Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Suasana Haru


__ADS_3

Cukup lama Dokter memeriksa di dalam ruangan sementara Alfy terpaksa berada di luar ruangan karena Dokter kali ini sangat membutuhkan konsenstrasi.


Awalnya Alfy tidak ingin keluar namun setelah Dokter memberikan pengertian padanya dengan berat hatinya akhirnya pria itu mengalah.


Dan melangkah bersama Delon ke luar ruangan wajahnya begitu khawatir terus melangkah bolak balik di depan ruangan.


Setelah beberapa lama akhirnya tampak segerombolan keluarga Alfy datang. Masing-masing dengan wajah yang berbeda-beda ekspresinya ada yang sudah menangis ada yang sedang panik, dan ada juga yang terlihat berusaha kuat.


Sesampainya mereka tepat di hadapan Alfy dengan cepat Nyonya Syein memeluk tubuh rapuh anaknya. Alfy yang terduduk di hadapan Nyonya Syein dengan menangis membuat suasana semakin haru.


“Jee akan baik-baik saja Fy,” ucap Tuan Reindra berusaha menguatkan anaknya.


Meskipun pria itu tahu sepertinya tidak sebaik yang di ucapkan saat ini namun besar harapannya pada menantunya dan cucunya.


Delon hanya tertunduk tidak melihatkan raut wajahnya yang sebenarnya juga sangat khawatir pada Nyonya mudanya sekaligus temannya.


Mereka memang berteman di belakang Alfy sesuai permintaan Jee saat di kampus.


 


“Nyonya muda, ku harap anda baik-baik saja dan calon keponakanku.” gumam Delon.


Setelah beberapa menit Delon baru ingat jika ada seorang pria yang sedang di rawat juga di ruang sebelah.


“Tuan, Nyonya saya pamit ke ruang sebelah.” Ucap Delon yang hendak bergegas.


Namun langkahnya tertahan saat Nyonya Flora bertanya padanya.


“Siapa di sebelah Delon?” tanyanya.


“Tuan Fiky, Nyonya.” Jawab Delon.


Mendengar nama Fiky di sebut Tuan Indrawan dan Nyonya Flora terkejut mengapa ada anak itu di rumah sakit.


Akhirnya Delon menjelaskan sebelum mereka menemukan Jee, Fiky lah yang menghubungi Alfy dan memberi tahu jika ada yang menculik istrinya.


Nyonya Flora melongo terkejut tidak percaya dan dengan segera ia berpamitan dengan yang lain untuk ikut bersama Delon.


Saat memasuki ruangan Fiky, Nyonya Flora dan Tuan Indrawan menangis melihat wajah babak belur pria itu.


“Nak, mengapa bisa terjadi seperti ini sih?” tanya Nyonya Flora sambil menangis meratapi wajah tampan pria itu.


“Apa saja yang terluka di tubuhnya?” tanya Tuan Indrawan pada Dokter yang masih ada bersamanya.


“Kedua kakinya baru selesai kami operasi Tuan untuk mengeluarkan peluru yang ada di kedua kakinya.” Jelas Dokter.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Dokter membuat Nyonya Flora tampak syok.


“Peluru Dok?” tanya Nyonya Flora tidak percaya.


“Iya Nyonya.” Jawab Dokter dengan datarnya.


Setelah Dokter pergi akhirnya Delon menceritakan bahwa mereka mendapati Fiky sudah tidak memiliki kekuatan.


Sepertinya anggota suruhan Narendra sudah menghajarnya sebelum Alfy dan Delon tiba. Cukup lama Nyonya


Flora dan Tuan Reindra berada di dalam ruangan itu sampai akhirnya mereka bergegas kembali ke ruangan sebelah.


Mereka kembali ke ruangan sebelah dengan berlari karena mendengar tangisan yang memenuhi ruang tunggu di depan itu.


“Ada apa ini?” tanya Tuan Indrawan bingung.


 


Nyonya Flora yang menangis histeris memeluk Alfy yang juga menangis tampak membuat bingung Tuan Indrawan dan Nyonya Flora.


Sementara Tuan Reindra hanya tertunduk sedih untung saja saat ini keadaan fisiknya jauh lebih sehat setidaknya ia bisa kuat.


“Ada apa ini sebenarnya?” Tanya Tuan Indrawan pada sahabatnya.


“Kata Dokter janin yang ada di perut Jee sudah tidak bisa di selamatkan.” Jelas Tuan Reindra yang terus menunduk.


Ia belum mendengar semua penjelasan Tuan Reindra sudah memotong pembicaraan sahabatnya.


“Dokter juga bilang...” Tuan Reindra yang tidak sanggup mengatakannya merasa begitu lemah saat ini dan menangis tanpa bisa menahan.


 


“Dokter bilang apa Reindra?” tanya Tuan Indrawan yang tidak sabaran.


“Dokter bilang nyawa Jee sedang terancam.” Ucapan Tuan Reindra sambil menangis memeluk tubuh sahabatnya.


Tuan Indrawan yang mendengar seketika tersandar ke tembok tubuhnya terasa lemas begitu juga dengan Nyonya Flora yang sangat terkejut.


Ia menangis memeluk tubuh suaminya rasanya begitu sulit menerima berita menyedihkan itu. Namun mau bagaimana lagi Tuhan sudah berkehendak lain mungkin ini yang terbaik.


“Ini nggak benar Mah...sama sekali nggak benar Dokter itu.”


Suara Alfy yang terus berbicara pada Nyonya Syein.


“Sayang, kuatlah ini sudah takdir.” Jawab Nyonya Syein menangis.

__ADS_1


Mereka semua menangis sementara Dokter di dalam sana masih berusaha memeriksa lanjut keadaan Jee. Detak jantungnya sangatlah lemah Alfy yang merasa tidak sabaran di luar segera menerobos ruangan itu.


 


“Apa yang anda lakukan Tuan?” tanya Dokter yang terkejut.


Alfy sama sekali tidak menghiraukan ucapan Dokter yang memintanya keluar wajahnya sudah sangat terlihat lemah.


Melirik janin yang sudah berhasil Dokter keluarkan di meja operasi dengan terbungkus kain. Dengan cepat Alfy menggendong bungkusan itu tidak perduli tubuhnya terkena lumuran darah ia terus menatap sambil menangis.


“Han, bertahanlah kau tega yah meninggalkanku pergi bersama anak kita.” ucap lirih Alfy sambil mendekat ke arah Jee yang terbaring tidak berdaya.


Dokter yang melihat pemandangan itu saling melempar pandangan bersama suster mereka ikut terharu melihat pasangan suami istri itu.


“Aku percaya kau pasti bangun untukku kan? Bagaimana aku bisa hidup sendiri, Han siapa yang membantuku untuk mandi? Siapa yang membantuku untuk tidur dan memelukku sepanjang malam? Kau jangan pergiyah kita


kan mau bulan madu lagi.” Celotehan Alfy tanpa henti terus menggendong anaknya yang sudah tiada sambil mengecup beberapa kali kening istrinya.


Ia memeluk Jee bersama dengan anaknya itu tanpa henti ia menangis meminta Jee untuk bangun karena saat ini detak jantungnya sudah tidak ada lagi. Dokter sudah memfonis Jee tidak selamat mereka sudah berusaha


melakukan yang terbaik.


“Tuan, kami minta ijin untuk melepaskan alat bantu ini.” ucap Dokter dengan sangat hati-hati.


“Dokter, ku mohon kali ini jangan di lepas aku percaya dia akan bangun.” Bantah Alfy.


“Baiklah Tuan saya tunggu satu jam lagi.” Dokter yang merasa prihatin dengan pria itu akhirnya memilih untuk keluar.


Setelah Dokter keluar di depan pintu sudah banyak keluarga Jee yang menunggu kehadiran Dokter itu.


“Dok, bagaimana anak kami?” tanya Tuan Indrawan.


“Mohon maaf Tuan, kami sudah berusaha sebaik mungkin namun Tuhan berkehendak lain.” Jelas Dokter tampak lemas.


“Tidak Dokter, anak saya pasti masih hidup kan?”Tuan Reindra yang tidak terima segera menyusul Alfy masuk ke dalam.


Langkahnya perlahan terasa berat begitu kaku kedua kakinya melangkah saat melihat Alfy yang terus memeluk tubuh Jee dengan menggendong janin yang terbungkus.


“Pah...” ucap Alfy menatap wajah tuan Reindra.


Dengan cepat Tuan Reindra menghampiri anaknya dan memeluknya mereka menangis bersama begitu juga dengan yang lainnya menangis memeluk tubuh Jee.


Nyonya Syein dan Nyonya Flora memeluk wajah Jee sedangkan Tuan Indrawan memeluk tubuh putrinya.


“Katakan pada Alfy pah...ini mimpi kan?” suara Alfy terus terdengar.

__ADS_1


Memang sangat mustahil Jee selamat mengingat selama perjalanan ia mengalami pendarahan yang begitu sangat hebat terlebih keadaan fisik Jee saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Halo para readers kira-kira bagaimana yah nasib Alfy selanjutnya akankah ada pengganti Jee setelah ini ikutin terus kelanjutan ceritanya yuk. Semoga ini hanya mimpi buruk yah buat Alfy dan keluarganya buat para readersku sayang tetap semangat yah membacanya.


__ADS_2