
Di kantor Syein Biglous kini Delon tengah mengadakan rapat bersama beberapa pengacara mereka mengenai kasus tentang pengaduan masyarakat terhadap perusahaan yang menjual produk parfume membuat resah masyarakat dasar pegunungan karena perusahaan tersebut tidak membagi keuntungan berdasarkan kontrak yang mereka buat. Yah perusahaan parfume itu berdiri belum cukup lama dengan tanah yang masih milik masyarakat mereka membuat persetujuan setiap penjualan perbotol mereka akan mendapatkan keuntungan sepuluh persen. Karena merasa aman dengan kontrak tersebut maka pihak masyarakat pegunungan merasa tidak keberatan akan hal itu. Pemiliki dari perusahaan FragFlow adalah Nona Friska Brain yang berasal dari Belanda wanita cantik itu dengan rambut pirang berwarna putih sangat menyukai bunga maka dari itu ia mendirikan perusahaan parfume dari berbagai macam bunga dan perusahaannya memang sudah memeliki cabang di setiap negara. FragFlow adalah nama perusahaan yang berasal dari singkatan Fragrant Flowers artinya bunga wangi sesuai dengan pemiliki perusahaan tersebut yang selalu tampil di hadapan publik dengan aromanya yang sangat menggoda hingga mampu mendapatkan investor dari beberapa negara dengan kelas yang tidak meragukan lagi.
"Sebelum kita memulai penyelidikan ada baiknya untuk mengonfirmasi terhadap Nona Friska terlebih dahulu," ucap Delon di ruangan itu.
"Apakah kita tidak bertanya dengan Tuan Alfy terlebih dulu Tuan Delon?" tanya salah satu pengacara itu namanya adalah Yudistira Utama Biglous.
"Saya rasa Tuan Yudistira ada benarnya," ucap Tarendra Wardana Biglous.
"Iya memang sebaiknya seperti itu namun dalam keadaan Nona muda yang sedang mengkhawatirkan saya tidak ingin membuat Tuan Alfy tertekan," jelas Delon dengan wajah penuh tegangnya.
Namun semua pihak pengacara di ruangan itu tidak akan melawan keputusan Delon mereka yakin Delon dan Jacobie bisa membantu mereka untuk mengatasi kasus yang satu ini.
"Jika itu keputusan anda Tuan Delon kami setuju," jawab Meidiawan Biglous dengan penuh keyakinannya.
"Baiklah untuk kasus kali ini kita harus bisa tanpa Tuan Alfy," ucap Delon dengan menutup meeting kali itu.
Semua pun bergegas meninggalkan ruangan bersama Delon menuju ruang kerja masing-masing semua terlihat sangat serasi dengan jas berwarna hitam dengan paduan celana abu-abu mereka memang memiliki warna seraga setiap harinya dan beberapa warna gelas lainnya itu sudah menjadi khas keluarga Biglous.
Sementara di ruangan rawat Jee yang masih juga belum sadarkan diri di temani dengan seorang pria tampan di sampingnya yang setiap menunggu kesadarannya. Di luar juga kedua keluarga mereka sedang menunggu sementara Dokter yang di datangkan dari Jerman masih sedang dalam perjalanan yang sejak dari tadi di tunggu oleh Jacobie di bandara. Setelah beberapa lama kemudian tampaklah seorang wanita cantik memakai jas putih dengan celana dan sepatu heelsnya yang senada dengan jasnya berwarna putih semua membuat aura wanita itu terlihat sangat sempurna. Melihat keindahan itu Jac hanya berdiri menelan sesuatu di tenggorokannya karena tertegun melihat kesempurnaan itu meskipun masih tidak sebanding jika di lihat dengan Nona Jee.
"Anda Tuan Jac?" tanya Dokter Adeline dengan berbahasa Indonesia yang sedikit kaku.
"Iya, anda Dokter Nona Jee?" Dengan memastikan kembali bahwa wanita di hadapannya benar seorang Dokter karena Jac merasa tidak percaya jika yang ia jemput hari ini seorang wanita yang sangat fresh jika di lihat.
"Iya benar sekali," jawab Dokter Adeline.
"Mari Dokter saya akan mengantar anda ke rumah sakit dengan aman," ucap Jacobie sambil mempersilhakan wanita itu mengikutinya.
Dengan cepat Jacobie membukakan pintu mobil dan segera melaju ke arah rumah sakit sepanjang perjalanan wanita itu tidak henti-hentinya mengajak Jacobie berbicara tentang Indonesia yang membuatnya sangat betah ketika mendapat tugas di sini.
"Jika anda katakan sangat betah ketika di Indonesia itu tandanya kali ini bukan pertama kali anda datang?" tanya Jacobie dengan menebak.
"Iya saya sudah beberapa kali ke Indonesia," jawab Dokter Adeline tersenyum.
__ADS_1
"Apa yang membuat anda betah di sini Dokter?" tanya Jacobie lagi.
"Anda tidak perlu memanggil saya seperti itu jika di luar seperti ini," ucap Dokter Adelin meminta pada Jacobie.
"Maafkan saya jadi harus memanggil anda apa?" tanya Jac ragu.
"Panggil Adeline saja," jawab Dokter Adeline lagi.
"Em baiklah Adeline." Dengan sedikit ragu Jac menyebut namanya.
"Dari tadi kau selalu bertanya padaku apa aku tidak bisa mengetahui nama mu?" tanya Adeline.
"Panggil saja Jac itu yang biasa Tuan panggil padaku." Sambil menatap sesekali ke arah Adelin yang duduk di sampingnya.
Beberapa menit kemudian mereka telah tiba di rumah sakit yah Jac memang selalu laju ketika membawa mobil kecuali jika yang ia bawa Nona Jee pasti tidak bisa karena wanita itu selalu ingin menikmati perjalanan dengan santai. Dengan segera Jac membukakan pintu mobil lalu mengantar Adeline menuju ruang rawat Jee dengan semua perlengkapan yang ia bawa selebihnya sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit dan beberapa Dokter yang masih berada di ruangan itu untuk membantu Dokter Adeline nantinya. Saat melangkah cepat Jac yang bersama Dokter Adeline tidak sengaja tertabrak oleh suster Syanin.
"Maafkan saya Nona." ucap suster Syanin memohon sambil tertunduk.
"Saya sama sekali tidak sengaja Nona maafkan saya," ucap suster Syanin yang terus memohon.
"Mari Adeline Nona semua sudah menunggumu," ucap Jac yang berusaha menolong suster Syanin ddengan mengalihkan perhatian Adeline.
"Baiklah Jac." Dengan segera meninggalkan suster Syanin bersama wajah kesalnya ia melangkah cepat.
Melihat tingkah wanita itu suster Syanin merasa kesal bagaimana mungkin ia yang meminta maaf padahal jelas-jelas dialah yang berjalan sambil memperhatikan wajah Jac sampai akhirnya menabrak suster Syanin yang sedang terburu-buru membawa peralatan medis yang habis di pakai membersihkan Nona Jee. Sementara Jac yang merasa kasihan pada suster Syanin menoleh ketika sudah melangkah jauh rasa prihatin muncul di fikirannya bagaiaman lembutnya hati wanita itu meskipun ia tahu tidak salah namun tetap meminta maaf sedangkan wanita yang bersamanya jelas-jelas sudah salah justru memarahi orang yang tidak bersalah.
"Dokter silahkan." ucap Tuan Reindra dengan cepatnya ketika melihat sosok wanita yang ia tahu adalah Dokter yang ia percayakan untuk menantunya.
"Terimakasih Tuan," Dengan tersenyum sambil melangkah cepat ke dalam ruangan itu.
Kini Dokter Adeline memeriksa terlebih dahulu keadaan Jee satu persatu untuk memastikan keadaan pasiennya sebelum di tindak lanjuti. Sepersekian menit Dokter Adelin memberi keterangan memang benar bahwa pasiennya menderita Leukimia dan harus menjalani teraphi yang Dokter Adelin miliki.
"Lalu jika istri saya menjalani terapi apakah tidak perlu kemo Dok?" tanya Alfy penasaran.
__ADS_1
"Tentu saja Tuan istri anda tidak perlu menjalani kemoterapi karena saya memiliki cara pengobatan tersendiri," jelas Dokter Adeline tersenyum.
"Baik Dokter lakukan yang terbaik Dok." Dengan memohon Alfy berbicara pada wanita di hadapannya itu.
"Semoga saja Nona bisa merespon dengan baik Tuan pengobatan yang saya berikan karena jika tidak ini tentu tidak akan berguna," jelas Dokter Adeline.
"Apa yang harus saya lakukan Dokter?" dengan antusias Alfy memahami ucapan Dokter Adeline.
"Anda hanya perlu membuat istri anda memiliki semangat untuk sembuh jangan sesekali Nona Jee mendapat beban fikiran Tuan," Dengan memberi saran pada Alfy Dokter Adeline sesekali melirik ke arah Jac.
Mendapat lirikan seperti itu Jac yang berdiri di belakang Alfy hanya tertunduk merasa tidak enak entah apa yang wanita itu fikirkan padanya namun yang jelas Jac merasa tidak nyaman dengan tatapan itu. Setelah beberapa lama pemeriksaan selesai kini mata yang sejak entah berapa lamanya tertutup perlahan sudah tergerak dan membuka dengan tatapan yang begitu lemas. Melihat hal itu Alfy dengan segera berdiri dari duduknya menggenggam erat tangan istrinya mencium keningnya.
"Istriku kau sudah sadar?" tanya Alfy dengan wajah bahagianya.
"Apa yang terjadi suamiku?" tanya balik Jee masih terdengar suara yang begitu lemahnya.
"Kau tidak perlu bertanya hal lain istriku yang penting saat ini kau sembuh dulu yah," ucap Alfy berusaha menyeka air matanya yang tiba-tiba mengalir deras lagi.
"Kau sudah makan suamiku?" tanya Jee tampak khawatir melihat wajah suaminya yang tampak berantakan dan sangat lelah.
"Aku ingin menunggumu bangun lalu kita makan bersama," ucap Alfy sambil mencium punggung tangan istrinya.
Melihat hal itu Dokter Adelin tampak tersenyum kagum dengan pemandangan di hadapannya sangat indah rasanya melihat hal itu membuatnya ingin segera menikah namun bagaimana sangat sulit mendapatkan pasangan hidup dengan sifatnya yang suka seenaknya sendiri pada orang lain sampai saat ini tidak ada pria yang mampu bertahan dengannya karena selalu melawan jika di atur. Tetapi setelah ia bertemu dengan Jac tampaknya hatinya sudah mulai tergetar kembali dan bisa lebih lembut dari sebelumnya. Kedua keluarga yang menunggu di ruang tunggu sejak tadi dengan segera masuk saat mengengar Alfy yang sudah berbicara tertawa dengan istrinya.
"Sayang kau sudah sadar?" tanya Nyonya Flora melangkah mendekat ke arah putrinya yang masih terbaring dengan selang yang membantu pernafasannya dan juga menyalur dari infus ke punggung tangannya.
"Mami juga di sini ternyata," ucap Jee dengan tersenyum lirih.
"Jee kau harus sembuh cepat yah," ucap Tuan Reindra dengan wajah sedihnya.
"Tentu saja Pah, Jee akan cepat sembuh kok." Sambil tertawa berusaha terlihat kuat di hadapan semua orang.
Hai untuk cerita Alfy dan Jee di episode ini sampai di sini duluyah nantikan terus kelanjutan ceritanya semoga para readers suka yah dengan karya author yang satu ini. Jangan lupa dukung terus author untuk berkarya dengan memberikan rating lima, like dan komen. Terimakasih juga yang sudah bersedia memberikan dukungan author sampai bisa di tahap episode ini. Assalamualaikum Wr. Wb.
__ADS_1