
Tidak terasa waktu berputar begitu cepat seminggu telah berlalu semenjak mendapat surat dari pengadilan kini tiba saatnya bagi Nona Friska menghadiri panggilan itu.
Di ruang persidangan sudah tampak hakim, pengara lainnya beserta Alfy dan yang lainnya.
Nona Frisksa sebagai tersangka duduk di kursi paling depan.
"Ananda Friska, apakah benar anda sudah melakukan penggelapan dana dari pihak pemilik tanah tersebut?" tanya seorang hakim itu.
Friska yang merasa saat itu tidak mampu lagi menghilangkan bukti akhirnya dengan ketusnya menjawab.
"Saya fikir tidak perlu menjawab lagi tentu anda sudah mendapat semua jawabannya, kan." Dengan tidak sopannya wanita itu berbicara.
Wanita itu terlihat pasrah karena memang itulah tujuannya mendapat hukuman lalu membayar seluruh hukuman itu dengan uangnya dan ia akan terbebas dengan mudahnya.
"Baik, karena semua bukti sudah terkumpul jelas dan tersangka sudah mengakuinya persidangan hati itu pun di akhiri dengan wajah puas pada semua orang termasuk Nona Friska.
Saat ini ia sudah berada dalam masa tahanan tinggal menunggu persidangan selanjutnya untuk menghadirkan para saksi dan korban.
Alfy begitu terlihat santai menghadapi masalah ini sebenarnya pria itu tahu langkah Nona Friska untuk membebaskan diri namun ia tidak ingin merusak ketenangan wanita itu dulu.
Semua telah bubar begitu juga dengan Alfy yang sudah menuju ke gedung Syein Biglous dengan wajah tenangnya sesekali menggelengkan kepala.
Sementara di kampus Jee yang sudah berkumpul dengan Dara, Sisil, dan Mira tengah tertawa heboh saat mendengarkan cerita Sisil yang kemarin mengikuti Fiky sampai ke kelas.
Akhirnya dengan inisiatif Jee mempertemukan mereka lagi ia menghubungi Fiky melalui pesan singkat menyuruhnya untuk menemuinya di kantin.
Fiky yang melihat isi pesan itu terkejut ketika tahu akan bertemu wanita pujaannya dengan segera ia pun melangkah cepat ke kantin.
Langkahnya terhenti saat melihat Jee sudah berkumpul dengan teman-temannya akhirnya wajah yang tadinya tersenyum sudah kembali jadi biasa saja.
"Kak," teriak Jee pada Fiky.
Lalu Fiky duduk di kursi yang kosong tepat di sebelah Sisil memang kursi kosong itu sudah di atur oleh mereka setepat mungkin agar Fiky dan Sisil bisa semakin dekat.
Beberapa lama kemudian Jee, Mira, dan Dara berpamitan untuk pulang duluan karena ada keperluan, sedangkan Fiky dan Sisil tidak bisa berbicara apa-apa saat di suruh mereka tetap di kantin.
"Aduh jantungku kenapa terdengar kencang sekali bagaimana jika Kak Fiky mendengarnya," gumam Sisil yang terus tertunduk di samping Fiky.
"Sil, kau kenapa?" tanya Fiky bingung saat melihat wanita itu tertunduk gugup.
__ADS_1
"Ah tidak apa-apa kok Kak," jawab Sisil dengan terus menunduk.
Cukup lama mereka berdiam sampai akhirnya Fiky mengajaknya untuk pulang dari pada lama hanya untuk berdiam rasanya sangat membosankan.
Sisil yang merasa bo*oh sekali tidak bisa memanfaatkan keadaan tadi merasa menyesal sekali sikapnya tadi benar-benar membuatnya kehilangan waktu untuk bersama Fiky saat ini.
Mereka pun bergegas menuju tujuannya masing-masing dengan perpisahan tanpa kata.
Suster Syanin yang kini sudah kembali bekerja di rumah sakit lagi mulai menjalankan aktifitasnya seperti sebelumnya merawat para pasien sesekali ia membantu Dokter di rumah sakit itu saat akan melakukan operasi atau akan menangani pasien yang melahirkan.
Suster Syanin memang wanita yang sangat handal di berbagai pekerjaan sebab itulah para pihak rumah sakit sangat menyukai kerjanya.
Semua bisa di tangani dengan baik jika bersama suster Syanin.
Setelah ia selesai di jam piket kerjanya dengan segera memutuskan untuk pulang ke rumahnya dengan naik gojek tanpa mengganti pakaiannya terkebih dulu.
Saat di perjalanan Jacobie yang melihat wanita itu tampak familiar di matanya sepertinya ia bisa ingat siapa wanita itu.
"Apa katanya saat itu kan ingin berhenti bekerja karena keluarga?" gumam Jacobie yang tampak bertanya-tanya.
Dengan cepat ia mengikuti arah wanita di hadapannya itu dengan melaju.
Setelah beberapa lama kemudian ia sampai di rumah tanpa memperhatikan keadaan sekitar dengan cepat ia masuk ke dalam rumahnya.
Jacobie yang sudah memastikan wanita itu sampai dengan selamat terlihat legah kini ia bisa kembali ke kantor lagi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Entah perasaan apa yang membuatnya harus keluar dari kantor secepat itu dan berkeliling di Kota ternyata hati pria itu mampu menuntunnya bertemu dengan suster Syanin.
Semua tanpa sengaja bukan karena ada perjanjian ia menemukan wanita pujaannya lagi yang mungkin sampai saat ini belum mengetahui perasaan dirinya sendiri yang sebenarnya.
"Dari mana kau?" tanya Delon yang melihat Jacobie baru saja tiba di ruang kerja setelah keluar beberapa lama.
Jacobie yang mendengar suara itu tanpa menjawabnya langsung kembali ke meja kerja untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Delon memang baru saja tiba di kantor karena memastikan Nona mudanya sampai di rumah dengan baik lalu bergegas ke kantor.
Alfy yang sedang istirahat di ruang istirahat merasa bosan hari itu akhirnya ia memutuskan untuk ke rumahnya.
Dengan melaju ia kini telah sampai di rumah melihat suasana sangat sepi dengan cepat melangkah masuk ke kamar mencari wanitanya.
__ADS_1
"Han..." panggil Alfy sambil membuka pintu kamarnya.
Jee sudah terlihat tidur dengan lelapnya mungkin hari ini ia kelelahan sampai tertidur dengan pakaian yang belum di ganti dan sepatu yang masih menempel sempurna di kakinya.
Alfy yang merasa tidak tega membangunkan istrinya perlahan ia menggendong Jee naik ke kasur dan membukakan sepatu wanita itu.
Setelah memastikan semua selesai dengan baik ia kembali menuju meja yang ada di kamarnya lalu melanjutkan pekerjaannya.
Tok...tok...tok
"Permisi Tuan," ucap Dokter Adeline yang berdiri di depan pintu.
"Masuk saja," jawab Alfy dengan baiknya.
Melihat Dokter Adeline yang ada di hadapannya Alfy berdiri dari kursinya.
"Ada apa Dok?" tanya Alfy.
"Waktunya Nona Jee minum obat Tuan," jawab Dokter Adeline.
Alfy yang melihat ke arah istrinya sebenarnya tidak tega untuk membangunkan tapi jika ia terus tidur dan tidak meminum obat bisa saja sakitnya akan semakin parah.
"Han..." ucap Alfy pelan sambil mengelus rambutnya yang panjang terurai.
"Hem...." jawab Jee yang terdengar sangat malas dan tidak membuka matanya.
"Bangunlah, akun akan membantumu meminum obat." jelas Alfy yang memaksa istrinya bangun dan di sandarkan tubuh Jee pada dada bidang miliknya.
Dokter Adeline yang kini hanya bisa menikmati pemandangan itu rasanya sangat iri entah kapan ia akan merubah status kejombloan sejatinya itu.
Wanita secantik dia bagaimana bisa sampai saat ini belum ada satu pria pun yang bisa dekat dengannya tubuhnya sempurna, wajahnya juga begitu cantik, pekerjaannya sangatlah baik tapi apa sebenarnya yang membuat pria jauh padanya.
Apa kesempurnaan yang Dokter Adeline miliki hanyalah pandangannya sendiri dan mungkin berbeda dengan pandangan pria umumnya di luar sana.
Yah termasuk Jacobie mengapa pria itu tidak bisa jatuh cinta padanya seperti saat Jacobie menatapnya kagum ketika pertama kali mereka bertemu di bandara.
Dokter Adeline sangat ingat wajah Jacobie yang diam mematung dengan tatapan kagum padanya bagaimana rasa kagum itu bisa seketika langsung hilang dari wajah Jacobie.
Sampai saat ini Dokter Adeline merasa tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membuat Jacobie kembali lagi padanya.
__ADS_1
Hai lover cerita Jacobie dengan dua wanitanya sampai di sini duluyah jangan bosan menunggu update selanjutnya. Terimakasih telah mendukung author sampai sejauh ini. Assalamualaikum Wr. Wb