
Menurut mereka Kharel dan Fayra merupakan pasangan yang cocok, lantaran ketika dilihat-lihat mereka begitu serasi satu sama lain.
Ya, walaupun terpaut usia yang cukup jauh, tetapi wajah mereka sekilas sangatlah mirip. Yang artinya mereka bagaikan jodoh yang dipertemukan dengan cara seperti ini.
Satu pertanyaan dari Louis, berhasil membuat Kharel diam membeku, begitu juga dengan Fayra. Dia pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, saat Sheila terus mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang cukup membuat jantungnya tidak bisa bekerja dengan tenang.
"Apa Kakak mencintai Fayra, sahabatku?" tanya Louis membuat Kharel langsung menoleh dalam kondisi mata membelalak dan tubuh mematung.
"A-apa ma-maksudmu mengatakan semua itu?" ucap Kharel terbata-bata, terlihat sekali wajah gugup Kharel saat dia mendengar pertanyaan Louis yang tidak di duga.
"Jujur aja, Kak. Dari sudut matamu menatap Fayra itu berbeda, aku bukan anak kecil lagi yang bisa Kakak bohongin!" tegas Louis, wajahnya begitu serius.
"Ya, benar Kak. Jika Kakak mau mendekati sahabat kami, itu malah bagus dong. Kami akan membantu Kakak, sebisa kami. Karena aku yakin, tidak mudah menaklukkan seorang wanita yang pernah mengalami ke gagalan cinta di dalam hidupnya." ucap Nicho, membuat Kharel menoleh.
Mendengar ke gagalan cinta, membuat Kharel kembali mengingat dimana dia selalu menemukan Fayra menyendiri dengan isak tangisnya tanpa bersuara. Meskipun Kharel tidak tahu jika itu bukanlah kegagalan cinta antara pasangan kekasih, melainkan ikatan yang telah sah dimata hukum dan negara.
Ternyata benar, dugaan Kharel. Perkataan Nicho menjawab semua teka-teki di dalam pikirannya, karena pada saat itu dia tidak mau menanyakan kenapa dan ada apa pada Fayra langsung.
Kharel hanya memilih untuk melihat Fayra dari jarak jauh, bagaikan detektif yang sedang mencari tahu sesuatu.
"Kami sudah dewasa, Kak. Jika Kakak mencintai sahabat kami pun itu tidak masalah, dan aku rasa juga Fayra sudah mulai menaruh hati sama Kakak." ujar Eric.
Lagi dan lagi, perkataan dari mereka bertiga terus membuat Kharel terkejut. Dia tidak menyangka jika mereka malah mendukungnya, padahal beberapa menit lalu Kharel menjelaskan kebenaran pada mereka. Yang seharusnya mereka marah, tetapi ini tidak.
Seolah-olah mereka memberikan suport yang besar untuk Kharel bersatu dengan Fayra. Menurut Kharel ini adalah hal yang terbilang sangat cepat, lantaran mereka yang tidak mengenal Kharel pun bisa memberikan kepercayaan sebesar itu. Dengan harapan bahwa Kharel bisa membuat sahabatnya bisa bahagia bersama dirinya.
"Kalian baru mengenal saya, kenapa bisa sepercaya itu memberikan sahabat kalian kepada saya?"
__ADS_1
"Dan kau Louis!"
"Kau tahu bukan, saya ini orangnya seperti apa? Dingin, tak peduli apapun, cuek dan sebagainya."
"Yang ada di pikiran saya sekarang hanyalah bekerja, belajar dan sukses. Tidak ada sama sekali untuk berpikir sejauh itu. Bagi saya wanita itu bukanlah segalanya, karena banyak wanita yang hanya menginginkan harta dan kemewahan si pria!"
"Jadi tidak mungkin kalau saya me-mencintai sahabat kalian. Dia itu hanyalah mahasiswi dikampus milik orang tua saya, lalu saya? Saya adalah seorang dosen yang tugasnya mengajar, bukan mencintai!"
"Asal kalian tahu, banyak perbedaan di antara kami. Salah satunya yaitu masalah usia. Usia saya dan dia berbeda cukup jauh. Dimana dia baru merasakan masa remajanya, sementara saya sudah mau memasuki usia kepala 3."
"Jikalaupun saya menikah pasti dengan wanita yang umurnya seusia saya, bukan dibawah saya. Mana ada wanita seperti dia mau menikah dengan pria setua saya, pasti dia akan mencari yang lebih dari saya. Contohnya tampan, muda dan juga romantis."
Kharel berbicara dengan nada yang sedikit terbata-bata walaupun terlihat tegas tanpa ekspresi. Cuman, Louis yang sangat mengenal Kharel, selaku sepupunya tidak bisa dibohongi dengan semua perkataannya.
Ibarat kata Louis dan Kharel merupakan pinang dibelah dua, jadi apapun yang dikatakan Kharel tidak membuat Louis mempercayainya. Sama halnya seperti Nicho dan Eric, mereka juga melihat adanya sececar cinta yang terpancar dari mata Kharel untuk sahabatnya.
...*...
...*...
"Apa maksud dari semua ini, Raa? Lu serius udah jadian sama itu cowok?" tanya Arsyi, sambil mentap Fayra dengan mata yang membola besar.
"Dia kan dosen lu, Raa. Bagaimana bisa lu jalanin hubungan sama pria yang usianya jauh diatas lu? Apa lu enggak malu nantinya?" tanya Nata, ikut penasaran.
"Itu pertanyaan enggak penting. Yang penting, lu jawab pertanyaan gua. Apa lu mencintai dosen itu?" Pertanyaan Sheila langsung mengambil alih semua pertanyaan yang memicu rasa penasaran mereka.
Fayra tidak tahu harus berbicara apa dan mau menjawab bagimana lagi. Dia masih terdiam sejenak mencerna serta merangkai semua jawaban menjadi kesatuan, untuk dia berikan kepada sahabatnya.
__ADS_1
Ketiga sahabat Fayra menunggu jawaban tersebut dengan wajah penasaran, dan juga panik. Mereka tidak menyangka jika jodoh Fayra bisa datang secepat ini, padahal proses perceraian pun belum lama terjadi.
Seharusnya saat-saat seperti ini Fayra menutup diri untuk tidak lagi mengambil langkah secara cepat, agar kelak dia tidak lagi mengalami ke gagalan untuk kesekian kalinya.
"Ka-kalian apaan sih, a-aku sama Pak Kharel cuman pura-pura menjadi pasangan. Itu semua karena aku cuman mau menolong Pak Kharel, agar nasibnya tidak sama sepertiku." jawab Fayra penuh kegugupan.
"Menolong? Nasib yang sama? Maksudnya, gimana? Kok gua enggak mudeng ya. Coba jelasin yang detail, tapi singkat dan padat. Enggak usah panjang-panjang kek jalan tol, kasih jalan pintas aja." sahut Arsyi, semakin kepo dengan kisah yang Fayra ciptakan bersama Kharel.
Perlahan Fayra mulai menceritakan sekilas dari dia bertemu Kharel, bahkan hampir tertabrak olehnya dan pada akhirnya mereka membuat semua sandiwara ini. Hanya untuk mengalihkan serta membatalkan tentang perjodohan tersebut.
Entah mengapa sahabat Fayra terlihat sedikit terkejut, bukan karena mendengar kisah mereka. Melainkan menyimak bahwa kejadian yang menimpa mereka seperti sebuah takdir yang menyatukan.
Dimana Fayra seperti seorang malaikat yang dikirim Tuhan untuk menyelematkan kehidupan Kharel. Sementara Kharel adalah seorang pangerang yang telah dikirim sebagai obat menghapus luka Fayra.
Balik lagi diposisi Kharel, dia masih terdiam. Bingung dengan perasaanya sendiri, sampai seketika Louis terus mencecar Kharel dengan semua pertanyaan.
Kharel pun mulai menjawab dengan segala kegugupan hatinya, membuat mereka menyimak dan menunggu apa yang akan Kharel ingin ungkapkan.
"Entah mengapa, akhir-akhir ini jantung rasanya berdetak sangat cepat. Seakan-akan hati saya seperti perlahan telah terbuka untuk seseorang. Sampai pada akhirnya, ketika berada didekatnya mulut ini terlalu susah untuk mengatakan kalau saya sudah mulai mencintai---"
"Mencintai siapa?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️
__ADS_1