Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Takut Kehilangan


__ADS_3

“Tidakkkk, tidak jangan pergi Alfy aku katakan padamu jangan pergi!” teriak Jee seolah sedang memaki suaminya agar terbangun.


“Sayang, hey sayang.” Suara pria yang sambil terus menepuk nepuk pipi seorang wanita yang sudah beberapa kali berteriak sampai menangis.


“Hah?” sahut Jee yang seketika membuka matanya dengan cepat.


“Kau...” (ucapan Alfy yang baru saja ingin bertanya sudah terhenti).


“Aku mohon jangan tinggalin aku, aku tidak ingin kau pergi.” Suara tangis Jee yang sudah memeluk tubuh suaminya dengan kuat.


Alfy yang kini membalas pelukan istrinya berusaha menenangkan Jee dan mengusap air mata istrinya. “Kau bermimpi buruk yah?” tanyanya.


Jee yang tidak ingin menjawab hanya terus menangis mengingat kembali mimpinya yang begitu menyeramkan. Air mata terus membasahi pipi mulusnya sampai menetes di dada bidang suaminya.


“Aku tidak mungkin meninggalkan istriku yang cantik ini, sudah jangan menangis yah.” ucap Alfy yang berusaha menghibur Jee.


Setelah cukup lama Jee meyakinkan dirinya jika itu hanya mimpi, kini ia beranjak dari kasur dengan rasa ragunya.


“Ayo bersiaplah kita akan jalan-jalan hari ini dan pergi makan, kau laparkan?” tanya Alfy dengan tenang.


Jee hanya menganggukkan kepala tanpa mengatakan apa pun. Tubuhnya terasa lemas setelah mimpi yang benar-benar menguras tenaga dan fikirannya itu.


“Aku tidak ingin keluar.” ucap Jee sedih.


Alfy yang mendengarnya kini duduk kembali di samping kasur dan memeluk tubuh Jee lembut. “Kemari, ceritakan padaku apa yang terjadi di dalam mimpimu tadi?” pintah Alfy yang merasa penasaran.


Jee yang menceritakan jika mereka berjalan dan sudah setuju untuk memiliki anak, namun seketika rencana mereka gagal karena kecelakaan yang membuat Alfy meninggalkannya selama-lamanya.


Mendengar cerita dari Jee, Alfy menarik dl nafas dalam dan tersenyum hangat. “Sayang, kata orang dulu jika kita bermimpi tentang kematian seseorang itu tandanya ia berumur panjang.” ucap Alfy yang tampak berbohong agar Jee bisa tenang.


Sebenarnya memang sering terdengar di luaran sana meskipun Alfy sama sekali tidak percaya dengan hal semacam itu. Demi membuat Jee tenang mungkin itu cara satu-satunya.


“Benarkah begitu?” tanya Jee yang tampak tidak yakin.


“Iya benar, coba saja tanya orang-orangtua dulu pasti mereka mengiyakan.” jawab Alfy dengan yakinnya.


“Tapi mereka bukan orang yang kau bayarkan untuk mengakui hal seperti itu?” tanya Jee yang meragukan ucapan suaminya.

__ADS_1


Alfy yang mendengar Jee tertawa terkekeh apa yang ada di dalam fikiran Jee sampai bisa sejauh itu fikirannya.


“Tentu saja tidak sayang.” jawab Alfy yang kini menuntun Jee mengganti pakaian untuk bersiap keluar.


Setelah mereka menelusuri pusat perbelanjaan Alfy melihat es cream yang tidak jauh dari tempat itu. “Sayang, tunggu aku di sini yah.” pintah Alfy yang menyuruh Jee duduk di kursi.


“Tapi Sayang.” Jee yang berteriak menolak untuk di tinggal sudah tinggal seorang diri. Alfy begitu cepat berlari meninggalkannya yang entah kemana perginya.


Setelah cukup lama Jee menunggu ia melihat penampilan wanita dan pria yang sedang berdansa di iringi musik di pinggir jalan. Langkahnya perlahan mendekat, Jee tampak menikmati hiburan itu. Belum lama ia berdiri tertawa tiba-tiba terdengar suara kendaraan yang seperti tabrakan.


“Alfy.” ucap Jee yang berdiri diam mematung tanpa bisa bergerak mendekat.


Kali ini tidak mungkin mimpi yang kedua kalinya, Jee yang sudah menangis melihat kerumunan orang yang baru saja berlari mendekat ke arah insiden kecelakaan itu tidak berani mendekatkan diri. Tubuhnya terasa lemas baru saja ia hampir terjatuh ke dasar jalan seorang pria sudah lebih dulu menangkapnya.


Mata Jee membulat tak percaya melihat es cream yang berada di depan matanya. Wajahnya menoleh dengan cepat memastikan pria yang di belakangnya.


“Kau sakit?” tanya Alfy yang melihat Jee baru saja hampir jatuh.


Jee tidak bisa mengatakan apa pun selain memandang wajah suaminya dengan air mata yang terus berjatuhan. Dadanya berdegup kencang karena ketakutannya jika Alfy benar-benar kecelakaan dan meninggalkannya tentu bukan dalam mimpi lagi.


“Sayang, ada apa? hey.” Alfy yang menggugah lamunan Jee.


“Hey katakan! Kau takut apa?” Alfy yang bingung dengan sikap istrinya mendadak cengeng begitu.


“Aku takut jika kau pergi,” jawab Jee terdengar berat.


Alfy yang mengajak Jee duduk di kursi kini bertanya-tanya apa yang membuatnya menjadi sedih seperti ini.


Tanpa Jee menjawab tangan wanita itu hanya menunjuk arah kerumunan yang ramai. “Kecelakaan itu?” tanya Alfy dengan wajah bingung.


Jee hanya mengangguk. “Aku mengira mimpiku benar-benar jadi nyata.” jelas Jee lagi yang kembali memeluk tubuh suaminya dan menangis.


“Sejak kapan istriku selalu menempel denganku seperti iniyah? Apa karena permainanku yang begitu membuatnya puas?” sahut Alfy yang membuat Jee terbangun dari sedihnya.


“Apasih katamu? Kau tidak tahu yah aku sangat takut kau meninggalkanku huh.” umpat kesal Jee sambil memukul dada bidang suaminya.


“Iya katakan saja kau takut aku meninggalkanmu karena suamimu ini sangat pandai bukan?” ejek Alfy yang membuat Jee merasa kesal.

__ADS_1


“Tidak lucu, Alfy!” bentak Jee dengan menatap tajam.


“Wah beraninya memanggil namaku, itu tidaj sopan sayang.” Alfy yang kini sudah menggelitiki pinggan langsing istrinya.


“Iya, iya sudah ampun geli. Hentikan!” teriak Jee yang tertawa lepas. Wajahnya memerah menahan geli di pinggangnya Alfy terus melakukannya tanpa memberikan ampun.


“Apa kau masih mau menyebut namaku hah?” tanya Alfy dengan mengancam.


“Tidak, tidak sudah aku tidak akan menyebutnya lagi.” jawab Jee dengan cepat.


Akhirnya selesai momen sedih dan bercandanya kini mereka menuju restoran yang terkenal di daerah itu. Alfy dan Jee tampak menikmati makanannya.


***


Wenda yang pergi meeting bersama Tuan Adelio kini baru saja tiba di sebuah restoran. Seorang klien pria yang usianya hampir setara dengan Tuan Adelio terus menatap ke arah Wenda sejak pertama kali kedatangan mereka di restoran itu.


Beberapa kali mata Tuan Adelio menangkap sorot mata yang tidak enak dari pria itu saat Wenda berbicara. Setelah selesai mereka meeting pria itu meminta nomor ponsel Wenda.


“Em apa saya harus memberinya yah, Pak?” tanya Wenda pada pria itu sambil melirik sesekali ke arah Tuan Adelio.


“Ayolah jangan memanggilku dengan panggilan Pak, umurku tidak setua itu juga kan?” ucap pria di depan mereka dengan tertawa.


Wenda yang melihat tatapan Tuan Adelio begitu tajam seolah memberinya isyarat untuk melayani pria itu dengan baik. Akhirnya Wenda memberikan nomor ponselnya dengan berat hati.


“Jika tidak karena pekerjaan, aku tidak akan mungkin melayani pria hidung belang sepertinya huh.” gerutu kesal Wenda pada Tuan Adelio.


Setelah memberinya nomor ponsel kini Wenda yang berlari mengikuti langkah Tuan Adelio menuju mobil merasa bingung dengan tingkah pria itu.


Dengan cepat ia segera masuk ke mobil, selama perjalanan tidak ada suara apa pun terdengar hanya suara kendaraan yang berpapasan dengan mobil mereka.


Wenda yang merasa tidak melakukan kesalahan hanya diam saja, sementara Tuan Adelio yang kesal dengan tingkah Wenda tebar pesona begitu erat menggenggam tangannya seolah ingin memukul seseorang.


Sesampainya mereka di kantor tiba-tiba Tuan Adelio menarik kasar tangan Wenda hingga ikut masuk ke ruang kerjanya.


“Aw sakit, Tuan.” rintih Wenda yang berusaha melepas tangannya dari genggaman pria itu.


Tanpa meminta persetujuan kini tangan Tuan Adelio sudah meraba kasar bagian bawah Wenda memasukkan tangannya disaku jas Wenda kemudian memasukkannya kembali di saku roknya setelah tangannya menemukan benda kecil tipis itu segera ia menghempaskan ke arah tembok ruangan.

__ADS_1


“Braaakkk.” Suara hempasan ponsel Wenda yang seketika hancur berkeping-keping.


__ADS_2