
Di dalam sebuah gedung tua yang sangat besar namun terlihat tidak terpakai dalam waktu yang lama kini seorang wanita menatap ke segala penjuru ruangan itu tidak ada satu pun orang ia temui dengan tubuh yang terbaring lemas dan di lilit beberapa ikatan tali yang berada di kasur itu tanpa ada alas. Wajahnya tampak semakin pucat di tambah lagi dengan penglihatannya yang semakin lama semakin gelap.
"Kau sudah sadar Nona?" tanya Pria itu dengan kedua tangan yang terlipat menyilang di atas dada kekarnya.
"Ka...u siapa?" tanya Jee yang dengan suara lemasnya.
"Kau tidak perlu tahu aku siapa yang jelas aku ingin kau pergi untuk selama-lamanya," jelas Pria itu dengan tawa yang memenuhi ruangan besar itu.
"Ku mohon lepaskan aku Tuan!" Dengan suara yang semakin lemas Jee memohon namun tidak ada respon dari pria itu kini ia malah melangkah keluar untuk berbicara pada seseorang pria namun Jee tidak bisa melihatnya.
"Biarkan dia tersiksa dulu jika sudah puas melihatnya baru akan kita lenyapkan wanita itu," Perintah pria bertubuh tegak dengan rambut yang sedikit panjang di bagian belakang dan terikat.
"Baik Tuan," ucap Pria yang sebagai bawahannya itu.
Sementara di luar sana sudah banyak orang yang menjaga tempat itu sesuai perintah Radian WIjaya yah pria tampan bertubuh tegak dengan rambut yang terikat wajah yang memang sangat tampan karena dari sang Kakek adalah keturunan Arab dan Nenek dari keturunan India. Radian Wijaya baru saja tiba di Indonesia hari itu juga dan langsung beraksi untuk membawa wanita itu ke hadapannya tanpa sabaran.
Di sisi lain
"Bagaimana bisa kau teledor seperti ini?" tanya Alfy yang sudah emosi sejak perjalanan menemui Jac.
"Maafkan saya Tuan Nona Muda memintaku untuk membeli minuman di depan rumah sakit dan dengan cepat saya berlari karena takut calon anak Tuan marah padaku," ucap Jac dengan polosnya.
"Lalu apa yang kau dapat saat ini?" tanya Alfy meminta hasil deteksinya.
"Saya sudah menemukan lokasinya Tuan dan sudah mengirim beberapa orang kesana untuk memberikan informasi," jelas Jac dengan terburu-buru bersama Alfy menuju mobil dan dengan melaju mereka di perjalanan mengontak beberapa jaringan orang kepercayaannya yang berasal dari kelompok mafia satu gologan dengan Jac saat di Amerika.
Sementara Jee kini sudah tidak sadarkan diri lagi karena infusan yang dari rumah sakit sudah tidak di pasangkan lagi padanya nafasnya terlihat sangat lemah di dalam fikirannya hanya ada wajah Alfy yang membuat ia ingin bertahan hidup namun sangat sulit melihat fisiknya yang sudah semakin lemah. Tanpa kesadaran dirinya saat ini hanya ada air mata yang menetes di pinggir matanya membasahi telinga cantik itu yang terlihat sangat putih bersih.
"Tuan tampaknya wanita itu sudah tidak sadarkan diri," ucap salah satu anggota itu.
"Biarkan saja dia aku tidak akan memberi belas kasihku pada wanita yang sudah membuat adiikku melenyapkan nyawanya sendiri," Dengan penuh tatapan dendam pria itu mendekat pada Jee yang sudah tidak sadarkan diri.
"Baik Tuan," ucap pria di belakangnya yang berdiri tegak dengan menggenggam kedua tangannya menjadi satu.
"Apa kau tidak ingin mencobanya?" tanya Radian tertawa kecil dan menoleh ke arah pria itu.
"Maksud Tuan?" tanyanya dengan bingung dan gugup.
"Maksudku kau harus mencobanya!" Teriak Radian dengan menatap ke arahnya.
"Tapi...Tuan," Dengan ragu ingin menolak namun ia tidak berani.
"Lakukan!" Perintah Radian dengan tekanan suara.
"Baik Tuan," jawab Pria itu bergemetar.
__ADS_1
Astaga apa ini aku di suruh berhubungan dengan wanita yang tidak aku kenal? baiklah aku memang seorang mafia tapi jika untuk urusan wanita aku tidak segila ini sampai tega padanya. Aku adalah seorang pria sejati tidak mungkin bisa melakukan hal ini tapi apa yang harus ku perbuat saat ini aku tidak mungkin bisa melawannya jika terjadi hal itu pasti nyawaku akan lenyap saat ini.
"Tuan mau keluar?" tanya pria itu menoleh ke arah Radian.
"Menurutmu apa aku harus melihatmu begitu?" tanya balik Radian dengan wajah kesalnya berusaha tersenyum sinis.
"Maafkan saya Tuan," jawab pria botak itu.
"Lakukan yang ku perintahkan dan aku akan menunggu di luar," Perintah Radian dengan melangkah ke sebuah ruangan kecil tempatnya beristirahat.
Yah gedung itu adalah milik keluarganya untuk setiap masalah mereka selalu menyelesaikan di gedung tua itu yang dulunya adalah rumah peninggalan almarhum kaken dan nenek keluarga Wijaya. Setelah kedua orang itu tiada kini keluarga Wijaya beralih ke America untuk melanjutkan bisnisnya di sana ketika anak perempuannya juga memutuskan untuk keluar negeri.
Mungkin jika aku tidak melakukannya Tuan Radian tidak akan tahu saat ini hanya kami berdua yang ada di ruangan ini bukan yah aku tidak akan melakukannya sebaiknya aku hanya membuka bajuku dan sedikit menyobek baju wanita ini agar terlihat seperti sudah melakukannya.
Satu jam kemudian masuklah pria berambut yang terikat dengan santainya.
"Bagaimana kau puas?" tanya yang diiringi tawanya terlihat senang.
"Iya Tuan sangat puas terimakasih," ucap Pria botak itu.
"Sekarang tinggal tunggu kepergian wanita itu saja," Sambil menatap tajam ke arah Jee.
"Apa yang akan Tuan lakukan?' tanya Pria botak itu.
"Ternyata wajahnya memang luar biasa," ucap Radian yang memandangi Jee tanpa menjawab pertanyaan pria bawahannya itu.
"Tentunya kau beruntung kali ini," dengan membalikkan tubuhnya menghadap ke pria botak itu.
"Iya tentu saja Tuan," dengan menunduk meskipun sebenarnya ia tidak melakukan apa-apa pada Jee.
Sementara di luar sana semua pasukan yang sudah berjaga sejak dari tadi satu persatu menghilang tanpa Radian ketahui yah pasukan dari Jac sudah membersihkan mereka tanpa tersisa dan tanpa suara sedikitpun itulah kepandaian mereka yang berasal dari satu golongan Mafi di Amerika semua sudah terlatih dengan tepat. Sementara saat ini pasukan merekalah yang sudah berjaga di depan gedung itu dan saat Radian keluar bersama pria botak itu sontak mereka langsung di todongkan sebuah alat tembak dari berbagai arah. Dengan terkejut Radian menatap wajah satu persatu pasukan itu yang memang wajahnya berbeda dari yang sebelumnya kini kedua tangan pria itu mengarah ke atas dan semua pasukan mendekat. Tidak mungkin Radian bisa melawan pasukan sebanyak itu yang berjumlah kurang lebih 30 orang sementara mereka hanya berdua saja.
"Tuan ayo kita masuk mereka sudah menangkap pelakunya," ucap Jac dengan berlari bersama Alfy.
Saat mereka masuk terdengar tawa Radian seperti mengejek. "Jadi kau yang bernama Alfy Syein?" tanyanya dengan sedikit mengejek.
"Siapa kau?" tanya Alfy yang terkejut melihat pria menyebut namanya yang kini tangannya sudah di borgol.
"Kau tentunya ingat wanita yang pernah tidur bersamamu sebelum istrimu bukan?" tanyanya lagi dengan mata yang sudah penuh tatapan kebencian.
Alfy tampak berfikir sejenak ia merasa tidak pernah tidur dengan siapa pun, kecuali Diandra dan itu hanya sebuah hal yang hampir terjadi. Bukan benar-benar terjadi tentunya.
"Diandra," gumam Alfy yang mengerutkan alisnya.
"Yah Diandra Wijaya adalah adikku yang membuat aku harus ke Indonesia untuk menghancurkan wanita kesayanganmu hahaha." Dengan wajah mendongak ke atas tertawa kuat sampai memenuhi seisi ruangan tinggu itu.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan pada istriku?" Dengan mencengkram kuat rahang Radian kini Alfy bergemetar dan tanpa bisa mengontrol diri ia melayangkan beberapa kali tangan dan kakinya ke tubuh kekar Radian.
Hanya tersenyum dan menatap Alfy ia tidak mengeluarkan satu kata pun kini terlihat wajahnya yang sudah mengeluarkan bercak merah di kedua pinggir bibirnya dan pelipisnya yang sudah pecah.
"Kau bisa bertanya pada pria di sampingku apa yang ia lakukan pada istri tercintamu," Dengan suara bergemetar menahan emosi Radian bicara pada Alfy yang baru saja akan melangkah mencari istrinya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Alfy penuh dengan amarah.
"Maafkan saya Tuan," ucap pria itu belum sempat bicara kini Jac dan pasukannya membawa kedua pria itu ke kantor polisi.
Sedangkan Alfy yang sudah menemukan Jee dengan segera ia berlari menggendong istrinya lalu membawa ke ruma sakit saat di perjalanan mata Alfy terfokus pada kaki istrinya yang mengeluarkan bercak merah meskipun tidak terlalu banyak.
"Jee bertahanlah ku mohon!" Teriak Alfy tanpa bisa fokus menyetir mobil.
Sementara Jee masih belum sadarkan diri setibanya di rumah sakit ia berlari berteriak sepanjang lorong rumah sakit wajahnya sudah sangat panik. Dokter yang melihat langsung berlari menuju ruangan priksa. Dengan cepat ia memerika tubuh wanita cantik itu keadaan luar sampai dalam semua ia periksa.
"Tuan Alfy beruntung saja kali ini anda bisa membawa Nona muda tepat waktu jika terlambat sedikit saja mungkin Nona akan kehilangan calon bayinya," jelas Dokter sebelum Alfy bertanya ia lebih cepat menjelaskan.
"Tidak ada yang serius kah Dokter?'' tanya Alfy yang mencoba bertanya keadaan yang lain.
"Tidak ada Tuan," jawab Dokter dengan ramah.
Dengan ragu-ragu Alfy nekat menanyakan yang sebenarnya ia sendiri tidak kuat untuk mengucapkannya.
"Apa tidak ada yang terjadi pada tubuh bagian dalam istri saya dok seperti bekas sentuhan manusia begitu," ucap Alfy yang mencoba menutupi namun bertujuan mencari tahu.
"Tidak ada Tuan Nona muda hanya kelelahan saja," jawab Dokter yang sudah paham dengan pertanyaan Alfy.
"Baik Dokter lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya!" Perintah Alfy dengan menghela nafas legah memahami istrinya baik-baik saja.
Setelah Dokter keluar kini Alfy mendaratkan bibir merahnya beberapa kali pada kening istrinya yang masih belum sadarkan diri. Lagi-lagi ia gagal menjaga istrinya kini air matanya menetes masih belum bisa membayangkan istrinya di sentuh pria lain. Dengan mata yang mulai memancarkan aura mencekam ia meraih ponsel di saku jasnya dan menghubugi nomor salah satu di ponselnya.
"Kemarilah jaga Jee!" Perintah Alfy.
"Baik Tuan," jawab Delon dengan segera ia bergegas meninggalkan kantor dan melaju.
Sesampainya di rumah sakit Delon segera melangkah cepat memasuki ruangan dan ia terkejut melihat keadaan wanita yang terbaring tanpa membuka matanya.
"Ada apa ini Tuan?" tanya Delon yang terkejut karena memang ia belum mengetahui kejadian penculikan barusan.
"Nanti saja di bahas aku akan ke kantor polisi kau jaga ruangan ini dan hubungi beberapa pasukan untuk memperketat ruangan di depan!" Perintah Alfy dengan melangkah ke luar terburu-buru.
"Baik Tuan," jawab Delon tanpa berani bertanya lagi.
Kini ia meraih ponsel dan meminta lima orang pasukan untuk membantunya menjaga ruangan Nona mudanya dengan segera perintah itu mereka laksanakan sepersekian menit sudah tampak lima orang pasukan bertubuh tegak dengan tinggi sama rata 174 terlihat wajah yang sangat-sangat menegangkan memiliki bulu-bulu di pipi kiri dan kanan. Kedatangan mereka mencuri perhatian pengunjung rumah sakit maupun petugas rumah sakit seakan ada tindak kriminal di tempat itu. Sampai langkah mereka terhenti di sebuah ruangan semua mata tidak berhenti menatap ke arah mereka namun yah seperti biasa tanpa sedikitpun mereka hiruakan pandangan itu sangat biasa terjadi pada mereka jadi tidak heran lagi.
__ADS_1
Untuk cerita Alfy dan Jee pada episode ini telah selesai silahkan menunggu kelanjutan ceritanya di episode berikutnya yah. Jangan lupa untuk terus dukung author berkarya dengan like, koment setiap episode dan tekan tombol love jika kalian menyukai cerita ini agar ketika episode sudah update kalian akan mendapatkan pemberitahuannya. Terimakasih Assalamualaikum Wr. Wb.