Learn to Love You

Learn to Love You
Kalau Aku Suapin, Mau?


__ADS_3

Ceklek!


Pintu terbuka bersamaan dengan masuknya Fayra yang sudah membawa makanan untuk Kharel. Mendengar suara pintu, Kharel langsung menoleh dengan perlahan menatap Fayra yang sudah berjalan mendekatinya.


"Ini saya belikan soup untuk Bapak, cepatlah dimakan karena itu baru saja selesai dimasak." ucap Fayra sambil menaruh soup diatas meja bangkar Kharel yang sudah Fayra siapkan.


Kharel hanya menatap wajah Fayra dengan tatapan kagum. Entah mengapa rasanya adem sekali ketika wajah cantik khas yang dimiliki Fayra, berhasil mententramkan suasana hati Kharel yang saat ini sedikit kesal. Semua itu akibat orang tuanya yang sudah menelepon Kharel dan menanyakan masalah perjodohan.



Chicken Pot Pie Soup, adalah makanan yang paling enak untuk orang sakit seperti Kharel yang sangat membutuhkan makanan sehat.


"So-soup?" gumam Kharel, matanya sedikit membola saat melihat soup berada dihadapannya.


"Ada apa dengan soupnya? Salah?" sahut Fayra, cuek. Saat melihat Kharel menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya secara cepat, bagaikan seorang anak kecil menolak makan.


"Enggak enak?" tanya Fayra, kembali.


"Bukan!" jawab Kharel terus menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa?" tanya Fayra, bingung.


"No, jauhkan soup itu dari saya!" ujar Kharel menggeser soup itu agar menjauhi dirinya.


"Apaan sih, aku udah capek-capek beli malah enggak dimakan, berasa kaya enggak dihargai banget perjuanganku!" celetuk Fayra, menatap kesal ke arah Kharel.


"Bukannya saya tidak mau menghargai usaha kamu, tapi saya enggak suka soup itu. Jadi ayolah, jangan berikan itu. Aku mau soupnya di ganti, ganti, ganti. Gantiii ...." pekik Kharel, terus menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Huhh, sabar Fayra, sabar. Anggap saja kamu sedang mengurus anak bayi. Meskipun dia terlihat sudah tua, tapi sifatnya benar-benar tertuker dengan anak kecil." gumam Fayra didalam hatinya ketika melihat tingkah Kharel sedikit terkejut.


"Saya enggak mau makan ini, belikan lagi. Please!" rengek Kharel.


"Enggak ada beli-beli lagi, pokoknya Bapak harus makan ini. Titik!" tegas Fayra, membuat mata Kharel berkaca-kaca sambil menggelengkan kepalanya.


"Saya bilang enggak, mau ya enggak mau, ishh ...." jawab Kharel.


"Kalau aku suapin, mau?" ucap Fayra, spontan. Kharel mendengar itu langsung menatap Fayra dengan tatapan terkejut.


"Ka-kamu ma-mau nyuapini saya?" tanya Kharel, meyakini ucapan Fayra.


"Jika Bapak mau memakannya, ya saya suapin. Jika tidak ya sudah mau makan apa enggak terserah, mendingan aku pulang. Buat apa juga aku disini, aku udah capek-capek cari makanan, eh setelah udah dibelikan malah enggak bisa menghargai usaha seseorang!"


Fayra mencoba menarik ulur Kharel agar dia mau memakan makan yang sudah dibelikan olehnya. Meskipun Fayra sendiri tahu jika apa yang dia lihat saat ini, sepertinya Kharel memang tidak menyukai makanan berupa soup.


Jadi ini merupakan tantangan bagi Fayra untuk menghilangkan semua ketidaksukaan Kharel terhadap makanan soup, agar Kharel terbiasa untuk memakannya. Apa lagi ketika sedang sakit makanan seperti inilah yang sangat cocok bagi kesehatan.


"Ayolah, Pak. Panggil namaku atau hentikan aku, jangan sia-siakan kesempatan manis itu. Ayolah, aku hitung 1 sampai 3 ya. Satu, dua, ti---"


Fayra menghentikan ucapannya bersamaan dengan langkah kakinya, ketika dia mendengar suara rengekan Kharel yang begitu menggemaskan untuknya.


"Nahkan, sudah kuduga hihi ...." guma Fayra didalam hatinya, sambil tersenyum menatap pintu.


"Tu-tunggu, aku mau makan. Asalkan kamu mau menyuapini aku, sesuai perkataanmu tadi. Tapi, jika tidak aku tidak akan memakannya, meskipun perutku sudah sangat lapar." ucap Kharel dengan suara lembutnya, mata berkaca-kaca dan juga wajah yang terlihat begitu imut.


"Astaga, kenapa wajahnya bisa berubah bagaikan seekor kucing yang comel? Padahal dia merupakan singa jantan yang sangat menakutkan. Kok aku jadi deg-deg-gan ya. Ada apa ini, rasanya kenapa aku tidak tega untuk meninggalkannya." gumam Fayra didalam hati kecilnya saat berbalik menghadap Kharel.

__ADS_1


"Kenapa diam? Apa kamu keberat---"


"Oke aku suapin, tapi janji harus habis. Okay?"


"Ya-ya, aku janji. Kalau ketelen ya."


"Hahh, ta-tadi Bapak bilang apa? A-aku?"


"E-enggak, kupingmu bermasalah kali. Makannya ke THT seminggu sekali, biar tuh kuping enggak salah tanggep."


"Dishh, orang aku denger dengan jelas Bapak bilangnya aku ya!"


"Mana ada, orang aku bilangnya saya. Ehh,"


"Nahkan, berarti emang benar. Yang seharusnya diperiksa itu daya ingat Bapak. Siapa tahu berkat usia, daya ingatnya Bapak melemah!"


"Yakk, enak aja kalau ngomong. Tua-tua begini juga saya masih tampan dan juga keren, bahkan kesehatan saya semuanya perfect!"


"Mosso? Si paling perfect enggak sih!"


"Yaiyalah, buktinya banyak wanita yang melirikku bukan?"


"Idish, kalau memang banyak wanita melirik Bapak, kenapa Bapak milihnya saya."


Seketika perkataan Fayra yang asal ceplas-ceplos berhasil membuat Kharel terdiam seribu bahasa, dia tidak tahu harus menjawab apa lagi. Apa yang Fayra ucapkan memang benar, bahkan dia sendiri juga bingung. Kenapa hatinya bisa sampai memilih Fayra untuk menjadi pendampingnya tanpa disadari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️



__ADS_2