
Di gedung Syein Biglous tampak seorang pria seorang diri yang tengah sibuk bergelut dengan laptopnya wajahnya tampak begitu sangat serius.
Jacobie, yang akhir-akhir ini sudah mulai pasrah dengan perasaannya yang tersakiti mau mencari tahu kebenarannya.
Sedangkan suster Syanin di rumah sakit yang bekerja setiap hari tidak bisa fokus memikirkan perasaannya yang sampai saat ini semakin sakit.
Sejauh ini hubungannya dengan Jacobie tidak ada kemajuan sama sekali tidak mungkin jika suster Syanin yang harus memulai semuanya duluan.
Tentu ia memikirkan harga dirinya sebagai wanita untuk bisa lebih menahan perasaannya dan melawan rasa cintanya.
Seminggu telah berjalan begitu cepat kini tiba waktunya Wenda harus bersiap ke Jerman untuk melanjutkan kuliahnya.
Ia harus mengurus semua keperluannya di Jerman karena begitu banyak persyaratan yang harus ia lengkapi. Tuan Farhan sebenarnya bisa membantu Wenda untuk mengurus kuliahnya namun rasanya itu tidak baik jika memanjakan keponakannya.
Wenda harus bisa mengurus dirinya sendiri karena akan jauh dari mereka dalam waktu yang cukup lama.
Tuan Farhan dan Nyonya Melly memang tidak memiliki anak sebab itulah mereka mengasuh Wenda sejak kecil karena kedua orang tua Wenda yang bercerai dan tidak ada yang ingin merawatnya.
"Honey, kamu baik-baik yah di sini aku pergi dulu." ucap Wenda manja sambil memeluk tubuh Nakula yang baru selesai mandi tanpa mengenakan baju.
"Iya aku akan jaga diri aku di sini kamu juga." ucap Nakula tersenyum.
"Kiss." ucap Wenda.
Nakula yang enggan berlama-lama dengan Wenda tanpa menunggu lama segera melum*at bibir Wenda yang sudah tampak kehausan sentuhan Nakula.
Cukup lama mereka bermain di kedua bibir itu sampai akhirnya Wenda merasa ingin melampiaskan hasratnya lagi sebelum pergi.
Akhirnya Nakula lagi-lagi menuruti keinginan Wenda demi atm berjalan lancar nantinya, mereka sudah mulai saling menelusuri satu sama lain di bagian tubuh masing-masing.
"Han, aku mau." ucap Wenda yang memberi isyarat pada Nakula.
Mendengar ucapan lirih Wenda Nakula mulai menggendong tubuh Wenda dan manaruhnya di atas kasur dengan posisis Wenda yang terbaring di pinggir kasur dan kakinya tersungkur ke bawa menggantung di kasur.
Nakula yang sudah dengan lihai mempermainkan kedua benda padat Wenda dengan penuh keinginan ia segera melncarkan aksinya sampai.
Wenda yang mendapat sentuhan lembut dan terkadang kasar dari Nakula tampak begitu menikmati permainan perpisahan ini.
Nakula beberapa kali mencoba untuk merubah serangannya yang terkadang lembut dan terkadang kasar, wajahnya sedang asyik mencari tahu sentuhan seperti apa yang Wenda lebih inginkan darinya.
__ADS_1
Ternyata Nakula melihat wajah puas Wenda saat mendapat sentuhan yang kasar dari Nakula tanpa berfikir panjang Nakula melancarkan gerakannya berkali-kali.
Sampai akhirnya mereka berdua sama-sama menyerah dan permainan pun berakhir dengan pagi itu dengan wajah Wenda yang menampakkan senyuman puas pada Nakula.
Dengan cepat Wenda membersihkan diri lalu bergegas keluar apartemennya menuju parkiran. Di parkiran tampak security yang menatapnya dengan penuh hasrat.
Wenda yang melihat tatapan pria itu tampak tersenyum genit pada security yang menatapnya. Jika di lihat dari segi tubuh dan wajah memang security itu terlihat tampan dan sispek.
Wenda sangat menyukai pria dengan tubuh sispek yang membuatnya selalu terbayang ketika bermain di tempat tidur.
Security yang melihat respon Wenda tampak meneguk sesuatu di tenggorokannya dengan kasar. Sedangkan Wenda yang melihat ekspresinya merasa tertantang untuk melakukan lebih jauh lagi.
Wenda perlahan duduk di kursi mobil dan ingin memasukkan kuci mobil namun perlahan ia menjatuhkan kunci mobil tepat di samping ban mobilnya.
Security yang melihatnya dengan cepat berlari mengambilnya kunci mobil Wenda namun saat ia akan berdiri tanpa sengaja menatap ke arah rok mini Wenda yang terlihat membuka lebar.
Ternyata Wenda sengaja membuka lebar kakinya itu memberi pemandanan pada security itu agar terpancing padanya.
Melihat pancingan Wenda yang begitu sangat mudah di tebak perlahan pria itu berdiri sambil mendangak ke atas melihat wajah Wenda yang tersenyum pertanda memberinya ijin untuk melakukan lebih jauh.
Namun pria itu merasa ragu untuk melakukannya, dengan cepat Wenda segera meraih tangan pria itu lalu menempelkannya ke arah paha Wenda yang sangat mulus.
Akhirnya mereka melakukannya di dalam mobil Wenda dengan penuh semangat pria itu terus beraksi tanpa mendengar suara Wenda yang terus mengeluh karena ia melakukannya dengan sangat kasar.
Hampir satu jam mereka melakukan hal itu dan kini akhirnya berakhir dengan wajah lelah terlihat di kedua orang itu.
Dengan cepat Wenda merapikan penampilannya dan security itu bergegas pergi tanpa mengatakan apa pun pada Wenda.
Melihat reaksi pria itu padanya Wenda merasa kesal karena ia di perlakukan seperti binat*ng setelah di pakai tidak di perdulikan lalu di tinggalkan begitu saja.
Wajahnya yang tapak kesal dengan cepat berpindah ke kursi depan dan melajukan kendaraannya menuju rumah Nyonya Melly.
"Dari mana kamu?" tanya Nyonya Melly dengan juteknya.
"Bukan urusan Tante." jawab Wenda dingin.
Mereka berdua memang selalu tidak akrab entah apa yang membuat mereka seperti itu yang jelas mereka selalu sama-sama dingin tiap kali bertemu.
Berbeda jika Wenda bicara pada Tuan Farhan sangat terlihat lembut dan sopan begitu juga Tuan Farhan yang sangat menyayangi Wenda karena tidak tahu perilaku Wenda di belakangnya seperti apa.
__ADS_1
Wenda yang kini menuju lantai atas untuk ke kamarnya dengan buru-buru menyiapkan semua perlengkapannya. Setelah selesai menyimpuni baju ke koper ia segera menarik koper besarnya ke lantai bawah karena di depan rumah sudah ada supir yang menunggunya.
"Nona Wenda sudah siap?" tanya supir itu dengan sopan.
Wenda yang enggan menjawab segera masuk ke mobil dan supir itu segera melajukan mobilnya ke arah bandara dengan suasana yang hening selama perjalanan.
"Tringg...tring...tringg..." suara ponsel Wenda bergetar.
"Halo Wenda," ucap Tuan Farhan.
"Iya Om." jawab Wenda manja.
"Kamu dari mana saja sih? Om hubungi kamu tidak pernah bisa?" tanya Tuan Farhan yang tredengar cemas.
Wenda yang baru ingat jika ada pria yang selalu menghubunginya dan mengkhawatirkan dirinya baru tersadar akan hal itu.
"Maaf Om, Wenda lupa kemarin Wenda seminggu ngumpul buat party gitu sama temen-temen untuk perpisahan." ucap Wenda berbohong.
"Perpisahan? kamu ini seperti tidak akan ke sini saja." ucap Tuan Farhan yang terdengar tertawa.
"Kan jauh Om, tidak mungkin jika Wenda sering pulang." sambung Wenda lagi.
Padahal Wenda sangat paham jika Tuan Farhan tidak mungkin membiarkannya untuk lama-lama di Jerman tanpa sering pulang.
"Nanti kamu akan sering pulang ke Indonesia kok." ucap Tuan Farhan dengan santainya.
"Beneran Om?" tanya Wenda yang berakting kaget.
"Iya. yasudah kamu hati-hati yah Om mau lanjut meeting dulu." ucap Tuan Farhan dengan mengakhiri telefonnya.
Akhirnya Wenda tiba di bandara tepat waktu dengan cepat ia mengambil koper yang di tangan supirnya lalu masuk ke bandara. Kini wajahnya tampak ceria karena akan mendapat dunia baru lagi yang tentunya lebih sangat ia sukai dari Indonesia.
Bayangan Wenda pada pria-pria tampan di Jerman sudah memenuhi fikiran kotornya dengan cepat Wenda mengirim email pada sahabatnya yang sudah kuliah di Jerman lebih dulu darinya.
"Aku akan ke Jerman hari ini, nanti malam datang temui aku di apartemen xx." ucap Wenda dengan bahasa Inggris.
Maafyah readers author kurang pintar untuk memberikan bahasa Inggris dan takutnya kalian yang baca kurang nyaman jadi kita tetap pakai bahasa Indonesia yah.
Cerita Wendanya sampai di sini duluyah selamat membaca dan menikmati semoga kalian suka. Terimakasih.
__ADS_1