Istri Seksi Milik Pengacara Tampan

Istri Seksi Milik Pengacara Tampan
Termakan Jebakan


__ADS_3

Di ruangan rawat Fiky yang merasa ada suara-suara akhirnya terbangung, matanya menatap tak percaya ketika melihat Jee dan Alfy di berada di hadapannya.


"Kakak sudah bangun?" tanya Jee tersenyum.


Mendengar istrinya berbicara pada orang lain mata Alfy melotot tajam paja Jee, tatapan itu mengisyaratkan untuk tidak terlalu manis pada pria lain.


"Jee bagaimana keadaanmu?" tanya Fiky tanpa menjawab Jee.


"Dia sudah baik-baik saja." Alfy segera menjawab dengan cepat.


Alfy selalu menatap wajah istrinya sambil memperhatikan tiap kali mulut Jee ingin berbicara ia dengan cepat menjawab seenak jidatnya.


"Lalu apa kau tidak merasakan sakit apa pun, Jee?" tanya Fiky lagi.


Biarlah Alfy yang menjawab intinya ia bisa menanyakan yang ada di dalam fikirannya, begitu dalam fikiran Fiky saat ini.


"Tidak ada." jawab Alfy singkat.


Jee yang merasa beberapa kali ingin menjawab namun tidak bisa akhirnya hanya menggeleng pasrah melihat tingkah Alfy pada Fiky.


"Han, kau tidak boleh seperti itu, dia sudah membantu kita loh." ucap Jee.


Alfy yang menyadari akan hal itu hanya terdiam ia tidak bisa menjawabnya lagi. Meskipun Alfy sudah membantunya bagi Alfy cemburu tetaplah cemburu tidak bisa tergantikan dengan apa pun.


"Kakak sudah makan?" tanya Jee.


Fiky yang memang kebetulan belum makan ia menatap licik ke arah Jee dan Alfy, pria itu berniat untuk mengerjai Alfy lebih dalam lagi.


Senyuman menyeringai nampak terlihat di wajah Fiky ia menggelengkan kepalanya ketika Jee melihatnya.


AKhirnya Jee yang melihat mangkuk bubur di atas meja dengan segera mengambilnya ia memutar roda kursinya lalu kembali ke samping Fiky.


Alfy yang menatapnya tajam dengan segera memegang lengan Jee menatapnya dalam diam membuat Jee mengerti akan tatapan itu.


"Baiklah karena aku tidak bisa menyuapinya sekarang tugasmu untuk menyuapi Kak Fiky yah," ucap Jee dengan tersenyum.


Alfy yang mendengar begitu terkejut bagaimana bisa seorang Alfy menyuapi pria yang selalu membuatnya kesal itu tidak mungkin.


"Tidak...tidak, aku tidak mau." jawab Alfy kesal.


Sedangkan Fiky yang tadinya tersenyum-senyum dalam hati berniat ingin membuat Alfy cemburu jadi kecewa mengapa justru sekarang ia harus di suapi oleh pria seperti Alfy.


"Tidak usah Jee nanti ada suster kok yang bantu." ucap Fiky mencegah Alfy menyuapi dirinya.


Jee yang dengan kesal melotot tajam ke arah Alfy begitu sulitnya ternyata membuat dua pria ini menjadi akur.

__ADS_1


"Han, suapi Kak Fiky jika kau tidak ingin aku yang menyuapinya." ancam Jee pada suaminya.


Alfy yang mempertimbangkan itu tampak begitu lama berfikir sampai akhirnya terdengar kembali suara cerewet Jee.


"Kak Fiky begini juga menolong ku kalau kau tidak mau baiklah aku akan merawatnya lebih lama." suara Jee membuyarkan lamunan Alfy.


Sedangkan Fiky hany berdiam melihat perdebatan suami istri itu, ternyata sangat menggemaskan tanpa sadar Fiky tersenyum.


Entah sejak kapan ia merasa Alfy dan Jee begitu lucu sampai saat ini Fiky tidak tahu perasaannya pada Jee masih ada atau sudah tidak ada lagi.


Yang jelas ia merasa Jee dan Alfy adalah pasangan yang sangat serasi.


Akhirnya setelah perdebatan Jee da Alfy cukup panjang kini Alfy perlahan megambil mangkuk berisi bubur itu lalu berdiri tepat di hadapan Fiky.


Wajahnya terus cemberut karena menahan kesal bisa-bisanya seorang pengacara sukses seorang Alfy Syein menyuapi Fiky.


Astaga untung saja di ruangan itu tidak ada media jika saja ada, tentu berita itu akan tersebar luas ke segala penjuru dunia.


Alfy yang terus mengaduk-aduk bubur itu tidak sadar jika bubur itu sudah semakin tidak karuan rupanya.


"Ayo suapin, mau sampai kapan kau terus mengaduknya, Han?" Jee yang terus mengoceh di samping Alfy.


Perlahan Alfy menyendok dan mengarahkan ke mulut Fiky dengan di iringi tatapan tajamnya. Fiky yang melihat itu merasa terganggu dengan tatapan Alfy. Bubur yang masuk ke mulutnya rasanya bukan bubur tapi beras yang masih mentah.


"Bagaimana bisa bubur ini menjadi sangat keras untuk ku telan dan rasanya sungguh pahit sekali." gumam Fiky sambil terus berusaha keras menelannya.


"Ah sial, tadinya ingin membuat Alfy cemburu padaku tapi mengapa justru kali ini aku yang termakan jebakanku sendiri sih." Fiky berbicara dalam hati lagi.


"Kau puaskan? inikan yang kau inginkan di suapi oleh istriku, jangan pernah bermimpi." Alfy terus melemparkan protesnya dengan menatap Fiky.


Jee yang melihat kedua pria itu saling melempar tatapan hanya menggelengkan kepala saja ia tidak mengerti apa yang ada di dalam fikiran kedua pria itu.


"Han, berikan minumnya dong." ucap Jee.


Alfy yang mendengar tidak mengeluarkan suara apapun selain gerakan tubuhnya yang dengan cepat mengambil gelas di atas meja.


Cukup lama mereka di ruangan Fiky sampai akhirnya Fiky menghabiskan sendokan terkahir bubur di tangan Alfy.


Setelah memastikan Fiky kenyang Jee akhirnya di bawa oleh Alfy ke kamar rawatnya untuk istirahan begitu juga dengan Fiky.


Saat Alfy dan Jee baru saja kembali ke kamar kini Delon tampak berdiri di depan kamar rawat Jee dengan tubuh tegaknya.


"Delon, Jacobie kemana?" tanya Jee yang akhir-akhir ini jarang melihat pria buntut suaminya itu.


"Ada apa kau menanyakan pria itu?" Alfy yang tidak rela mendengar istirnya mencari pria lain.

__ADS_1


"Tidak papa, rasanya hanya sedikit aneh saja beberapa hari ini ia sering tidak ada biasanya selalu ada bersamamu." jelas Jee.


Alfy yang merasa rasa kepedulian istrinya itu memang sangat tidak wajar baginya hanya menghela nafas dengan kasarnya.


Delon pun yang akhirnya tidak menjawab pertanyaan Jee karena ia tidak mendapat ijin dari Alfy tentunya.


"Ayo masuk." ucap Alfy sambil mendorong kursi roda istrinya.


Kini mereka berdua istirahat di dalam kamar rasanya sangat melelahkan bagi Jee yang baru sembuh sudah berkeliling-keliling.


Begitu juga dengan Alfy sungguh melelahkan karena entah sejak kapan tidurnya sangat tidak teratur. Alfy yang baru saja merebahkan tubuh istrinya di atas kasur akhirnya ikut berbaring di sebelah Jee.


Kini kedua orang itu sudah tertidur dengan lelapnya sambil berpelukan mesra.


Semantara di rumah kecil milik suster Syanin, Zeyra yang tertidur tiba-tiba berlari ke dalam kamar mandi.


"Uwekkk....uwek...uwek..." suara muntahan Zeyra.


Suster Syanin yang mendengarnya dengan cepat berlari menghampiri Zeyra yang kebetulan tidak sempat menutup pintu kamar mandi.


Dengan telaten suster Syanin mengurut-urut pundak belakang Zeyra untuk membantu muntahnya agar keluar.


"Sudah enakan?" tanya suster Syanin pada Zeyra.


"Iya sus." jawab Zeyra dengan lemas.


Suster Syanin segera menuntun Zeyra ke kamar dan merebahkan tubuh wanita itu ke atas kasur.


"Tunggu sebentar yah, aku akan membuatkan air hangat." ucap suster Syanin.


Zeyra yang terbaring lemas kini hanya terdiam dengan tatapan kosongnya ia terus memikirkan penyesalannya.


Wajah Nakula terus membayangi fikirannya rasa benci pada pria itu entah sejak kapan muncul di fikirannya yang jelas sudah tidak ada lagi cintanya.


Tanpa terasa air matanya pun menetes mengapa waktu itu ia begitu bodoh percaya pada Nakula, cintanya benar-benar membuatnya hilang akal sehat seketika.


"Bodoh...bodoh...dasar bodoh." gumam Zeyra yang menangis.


Suster Syanin yang baru saja tiba membawa segelas air hangat terkejut melihat Zeyra yang terbaring menangis.


Dengan cepat ia mengusap-usap pundak Zeyra lalu perlahan suster memeluknya dengan lembut.


Zeyra yang merasakan hal itu juga nyaman sampai akhirnya ia kini tenang dan tidak lagi menangis.


Suster Syanin yang memastikan Zeyra tidak sedih lagi dengan cepat menyuguhkan minuman yang masih hangat itu. Setelah minum ia menyuruh Zeyra untuk kembali istirahat agar keadaannya cepat kuat lagi.

__ADS_1


 


Halo semuanya selamat membacayah semoga kalian masih setia yah menunggu updatenya.


__ADS_2