
Di saat mereka berbincang-bincang sambil sesekali bercanda, tanpa di sadari seseorang langsung duduk di samping Fayra sambil tersenyum.
"Hai ...." sapa seseorang, dengan mengukir senyuman yang sangat lebar.
Wajah Fayra dan semuanya begitu terkejut, ketika manik matanya menatap wajah orang tersebut yang terlihat begitu ceria.
"K-kak Alena?" ucap Fayra, sedikit panik saat Alena duduk tepat di sampingnya.
"Gua di sini enggak ganggu kalian, kan? Soalnya ada yang mau gua omongin sama kalian penting sih." ucap Alena, terus mengukir senyuman di wajahnya.
Lydia dan Violet hanya bisa berdiri di dekat Alena sambil melipat kedua tangannya di dada, sambil ikut tersenyum menatap mereka semua.
Ace melihat adanya pergerakan mencurigakan membuat dia langsung merangkul Fayra, dan sedikit menjauhkan tubuh istrinya dari mantan kekasihnya.
"Ngapain lu ke sini? Jangan bilang, lu lagi ngerencanain sesuatu buat istri gua?"
Satu kalimat berhasil membuat semuanya membolakan kedua matanya. Mereka benar-benar terkejut, ketika mendengar Ace mengucapkan kata istri untuk Fayra, yang jelas-jelas masih kekasihnya.
Fayra mencubit perut Ace membuatnya mengeluh ke sakitan. "Astaga, Kak! Ngapain kamu bilang begitu. Lihat wajah mereka, pasti saat ini mereka lagi bingung sama ucapanmu!"
Fayra terus mencubit Ace dan berbicara menggunakan nada geramnya, lalu sedikit menekankan suaranya serta terdengar layaknya orang berbisik.
Dimana, saat ini semuanya sahabat Ace dan Fayra serta Alena dan sahabatnya masih terdiam bagaikan patung yang baru saja kelar di cetak.
"Ma-maaf, Ho-honey. Awhh, a-aku enggak sengaja." ucap Ace sambil meringis.
"I-istri? A-ap ka-kalian su-sudah menikah?" ujar Alena, wajahnya terlihat begitu syok dilapisi oleh kepanikan.
Fayra melepaskan cubitan dari perut suaminya, lalu manatap tajam kearahnya dan secara perlahan, Fayra berbalik menatap semuanya dalam keadaan tersenyum canggung.
"Hehe, e-enggak kok. Mu-mungkin Kak Ace berbicara seperti itu, lantaran dia u-udah seperti menganggapku kaya istrinya sendiri, bukan pacar." jelas Fayra, jantungnya berdetak sangat kencang
__ADS_1
"Bukan, begitu Bunny?" sambung Fayra, melirik Ace dengan tatapan mematikan. Sedangkan Ace hanya bisa menganggukan kepalanya sambil menyengir ala kuda.
"Hehe, i-iya Honey. I-itu benar kok, lagi pula nanti kan kamu juga akan menjadi istriku. Jadi ya apa masalahnya, jika aku mengatakan hal seperti itu?" jawab Ace merangkul kembali Fayra.
Ace terlihat begitu bangga karena dia memiliki istri seperti Fayra. Akan tetapi, Alena yang melihat kemesraan mereka malah membuat hatinya terbakar cemburu.
Api yang berkobar cukup besar, berhasil membakar seluruh hatinya, sampai Alena sendiri tidak sadar kalau tangannya mengepal cukup keras sambil mencekram rok pendeknya.
"Rupanya kalian semakin kesini semakin terlihat mesra ya, berbeda sama kita dulu. Ace sama sekali tidak pernah bersikap semanis ini sama gua." gumam Alena tersenyum, tatapan mulai memerah.
Tanpa disengaja Lydia melihat reaksi tangan Alena, langsung menyenggol lengan Violet. Kemudian Lydia memberikan kode mata kepadanya, bahwa saat ini Alena terlihat seperti sedang menahan sebuah amarah yang begitu besar.
Apa lagi ketika Ace mencium pucuk kepala Fayra, semakin membuat darah Alena mendidih.
Tanpa mengundur waktu, Alena langsung to the point berbicara mengenai tujuan kedatangannya ke sini dan bergabung bersama mereka.
"Ekhem, ohya. Besok kan kita semua udah libur panjang, bahkan ketika masuk pun kita sudah tidak akan bersekolah di sini."
"Apa kalian bersedia dateng di acara gua? Tenang, gua udah ngajak yang lainnya kok. Jadi kalian enggak perlu khawatir lagi."
"Bahkan, hampir semua murid kelas 2 dan 3 gua undang. Cuman kelas 1 yang enggak gua undang. Soalnya gua enggak begitu kenal sih."
Semua terdiam menatap satu sama lain, terlihat jelas bahwa di wajah mereka begitu bingung dan juga cemas.
Mereka sedikit menaruh curiga, kenapa bisa Alena sangat senang merepotkan dirinya sendiri cuman demi mengadakan acara kelulusan sekolah.
Padahal jelas-jelas pihak sekolah saja sudah membuatkan acara tersendiri untuk pelepasan anak kelas 3.
"Buat apa lu repot-repot ngadain acara itu, toh bukannya Minggu depan sekolah juga akan mengadakannya?" tanya Arsyi, penuh curiga.
"Kalau itu acara milik sekolah, pasti akan di hadiri oleh semua wali murid. Berbeda sama acara yang kita adakan khusus untuk murid." sahut Violet.
__ADS_1
"Slow aja, acara itu cuman buat happy-happy aja kok. Hitung-hitung salam perpisahan kami kepada kalian semua, siapa tahu kan bisa jadi kenang-kenangan yang berkesan." ucap Lydia, sedikit menyindir sambil menunjukkan senyuman miringnya.
"Jadi, gimana? Apa kalian mau ikut gabung di acara kami?" tanya Alena, penasaran.
"Ya gua akui, gua memang banyak salah sama kalian terutama lu, Raa. Tapi, gua berniat mau memperbaiki hubungan pertemanan kita. Anggap aja kalau acara ini sebagai tanda maaf gua sama lu." sambung Alena, meyakinkan Fayra, yang terlihat sedikit bingung.
Semua terdiam seperti memberikan kode satu sama lain dengan tatapan mata. Cuman ketika mereka mau mengatakan tidak, Fayra malah langsung menyetujuinya tanpa berunding terlebih dulu.
"Baiklah, Kak. Fayra maafkan Kak Alena, siapa tahu kita bisa menjadi teman bahkan sahabatkan hehe ...."
"Tenang aja, Kak. Nanti kita semua akan datang ke acara itu, Kakak tinggal kasih tahu aja alamatnya dimana. Kita pasti akan datang tepat waktu."
Fayra tersenyum menatap wajah Alena yang terlihat begitu bahagia, sampai Alena mengadahkan tangannya dan berkata.
"Serius, Raa? Lu udah maafin gua? Tapi, lu janji ya datang ke acara gua. Kalau lu enggak datang, tandanya lu enggak maafin gua."
"Aku janji, Kak. Aku pasti datang, masa iya aku enggak datang. Lagi pula aku enggak mau kita musuhan terus, cuman karena seorang pria."
"Cuman Fayra percaya, suatu saat nanti Kak Alena pasti akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Kak Ace. Percaya deh, keajaiban itu ada. Buktinya Fayra yang selama ini di tolak mentah-mentah oleh Kak Ace sekarang malah jadi kekasihnya hehe ...."
"Raa!" pekik semua sahabatnya bersama-sama. Fayra yang awalnya tertawa langsung menoleh menatap mereka.
Terlihat jelas wajah mereka begitu kesal, layaknya memberikan pertanda bahwa mereka sangat tidak setuju, sama apa yang Fayra katakan kepada Alena.
"Udah gapapa, ini pertanda baik buat aku dan Kak Alena. Sekali-kali kita ngumpul sama yang lain, biar berasa kaya reunian hehe ...." jawab Fayra, cengengesan.
"Baiklah, gua cabut dulu. Makasih kalian sudah bersedia datang ke acara gua, untuk alamatnya nanti gua share ke kalian ya. Dahh ...."
Alena bangkit penuh senyuman menatap Fayra, lalu dia melambaikan tangannya dan pergi bersama kedua sahabatnya meninggalkan kantin.
Seperginya Alena, Fayra yang tidak merasa melakukan kesalahan apapun malah terkena sidang oleh semua sahabatnya.
__ADS_1