Learn to Love You

Learn to Love You
Pobhia


__ADS_3

Balik lagi diposisi Kharel, dia masih terdiam. Bingung dengan perasaanya sendiri, sampai seketika Louis terus mencecar Kharel dengan semua pertanyaan.


Kharel pun mulai menjawab dengan segala kegugupan hatinya, membuat mereka menyimak dan menunggu apa yang akan Kharel ingin ungkapkan.


"Entah mengapa, akhir-akhir ini jantung rasanya berdetak sangat cepat. Seakan-akan hati saya seperti perlahan telah terbuka untuk seseorang. Sampai pada akhirnya, ketika berada didekatnya mulut ini terlalu susah untuk mengatakan kalau saya sudah mulai mencintai---"


"Mencintai siapa?"


Arsyi dan yang lainnya kembali dari tempat persembunyiannya, setelah mereka selesai melakukan introgasi kepada Fayra.


Kharel menoleh ke arah para wanita dengan mata membola, dimana dia benar-benar malu jikalau sampai dia menyebutkan nama wanita itu.


Maka, sudah dipastikan harga dirinya akan jatuh sejauh-jauhnya sebagai seorang pria jantan. Karena dia mengatakan semua perasaannya, bukan didepan wanita yang sudah berhasil memikat hatinya.


"Siapa orang yang di cintai Pak Kharel? Jika dia sudah mencintai wanita, lantas buat apa hubungan pura-pura ini dilanjutkan? Aneh!" gumam batin Fayra, kesal.


Entah mengapa, mendengar kata mencintai tanpa sadar membuat perasaan Fayra sedikit sesak. Akan tetapi, dia mengabaikan perasaan itu karena bagi Fayra kemungkinan itu adalah perasaan terkejut.


Sebenarnya Fayra seperti telah menyadari bahwa ada perasaan yang tidak bisa dia larang untuk tumbuh didalam hatinya.


Namun, karena Fayra sudah pernah gagal untuk mencintai. Maka, semua itu dia tepis jauh-jauh agar Fayra kembali fokus pada pendidikan dan juga cita-citanya.


"Kok pada diam?" ucap Nata, menatap aneh ke arah para pria yang hanya terdiam membisu.


"E-enggak, Sayang. Itu Kakakku tadi bilang kalau dia mencintai kucing, ahya. Kucing lucu dan comel berhasil membuat dia jatuh cinta. Ya kan, Kak?" ujar Louis, memberikan kode kepada Kharel.


Hacim, hacim, hacim!


Kharel bersin beberapa kali setelah mendengar nama makhluk menjijikan dan menyeramkan itu, langsung mengingat phobianya.


"Hahh? Ku-kucing comel? Hacim, se-sejak kapan kucing comel, padahal dia sangat menyeramkan dan juga ngeselin." gumam Kharel didalam hatinya, sambil tangannya mengusap-usap hidungnya.


Ya, mungkin bagi sebagian orang kucing itu merupakan binatang yang terbilang lucu, comel dan juga imut. Berbeda sama Kharel, yang memiliki phobia dengan kucing. Apa lagi bulunya itu bisa langsung membuatnya bersin.


"Astaga, Louis! Kenapa lu malah nyebutin tentang kucing sih. Argghh, dodol! Lihatkan sekarang, phobia Kak Kharel jadi kambuh. Huhh, siap-siap habis ini lu di gorok sama Tante Xavia!" gumam batin Louis yang baru menyadari kesalahannya.

__ADS_1


Sementara Kharel masih bersin-bersin membuat semuanya menjadi panik, seketika Kharel yang sudah tidak kuat langsung turun dari panggung pelaminan dalam keadaan tergesa-gesa.


Melihat reaksi Kharel seperti itu, tanpa disadari Fayra pun malah mengejarnya dengan susah payah. Dia harus berlari dalam keadaan memakai gaun cukup meribetkan, serta sepatu hak tinggi yang harus membuatnya berhati-hati.


Semua sahabat Fayra melihat aksi mereka merasa bingung, perlahan mata mereka saling menatap satu sama lain.


"Gimana, hasil introgasi kalian? Berhasil?" ucap Arsyi, penasaran.


"Sedikit lagi, By. Tapi kalian sudah keburu datang, jadi kita enggak tahu deh siapa wanita yang dia maksud itu." jawab Eric.


"Sayang banget ya ...." ujar Nata.


"Terus gimana hasil introgasi kalian sama Fayra? Berhasil, kan?" tanya Nicho, antusias.


Sheila menggelengkan kepalanya pertanda bahwa mereka juga, tidak mendapatkan informasi apa-apa mengenai hubungan mereka sampai sejauh mana. Selepas dari ikatan kekasih pura-puranya.


"Tidak ada kode yang Fayra berikan gitu, apa respon dia tentang Kak Kharel?" tanya Louis.


"Kalau kode sih enggak ada, cuman gua ngerasa ketika dia menjelaskan sesuatu tentang pria itu mulutnya kaya gemetar, terus terbata-bata sama persis kaya orang gugup."


Kata demi kata Sheila jelaskan sambil menatap semua sahabatnya secara bergantian. Hingga Louis sudah paham apa yang dikatakan Sheila itu mengarah kemana.


"Gua paham, jadi menurut lu mereka kaya sudah menyadari soal cinta. Akan tetapi ego, gengsi ataupun ketakutan. Membuat mereka ragu untuk mengungkapkannya?" ucap Louis, diangguki oleh Sheila.


Semua yang awalnya masih bingung dan tidak paham pun langsung memiliki koneksi lancar. Setelah mendengar perkataan Louis seakan-akan menjawab semua kebingungan mereka, dari sinilah mereka mulai mengerti.


Disaat mereka lagi asyik merencanakan sesuatu buat mendekati antara Fayra dan Kharel, tiba-tiba ada beberapa tamu yang ingin bersalaman serta mengucapkan doa kebahagiaan kepada kedua pengantin.


Jadi, mau tidak mau 2 pasangan itu harus menunda semua rencana mereka dan akan kembali membahasnya diwaktu yang tepat. Setelah itu mereka pergi menuruni panggung pelaminan menuju tempat duduk yang sudah disediakan agar mereka bisa menikmati pesta.


...*...


...*...


Sementara di taman kecil dekat gedung pernikahan, Fayra masih berlari dengan hati-hati mencari Kharel disuasana yang cukup gelap. Bagaimana tidak, karena jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.

__ADS_1



Kharel duduk dibawah dalam keadaan masih bersin, wajah Kharel pun terlihat begitu kesal dan sedikit pucat.


"Hacim, arghh si*al! Kenapa harus kambuh disaat seperti ini sih, semua gara-gara Louis! Dasar ponakan enggak tahu diri, udah tahu hacim. Kakaknya enggak bisa dengar kata itu pakai di hacim, sebut lagi!"


Srrruppp arrghh ...


Kharel terus mengusap hidungnya yang kini sudah sangat merah, ditambah hidungnya pun mulai merasa flu akibat rasa bersin yang tiada hentinya.


"Pa-pak Kharel?" ucap Fayra yang sudah berdiri tepat di samping kiri.


Kharel pun menoleh dalam keadaan wajah sudah tidak bisa di jelaskan, membuat Fayra langsung jongkok dan duduk di dekat Kharel dalam keadaan wajah begitu cemas.


"Pak, Bapak gapapa kan? Apa Bapak mau aku antar ke rumah sakit?"


"Ini wajah Bapak sudah merah banget loh, pasti sangat menyiksa. Memang Bapak tidak membawa obat kemanapun Bapak pergi?"


Kharel hanya menggelengkan kepalanya lemas, rasanya tubuhnya benar-benar sudah tidak kuat lagi. Rasa pusing, sesak dan juga panas dingin mulai melanda tubuh Kharel.


Tanpa sadar Kharel pun membuat Fayra duduk berselonjoran dibawah, dimana Fayra benar-benar terkejut dan hanya mengikuti apa yang Kharel lakukan.


Sehabis itu Kharel langsung tiduran diatas paha Fayra dalam keadaan miring memeluk perut Fayra.


Wajah Fayra hanya bisa melongo tak percaya, ketika melihat adegan seperti ini. Mulutnya pun terbuka lebar bersamaan dengan mata yang membelalak besar.


Untuk pertama kalinya dia mendapatkan prilaku seromantis ini, setelah sekian lama dia melewati semua rasa sakit yang bertubi-tubi menghancurkan harapannya. Kini dia kembali mendapatkan sifat manis berasal dari seorang pria yang sangat menyebalkan baginya.


Fayra dan Kharel pun tidak menyadari bahwa posisi seperti ini membuat pobhia Kharel seketika hilang. Seakan-akan Kharel tidak membutuhkan sebuat obat, melainkan dia hanya membutuhkan kenyaman agar rasa takut ataupun yang lainnya bisa hilang begitu saja. Bagaikan diterpa angin lalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️


__ADS_1


__ADS_2