
Saat Fayra mulai kembali dengan pikiran positifnya. Secara tidak langsung dia malah memikirkan Kharel, pria yang sangat menyebalkan.
Fayra mendumel mencoba menghilangkan pikiran itu, sehingga pikirannya bisa teralihkan ketika ponsel Fayra kembali berbunyi berulang-ulang kali dengan nomor ponsel yang sama. Dan kali ini tidak berhenti sampai Fayra mau mengangkatnya.
Merasa sedikit terganggu, Fayra segera mengangkat panggilan tersebut sambil memarahi seseorang yang tidak tahu apa-apa. Padahal orang itu niatnya mau memarahi Fayra, akan tetapi malah dia yang dimarahi.
"Siapapun anda, maaf saya tidak tertarik untuk mengajukan pinjaman online atau pun keluarga saya tidak ada yang kecelakaan. Terima kasih!"
Fayra menutup panggilan ponselnya, dan kembali tiduran diatas ranjang dengan perasaan yang sangat lega. Rasanya dia ingin sekali memanjakan tubuhnya, cuman lagi-lagi seseorang mengganggu ketenangannya.
Rasa kesal, marah dan juga dongkol telah menyatu didalam diri Fayra. Dia kembali mengangkat ponsel itu dan ingin memarahinya, tetapi tidak jadi. Semua itu karena seseorang sudah lebih dulu mengatakan sebuah kalimat yang membuat Fayra langsung mengenalnya.
[Ke rumah sakit sekarang!] titah orang tersebut, dengan suara serak-serak basahnya.
[Pa-pak Kharel?] gumam kecil Fayra membolakan matanya menatap lurus kearah depan.
Wajah Fayra begitu syok ketika dia mendapati bahwa Kharel bisa menghubunginya. Padahal tadi Kharel telah gagal saat meminta nomor Fayra, cuman sekarang dia 1 langkah lebih depan dari Fayra.
[Kenapa, kaget? Makannya jangan pernah bermain-main dengan saya!] tegas Kharel, dengan senyuman kecil yang saat ini dia ukir.
[Bapak tahu dari mana nomor ponsel saya?] tanya Fayra, penasaran.
[Itu tidak penting buat kamu tahu dari mana saya mendapatkan nomormu. Pokoknya yang terpenting sekarang, kamu datang ke rumah sakit terus urusi saya sampai sembuh!] jawab Kharel.
[Tap----] Belum selesai Fayra mengutarakan pendapatnya, tiba-tiba Kharel langsung mematikan ponselnya secara sepihak.
Tut, tut, tut ...
Panggilan telepon pun terputus, membuat Fayra menjadi kesal.
"Hallo, hallo Pak Kharel? Pak!"
"Astaga, malah dimatiin dong. Dasar Kancil menyebalkan. Arrghhh!"
__ADS_1
Fayra berteriak yang langsung membuang ponselnya kearah ranjang, dimana tangannya langsung mencabik-cabik bantal. Untungnya tidak sampai sarung bandalnya sobek, jika sobek sudah bisa di pastikan jika Apartemen Fayra berubah menjadi pulau kapuk.
"Dari mana sih dia mendapatkan nomorku, kenapa dia bisa semudah itu mendapatkannya. Jangan bilang kalau sebenarnya dia itu adalah keturunan cenayang? Yak, tidak, tidak, tidak!"
Disaat Fayra sedang bingung dan juga kesal, sementara Kharel? Dia malah terkekeh sendiri ketika telah berhasil membuat Fayra kesal dengan ulahnya yang tidak disangka-sangka.
...*...
...*...
Beberapa jam yang lalu. Setelah Fayra pergi dari rumah sakit, seorang suster masuk bersamaan dengan sang dokter untuk mengecek keadaan Kharel. Dimana ada seorang suster lagi yang pas banget ikut masuk ke ruangan Kharel sambil mengantarkan makanan untuknya.
"Permisi, selamat pagi menjelang siang Tuan Kharel?" ucap sang dokter tersenyum, sambil berjalan perlahan mendekati bangkar.
"Hem, siang." jawab Kharel, cuek.
"Permisi, Tuan. Maaf Dok, mengganggu waktunya. Saya hanya ingin memberikan sarapan kepada Tuan Kharel. Maaf jika telat, karena tadi juru masaknya sedang mengalami kendala." ujar sang suster yang baru saja masuk kedalam kamar melihat sang dokter sudah berdiri tepat disamping Kharel.
"Ohya, silakan, Sus." jawab sang dokter menatapnya.
Sang dokter pun mulai meminta izin untuk mengecek kondisi Kharel secara perlahan. Sampai semua sudah dipastikan jika Kharel jauh lebih membaik, sang dokter pun tersenyum.
"Syukurlah, kondisi Tuan sudah mulai membaik." ucap sang dokter.
"Ohya, apakah saya bisa melihat data-data wanita yang sudah menolong saya?" tanya Kharel.
"Memangnya Tuan belum mengetahui siapa wanita yang menolong Tuan, semalam?" ucap sang dokter.
"Jika saya tahu, tidak akan mungkin saya mengatakan hal ini." jawab Kharel, cuek.
"Baiklah, Tuan. Nanti saya panggilkan suster untuk mengantar Tuan ke lantai 1, supaya Tuan bisa mengecek langsung ke administrasi." ucap sang dokter.
Kharel hanya terdiam dan mengangguk perlahan, lalu sang dokter pun berpamitan untuk kembali bertugas mengecek pasien lainnya.
__ADS_1
Tak lama, seorang suster pun datang sambil mendorong kursi roda. "Permisi Tuan, mari saya antar."
Sang suster tersenyum sambil membantu Kharel untuk duduk di kursi roda, serta menggantungkan botol impusan di sebuah tiang yang berada disamping kursi.
Perlahan sang suster mendorong kursi roda membawa Kharel ke lantai 1. Dimana Kharel langsung meminta suster yang berjaga di administrasi untuk mengecek data-data tentang dirinya. Siapa yang membawanya dan apakah biaya rumah sakit sudah di tanggung.
Hanya menunggu waktu 5 menit, semua data-data tentang Kharel dan Fayra terkuap. Wajah terkejut dan juga syok terlihat jelas, sehingga Kharel masih bingung.
Apakah Rara yang ternyata namanya adalah Fayra, dan Fayra selaku mahasiswinya itu merupakan orang yang sama? Inilah teka-teki yang harus Kharel pecahkan.
Setelah mengetahui tentang nama Rara adalah Fayra, terlintas sebuah pemikiran untuk Kharel meminta nomor Fayra yang tercamtum disana.
"Bisakah saya meminta nomor wanita yang sudah menolong saya, dengan begitu saya bisa membalas semua kebaikannya." ucap Kharel.
"Boleh, Tuan." jawab suster yang ada di administrasi, kemudian menyebutkan perlahan nomor Fayra sambil Kharel mencatat di ponselnya.
"Semudah inikah aku mendapatkan nomormu, wahai rubah kecil!" gumam Kharel didalam hatinya saat sudah mendapatkan nomor Fayra.
"Apakah ada lagi yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya suster tersebut sambil menatap penuh senyum.
"Bagaimana dengan biaya rumah sakit?" tanya Kharel.
"Sebagian sudah dibayar oleh wanita itu, dan sebagian lagi belum, Tuan." jawabnya.
Kharel langsung melunasi semua biaya rumah sakitnya, dan dia pun segera kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Kharel langsung mencoba menghubungi Fayra, tetapi tidak ada jawaban sama sekali.
Dari situ Kharel kepikiran jika nama Fayra itu seperti tidak asing didalam ingatannya. Cuman, dia tidak mengerti apakah Fayra yang dia temui sekarang adalah Fayra yang sama dengan mahasiswi dikelasnya? Entahlah, itu masih menjadi teka-teki untuk Kharel, karena dia tidak menemukan nama Fayra yang lengkap untuk bisa di selidiki lebih lanjut.
...*...
...*...
__ADS_1
Disaat Kharel sedang memainkan ponselnya menunggu seseorang, yang telah berhasil menggoyangkan hatinya. Tanpa permisi, pintu terbuka dengan lebar bersamaan dengan masuknya seseorang yang langsung dengan nada marah-marah.
Kharel refleks menoleh dan sedikit terkejut saat melihat wajah penuh kekesalan terukir jelas diwajah orang itu. Kharel terdiam mendengarkan serta menyimak setiap kata yang orang itu ucapkan untuknya.