
Setelah Jee terbangun dengan matanya yang masih sembab ia melihat disekelilingnya masih lengkap semua keluarga yang menunggunya diruangan itu.
“Mami aku ingin ke kamar mandi,” ucap Jee.
“Sayang biar aku menemanimu,” jawab Alfy.
“Mi, ayo.” pintah Jee.
Nyonya Flora yang mendengar pun segera berdiri menuntun anaknya ke arah kamar mandi.
Tuan Indrawan yang melihat tingkah anaknya itu mendadak heran.
“Apa yang terjadi yah dengan anak dan menantuku ini sepertinya mereka memiliki masalah ?” gumam Tuan Indrawan.
“Fy kemari, ikut Papi sebentar,” ajak Tuan Indrawan.
“Em iya Pi,” jawab Alfy dengan mengikuti langkah mertuanya itu.
“Ada apa kau dengan Jee Papi lihat seperti ada yang aneh apa kalian punya masalah ?” tanya Tuan Indrawan.
Apa yang harus aku katakan saat ini aku takut jika Papi marah denganku dan menceraikan kami. Astaga tuhan mengapa bisa sih aku sebodoh ini apa yang harus aku jawab saat ini ?
__ADS_1
Seketika Alfy terkaget saat papi memegang bahunya. “Papi tidak ingin ikut campur dengan masalah kalian Papi minta kalian harus bisa menyelesaikan masalah dengan cara kalian sendiri yah,” ucap Tuan Indrawan.
“Iya Pi,” jawab Alfy singkat dengan menghela nafas legah karena tidak perlu menjawab pertanyaan mertuanya itu.
“Ayo kita masuk,” pintah Tuan Indrawan.
“Baik Pi,” jawab Alfy lagi.
***
Setelah berapa hari kemudian Jee sudah merasa lebih enakan dan dokter juga sudah mengijinkannya untuk pulang.
“Terimakasih Dokter,” ucap Jee dengan tersenyum melihatkan barisan giginya tersusun rapi dan cantik itu.
“Tuan muda Syein mohon maaf jika pelayanan dirumah sakit ini masih belum memuaskan,” ucap Dokter itu.
“Tidak papa Dok nanti beritahu saja Delon atau Jacobie apa yang diperlukan lagi yah ?” ucap Alfy.
“Baik Tuan terimakasih banyak,” jawab Dokter lagi.
Yah rumah sakit itu adalah salah satu dari sekian banyaknya lembaga yang dimiliki keluarga Syein Biglous.
__ADS_1
Setelah semua sudah siap Jee turun dengan dituntun oleh Alfy, Fiki yang melihatnya rasanya seperti ada yang terbakar dan siap meledak dari dalam dadanya itu. Jee menaiki mobil bersama Alfy dan Nyonya Flora sementara Tuan Indrawan ikut bersama Fiki.
Tidak lama kemudian mereka sampai di kediaman Syein biglous. Mamah dan Papah Alfy menyambutnya dengan senyuman hangat.
“Jeng maaf yah tidak bisa menjemput, saya harus menjaga papahnya Alfy 24 jam.” ucap Nyonya Syein.
“Tidak papa Jeng saya mengerti kan ada Alfy,” ucap Nyonya Flora sambil menyentuhkan pipi mereka bergantian.
Sementara Tuan Reindra Syein tersenyum duduk di kursi roda.
“Sayang, bawa istrimu ke kamar dia pasti butuh istirahat,” ucap Nyoya Syein pada Alfy.
“Iya Mah,” jawab Alfy singkat.
Saat Alfy mau memegang tangan Jee tangannya dengan segera ditepis kasar oleh Jee. Ia menatap Alfy tajam sambil melangkah ke kamar.
Berani sekali tangan kotornya menyentuh tubuhku tidak akan kubiarkan itu dasar pria bajingan kau tidak pantas mendapatkan kebahagiaanmu lihat saja aku akan membuatmu sengsara karena berani meremehkanku.
Jee kini sudah terpenuhi dengan rasa dendamnya tak ada lagi sifat yang dulu sangat lembut dan manja sifatnya yang kekanak-kanakan sudah berubah menjadi iblis berwajah cantik.
Saat ia sampai didalam kamar tidak sekalipun ia melihat ke arah Alfy kini tubuhnya berbaring menghadap pada arah jendela kamar yang melihatkan pemandangan langit-langit dengan laut indah dibawahnya. Alfy yang merasa bersalah tidak tahu harus berbuat apa karena rasa bersalahnya begitu besar.
__ADS_1