
Ace terkejut saat istrinya mulai meneteskan air mata, disini dia terlihat panik. Dengan kecepatan ekstra, tangannya segera mengambil remot kecil diatas meja yang berada di samping ranjang.
Hanya dengan satu klik, ruangan berubah menjadi kedap. Sehingga isak tangis malam pertama yang ditunggu, tidak akan sampai mengganggu jam istirahat yang lain.
"Honey, kenapa nangis? Apa rasanya begitu menyakitkan?" ucap Ace mulai menenangkan istrinya.
"Hiks, sa-sakit banget Bunny." rengek Fayra.
"Ma-maaf, ta-tadi a-aku terlalu maksa ya. Te-terus gimana dong? I-ini nanggung baru masuk ujungnya. Kalau di lepas nanti susah lagi masuknya."
Ace melirik ke bawah, menatap ujung tombak sudah masuk sempurna. Akan tetapi baru sekedar menempel tidak sepenuhnya masuk, lantaran baru saja menempel Fayra sudah meringis kesakitan.
"Hiks, sa-sakit Bunny sakit! Lagian itu tombak kenapa bisa besar dan panjang sih, perasaan kemarin kecil? Apa setiap hari dia bertambah kaya berat badan gitu?" ucap Fayra di sela tangisannya.
"Entahlah, Honey. Aku tidak tahu, tiba-tiba dia membesar dengan sendirinya." Jawab Ace, polos.
"Dikata balon kali, aku yakin pasti itu habis kamu servis kan? Kalau tidak enggak mungkin dia bisa ngembang kek kue bolu gitu." ceketuk Fayra, kesal.
"Nj*ir, servis dari mana sih! Justru ini baru mau aku servis biar ganti oli sama kamu, jadi settingan makin kenceng buat besok-besok." jawab Ace, kesal.
Mereka kembali melakukan adegan perdebatan adu mulut yang tiada habisnya, sehingga Ace menemukan cara bagaimana dia bisa mengalihkan perhatian Fayra.
Saat ini Ace terus menanggapi Fayra untuk membuatnya semakin kesal, lalu mendorong tombak tersebut sampak berhasil masuk setengah dengan segala susah payah.
"Aarghh, sa-sakit Bunny hiks ...." teriak Fayra, kembali menangis kejar.
Ace tetap berusaha tenang, walaupun dia terlihat benar-benar panik. Satu sisi dia sudah tanggung dan satu sisinya lagi dia tidak tega melihat istrinya kesakitan.
Cuman, tidak terhenti di situ. Ace beberapa kali terus mencoba menenangkan istrinya. Setelah Fayra mulai tenang, kemudian Ace memancinh kembali sampai dia tersenyum.
"Sudah siap, Honey?" ucap Ace menatap manik mata istrinya sangat dalam.
"Ta-tapi ka-kalau sakit gimana, Bunny? I-ini aja masih perih." ucap Fayra, matanya berkaca-kaca.
"Aku janji akan pelan-pelan sayang." ucap Ace, yang sudah kembali bersiap-siap melakukan ancang-ancang.
Fayra terdiam sejenak, selang beberapa detik dia langsung menganggukan kepalanya perlahan sambil menatap suaminya.
"Kali ini gua harus bisa mengambilnya, enggak boleh sampai gagal!" gumam batin Ace, sambil memikirkan cara lain agar istrinya tidak merasakan kesakitan berkali-kali lipat.
__ADS_1
Ace yang sudah mencabut tombaknya lebih dulu, akibat Fayra selalu memberontak. Kini harus lebih berjuang, memulai semuanya dari ulang.
...*...
...*...
Kurang lebih 20 menit, Fayra kembali merasakan tubuhnya mulai menegang. Tanpa Fayra sadari, Ace mencium bibirnya sambil mengarahkan tombak pusaka milikknya, ke dalam goa melewati hutan rimba yang sudah basah.
Rasa sakit yang saat ini Fayra rasakan tidak sebanding dengan yang awal, lantaran Ace sudah berhasil mengambil perhatian Fayra demi mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan.
"Tahan ya Honey, ini baru setengah. Jika merasakan sakit peluk aku yang erat, karena aku tidak akan bisa memastikan semuanya akan baik-baik aja." ucap Ace mengusap lembut wajah istrinya.
"Ta-tapi kalau sa-sakit bagaimana Bunny?" ucap Fayra cemas.
"Cakar punggungku, untuk melampiaskan semua rasa sakitnya." titah Ace.
"Ta---"
"Lakukan sesuka hatimu, asalkan semua itu bisa membuat rasa sakitnya berkurang." sambung Ace.
Fayra menatap wajah Ace begitu lekat. Lalu Ace kembali menyentuh bibir istrinya secara lembut sambil menekan tombaknya untuk masuk lebih dalam.
Tangan Fayra memeluk tubuh suaminya. Dimana saat ini Ace terus mengalihkan pusat perhatian istrinya, hingga dia berhasil membawa istrinya melayang tinggi.
Di sela-sela penyatuan bibir mereka yang semakin membara, sepintas Ace mulai menekan sedikit demi sedikit. Tetapi sayangnya dia belum sepenuhnya ahli, akibat ini merupakan permainan yang baru pertama kali dia mainkan.
Namun dari sini terlihat jelas adanya kemajuan dari Ace yang sudah bisa mengondisikan, ketika istrinya terus berteriak, meringis kesakitan dan juga menangis.
Kemudian Ace menekannya lebih dalam, sampai beberapa kali hentakkan. Fayra cuman bisa memejamkan matanya, menahan semua rasa yang tidak bisa dia jelaskan selain menangis dan juga meringis.
Beberapa menit kemudian, akhirnya tombak miliknya berhasil lolos masuk semua dengan sempurna. Bahkan benar-benar mentok menabrak sesuatu di dalam sana.
Jleb!
Arrghhhhh ....
Teriak keduanya disaat yang bersamaan. Saat ini posisi Ace mendongak ke atas, sedangkan Fayra menangis sejadi-jadinya ketika cakaran panjang terukir di punggung suaminya.
Tes ... Tes ... Tes ...
__ADS_1
Cairan hangat mulai keluar dari goa milik Fayra. Merasakan sensasi berbeda, Ace langsung menatap ke arah bawah melihat adanya cairan berwarna merah mulai menetes.
Fayra hanya bisa menangis dan menangis, ketika tubuhnya terasa seperti patah tulang, remuk, sakit dan juga pedih.
"Sstt, Honey. Ma-maafkan aku, pasti rasanya sakit banget ya? Tapi, aku sudah tidak tahan lagi. Jika aku tidak seperti itu, maka dia tidak akan pernah bisa masuk sepenuhnya." jelas Ace, sambil mengusap wajah istrinya.
"Ma-maafkan aku Bu-bunny, a-aku udah mencakarmu hiks ...." ucap Fayra saat merasa bersalah, karena menanamkan kuku panjangnya tepat di punggung suaminya.
"Tidak apa-apa Honey, rasa sakitnya yang ada dipunggungku tidak sebanding dengan rasa sakit yang kamu rasakan akibat ulahku." jawab Ace, menyatukan keningnya di kening istrinya.
"Ta-- hemp ...." dehem Fayra saat bibirnya kembali di bungkam oleh suaminya.
Hasrat yang kian kembali memanas, membuat Ace benar-benar sudah tidak bisa berpikir panjang. Dia mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan, bersamaan dengan terdengarnya suara indah keduanya.
Meskipun ini baru yang pertama kali buat mereka berdua, tetapi Ace sudah mulai lihai membawa istrinya terbang melayang diatas awan.
Rasa sakit yang tadinya terasa teramat menyakitkan, sekarang telah tergantikan oleh rasa nikmat bercampur sakit yang susah untuk di jelaskan.
"Argghh, hempt huh, hahh. Te-ternyata e-enak juga ya Honey." gumam lirih Ace sedikit mendongak ke atas.
"Sstt, arrggh. Ke-kenapa ra-rasa sakitnya ti-tiba tiba hilang. Da-dan i-inih, ra-rasa apa ini Bu-bunny. Kenapa ge-gelih ca-campur enak arghh ...." sahut Fayra merasakan tubuhnya terombang-ambing mengikuti goyangan suaminya.
"A-apa yang dibilang Mommy sama Daddy benar Honey, ternyata berhubungan rasanya nikmat bikin nagih. Jadi kita harus setiap hari ya kaya gini hihi ...." ucap Ace, menambahkan temponya.
"Hihi, i-iya bener banget Bunny. Bahkan tiap jam aku juga mau kok kalau rasanya enak kaya gini, asalkan enggak hamil duluan ya haha ...." sahut Fayra terkekeh sambil melantunjan suara indah bersama suaminya.
Tempo lambat, sedang bahkan kencang sudah Ace lakukan hingga mereka benar-benar dibuat candu oleh rasa kenikmatan yang lebih dari apa yang mereka lakukan sebelumnya.
Sampai tidak terasa pelepasan pertama Ace berakhir di menit ke 35, lalu dia menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya dalam keadaan napas mereka yang masih tersenggal-senggal.
5 menit berlalu, Ace segera mencopot serta langsung membersihkan dirinya bersama dengan Fayra yang tubuhnya sudah tak berdaya.
Fayra benar-benar lemas setelah 3 kali melakukan pelepasan, berbeda halnya sama Ace yang hanya sekali.
Jadi Ace harus bisa memanjakan serta merawat istrinya yang belum bisa berjalan normal. Setelah semuanya sudah selesai mandi dan bersih.
Ace beserta Fayra tidak sengaja menatap ranjang yang sudah berantakan, di tambah terdapat bercak merah menempel di atas seprai berwarna putih.
Wajah mereka menatap satu sama lain tersenyum dan cekikikan, saat mengingat kejadian beberapa saat lalu. Sampai seketika Fayra mau berdiri mengganti seprainya, tetapi Ace malah melarangnya.
__ADS_1
Akhirnya Acelah yang mengganti seprai tersebut dengan susah payah. Kemudian mereka pun kembali tertidur tepat di jam 4 pagi, dalam posisi Fayra berada di dalam dekapan pelukan Ace.