
“Aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian di awal pernikahan kita yang begitu buruk.” ucap Alfy mulai terlihat wajah penuh bersalahanya.
Selama ini Alfy terus tidak bisa melupakan kesalahan yang pernah ia perbuat hampir saja karena kebodohannya Jee pergi untuk selama-lamanya. Jee yang kembali mengingat kejadian di masa lalu mereka hanya tersenyum kemudian meraih dagu Alfy.
Menatap lurus wajah suaminya. “Aku sudah melupakan semuanya. Sekarang kita mulai semuanya dengan cinta kita.” ucap Jee yang mendapat pelukan dari Alfy begitu eratnya.
“Terimakasih, sayang. Aku begitu beruntung memiliki istri sepertimu.” Jee yang tidak menjawab hanya terus memeluk tubuh kekar suaminya. Seakan dalam hati ia mengatakan sangat berterimakasih telah menjodohkannya dengan pria sebaik Alfy. Kebahagiaannya benar-benar lengkap setelah di cintai suami seperti Alfy.
Tanpa terasa Jee meneteskan air mata bahagianya malam itu, Tuhan begitu baik padanya selalu memberikan kebahagiaan tak terduga. ”Kau jangan menangis, sayang.” ucap Alfy yang menyadari suara isak Jee yang berusaha mengusap air matanya.
“Tidak, aku hanya membayangkan dulu kita sangat lucu saat pernikahan hehe.” sahut Jee setelah membayangkan malam pernikahan.
“Iya, kau sangat cantik sama seperti saat ini justru semakin cantik yah.” goda Alfy yang mulai membuat Jee malas.
Kini Alfy mengajak Jee untuk naik ke atas menikmati pemandangan dari ketinggian tentu lebih sempurna. Setelah mereka tiba di atas Alfy kembali memeluk tubuh Jee dengan hangatnya seakan malam itu adalah milik mereka berdua. Dan semua yang ada di situ hanya sebagai patung manekin saja.
“Sayang,” panggil Alfy dengan lembutnya memeluk tubuh istrinya dari belakang.
“Hemm.” jawab Jee tak kalah lembut dari Alfy.
“Ku mohon, berjanjilah padaku kau akan selalu bersamaku apa pun yang terjadi dan jangan pernah meninggalkanku. Aku ingin kau bisa memahami sifatku yang terkadang membuatmu kesal dan sifatku yang terlalu berlebihan padamu.”
Jee yang mendengarnya hanya tersenyum dan membalikkan tubuhnya menghadap Alfy. Matanya begitu menatap dalam kedua mata suaminya. “Kalau begitu maukah kita memiliki anak sekarang?” tanya Jee yang berusaha membujuk Alfy di tengah suasana yang baik sepertinya akan lebih mudah.
__ADS_1
Alfy yang mendengar bujukan istrinya kini kembali menatap pemandangan lampu-lampu yang menghiasi kota itu. Matanya tampak terlihat bimbang, ia ingin sekali memiliki anak tapi jika mengingat istrinya yang hampir meninggalkannya saat keguguran rasanya seketika nyali Alfy menciut.
Jee bisa melihat jelas tatapan mata yang penuh kekhawatiran di sana, perlahan tangan wanita itu meraih wajah suaminya mengarahkan lurus pada pandangannya. “Tidak ada yang perlu di khawatirkan, semua akan baik-baik saja.” ucapnya meyakinkan Alfy.
Kini Alfy melangkah menjah dari Jee dan membelakangi istrinya, ia berfikir begitu penuh pertimbangan. Ketakutannya benar-benar menguasai dirinya saat ini. Akhirnya Jee yang merasa tidak tega memilih untuk mengalah dari Alfy. Ia mendekat dan memeluk tubuh suaminya dari belakang.
“Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi. Sekarang ayo kita nikmati liburan ini.” ajak Jee yang menarik tangan suaminya turun.
Mereka menghabiskan malam itu dengan berjalan kaki menikmati berbagai macam makanan yang di jual di sekeliling itu.
***
“Kemana perginya dia?” tanya Fiky yang merasa kesal telah menunggu Dara berjam-jam di depan rumah namun tak juga terlihat sampai saat ini.
Sesampainya di rumah Mira Fiky segera mengetuk pintu dan pelayan langsung mempersilahkannya masuk. “Ngapain datang kesini?” tanya Dara yang begitu kesal melihat kedatangan Fiky.
“Dara, dengerin dulu.” Ucap Fiky yang berusaha meredam amarah gadis itu.
“Jangan pernah hadir di hadapanku lagi.” ancam Dara yang berlalu pergi melajukan mobilnya. Sebelum Dara pergi ke rumah Mira ia kembali ke rumahnya untuk mengambil mobilnya dan saat ini Dara sudah pergi meninggalkan rumah sahabatnya dengan laju. Fiky yang tidak berani menyentuh tangan Dara hanya bisa melihat kepergian wanita itu.
“Maafin aku Dara.” gumam Fiky sambil menatap kepergian wanita itu. Mira yang melihatnya merasa bingung apa yang terjadi antara Fiky dan Dara keduanya tidak ada yang bercerita padanya.
“Sebenarnya ada apa sih, Kak?” tanya Mira penasaran.
__ADS_1
“Bukan apa-apa Mira, semua salahnya aku.” ucap Fiky yang memberikan tanda tanya besar pada Mira kemudian pergi meninggalkan sejuta pertanyaan pada gadis kepo itu.
Di perjalanan Fiky yang hanya merasa lemas melajukan mobilnya tanpa tahu ingin kemana. Fikirannya penuh rasa bersalah sepertinya selama ini ia belum bisa move on dari Jee sampai-sampai tega membuat Dara sebagai pelarian. Tidak pernah terfikirkan sebelumnya jika Dara akan menjadi kekasihnya.
Fiky hanya ingin membuat Dara bisa membantunya melupakan Jee, tapi sekarang bukannya melupakan Jee malah menambah masalah. “Bodoh, bodoh, dasar bodoh kau Fiky.” umpat kesal pria itu sambil memukul-mukul setir mobilnya dengan kasar.
Akhirnya kini Fiky yang merasa bersalah memilih untuk menjauh dari Dara dan dia berusaha untuk membuat hidupnya tidak bergantung dengan orang-orang yang ada di sekeliling Jee lagi. Malam ini adalah malam yang Fiky anggap sebagai malam usainya hubungan dia dan Dara. Sementara Dara yang berada di dalam mobil terus melajukan mobilnya menuju rumahnya dengan mata yang sudah banjir menangis sepanjang jalan.
Sesampainya di rumah Dara segera berlari menuju kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur dengan kasar lalu menutup wajahnya dengan bantal. Di kamar itu ia melampiaskan semua kesedihan, kekecewaan kehancuran hatinya. Ia tidak menyangka pria yang selama ini tidak pernah terlihat aneh justru membuatnya sesakit ini. Dan itu karena sahabatnya sendiri, Fiky masih mencintai Jee sampai Dara harus menjadi korbannya sekarang.
Dara menganggap malam ini juga malam terkahir hubungannya dengan Fiky, ia tidak ingin lagi melihat pria itu selamanya.
Tanpa terasa pagi yang sangat dingin membuat Jee enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya, tubuhnya menggeliat di atas kasur dan tangannya beberapa kali meraba tempat tidur mencari keberadaan sang suami.
“Sayang, sayang...” panggil Jee dengan lembutnya di ikuti tangannya yang terus memukul-mukul kasur.
Alfy yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat istrinya dan mendekat kemudian ia mengecup kening Jee. Jee yang merasakan kehadiran Alfy tersenyum manis tanpa membuka matanya. Tangannya yang meraba tubuh suaminya nampak paham jika Alfy baru saja selesai mandi.
“Ada apa?” tanya Alfy lembut.
“Dingin.” jawab Jee dengan manjanya.
Alfy yang mengerti ucapan istrinya segera merebahkan kembali tubuhnya yang sudah segar dengan aroma sabun mandi. Kemudian memeluk Jee dan menenggelamkan tubuh istrinya ke dalam dada bidangnya. Mereka berpekulan di tutupi selimut tebal cukup lama. Jee yang kembali teridur lelap kini merasa cukup untuk melanjutkan tidurnya akhirnya ia memutuskan untuk bangun, sementara Alfy yang sejak tadi hanya berdiam menemani istirnya tanpa menutup matanya.
__ADS_1
“Kau tidak tidur, sayang?” tanya Jee yang terkejut saat melihat Alfy hanya berdiam sambil memeluknya.