Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Kembali Ke Rumah


__ADS_3

Di ruang keluarga tampak satu keluarga yang tengah berdiskusi mengenai hal yang Nyonya Flora sampaikan dengan berat hati.


Nyonya Flora menceritakan keinginan Jee untuk kembali ke rumahnya lantaran ingin lebih tenang.


“Tapi Indra, bagaimana dengan kehidupan anak kita?” tanya Tuan Reindra yang khawatir dengan pernikahannya.


“Aku juga tidak ingin melakukan ini Reindra, tapi harus bagaimana?” lanjut Tuan Indrawan.


Sedangkan Nyonya Flora dan Nyonya Syein merasa bingung harus bagaimana saat ini.


Alfy yang terus memohon pada orangtuanya untuk membantu keluarga kecilnya sekali ini saja.


“Fy, Mami tahu apa yang kau rasakan saat ini tapi tolong kali ini kita harus bisa memahami bagaimana tertekannya Jee.” ucap Nyonya Flora sambil mengelus rambut Alfy.


Alfy yang mendengar hanya terus tertunduk meneteskan air matanya.


Kini Alfy sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya pasrah saja yang ia bisa.


Karena saat ini tidak mungkin bisa membantah istrinya, sesuai saran Dokter Adeline ada baiknya mereka memberikan semua yang membuat Jee nyaman.


Tuan Indrawan dan Nyonya Flora sudah beranjak ke kamar Jee untuk membantu putrinya bergegas pulang ke rumah.


Di ruang tengah tersisa Tuan Reindra, Nyonya Syein, Alfy, dan Dokter Adeline.


“Aku minta Dokter untuk ikut bersamanya.” ucap Alfy tanpa menatap ke arah Dokter Adeline.


“Saya Tuan?” tanya Dokter Adeline yan terkejut.


“Iya anda Dok.” ucap Alfy meyakinkan Dokter Adeline.


“Baik Tuan.” ucap Dokter Adeline.


Akhirnya Tuan dan Nyonya Syein hanya terdiam dan pasrah mengikuti jalannya pernikahan anak mereka.


Setelah mendapat perintah dari Alfy dengan segera Dokter Adeline bergegas ke kamar untuk mempersiapkan pakaian dan perlengkapannya.


Jee yang sudah di bopong oleh Tuan Reindra dan Nyonya Flora menuruni tangga sedangkan Bi Ria yang membantu membopong kursi roda Jee.


Semua orang yang berada di lantai bawah tampak menatap langkah mereka yang menuruni anak tangga dengan perlahan.


Jee terus tertunduk menahan tangisnya ia berusaha terlihat tegar agar tidak membuat keluarganya semakin sedih.


“Ku mohon rubah keputusanmu, Han.” ucap Alfy sambil memegang kedua kaki Jee yang kini sudah berdiri dengan tumpuan kedua badan orangtuanya.


“Maafkan aku.” ucap Jee yang terdengar lirih.


Dan perlahan mengajak kedua orangtuanya untuk meninggalkan rumah itu.


Alfy yang masih terduduk di hadapan tangga bawah menatap ke belakang yang terlihat istri kesayangannya meninggalkannya sendiri.


Air matanya menetes terus tanpa henti menyaksikan kepergian Jee yang kini sudah memasuki mobil bersama keluarganya.


“Hiks...hiks.” Suara tangis Alfy terpecah ketika melihat Jee benar-benar pergi dari rumahnya.

__ADS_1


Tuan dan Nyonya Syein yang melihat kerapuhan Alfy dengan cepat berlari memeluk tubuh putranya.


“Apa salah Alfy, Mah?” tanya Alfy yang tidak terima dengan kenyataan pahit ini.


“Sayang, kau tidak melakukan kesalahan apapun.” jawab Nyonya Syein yang ikut menangis.


“Jee hanya butuh waktu sendiri, kita ikuti saja dulu keinginannya.” Sambung Tuan Reindra.


Akhirnya kedua orang tua itu membopong tubuh lemas Alfy ke dalam kamar dan menyuruhnya untuk istirahat.


Jee yang bersama keluarganya dan di ikuti mobil yang mengantar para pelayan Nyonya Flora bersama Dokter Adeline melaju dengan kecepatan sedang.


Di mobil Jee yang terus menangis tanpa henti memeluk tubuh Nyonya Flora sambil sesenggukan.


“Jee tidak sanggup, Mi.” ucap Jee.


“Kau kuat sayang.” semangat Nyonya Flora berusaha menguatkan anaknya.


Beberapa hari berlalu setelah kepulangan Jee dari kediaman Syein Biglous.


Kini Alfy yang terus menerus mengurung diri di kamar merasa harus bangun dari keterpurukannya.


“Aku tidak boleh membiarkan pernikahanku sampai di sini saja.” ucap Alfy menatap dengan pandangan kosong.


Dengan cepat ia bersiap mandi lalu bergegas menuju rumah Jee.


Pagi itu Jee yang sudah melakukan terapi bersama Dokter Adeline tampak tidak bersemangat.


Jee yang mendengarnya enggan menjawab, ia hanya terdiam mematung dengan tatapan kosongnya.


Fikirannya selalu terbayang wajah suaminya yang setiap hari menemani di dalam kamar walau hanya diam tanpa suara.


Namun kehadiran Alfy di samping Jee sangat membuatnya semakin rindu tiap kali mereka berjauhan.


“Kau merindukanku kan?” Suara seorang pria yang tiba-tiba mengejutkan lamunan Jee.


Dokter Adeline yang mendengarnya pun ikut terkejut.


Dengan cepat Jee menoleh ke belakang matanya terbelalak tidak percaya melihat kehadiran pria tampan yang begitu ia rindukan.


“Kau.” ucap Jee yang terkejut.


Sementara Alfy yang tersenyum perlahan melangkah mendekat ke arah Jee.


Alfy memeluk erat tubuh wanita yang begitu ia rindukan meski saat ini tubuh Jee semakin terlihat kurus dan pucat di wajahnya.


Namun rasa sayang Alfy tidak berkurang sedikitpun pada istri tercintanya.


Jee yang berusaha melepaskan pelukan suaminya terus memberontak meskipun sebenarnya tubuh Jee menginginkan pelukan itu.


“Kau jangan keras kepala, aku bisa merasakan jika tubuhmu sangat menginginkan pelukan ini.” bisik Alfy di telinga Jee.


Kini mereka hanya berdua di halaman rumah itu tanpa Dokter Adeline lagi.

__ADS_1


Entah sejak kapan Dokter cantik itu pergi ke dalam rumah.


“I miss you, Han.” ucap lirih Alfy.


Jee masih enggan menjawabnya hanya diam yang ia lakukan saat ini tanpa berani menatap wajah suaminya.


“Ku mohon pergilah, aku ingin sendiri.” ucap Jee yang berusaha menahan tangis di wajahnya.


Sebenarnya Jee ingin sekali membalas pelukan suaminya namun jika ia lakukan hal itu tentu Alfy tidak akan meninggalkannya sendirian.


“Pi, sepertinya menantu kita sedang berjuang keras.” ucap Nyonya Flora yang mengintip pemandangan di luar rumah mereka.


“Iya Mi, semoga saja Jee bisa luluh yah.” lanjut Tuan Indrawan.


Namun betapa terkejutnya mereka saat melihat Jee yang dengan cepat Jee mendorong tubuh Alfy menjauh darinya.


“Astaga Pi.” ucap Nyonya Flora yang kaget melihat hal itu.


Begitu juga dengan Alfy yang merasa tidak percaya dengan perlakuan kasar Jee.


“Han, apa yang kau lakukan?” tanya Alfy.


“Bukankah aku sudah katakan pergi dari hidupku?” Teriak Jee yang terdengar keras.


Nyonya Flora dan Tuan Indrawan hanya berdiri mematung menyaksikan pemandangan yang menegangkan itu.


“Ku mohon jangan menyiksaku seperti ini, Han.” ucap Alfy.


Belum sempat Alfy melanjutkan aksinya, Nyonya Flora sudah lebih dulu menghampiri mereka.


“Kemari Fy.” ajak Nyonya Flora meraih tangan Alfy dan membawanya menjauh dari Jee.


“Ada apa Mi?” tanya Alfy yang tampak kecewa.


“Fy, dengarkan Mami. Jee saat ini membutuhkan waktu sendiri kita tidak bisa memaksanya terus menerus.” jelas Nyonya Flora.


Alfy yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya.


Air mata pria tampan itu lagi-lagi menetes tanpa henti.


“Mami, tidak ingin membantu Alfy?” tanya Alfy.


“Bukan seperti itu Fy, Mami ingin membantu kalian tapi bukan saat ini.” ucap Nyonya Flora yang meminta Alfy memahami kondisi istrinya saat ini.


Kini Nyonya Flora memeluk tubuh kekar Alfy untuk memberikan menantunya semangat.


“Mami yakin akan ada waktunya kalian bisa seperti dulu lagi, saat ini kalian sedang mendapat ujian jadi kuatlah demi pernikahan kalian.” ucap Nyonya Flora.


Akhirnya Alfy yang merasa sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi perlahan melangkah meninggalkan rumah itu dengan mobilnya.


Matanya masih terus menangis sambil melajukan mobilnya tanpa tujuan.


Halo semuanya masih ada yang penasaran dengan akhir cerita ini? Ikutin terusyah sebentar lagi akan sampai di titiknya loh. Selamat membaca readers ku sayang.

__ADS_1


__ADS_2