
Namun, siapa sangka. Disaat Fayra dan yang lainnya sedang memberikan ucapan selamat untuk pasangan yang baru resmi ini. Dia malah dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang berhasil membuatnya terdiam mematung.
"Ekhem, selamat untuk kalian. Semoga bahagia selalu sampai ajal menjemput." ucapnya sedikit mengikir senyuman sambil menjulurkan tangannya.
"Terima kasih." ucap Louis, sedikit membalas senyumannya sambil menjabat tangannya.
"Maaf jika terlambat, soalnya tadi ada sedikit kendala." ucapnya melirik ke arah Fayra.
Sementara Fayra mencoba untuk tetap bersikap biasa saja, meskipun tubuhnya sedikit gemetar dan wajahnya mulai berubah.
Bahkan sahabatnya yang lain pun ketika menyadari sikap Fayra berubah membuat mereka sedikit mengkhawatirkan kondisinya.
Terutama Sheila dan juga Arsyi langsung mencoba menenangkannya, meskipun Fayra tetap berusaha tersenyum didalam keadaan yang hampir membuatnya gila.
"Raa, lu gapapa 'kan?" tanya Arsyi, khawatir.
"Ada apa, Raa? Lu lihat apaan?" sahut Arsyi, cemas.
"Lo-loh, kamu ada disini?" tanya orang tersebut ketika terkejut melihat Fayra.
"Pa-pak Kharel? Kenapa Bapak ada disini? Kok Bapak kenal dengan Louis?" tanya Fayra, wajahnya memerah.
Pertama kali Fayra melihat betapa tampannya kharismatik seorang Kharel hari ini, sampai-sampai Fayra takjub melihatnya. Fayra gemetar dan juga wajahnya memerah, bukan karena dia ketakutan. Melainkan dia terpesona akan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna untuk dipandang.
Senyuman kecil terhias diwajah Kharel ketika matanya menatap betapa cantiknya seorang Fayra, yang biasanya berpenampilan biasa saja. Kini, benar-benar berubah bagaikan seorang bidadari yang turun dari khayangan.
Hiasan demi hisan diwajah Fayra menambah kesan kecantikan yang terpancar dari dalam hatinya.
Janda kembang dengan segala pesonanya berhasil memikat semua pria yang menatap kearahnya. Termasuk Kharel, pria yang menyebalkan pun ikut meleleh akan keindahkan ciptaan Tuhan yang bernamakan Bidadari.
Sampai detik ini pun Kharel belum mengetahui siapa Fayra yang sebenarnya, dan mengapa dia bisa sekolah sejauh itu dari keluarganya, serta kesedihan apa yang pernah Kharel lihat.
Beberapa kali Kharel melihat Fayra menangis di taman kampus, lantan pada masa itu Fayra sedang mengalami dilema akan pilihannya. Apakah dia sudah tepat untuk memutuskan berpisah atau dia harus kembali berjuang mempertahankan rumah tangganya.
Namun semua itu adalah pilihan yang tepat, buktinya Fayra bisa tersenyum lebar tanpa lagi merasakan hatinya terluka yang berkelanjutan. Kini hanya akan ada masa-masa bahagia yang akan Fayra ciptakan, tanpa kembali menoleh masa lalunya.
__ADS_1
"Kalian saling kenal?" tanya Louis, terkejut saat melihat Kharel dan Fayra menatap satu sama lain.
"Apakah dia ini, temanmu?" tanya balik Kharel menatap Louis.
"Ya, dia sahabatku. Apakah Kakak mengenalnya?" jawab Louis, penasaran.
"Kakak? Ja-jadi dia Kakaknya Louis?" suara hati Fayra berkicau dengan wajah syok.
"Ya, dia adalah salah satu mahasiswaku yang sangat menyebalkan." jawab Kharel spontan.
Fayra awalnya terkagum-kagum dengan sosok Kharel yang tampan rupawan, seketika tersadar bahwa Kharel tetaplah akan menjadi dosen Killer yang sangat ngeselin.
Buktinya saat Louis menanyakannya, dia malah menjawabnya tanpa adanya rasa bersalah sedikit pun, setelah menjeleki Fayra didepan sahabatnya sendiri.
"Yakk, apaan ini! Bisa-bisanya nyebelin bilang nyebelin, aneh!" pekik Fayra, tidak terima.
"Kau yang nyebelin!" ucap Kharel.
"Kau ngeselin!" sahut Fayra.
"Kau nyebelin!" jawab Kharel.
"Nyebelin, ngeselin!" pekik keduanya secara bersamaan, sampai akhirnya mereka terdiam.
"Nahkan, hati-hati biasanya yang sering ribut begini akan saling mencintai dan pada akhinya berjodoh." goda Nata.
"Ya, benar. Buktinya gua sama Eric, tiap hari bertengkar pada akhirnya saling mencintai. Hanya saja gua harus nunggu Eric mapan lebih dulu, biar gua enggak makan sama garem dan kecap." sambung Arsyi dengan bangga.
"Yee, dasar cewek matre! Gimana nanti kalau Eric tiba-tiba keadaannya berada dibawah, terus lu cuman bisa makan sepiring berdua?"
Sheila menatap jengah kepada sahabatnya sendiri yang selalu memikirkan hidupnya akan berada diatas selamanya.
"Ya sudah tinggalin aja, cari suami baru lagi yang dompetnya tebel dan jug-- aawshhh, yak! Sa-sakit, By. Sakit!"
Arsyi meringis kesakitan saat Eric berhasil menjewer telinganya cukup kuat, jika tidak begini maka Arsyi tidak akan sadar atas ucapannya yang berhasil membuat Eric kesal.
"Apa kamu bilang tadi, By? Cari suami baru, hem? Makan nih suami baru!" ucap Eric, kesal.
"Rasain lu, haha ...." ucap Nata, san Sheila bersama-sama sambil terkekeh, ketika melihat sahabatnya menerima hukuman dari calon masa depannya.
__ADS_1
Beginilah Arsyi, meskipun ucapannya seenak jidatnya. Cuman, itu tidaklah diambil hati oleh Eric. Karena dia tahu ucapan Arsyi memang pedas, sepedas omongan tetangga.
Hanya saja berbanding terbalik dengan hatinya yang akan selalu menemani Eric dalam keadaan apapun. Suka duka akan mereka lewati, walaupun harus menghadapi sikap satu sama lain yang begitu menguras perasaan dan juga energi.
"Astaga, kenapa kalian pada ribut sih. Ini kan hari bahagia mereka, jadi jangan buat kegaduhan disini. Kasian nanti mood mereka untuk malper bisa-bisa rusak karena kalian, hihi ...."
Sekalinya Nicho membuka mulut, dia berhasil membuat wajah Nata dan Louis merah merona. Bahkan Louis aja belum siap buat unboxing, ini Nicho malah mengungkitnya.
Menyebalkan bukan? Ya, begitula Nicho. Makannya kadang Sheila harus mengelus dada untuk menghadapi calon masa depannya yang seperti ini.
"Bisa diem enggak itu mulut, mau gua sumpel pakai sepatu?" ancam Louis, kesal bercampur malu.
"Ciee, malu enggak sih. Malu lah, malu lah, masa enggak sih haha."
"Kayanya kalian harus live streaming seru deh, biar kita bisa nonton gimana seorang es batu akan menaklukan istrinya, dengan segala keromantisannya. Haha ...."
Tawa Nicho menular ke semua sahabatnya, kecuali Fayra dan Kharel yang masih saling menatap satu sama lain dengan kesal.
Louis yang benar-benar tidak bisa menahan rasa malunya, hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya berhasil menggoda dia dan istrinya.
Sampai akhirnya Louis mengalihkan topik, dia memperkenalkan Kharel kepada sahabatnya, bahwa Kharel ini adalah anak dari Kakak Papahnya.
Jadi, bisa dikatakan bahwa Louis dan Kharel adalah saudara sepupu. Meskipun ada berbedaan jarak rumah yang sangat jauh, tetapi hubungan keluarga Kharel sama Louis sangatlah dekat.
Mendengar penjelasan Louis, membuat Fayra mengoceh didalam hatinya. Dia tidak menyangka bahwa mereka adalah karabat dekat. Disinilah jantung Fayra kembali berdetak, dia takut jika statusnya akan terbongkar dengan cepat.
Namun, sedetik kemudian Fayra mencoba pasrah atas hidupnya. Lagi pula buat apa dia harus menutupi statusnya, toh dia juga bukan penjahat ataupun narapidana bukan?
Jadi biarkan saja Kharel tahu statusnya, malah itu akan jauh lebih bagus. Dengan begitu Kharel pasti akan menjauhi Fayra, atas statusnya yang terbilang masih muda sudah gagal dalam menjalani sebuah hubungan.
Disaat mereka sedang berbincang-bincang tentang dimana Fayra dan Kharel bertemu, lantas bagaimana mereka bisa dekat dan masih banyak lagi. Tiba-tiba seorang pria datang dengan segala ketampanan dan juga kegagahannya, menaiki panggung lalu menyapa semuanya dengan sedikit senyuman.
Mereka terkejut, kemudian berbalik dan menoleh menatap pria itu. Fayra benar-benar syok membolakan matanya, rasanya jantung ini ingin sekali copot ketika dia mengenali siapa pria itu.
Begitu juga pria itu yang terkejut oleh penampilan Fayra yang terkesan sangatlah sempurna bagi seorang wanita. Bentuk tubuh yang mungkil, langsing dan juga putih berhasil membuatnya tidak berkedip.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️
__ADS_1