Learn to Love You

Learn to Love You
Kesempatan Dalam Kesempitan


__ADS_3

Wajah Fayra hanya bisa melongo tak percaya, ketika melihat adegan seperti ini. Mulutnya pun terbuka lebar bersamaan dengan mata yang membelalak besar.


Untuk pertama kalinya dia mendapatkan prilaku seromantis ini, setelah sekian lama dia melewati semua rasa sakit yang bertubi-tubi menghancurkan harapannya. Kini dia kembali mendapatkan sifat manis berasal dari seorang pria yang sangat menyebalkan baginya.


Fayra dan Kharel pun tidak menyadari bahwa posisi seperti ini membuat pobhia Kharel seketika hilang. Seakan-akan Kharel tidak membutuhkan sebuat obat, melainkan dia hanya membutuhkan kenyaman agar rasa takut ataupun yang lainnya bisa hilang begitu saja. Bagaikan diterpa angin lalu.


Tanpa disanga tangan Fayra terarah untuk mengusap kepala Kharel secara lembut. Entah kenyaman apa disaat seperti ini, membuat Fayra tanpa sadar tersenyum melihat kemanjaan seorang Kharel.


"Kenapa disaat Bapak seperti ini rasanya hatiku begitu nyaman, cuman ketika Bapak menyebalkan rasanya aku ingin membuang Bapak jauh-jauh dari muka bumi ini!"


"Perasaan apa ini, Pak? Apakah, ini artinya aku sudah mulai mencintai Bapak?"


"Yakk, tidak-tidak! Aku tidak boleh seperti ini, ingat cinta pertamamu itu berakhir menyakitkan Fayra. Jadi, Kemungkinan besar cinta selanjutnya akan kembali menyakitkan!"


"Sekarang lebih baik hidup sendiri, itu pasti akan sangat menyenangkan. Kamu bisa menggapai cita-citamu setinggi langit, dan kamu juga bisa membahagiakan orang tuamu dengan semua keberhasilanmu!"


"Stop menggunakan cinta, semua itu akan membuat hidupmu malah semakin hancur. Ingat, cinta itu tidak selamanya indah, mungkin sebagian orang berhasil membawa cinta untuk bahagia."


"Namun, sebagian besar orang sangat menderita karena cinta. Jadi aku mohon, Fayra. Jangan kembali bermain cinta, ketika kamu belum siap untuk menjalaninya. Memberikan hati memang mudah, tetapi mengobatinya yang sulit."


Disaat Fayra sedang bergumam di dalam hatinya dengan tangan tak henti terus mengelus kepala Kharel, dia malah di kejutkan dengan suara Kharel yang sepetinya di sedang melindur.


"Aku mencintamu, Fayra. Ya, aku sudah benar-benar mencintaimu. Please, jangan tinggalkan aku. Raa. Aku mohon, aku enggak mau kehilanganmu hiks ...."


Kharel mengigau dalam posisi sudah tertidur terlentang, dimana air mata menetes dari sudut mata Kharel.


Entah dia sedang bermimpi apa, yang jelas dari perkataan Kharel itu sepertinya dia sedang bermimpi jika Fayra akan meninggalkannya.


Sementara Fayra, dia yang sangat-sangat terkejut atas semua ucapan Kharel ini. Tidak menyangka bahwa Kharel mengutarakan perasaannya, meskipun hanya lewat mimpi.


"Pa-pak?"


"Bapak yakin, sama apa yang Bapak omongin barusan kalau Bapak itu mencintai saya. Seriuskah?"


Suara Fayra terbata-bata dan terdengar sangat gugup. Wajahnya mulai memerah akibat rasa malunya, akan tetapi Kharel yang tidak sengaja di kejutkan oleh suara Fayra langsung terbangun.


Namun, saat Kharel mau bangkit dia tidak menyadari bawah wajah Fayra sedang menunduk menatapnya hingga tanpa di sengaja bibir mereka saling bersentuhan satu sama lain.

__ADS_1


Cup!


Sedikit mereka terdiam dimana, mata keduanya membola bersamaan dengan bibir yang masih menempel.


Kini, Kharel mulai terbawa suasana dan ingin menggerakan bibirnya, cuman Fayra yang baru tersadar segera bangkit membuat kepala Kharel sedikit terbentur lantai taman.


Bugh!


"Argghh, kamu tuh bisa pelan enggak sih. Dikata enggak sakit kali!" pekik Kharel yang sudah bergegas berdiri di hadapan Fayra.


"Ya-ya, bodo amat! Siapa suruh Bapak cium-cium saya. Memangnya saya makanan harus dicicipin dulu, baru di beli!" sahut Fayra berusaha menutupi kegugupannya.


Mereka berhadapan satu sama lain dengan tatapan menyorot tajam penuh rasa gelisah, salah tingkah mulai terlihat jelasi dari gerak-gerik tubuh mereka berdua.


"Yee, siapa juga yang cium kamu. Itu kamunya aja ngapain menatap saya seperti itu, jadi kan saya refleks kaget!"


"Kaget? Refleks? Jika benar kenapa bukannya menghindar, ini malah mau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dikata bibirku ini permen gratisan bisa di cicipin setiap orang, tanpa di bayar!"


"Ya-ya itu kan mana saya tahu. Ckk, lagian juga kamu ngapain sih di sini. Ganggu orang tidur aja!"


"Hei, Bapak Kharel yang menyebalkan bin Ajaib. Ini itu taman bukan kamar tidur, lagi pula bukan saya yang mengganggu Bapak! Bapak sendiri yang tiduran di paha saya, sambil meluk-meluk lagi. Apa Bapak enggak lihat disini cuacana dingin, badan saya bisa masuk angin tahu enggak!"


"Yakk, dasar dosen menyebalkan. Kalau begitu namanya modus, enak aja main peluk-peluk. Kalau mau nikahin dulu baru peluk!"


"Boleh, kapan? Dimana? Jam berapa?"


Mendengar ucapannya sendiri berhasil membuat Fayra terdiam, dia telah menyadari kesalahannya. Sampai akhirnya Fayra langsung memukul Kharel sekuat tenaganya.


Sementara Kharel malah terkekeh geli,mmendapatkan pukulan itu sambil melihat wajah lucu Fayra


disaat sedang malu-malu kucing.


Tanpa disadari kaki Fayra terpeleset oleh gaunnya sendiri, dan akhirnya terjatuh tanpa sengaja mendorong Kharel lebih dulu.


Tubuh Fayra terjatuh tepat diatas tubuh Kharel, dimana Kharel pada saat itu tidak memiliki.pertahan yang kuat. Lalu, mereka jatuh bersamaan dalam keadaan bibir kembali menempel dan bola mata melebar.


Kali ini bukan Kharel yang mencium lebih dulu, melainkan Fayra yang bergantian kemakan dengan omongannya sendiri.

__ADS_1


Tatapan mata yang mendapat membuat mereka berkalut dalam posisi yang sama, detak jantung mereka pun seperti berdansa bersama. Debaran hati yang seirama membuat napas mereka mulai tidak beraturan.


Dengan posisi yang senyaman ini, mereka berdua tidak menyadari bahwa ada seorang pria tampan yang awalnya ingin menghadiri acara sahabatnya. Cuman tidak jadi, karena dia bimbang. Posisi dia tidak di berikan kabar atau semacam undangan.


Dia hanya tahu kabar ini melaluo sosial media milik Louis dan juga Nata, dari situ dia paham jika hari ini adalah pernikahan sahabatnya.


Pria itu mencari udara segar di dekat taman guna untuk menetralkan perasaannya sebelum dia menghadiri pesta sahabatnya.


Cuman tidak jauh dari dia berjalan, matanya malah menangkap sebuah adegan tak senonoh saat melihat dua sejoli sedang berciuman dengan posisi yang sangat in*tim.


"Si-siapa itu? Kenapa dia melakukan hal seperti itu di tempat terbuka? Wah enggak bisa dibiarin, seperti tidak ada hotel, Apartemen atau penginapan lain saja."


"Padahal penampilan mereka itu sangat mewah untuk menyewa tempat mahal, tetapi harga dirinya yang terbilang murah. Sampai-sampai mereka nekat melakukannya di tempat seperti ini, dasar menjijikan!"


Pria itu pun berjalan sedikit cepat dengan perasaan penasarannya untuk mendekati Fayra dan Kharel. Dimana mereka yang masih terdiam membeku tanpa bibir ataupun anggota tubuh lainnya bergerak satu sama lain.


Pria itu berdiri di dekat mereka berdia dalam keadaan menoleh ke arah bawah, sambil berkata. "Ekhem, jika ingin melakukan hal yang senonoh lebih baik menyewa tempat yang lebih terbuka. Ini tempat umum, atau mau saya viralkan adegam kalian?"


Degh!


Fayra dan Kharel langsung merubah posisi mereka dan semakin merasa gugup, mereka tidak menyangka jika ada seseorang yang memergokinya.


"Ma-maaf, Tuan. Kami salah!" ucap Kharel, menatap pria itu.


"Ma-maaf, itu semua tidak seperti apa yang Tuan katakan kok. Tadi saya kepleset, terus---"


Duarr!


Fayra menoleh dengan wajah terkejutnya, bagaikan di sambar ribuan petir menggelegar. Fayra dan pria itu terdiam saling menatap satu sama lain.


"Fa-fayra?"


"A-ace?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️

__ADS_1



__ADS_2