
Dara seketika berkeringat dingin merasakan jantung pria yang kini ia pegang dengan pelan. Matanya melihat wajah Fiky yang sangat dalam menatapnya. Masih sangat membingungkan bagi Dara untuk memahami semua ini.
“Aku mencintaimu, Dar.” Ucap lirih Fiky yang saat ini sangat dekat di depan wajah Dara.
“Kak.” Suara Dara yang ingin mengatakan sesuatu namun segera di tutup dengan jari telunjuk Fiky
“Kau hanya perlu mengangguk, aku tidak ingin yang lain.” Ucap Fiky yang menolak ucapan Dara untuk mengatakan hal lain kecuali menerimanya.
Dara perlahan menganggukkan kepalanya tanda ia telah menerima Fiky sebagai kekasihnya. Fiky yang melihat anggukan dengan segera memeluk erat tubuh Dara lalu melepaskan pelukan kembali menatap wajah wanita di hadapannya dengan senyuman bahagia dan kembali memeluknya lagi.
Dara yang tersenyum bahagia ikut membalas pelukan Fiky dengan lembut, kini mereka saling berpelukan cukup lama. Sampai akhirnya Fiky yang menyudahi pelukan itu kembali menatap wajah cantik di depannya dengan sangat dekat.
Dara tidak tahu apa yang ingin Fiky lakukan padanya saat itu namun yang jelas wajah mereka kini sudah sangat dekat tanpa ada batas apa pun. Hidung mancung keduanya saling bertabrakan dan perlahan Fiky memiringkan kepalanya untuk meraih bibir mungil Dara.
“Kak emmm.” Ucap Dara yang lagi-lagi tertahan karena ******n bibir Fiky yang sudah menelusuri area dalam mulutnya tanpa terlewatkan satu pun.
Mereka beradu mulut cukup lama sampai akhirnya Fiky menyadari Dara yang sudah sesak nafas karena serangan Fiky tanpa memberikan ruang Dara untuk mengambil nafas.
“Terimakasih yah, Dar sudah menerimaku.” Ucap Fiky yang tersenyum sambil memperbaiki rambut Dara yang sedikit berantakan.
“Sudah malam Kak.” Sahut Dara yang memberi kode pada Fiky untuk mengantarnya pulang.
Mesipun Dara hanya tinggal bersama pelayan di rumahnya tapi Dara merupakan gadis yang sangat menjaga namanya agar tidak di pandang buruk oleh orang di luaran sana jika keluar larut malam apalagi bersama seorang pria tanpa ada yang mengawasi mereka.
Malam itu terlihat mobil mewah berlalu lalang, para tamu undangan sudah meninggalkan tempat acara di hotel mewah itu. Kelurga Syein juga sudah kembali ke rumah utama namun tidak dengan pasangan yang sedang terbakar api cemburu.
__ADS_1
Alfy yang begitu marah dengan Jee kini menarik keras pergelangan tangan istrinya menuju kamar pribadi yang di di sediakan hotel itu.
“Sayang, tanganku sakit.” Ucap Jee yang sambil berlari kecil mengikuti langkah suaminya yang berada di depannya.
Alfy yang masih tidak perduli dengan ucapan istrinya terus menarik sampai akhirnya kini mereka tiba di kamar. Dengan kasarnya Alfy mendorong tubuh Jee ke atas kasur tanpa bicara apa pun.
“Aw...” suara rintihan Jee yang tidak di gubris sama sekali oleh Alfy.
Dengan segera tubuh kekar pria itu menindih tubuh padat Jee yang terpampang nyata dengan gaun yang sedikit seksi di bagian depan. Mata Alfy segera menangkan pemandangan yang terlihat sangat menantang itu. Tanpa kelembutan pria itu segera melahap habis kedua benda dengan bergantian terus ia lakukan sambil sesekali meninggalkan bekas yang terasa sakit.
Jee yang beberapa kali merintih karena sakit tidak sama sekali mendapat ampun dari sang suami justru sebaliknya mendengar suara istrinya Alfy semakin menjadi kasar. Kemarahannya kali ini bukanlah hal yang main-main. Jee benar-benar telah melakukan kesalahan malam itu pada suaminya dengan mempertontonkan kemesraan bersama pria lain di hadapan para orang-orang yang mengenal baik suaminya.
Setelah puas Alfy bermain-main di atas kini ia mulai menelusuri ke arah bawah, baju yang menghalangi kegiatannya dengan segera ia robek tanpa sisa. Jee merasa malam ini bukanlah sedang bersama suaminya.
“Hentikan.” Ucap Jee yang terus berulang mengatakannya.
“aw sakiiit.” Teriak Jee yang sambil meneteskan air mata.
Alfy melakukannya sekali lagi dengan sangat kasar tidak ada ucapan apa pun yang keluar dari mulutnya. Jee yang tidak bisa melawan kini hanya bisa pasrah dan menerima permainan suaminya.
***
Di kamar yang lain tampak sepasang pengantin baru yang terlihat mempelai pria sedang membantu wanitanya untuk melepaskan segala hiasan yang menempel di baju dan rambutnya.
“Sebenarnya kau tidak perlu memakai ini semua.” Ucap Delon.
__ADS_1
“Memangnya kenapa? Tidak cocok yah?” tanya Zeyra yang merasa tersinggung dengan ucapa Delon.
“Kau sudah sangat cantik, tidak perlu barang-barang seperti ini lagi untuk membuatmu cantik.” Jelas Delon yang membuat Zeyra tersipu malu.
Zeyra yang mendengar gombalan maut Delon hanya tersipu malu baru kali ini ada pria yang mengatakannya meski pun dulu bersama Nakula sering kali mendapat gombalan tapi Zeyra merasa sangat berbeda.
Selama mereka melepaskan semua perhiasan tak jarang Delon terun mencubiti pipi Zeyra yang terlihat semakin caby.
“Aw sakit.” Rintih Zeyra sambil mengusap pipinya.
“Kau sungguh menggemaskan.” Jawab Delon.
Zeyra yang mendengar hanya tersenyum sambil berfikir sejak kapan pria itu semenjengkelkan seperti ini.
“Aku bebas ingin melakukan apa pun padamu karena kau sudah menjadi milikku, termasuk....” ucapan Delon menggantung ketika mendekatkan wajahnya ke depan wajah Zeyra dan perlahan membaringkan tubuh wanita itu ke atas kasur.
Saat Delon ingin menindih perut Zeyra tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana. Delon yang melihat tertawa ia baru menyadari posisinya kali ini tentu tidak akan baik untuk kandungan istrinya.
“Baiklah, untuk saat ini Ayah akan memaafkanmu tapi setelah kau keluar kau tidak boleh menggangguku lagi yah.” Ucap Delon yang berbicara pada anak di dalam perut istrinya sembari mengelus perut buncit itu.
Melihat tingkah suaminya Zeyra hanya tertawa saja tanpa mengatakan apa-apa. Akhirnya Delon yang berdiri kini kembali naik ke atas kasur dan berbaring di belakang Zeyra. Mereka menghabiskan malam dengan suasana yang lembut.
Sangat berbeda dengan keadaan kamar yang satunya, suasana begitu panas. Jee yang sangat kelelahan tanpa sadar air matanya menetes karena Alfy sampai saat ini masih belum juga menghentikan permainannya. Entah apa yang terjadi dengan pria itu bagaimana bisa ia tidak lelah sudah melakukannya beberapa kali.
Zeyra yang sudah tertidur dengan lelap dalam pelukan Delon kini merasa sangat nyaman malam pertamanya ia dapat di temani oleh pria yang menyayanginya di tengah-tengah masa kehamilannya. Sungguh kebahagiaan yang tidak terduga bagi Zeyra mendapatkan suami sebaik Delon.
__ADS_1
Jee yang masih berjuang menguatkan diri kini sudah terkulai lemas tanpa bersuara, malam itu tidak ada satu pun yang bisa menghentikan perlakuan Alfy yang terus menerus menyerang istrinya.
Sampai akhirnya mentari pagi pun sudah kembali bersinar berganti dengan kepergian bulan, semua sudah mulai terbangun dari tidur lelapnya. Sedangkan Alfy yang baru saja menghentikan aksinya kini sudah tertidur dengan penuh keringat di sekujur tubuhnya.