
Persahabatan bisa hancur karena membela sebuah hubungan yang lebih dari segalanya. Bagi Appa Daniel kehidupan anaknya jauh lebih berharga, dari pada persahabatan mereka.
"Maafkan aku, Ger. Semua aku lakukan hanya demi kebaikan kita kedepannya. Jika aku meneruskan aku takut persahabatan ini akan menjadi kebencian didalam hidupku. Mungkin dengan kita seperti ini, itu bisa memperbaik keadaan."
Appa Daniel berbicara didalam hatinya sambil berjalan perlahan penuh kewibawaan keluar Perusahaan, kemudian menaiki mobilnya untuk kembali ke Perusahaannya sendiri.
...*...
...*...
Di Amerika, tepatnya di University tempat Ace menuntut ilmu. Saat ini Ace dan Freya sedang menikmati makan malam di sebuah Cafe yang cukup mewah, ternyata tanpa disengaja mereka bertemu dengan seseorang yang sangat dikenal. Hanya saja salah satu dari mereka yang mengenalnya.
"Loh, Freya? Astaga, ternyata lu ada di sini?" ucap seseorang wajahnya terkejut ketika ingin mencari tempat duduk yang kosong. Dia malah menemukan Fayra yang sangat dia kenal.
"Ehh, Tita? Astaga, kok kita bisa ketemu di sini? Huaa, gua kangen banget udah lama kita tidak berjumpa."
Freya pun menoleh dan refleks berdiri, lalu mereka berdua pun langsung berhambur satu sama lain, berpelukan menumpahkan rasa rindunya.
"Gua juga kangen sama lu, Fre. Gua kira lu udah pindah, nyatanya gua main kerumah lu mereka masih ada. Cuman lu nya yang enggak tinggal sama mereka. Katanya mah lu lagi nyoba hidup mandiri, tinggal sendiri. Padahal mereka sedih banget jauh dari lu." jawab Tita sambil menatap Fayra yang saat ini wajahnya terlihat cemas.
"Hidup mandiri? Maksudnya gimana?" sahut Ace, bingung. Matanya menyipit sambil sedikit mendongak menatap mereka berdua yang sedang berdiri.
Freya menoleh kearah Ace dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan, lalu Freya duduk kembali dan tersenyum menatap Ace.
__ADS_1
"Ehh, eee itu Sayang. Aku kan pernah bilang kalau aku lagi mencoba hidup mandiri. Udah akh, jangan di bahas. Ohya, kenalin ini cowok gua." ucap Freya sambil memperkenalkan Ace kepada Tita.
Sementara Tita langsung duduk dan menjulurkan tangannya kepada Ace, lalu berkata. "Hai, kenalin gua Tita. Sahabat kecil Freya."
Ace menjabat tangan Tita sekilas, kemudian melepaskannya kembali sambil menyebutkan namanya dengan nada cueknya.
"Aduh, gua udah ketinggalan berita jauh nih. Memangnya udah berapa lama kalian punya hubungan?" tanya Tita, antusias menatap keduanya dalam keadaan tersenyum lebar.
"Hem, cukup lama ya Sayang. Cuman lebih tepatnya kita baru sekarang-sekarang jalani hubungan sih." ucap Freya menatap Ace yang cuman mengangguk kecil.
Ya, memang mereka baru aja menjalani hubungan disaat proses percerain Ace sedang berlangsung. Disini Ace seperti tidak lagi mengharapkan Fayra, lantaran dia sudah menemukan Fayra baru yang ada didalam diri Freya.
Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menjalani hubungan dengan ikatan sebagai sepasang kekasih.
"Hahh, lu-lu serius udah pindah lagi ke sini? Memang urusan Daddy lu udah kelar di Australia? Bukannya waktu itu kalian bilang mau tinggal selamanya di Autralia?" tanya Freya, bingung.
"Ya tadinya sih begitu, cuman gua sama Mommy kangen aja suasana Amerika. Jadi mau enggak mau kami pindah, dan gua juga tinggalnya enggak jauh dari rumah lu kok. Palingan 20 menitlah ya." jawab Tita dengan tersenyum.
"Rumah? Memangnya kamu punya rumah disini? Bukannya kamu tinggal di Apartemen?" tanya Ace, penuh rasa curiga dan juga penasaran.
"Oh, i-itu rumahku yang dulu yang aku pernah cerita loh. Kan tahu sendiri aku tinggal di Apartemen ya berkat diriku sendiri dan sedikit bantuan dari Pamanku." jelas Freya tersenyum, hingga tanpa sadar wajah Tita mengerut dan juga bingung.
"Paman? Paman siapa? Perasaan lu enggak punya Paman dah." jawab Tita spontan, semakin membuat Freya sedikit terpojok. Sedangkan Ace masih menyimak apa maksud dari obrolan mereka.
__ADS_1
"Ada kok, lu enggak kenal. Karena ini Paman dari Daddy gua. Udah akh, jangan dibahas, mendingan sekarang lu mau pesen makanan apa? Tenang kali ini gua yang bayar, hitung-hitung sebagai tanda kembalinya persahabatan kita."
Freya menatap wajah Tita seakan-akan dia mencoba untuk mengalihkan semua obrolan mereka, supaya tidak lagi membahas tentang keluarganya.
Entah mengapa, ketika menyenggol masalah keluarga raut wajah Freya selalu berubah. Beberapa kali dia tetap berusaha untuk tenang, supaya tidak ada yang curiga padanya.
"Wah boleh tuh, jadi gua bebas ya mau mesen apa. Gimana kalau gua pesen ini, ini, ini dan ini?" ucap Tita sambil menunjuk beberapa menu yang ada didaftar buku tepat dimeja.
"Boleh, pesen sepuas lu. Kali ini gua enggak akan ngelarang!" ucap Freya langsung memanggil pelayan untuk membuatkan pesanan Tita.
Setelah pelayan datang dan mencatat semua pesenan Tita, seketika Ace kembali menanyakan apa maksud dari ucapan mereka. Seolah-olah ada sesuatu yang disembunyikan Freya dari dirinya, sampai membuat hatinya sedikit mengganjal.
"Sebenarnya ini ada apa, Raa? Kenapa setiap kali sahabatmu berbicara, kamu selalu memotongnya dan mencoba untuk mengalihkan topik? Apa ada yang tidak boleh aku ketahui tentangmu?"
Pertanyaan penasaran yang terlontar dari mulut Ace membuat Tita langsung menoleh ke arah Freya. Wajahnya saat ini begitu tegang dan juga cemas, rasa khawatir kian menyelimut hati Freya.
Entah rahasia apa yang ada didalam diri Freya, sehingga Ace selama ini belum pernah mengenal atau mengeatahui keberadaan kedua orang tuanya.
"Eee, e-nggak ada, Sayang. Aku tidak menyembunyikan apapun darimu. Aku sudah cerita semuanya bukan, jadi sudahlah kita fokus makan dulu keburu dingin loh, sambil nunggu makanan Tita datang." ucap Freya lembut penuh senyuman.
Ace hanya tersenyum kecil, dan kembali percaya jika tidak ada yang Freya sembunyikan darinya. Karena semua tentang Freya sudah Ace ketahui bersama dengan rasa traumanya.
Namun, berbeda sama Tita. Dia melihat Freya seperti banyak teka-teki yang di sembunyikan. Apa lagi saat menyangkut keluarganya, Freya berusaha menutupi semuanya. Disitulah Tita merasa curiga dengan Freya, sebenarnya apa yang sedang dia sembunyikan dari pasangannya sendiri.
__ADS_1
Tak lama makanan Tita pun datang, tanpa basa-basi lagi mereka semua makan dengan sesekali mengobrol. Hanya untuk membahas kabar Tita selama pindah ke Autralia dan kembali Amerika.