namun pria itu meyakinkan dirinya jika kebebasannya berada di tangan Hengky.


"Tidak... kau berbohong." ucap Klien itu.


"Jika kau tidak ingin bebas, percayalah padanya dan saya tentu tidak akan menawarkan hal ini untuk kedua kalinya." jawab Hengky dengan liciknya.


"Bagaimana bisa aku mempercayaimu?" tanya Klien itu.


"Beri aku waktu dalam satu hari untuk mencuri buktimu yang saat ini ada di genggaman Alfy." ucap Hengky berbohong.


"Baiklah jika begitu aku memberimu waktu, dan kau ingat persidanganku sudah tidak lama lagi aku tidak ingin membuang wakut hanya untuk mempercayaimu." ucap Klien itu.


Flashback off

__ADS_1


Alfy yang tercengang tidak percaya segera mematikan ponsel dan mengajak Delon menuju kantor polisi untuk bertemu dengan kliennya.


__ADS_2