
Fayra yang tidak tahu harus seperti apa hanya bisa melakukan apa yang dia bisa saat ini. Bahkan perasaan dan pikirannya sudah tidak bisa lagi berpikir dengan jernih.
Bayangan akan kehilangan semakin mendekat, membuat Fayra menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar takut akan kehilangan orang yang sangat dia cintai, karena baru kali ini Fayra merasakan cinta yang benar-benar mendalam untuk Kharel. Begitu juga Kharel yang memberikan sepenuh hidupnya untuk Fayra.
"Kak, please. Fayra mohon Kakak bertahan ya. Jangan tinggalin Fayra, Kak. Fayra tidak mau merasakan kehilangan untuk kedua kalinya. Fayra mohon dengan sangat, Fayra rela bersujud bahkan mencium kaki Kakak asalkan Kakak tidak meninggalkan Fayra."
"Fayra tahu, dulu Fayra pernah menyakiti Kakak. Meski, itu tidak dengan sengaja. Cuman kali ini tidak Kakak, Fayra udah sadar kalau Fayra ternyata sudah mencintai Kakak. Fayra berhasil, Kak. Fayra berhasil membuka hati untuk Kakak, jadi Fayra mohon jangan buat Fayra kecewa, Kak."
"Kakak tenang ya, dokter sebentar lagi akan datang ngobatin Kakak. Fayra cuman bisa berharap tidak akan ada hal buruk yang terjadi, karena Fayra tidak akan rela bila Kakak meninggalkan Fayra dengan cara seperti ini!"
"Fayra mohon, Kak. Fayra mohon jangan pergi, Fayra mau bersama Kakak. Kalau Kakak pergi, ajak Fayra. Fayra mau selalu menemani Kakak dimanapun Kakak berada. Fara enggak mau sendiri, Fayra mau sama Kakak, pokonya Fayra mau Kakak! Hiks ..."
Fayra memeluk erat Kharel disaat tubuhnya masih kejang-kejang, akan tetapi ada satu kalimat yang Fayra ucapkan berhasil membuat tubuh Kharel terdiam.
"Please, Kak. Jangan tinggalin Fayra, karena saat ini Fayra sudah sadar, kalau Fayra sangat mencintai Kakak. Fayra janji, Fayra akan menjadi pasangan hidup Kakak yang suatu saat nanti akan menemani Kakak dalam keadaan apapun. Semua itu karena Fayra, sangat-sangat mencintai Kakak seperti Fayra mencintai Appa Fayra sendiri."
Isak tangis terdengar begitu memilukan hati seorang dokter yang baru saja sampai di ruangan Kharel. Tanpa berlama-lama lagi, beberapa suster membantu menenangkan Fayra lalu sang dokter segera memeriksa kondisi Kharel.
__ADS_1
Kurang lebih 10 menit, sang dokter sudah memeriksa Kharel kemudian tersenyum menatap Fayra yang saat ini masih menangis menggigit kecil kukunya. Seakan-akan Fayra benar-benar sangat takut jika Kharel pergi meninggalkannya.
Namun, perkataan dokter berhasil menghapus air mata kesedihan menjadi air mata kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
"Nona, syukurlah. Tuan Kharel sudah melewati masa kritisnya, saat ini keadaannya sudah mulai membaik serta telah keluar dari masa komanya. Kemungkinan besar sebentar lagi Tuan akan tersadar, jika belum juga paling lama 5 jam kedepan."
"Untuk itu saya ucapkan selamat, karena apa yang Nona lakukan selama ini tidak sia-sia. Nona selalu mengajaknya berbicara dan juga menceritakan momen-momen indah kalian, membuat Tuan Kharel sudah berhasil melewati takdir mautnya sendiri."
"Mungkin jika beberapa hari lagi Tuan Kharel tidak kunjung tersadar juga, sudah bisa saya pastikan kalau Tuan telah tiada. Karena batas operasi kurang lebih sebulan dan disaat itu juga tidak ada respon dari tubuhnya, maka hal buruk akan terjadi padanya."
"Namun, suatu keajaiban telah tiba. Dimana Tuan Kharel telah melewati masa kritisnya dengan baik. Sekali lagi saya ucapkan selamat dan jika ada apa-apa atau Tuan Kharel sudah mulai tersadar, silakan panggil saya kembali supaya bisa segera mengecek ulang dan memastikan bahwa keadaan Tuan baik-baik saja."
Rasa bahagia bercampur tangisan hanya bisa membuat Fayra membalas sang dokter dengan anggukan kepala, dia masih belum bisa berkata apapun karena matanya teeus menatap ke arah Kharel.
Keadaan yang Fayra anggap Kharel akan meninggalkannya, seketika malah membuatnya syok bahkan hampir saja jantungan. Kalau kejadian itu akan membuat Fayra kehilangan Kharel.
Namun, nyatanya tidak. Keaadan Kharel yang tadi malah sebagai suatu pertanda bahwa Kharel akan segera terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Bagaimana kondisi Fayra, seumpama kejadian tadi adalah pertanda bahwa Kharel akan tiada? Sudah bisa dipastikan hidup Fayra akan kembali hancur sehancur-hancurnya.
Bahkan, lebih hancur dari sebelumnya. Jika Ace hanya mematahkan satu sayapnya, maka kehilangan Kharel sama halnya dua sayap Fayra yang akan langsung patah secara bersamaan.
"Baiklah, kami pamit ya, Non. Jangan lupa istirahat kasihan tubuh Non Fayra itu sudah sangat sayu, pucat dan tidak terurus. Jangan sampai Tuan Kharel bangun, Nona Fayra malah menjadi jatuh sakit." ucap sang dokter.
"Ti-tidak, Dok. A-aku sehat, terima kasih, Dok. Karena Dokter sudah melakukan semuanya dengan sangat baik. Sehingga Kak Kharel sudah berhasil melewati badai mautnya sendiri." ucap Fayra, tersenyum.
"Semua itu karena kekuatan cinta kalian yang sangat besar, untuk itu saya salut dengan kesabaran Nona yang setia menemani Tuan tanpa sedikitpun meninggalkannya. Semoga ketika Tuan kembali tersadar, cinta kalian akan semakin membesar dan kalian bisa hidup bersama selamanya."
"Terima kasih, Dok. Atas doa dan semuanya, aku tidak menyangka bahwa sebentar lagi Kak Kharel akan bangun dari tidurnya."
"Sama-sama, Non.Baiklah saya permisi dulu ya, jangan lupa Non juga harus istirahat biar kondisi Non tidak sampai drop."
Fayra menatap sang dokter penuh senyuman dan mengangguk. Lalu, sang dokter pun berjalan pergi meninggalkan mereka berdua dikamar.
Yang mana, sebenarnya dokter yang merawat Kharel itu emang sangat tahu bagaimana perjuangan Fayra untuk terus menjaga Kharel. Bahkan mereka juga bisa melihat betapa tulusnya cinta Fayra untuk Kharel.
__ADS_1
Apa lagi kondisi Fayra tidak seperti biasanya, matanya yang mulai menghitam bagaikan panda menandakan bahwa Fayra kurang tidur. Kemudian, badannya rada kurus akibat jam makan tidak teratur dan tidak habis, lalu matanya terlihat sangat sembab semua karena hampir setiap jam Fayra menangis.