
Perlahan langkah Delon mendekat ke arah Zeyra lalu memegang kening wanita itu yang masih terdapat kompresan kemudian menyentuhnya setelah menyingkirkan benda itu.
“Zey...Zeyra aku di sini.” Ucap Delon pelan.
Zeyra yang tersadar dari tidurnya membuka mata dan menatap sosok pria tampan di hadapannya dengan rasa yang begitu dalam. Kerinduannya pada Delon tidak bisa ia pendam lagi sampai akhirnya tangannya di genggam oleh Delon.
“Mengapa kau bisa seperti ini?” tanya Delon.
“Em...tidak aku tidak apa-apa.” Jawab Zeyra berbohong.
“Kalau rindu katakan saja, kasihan bayimu.” Sahut Jacobie setengah mengoloknya.
Zeyra yang mendengarnya melemparkan tatapan tajam pada Kakaknya. “Abang, apaan sih?” tanyanya kesal.
Jacobie hanya tersenyum sinis tampak paham dengan perasaan adiknya saat ini, lalu ia bergegas menuju ruang tengah untuk menunggu Delon. Tampaknya saat ini kekhawatiran Jacobie sudah berpindah alih pada Delon.
Matanya sesekali melempar pandangan ke arah suster Syanin yang tengah sibuk membuatkan Zeyra makanan di bantu dengan pelayan di rumah itu.
Sementara di kediaman Syein tampak sekeluarga yang sudah memulai rutinitasnya menonton televisi bersama. Betapa terkejutnya mereka saat melihat pemberitaan buruk tentang putranya begitu juga dengan Tuan Indrawan dan
Nyonya Flora yang terkejut.
“Pi, bagaimana nasib Alfy?” tanya Nyonya Flora.
“Papi juga tidak tahu, Mi. Alfy sama sekali tidak ingin bercerita pada kita.” Jawab Tuan Indrawan yang tidak kalah khawatirnya dengan Tuan Reindra dan Nyonya Syein.
Nakula yang melihat berita itu segera bersiap untuk ke luar rumah dan menghubungi Hengky yang namanya belakangan ini di sebut-sebut menjadi pahlawan pengganti Alfy Syein.
“Paman, aku keluar dulu ingin bertemu seseorang.” Ucap Nakula.
“Iya, nanti kemari lagiyah.” Jawab Tuan Reindra dengan ramahnya.
Nakula yang kini beranjak meninggalkan kediaman Syein segera melajukan kendaraannya menuju sebuah gedung yang tampak menjulang tinggi di tengah-tengah beberapa gedung mewah.
“Maaf Tuan, anda ingin bertemu dengan siapa?” tanya salah seorang gadis yang terlihat memiliki kedudukan sebagai sekertaris Hengky.
__ADS_1
“Hengky Wibowo.” Jawab Nakula tanpa basa basi.
“Tapi apakah anda sudah membuat janji pada Tuan Hengky?” tanya wanita itu lagi.
Belum sempat Nakula menjawab kini muncul seorang pria yang bertubuh tegak di belakang wanita itu.
“Welcome bro.” Ucap Hengky merentangkan kedua tangannya saat melihat sosok Nakula di hadapannya.
Nakula yang melihatnya dengan segera mendekat dan merangkul Hengky, sementara sekertaris itu segera menyingkir dari hadapan kedua pria itu. Hengky dan Nakula sudah masuk ke ruangan kerjanya yang terlihat cukup luas.
“Sepertinya aku tahu mengapa kau kemari.” Tebak Hengky yang sedari tadi tampak memperhatikan Nakula.
“Yah tentu saja kau tahu itu.” Sahut Nakula.
Pemberitaan tentang Nakula masih teringat jelas di kepala Hengky tentang persaingan antar kedua sepupu itu yang ingin menguasai kursi kepemimpinan begitu pemahaman Hengky.
“Kali ini kau datang pada orang yang tepat.” Ucap Hengky.
Nakula yang mendengar persetujuan Hengky menerimanya kini tersenyum penuh dengan kejahatan yang melintas di fikirannya. Mereka tampak merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan Alfy di saat persidangan berlangsung
nanti.
Alfy yang tidak bersuara hanya terus memakan roti di piringnya sedangkan Jee yang ingin berpamitan pergi kuliah ragu untuk mengatakannya. Alfy menyadari wajah istrinya yang seperti ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa.
“Ada apa?” tanya Alfy yang mengejutkan Jee.
“Em...itu-“ ucapan Jee yang menggantung karena takut akan membuat Alfy marah.
“Jee sudah waktunya kuliah, Fy.” Lanjut Nyonya Flora yang paham.
“Bersiaplah, aku akan mengantarmu.” Sahut Alfy tanpa menatap wajah istrinya.
Setelah sarapan selesai kini Jee menuju kamar untuk mengambil tas kuliahnya dan memakai sepatu lalu menuruni anak tangga.
“Ganti baju mu.” Pintah Alfy yang memandang tajam ke arah Jee.
Semua terkejut mendengarnya begitu juga Jee, Alfy yang tidak bicara apa-apa lagi segera menuju mobil dan memilih menunggu istrinya di depan rumah.
Jee yang masih diam mematung tampak sedih di wajahnya. Nyonya Syein yang mendekat kearahnya dan berusaha menenangkan menantunya.
__ADS_1
“Ayo sayang ganti bajumu.” Ucap Nyonya Syein yang menyadari kemarahan Alfy melihat Jee menggunakan pakaian yang sangat membentuk bodynya.
“Tapi Mah, Jee tidak punya baju yang seperti Alfy mau dan lagi Jee kan tidak segendut ukuran baju-baju yang Alfy suruh pakai saat di pulau.” Bantah Jee terdengar lirih.
Nyonya Flora yang mendengar percakapan mereka ikut bergabung dan mengajak Jee naik ke kamarnya.
“Ayo, Mami pilihkan baju untukmu.” Ucap Nyonya Flora sambil menggandeng tangan putrinya.
Di kamar Jee hanya diam duduk di atas kasur sambil memperhatikan Nyonya Flora yang tampak sibuk memilih pakaian.
Semua baju yang ada di lemari itu sangat pas dengan tubuh pemiliknya tidak ada sehelai kain pun yang longgar.
Dengan cepat Nyonya Flora mengambil rok yang tidak terlalu pendek tepatnya pas di bawah lutut Jee dan mengambil jaket yang bahannya tidak terawang dan membentuk body.
“Nah ini cocok sayang.” Ucap Nyonya Flora sembari menggantungkan tangan yang memegang kedua kain itu di hadapan putrinya.
“Mi, cuaca di luar sangat panas, apa iya Jee harus memakai jaket ini?” tanya Jee yang merasa ogah untuk mencoba style ala Maminya.
“Ayolah dari pada kuliahmu terlambat sayang, nanti setelah pulang kuliah kau bisa mengajak Alfy berbelanja ke mall.” Bujuk Nyonya Flora.
Jee yang melihat jam di tangannya merasa terpaksa harus mengenakan pakaian itu dari pada ia terlambat untuk kuliah.
Selesai mengenakan baju ia segera menuju mobil yang sejak tadi sudah menyala, Alfy yang menatap penampilan istrinya merasa lucu namun ia berfikir dari pada Jee menjadi bahan tontonan semua mata pria rakus di luar
sana lebih baik seperti itu.
Selama perjalanan Jee hanya terdiam dengan wajah cemberutnya, ia sangat tidak nyaman dengan penampilan aneh itu. Alfy yang menyadarinya hanya tetap fokus menyetir karena tidak ingin mendapat rayuan manja dari istrinya. Tentu ia bisa luluh jika wajah Jee berubah jadi sedih di hadapannya.
Selang beberapa menit mobil mewah itu sampai di depan gerbang kampus, Jee yang tanpa sabar langsung turun di susul oleh Alfy. Ia mengantar istrinya sampai masuk ke kampus kali ini Jee tidak di kawal oleh Delon.
“Terimakasih Pak Han.” Ucap Jee yang menyapa security depan kampus sambil tersenyum saatt di persilahkan.
Alfy yang terkejut mendengar panggilan itu tampak marah.
“Apa maksudnya memanggil Pak sayang pada security itu?” gumam Alfy yang menatap tajam ke arah Jee.
Namun Jee yang tidak menyadarinya segera meninggalkan Alfy dengan wajah yang masih kesalnya itu.
Dengan wajah yang sama Alfy juga segera meninggalkan istrinya dan melajukan mobilnya kembali ke rumah.
__ADS_1