
Menuju rumah sakit Alfy selalu tidak sabaran beberapa kali ia menegur Jac untuk melajukan mobilnya agar cepat sampai di rumah sakit. Setelah beberapa saat kemudian mobil mewah berwarna hitam telah terparkir tepat di tempat kedatangan rumah sakit itu. Semua karyawan yang bekerja di rumah sakit pun menunduk hormat pada pria tampan memakai Jas berwarna putih itu. Dengan cepat Alfy melangkah menuju ruangan tempat Tuan Reindra di rawat saat memasuki ruangan kini matanya tertuju pada Jee yang berdiri tepat di samping Fiky dengan tanpa ragu ia masuk di sela-sela jarak Jee dan Fiky yang berdiri hampir berdekatan.
"Suamiku kau sudah datang?" tanya Jee yang terkaget.
"Tentu saja," ucap Alfy dingin dengan tatapan datarnya.
"Ayo kemari makan dulu aku sudah membawakanmu makanan dari rumah," ajak Jee menarik tangan Alfy duduk di sofa ruangan itu karena yang lainnya sudah makan terlebih dahulu.
Sementara Alfy hanya mengikuti langkah istrinya dengan sekali ia menoleh ke arah pria tampan itu yah Fiky ia menatap dengan senyuman sinis.
"Makanlah. Kak Fiky sudah makan?" ucap Jee yang sementara menyuruh suaminya makan lalu bertanya pada Fiky.
"Iya sudah Jee," ucap Pria itu tersenyum memandang ke arah Alfy yang terhenti saat mau memasukkan sendok ke mulutnya.
"Suapin aku!" Perintah Alfy pada istrinya.
"Hah ? suapin tanganmu kenapa suamiku?" tanya Jee yang terkejut sementara di sekeliling itu yang lainnya hanya tersenyum sesekali menggelengkan kepalanya.
"Sudah suapin saja," ucap Alfy tanpa menjawab istrinya.
"A...ak," ucap Jee sambil memasukkan sendok ke mulut suaminya.
"Tidak usah bersuara cukup suapi saja," Dengan wajah kesal Alfy berbicara namun sesaat ia tersenyum penuh kemenangan ketika memandang Fiky yang tampak cemburu.
Di pertengahan makan ia tiba-tiba memegang lembut perut rata istrinya dengan tersenyum lagi-lagi menemukan cara untuk membuat Fiky kesal.
"Anak Papah yang pintar yah nanti," ucap Alfy dengan senyuman terlembut yang pernah ia berikan.
"Apa anak Papah maksud Alfy...?" gumam Fiky yang terkejut mendengar itu namun tidak berani mengeluarkan kata-kata sedikitpun.
"Sudah selesaikan dulu makanmu suamiku," ucap Jee yang memasukkan kembali sendok itu ke mulut suaminya.
"Maaf semuanya saya permisi pulang dulu karena setelah ini ada jam mengajar lagi," ucap Fiky yang berpamitan dan mencium punggung tangan Mami Flora dan beberapa orangtua yang berada di ruangan itu termasuk orang tua Alfy juga.
"Hati-hati Kak," ucap Jee yang masih duduk bersama suaminya.
"Oke," jawab Fiky tersenyum lemas dan bergegas menuju keluar ruangan itu.
Saat sampai di lorong rumah sakit ia melangkah dengan cepat sambil beberapa kali menggerutu menahan kekesalannya hanya terlihat berbicara yang tidak jelas.
__ADS_1
"Tunggu!" Teriak salah seorang pria tampan yang mengejarnya dari arah yang sama.
"Ada apa?" tanya Fiky dengan kesal.
"Aku hanya memintamu untuk menjaga jarak dari istriku," ucap Alfy tegas.
"Mengapa tidak kau suruh istrimu saja yang menjauhiku?" tanya Fiky tersenyum licik.
"Apa maksudmu? tanya balik Alfy yang mulai mengerutkan keningnya.
"Bagaimana kau bisa menyuruh kami berjauhan sementara di waktu lalu kami pernah memiliki kisah yang sangat manis," jelas Fiky yang sengaja membuat Pria tampan di depannya itu tampak mengepal erat kedua tangannya.
Kini kedua pria itu saling berpandangan tanpa mengeluarkan kata-kata hanya bicara melalui pandangan tajam saja dan tentunya hanya mereka berdua yang mengerti atas pandangan itu.
"Kau harus menjauhi istriku jika kau tahu diri," ucap Alfy yang mulai menahan emosi.
"Tapi sayangnya tidak bisa," ejek Fiky yang berusaha memancing kemarahan Alfy.
Dengan cepat satu layangan tangan pun mendarat di pipi Fiky belum sempat Alfy menambahkan lagi tiba-tiba terdengar suara wanita berteriak.
"Apa yang kalian lakukan?" Teriak wanita itu sambil berlari kecil.
"Istriku masuklah!" Perintah Alfy yang menggenggam tangannya. Ternyata Fiky sudah melihat kehadiran Jee dari tadi dan ia benar dengan pandainya memancing kemarahan Alfy lantas apa pandangan Jee pada suaminya selain pria yang kejam.
"Ku bilang masuklah!" Teriak Alfy yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
Dengan cepat pun ia memegang tangan istrinya dan membawanya masuk kini Alfy sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi tidak perduli dengan wajah ketakutan istrinya. Jee yang sedang menangis di bawa masuk ke dalam ruangan seketika semua mata tertuju padanya.
"Fy apa yang kau lakukan?" tanya Mamah Syein yang panik melihat menantunya menangis.
"Tidak ada Mah," ucap Alfy singkat.
"Jee apa yang terjadi?" tanya Nyonya Syein.
"Alfy berkelahi dengan Kak Fiky, Mah," ucap Jee yang sambil menangis terisak.
"Mamah tidak suka kau bersikap selalu seenakmu saja Fy berapa kali Mamah sudah peringatkan?" tanya Nyonya Syein dengan wajah yang mulai kesal.
"Maaf Mah," ucap Alfy menunduk.
__ADS_1
Sementara Mami Flora yang melihat itu tersenyum dan mendekat ke arah Alfy ia mulai berbicara perlahan untuk memberikan masukan pada menantunya itu.
"Fy, Mami tahu kau sangat mencintai Jee tapi tidak dengan emosi untuk menyelesaikannya," Dengan nada lembut Mami Flora berbicara sambil mengelus bahu Alfy.
"Iya Mi Alfy salah," ucap Alfy yang menunduk penuh penyesalan namun tetap saja amarahnya belum padam pada pria itu.
"Jee sangat tidak terbiasa dengan amarah dari kecil dia tumbuh denga segala kelembutan," tambah Mami Flora sementara Alfy hanya terdiam saja.
"Baiklah Mi aku akan membawa Jee pulang untuk istirahat," ucap Alfy sambil bergegas menggandeng tangan istrinya yang masih dengan wajah sembab karena menangis.
Diperjalanan mereka hanya terdiam dengan pandangan yang saling berlawanan arah sesuai dengan posisi mereka duduk mengarah ke jendela. Namun setelah sepersekian menit Alfy yang tidak tahan dengan suasana itu langsung memeluk tubuh istriny dengan manjanya tanpa rasa canggung menyenderkan dagu di leher putih istrinya dan melingkarkan kedua tangan di pinggang istrinya.
"Maafkan aku," ucap Alfy memohon.
"Hem," jawab Jee dengan singkat.
"Ku mohon berhentilah marah jika tidak..." Ucapan Alfy yang menggantung membuat Jee dengan segera tersenyum dan mendaratkan bibirnya ke pipi suaminya itu.
Yah Jee sangat tahu jika tidak jawaban yang Jee berikan mungkin akan ada satu pertunjukan siang itu di jalan dan Jee tidak menginginkan itu terjadi. Alfy bisa saja menghentikan mobilnya dan berbuat sesuka hatinya pada istrinya itu sekalipun di dalam mobil lagi seperti yang sebelumnya terjadi dan Jee tidak mau terulang cukup itu yang pertama dan terakhir kalinya bagi wanita cantik itu.
"Berjanjilah untuk menjaga jarak pada siapapun," Pintah Alfy.
"Iya," jawab Jee singkat.
"Kau keberatan?" tanya Alfy yang menatap Jee dengan penuh ancaman.
Astaga Tuhan pria tampan di hadapanku ini mengapa selalu penuh dengan ancaman apa tidak bisakah hidupnya berdamai sedikit saja pada penghuni bumi ini. Untung saja wajahnya tampan jika tidak lengkaplah hidupnya dingin, pemarah, suka seenaknya, cemburuan.
Dengan menahan tawa yang ingin keluar dari mulut manis wanita itu Alfy yang melihat kaget dan mengerutkan dahinya merasa penasaran apa yang membuat wanita di hadapannya itu menahan tawanya.
"Mengapa kau tertawa ada yang lucu?" tanya Alfy heran.
"Tidak suamiku," jawab Jee terdiam.
"Sampai rumah berikan waktu untukku yah!" Dengan wajah memohon Alfy menggoda istrinya.
"Hem," jawab Jee yang sudah mengerti ucapan suaminya itu.
"Pak bisakah menyetir lebih cepat lagi!" Perintah Alfy yang sudah tidak sabaran.
__ADS_1
"Baik Tuan," ucap Pak Deni yang sudah mulai melajukan mobilnya kembali.
Sampai di sini duluyah cerita Alfy dan Jee untuk kelanjutannya di tunggu update berikutnya. Terimakasih telah membaca karya ini semoga kalian terhibur dengan alur cerita yang author tulis yah jangan lupa untuk like dan koment setiap episode yang sudah kalian baca. Assalamualaikum Wr. Wb.