
Di gedung Syein Biglous Delon yang merasa hari itu begitu terasa sunyi entah kemana semangat kerjanya pergi.
Ia merasa begitu patah semangat semenjak Zeyra pergi jauh darinya hatinya begitu patah saat melihat Zeyra bersama Nakula di apartemen itu.
"Apa kau baik-baik saja saat ini? semoga pria itu benar-benar mencintaimu dan bisa merawat bayi yang ada di perutmu, Zey." gumam Delon sambil memandangi foto Zeyra yang ia ambil saat wanita itu tertidur di mobil.
Sedangkan Zeyra yang terlihat kelelahan di depan sebuah gedung yang cukup besar kini sedang berdiri menyeka keringat di beberapa bagian wajah manisnya.
"Astaga sungguh mencari pekerjaan kali ini benar-benar sulit." ucap Zeyra.
Akhirnya setelah ia merasa sedikit memiliki tenaga kini langkahnya kembali menuju kantor demi kantor dan ini sudah kantor yang ke delapan ia datangi.
"Ada yang bisa di bantu Nona?" tanya seorang securitu di depan gedung itu.
"Saya mau melamar pekerjaan, Pak."
"Mohon maaf Nona, tapi di sini tidak ada lowongan pekerjaan." jawab Security.
Zeyra yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas dengan kasar lagi-lagi ia tidak mendapatkan lowongan pekerjaan itu.
Setelah memastikan tidak ada lowongan di kantor tersebut, akhirnya Zeyra menuju jalan utama untuk melanjutkan pencarian kerjanya lagi.
Di pinggir jalan Zeyra terlihat sedang menunggu taksi untuk melanjutkan tujuannya ke kantor yang berjarak lumayan jauh.
Delon yang merasa gelisah di kantor kini beranjak dari kursinya untuk keluar mencari udara segar. Langkahnya begitu cepat menuju parkiran mobil sesampainya di sana dengan segera ia melajukan kendaraannya.
Selama di perjalanan Delon terus menggaruk kasar kepalanya begitu merasa pusing entah apa yang ada di dalam fikirannya.
Merasa cukup dengan berkeliling di dekat-dekat kantor saja akhirnya Delon melajukan mobilnya ke jalan yang lebih jauh dari kantor.
Ketika matanya hendak menoleh ke depan setelah melihat ke samping tiba-tiba Delon terkejut melihat Zeyra yang sedang berdiri di pinggir jalan.
"Zey, iya itu benar Zeyra." gumam Delon sambil terus menatap Zeyra yang kini sudah ia lewati di samping tadi.
Akhirnya Delon yang tidak kuasa menahan dirinya lagi dengan cepat mencari tempat parkir lalu memarkirkan mobilnya.
"Kenapa mataku begitu gelap yah? astaga Zey ku mohon kuatlah untuk saat ini. Sayang bantu Mamah yah kali ini kau harus kuat." gumam Zeyra sambil menatap perutnya yang sudah mulai terlihat.
Namun belum sempat Delon turun dari mobil Zeyra sudah tergeletak ke dasar tanah lebih dulu. Dengan cepat beberapa orang sudah berkerumun di sekeliling Zeyra.
Delon yang terkejut segera berlari menuju kerumunan itu tangannya memberikan jalan untuk bisa mendekat wanita yang sudah pingsan itu.
"Zey, bangunlah." ucap Delon beberapa kali menepuk pipi Zeyra.
"Tuan kenal dengan wanita ini?" tanya salah seorang yang ada di kerumunan itu.
"Iya, dia teman saya." jawab Delon.
__ADS_1
"Yasudah anda bawa saja Nona ke rumah sakit, Tuan." ucapnya.
Delon yang mendengar dengan cepat menggendong tubuh Zeyra dan membawanya ke mobil. Seketika Delon melajukan mobil menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan wajah pria itu tampak khawatir sesekali ia memandangi Zeyra dan mengelus kepala wanita yang ada di sampingnya.
Perjalanan begitu terasa dekat karena Delon benar-benar menjadi pembalap hanya karena khawatir dengan keadaan Zeyra.
Berbeda dengan Nakula yang hari ini hanya berbaring dengan bermalas-malasan di kasur.
"Dasar wanita bodoh mau saja aku suruh bekerja hahaha." gumam Nakula yang membayangkan ekspresi Zeyra saat ia ingin mengusirnya.
Tiba-tiba lamunan Nakula terhenti saat ponselnya berdering dan melihatkan panggilan dari Wenda.
"Cih wanita ini mau apa dia menghubungiku bukankah di sana sudah banyak makanannya?" ucap Nakula yang tersenyum jijik.
"Halo baby." ucap Wenda yang terdengar lembut.
"Hem." jawab Nakula singkat.
Wenda yang mendengar merasa kesal sepertinya Nakula sama sekali tidak mencarinya selama ia berada di Jerman.
"Kau tidak merindukanku?" tanya Wenda dengan nada penuh gairahnya.
Nakula yang tersadar dengan perlakuannya segera merubah raut wajah bosannya.
"Baiklah jika kau merindukanmu sekarang persiapkan dirimu." ucap Wenda tersenyum.
Nakula yang mendengarnya begitu terkejut namun ia belum mengerti maksud ucapan wenda.
"Apa maksudmu?" tanya Nakula bingung.
"Aku saat ini sedang di airport dan sebentar lagi aku menuju apartemen." jelas Wenda.
Mendengar kehadiran Wenda yang sebentar lagi akan menemuinya dengan cepat Nakula meminta Wenda mematikan ponselnya.
Saat ini Nakula sedang bingung bagaimana bisa ia menyembunyikan semuanya dari kedua wanita bodoh itu wajahnya tampak berfikir keras.
Belum sempat Nakula mendapat jalan keluar seketika ponselnya berdering menandakan panggilan masuk.
"Mau apa Zeyra menghubungiku? apa dia sudah mendapat pekerjaan?" gumam Nakula.
"Ada apa?" tanya Nakula.
"Kau ke rumah sakit sekarang, Zeyra sedang di rawat." ucap Delon.
Nakula yang mendengar suara pria terkejut dan mengkerutkan alisnya merasa bingung siapa yang berbicarra padanya saat ini.
"Aku Delon, tadi aku menemukan Zeyra pingsan dan sekarang dia di rawat di rumah sakit untuk beberapa hari." jelas Delon lagi.
__ADS_1
Mendengar kabar itu sepertinya Nakula mendapatkan kabar bahagia, wajahnya tersenyum karena tidak perlu panik lagi.
Tanpa berbicara apa-apa lagi Nakula segera mematikan ponselnya lalu dengan gerakan cepat ia mengemasi barang Zeyra di ruangan itu.
Setelah cukup lama akhirnya pekerjaan Nakula selesai dan baru saja tubuhnya terbaring di kasur kini sudah terdengar bell pintu.
Dengan cepat Nakula membuka pintu lalu tiba-tiba tubuh seorang wanita sudah meloncat ke arahnya dan memeluknya penuh nafsu.
"Aku merindukanmu baby." ucap Wenda yang memeluk Nakula.
Kini Nakula melangkah masuk dan menutup pintu sambil tetap menggendong tubuh Wenda ke arah kasur. Tentu Nakula memiliki pekerjaan berat hari ini yaitu harus memuaskan hasrat Wenda.
Mereka berdua sudah saling memuaskan satu sama lain di atas kasur, permainan Wenda begitu sangat liar sampai Nakula sendiri merasa tidak bisa mengimbangi permainan wanita itu.
Cukup lama mereka melakukannya lagi dan lagi sampi akhirnya merasakan kelelahan lalu tanpa sadar keduanya tertidur dengan lelap di atas kasur.
Sementara Delon yang masih menunggu Zeyra sadar terus menatap dari bawah ke atas tubuh wanita yang berbaring di hadapannya ini.
Delon tahu jika saat ini Zeyra sedang mencari pekerjaan bisa di lihat dari penampilannya yang begitu formal dan berkas yang di berada di dalam map coklat.
Cukup lama Delon menunggu Zeyra sadar dan akhirnya kini mata Zeyra mulai terbuka perlahan ia menatap Delon yang berada di sampingnya.
"Zey, kau sudah sadar?" tanya Delon dengan antusiasnya.
"Delon." ucap Zeyra yang terdengar lirih.
"Iya ini aku." jawab Delon sembari tersenyum legah.
Setelah Zeyra sadar kini Delon mulai menatapnya dengan sangat dalam sambil berfikr untuk memulai kata dari mana jika bertanya pada Zeyra.
"Oiya tadi aku sudah mengabari Nakula jika kau di rawat di sini." ucap Delon basa basi.
"Sudahlah seharusnya kau tidak perlu memberitahunya." balas Zeyra.
Nakula yang mendengarnya merasa heran dan penasaran mengapa Zeyra berkata seperti seakan-akan Nakula tidak ingin tahu keadaannya.
"Memangnya ada apa?" tanya Delon lagi.
Zeyra yang enggan menjawab kini hanya terdiam tanpa berani mengatakan yang sebenarnya. Tentu Zeyra merasa sangat malu jika menceritakan sikap Nakula padanya.
"Tidak ada apa-apa." jawab Zeyra berbohong.
"Lalu kau mencari kerja untuk apa?" tanya Delon lagi.
"Aku merasa bosan jika harus berdiam diri saja di rumah." jawab Zeyra.
Delon merasa ada yang aneh dengan tatapan Zeyra padanya seakan Delon merasa wanita di hadapannya saat ini sedang berbohong.
Halo readersku semua author lagi-lagi minta maaf yah karena sudah membuat kalian menunggu, selama seminggu kemarin auhtor lagi susah konsentrasi jadi takut mau maksain update banyaknya. Tetap semangat membaca yah dan bantu author buat promosiin karya ini yah. Terimakasih
__ADS_1