
Sang dokter pun menjelaskan pada Kharel kalau suntikan ini sangat penting untuknya, bukan demi kesembuhan terapinya. Melainkan untuk menjaga stamina Kharel, karena beberapa hari lagi mereka akan mengadakan acara mewah.
Pernikahan mereka akan di gelar di gedung yang bisa menampung puluhan ribu orang, sehingga acara tersebut akan memakan waktu sangat lama dari pagi sampai tengah malam.
Apa lagi kondisi Kharel yang hanya bisa duduk di kursi roda, akan membuat tubuhnya mudah sekali lelah, pegal dan semacamnya. Jadi, mau tidak mau dia harus mendapatkan suntikan vitamin ekstra dari pada Fayra.
Akhirnya satu bisikan Fayra berhasil membuat Kharel terdiam, dia melepaskan pelukan Fayra lalu menatap matanya dengan mata cantiknya yang masih berlinang air mata.
"Kalau nanti Kakak mau di suntik, Fayra kasih 1 ciuman manis di bibir bagaimana? Tapi, janji ya enggak boleh lebih. Awas ya!"
"Pokoknya Kakak harus puasa dulu, sampai nanti waktunya tiba. Barulah Kakak bisa melakukan apapun sesuka hati Kakak dan kapanpun Fayra siap buat melayani Kakak, asalkan Kakak tidak melakukannya dengan cara kasar. Bagaimana, hem? Tertarik?"
"Jika tertarik, Kakak harus mau di suntik. Itu tidak sakit kok, aku jamin. Nanti Kakak tatap wajahku saja jangan jarumnya, biar Kakak bisa melihat masa depan kita yang sangat bahagia dari bola mataku ini."
"Ayolah, pasti mau dong. Ingat, Kak! Ini kesempatan langka loh. Kapan lagi 'kan, aku kasih Kakak biar bisa icip-icip bibirku lagi sebelum Kakak mengicip-icip yang lainnya, hem?"
Bisikan demi bisikan Fayra lontarkan di telinga Kharel yang membuat dia mulai berhenti menangis dan menatapnya sangat dalam.
Usapan tangan Fayra berhasil menghapus sisa air mata Kharel, hingga perlahan Kharel menggangukkan kepalanya dan berkata. "Janji, mau memberikan aku itu setelah aku selesai di su-suntik? Ja-janji tidak sa-sakit? Ja-janji tidak akan membohongiku? Janji----"
"Sejak kapan Fayra membohongi Kakak, hem? Pernahkah Fayra tidak menempati semua janji Fayra? Tanpa Kakak menagihnya pun Fayra akan tetap mewujudkan semua itu, asalkan Kakak harus berani buat sembuh."
"Fayra ingin sekali melihat Kakak meninggalkan kursi roda ini, dan kita bisa berlari bersama sambil bergandengan seperti biasanha. Bisakah Kakak wujudkan itu?"
__ADS_1
Fayra tersenyum menatap calon suaminya sambil terus mengusap pipi Kharel, dimana Kharel merasa begitu bahagia.
Biasanya seorang wanitalah yang dijadikan Ratu oleh prianya, tetapi ini berbeda. Malah Kharel yang dijadikan Raja oleh wanita kesayangannya.
Perlahan Fayra kembali berdiri, lalu memberikan kode kepada sang dokter bahwa Kharel sudah siap untuk menjalani semua pemeriksaan ini. Kemudian dokter tersenyum, mencoba membantu Kharel bersama perawat pria lainnya.
Mereka mencoba untuk memapah Kharel menaikannya di sebuah bangkar yang tidak terlalu tinggi. Barulah sang dokter mulai mengecek satu demi satu, dan melakukan beberapa tes lainnya.
Setelah selesai, kini saatnya Kharel harus mendapatkan 2 kali suntikan di paha dan juga tangannya. Dengan sikap, Fayra selalu ada di sampingnya mengusap rahangnya sambil terus tersenyum.
Fayra mencium kening Kharel, lalu mengedipkan matanya secara perlahan membuat Kharel hanya bisa berkaca-kaca menatap matanya. Rasa sakit dan sedikit gemetar membuat Fayra selalu mencoba mengendalikan emosi trauma yang ada padanya.
"Tenang ya, Sayang. Lihat aku aja, hem. Jangan lihat yang lain, ingat Kakak itu pria yang kuat tidak lemah. Jadi, Kakak bisa kok melawan semua itu. Ini tidak sakit, karena aku akan selalu menjadi obat pereda rasa sakit Kakak sampai kapanpun." ucap Fayra.
"Suut, jangan nangis okay? Lelakiku tidak akan pernah menangis hanya karena takut, pokoknya kita hadapi bersama. Aku yakin, sebesar apapun masalah kita, sebanyak apapun ujian yang kita hadapi aku tetap akan menggenggam tangan Kakak seperti ini." ujar Fayra.
Sang dokter melihat kekuatan cinta mereka yang begitu besar hanya bisa tersenyum, karena tidak semua pasangan bisa saling mengerti kebutuhan dan juga kondisi pasangannya.
Berbeda dengan Fayra yang terus berusaha untuk mengisi kekurangan Kharel, karena Fayra tahu suatu saat nanti ketika dia merasakan seperti Kharel. Pasti Kharel tidak akan meninggalkan dan akan terus menemaninya sepanjang waktu.
Tak terasa sang dokter sudah selesai melakukan semuanya, baik terapi, suntikan dan juga pengecekan kesehatan lainnya. Sampai tidak terasa Kharel menoleh ke arah dokter dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya bingung.
"Akhirnyanya sudah selesai, Tuan. Semoga acara Tuan dan Nyonya bisa berjalan lancar tanpa kendala, dan Tuan juga bisa segera kembali sembuh lalu berjalan seperti semua. Setelah saya cek semuanya, kaki Tuan benar-benar meresponnya. Itu tandanya sebentar lagi Tuan bisa kembali berjalan dengan normal." jelas sang dokter.
__ADS_1
"Syukurlah, akhirnya ada harapan besar buat Kakak kembali berjalan. Fayra seneng dengernya, semoga saja sebentar lagi ya, Kak. Apa yang Fayra bilang 'kan, pasti nanti setelah kita menikah Kakak akan kembali berjalan. Terbukti bukan? Kesehatan Kakak semakin membaik." ucap Fayra, sangat bahagia.
"A-apa? Su-sudah selesai? Ba-bagaimana bisa? Pe-perasaan aku belum di suntik? A-apakah tidak jadi?" tanya Kharel, terbata-bata menatap dokter.
Dokter pun tersenyum lebar menjelaskan kalau ketika Kharel dan Fayra sedang serius berbicara. Dokter pun memulai aksinya untuk menyuntikan suntikan ke tubuh Kharel, sehingga dia tidak akan merasakan apapun.
Sama halnya seperti anak kecil yang sedang dialihkan oleh orang tuanya agar tidak terlalu tegang saat menghadapi suntikan.
Kharel cuman bisa terdiam, menatap dokter dan Fayra secara bergantian. Kemudian perawat tersebut kembali membantu Kharel untuk duduk di kursi rodanya.
Mereka pun berpamitan pada sang dokter, kemudian segera meninggalkan ruangan untuk menebus obat yang sudah di resepkan.
Fayra hanya bisa tersenyum ketika mengingat kejadian tadi, bagitu juga Kharel dia sedikit kesal dengan sikapnya sendiri yang seperti bocil. Akan tetapi, Kharel senang karena meskipun dia bertingkah apapun Fayra tetap selalu memahaminya lebih dari dirinya sendiri.
Sesampainya mereka di lantai dasar untuk menebus obat yang akan Fayra ambil, Fayra perlahan menghentikan kursi roda Kharel lalu dia berjalan memutari Kharel dan berhenti di hadapannya.
"Kakak tunggu sini bentar ya, aku mau menukar resep obat ini dulu. Soalnya agak ngantre, jadi Kakak diam-diam disini ya. Aku akan selalu lihatin Kakak dari sana, okay?" ucap Fayra sambil tersenyum.
"Siap, Ibu negara. Maaf ya aku selalu membuatmu susah dan kesulitan saat menghadapi kondisiku yang seperti ini." keluh Kharel, bibirnya tersenyum menahan kesedihan.
"Ssstt, stop berkata seperti itu! Ini sudah sebagaian tugas dari seorang istri, paham? Jadi tunggu di sini, jangan berpikir aneh. Awas kalau berbicara yang tidak-tidak, nanti aku akan jewer kuping Kakak sampai putus, mau?"
Kharel langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, membuat Fayra gemas dan sedikit mencubit pipi calon suaminya itu penuh kegemasan. Kemudian dia bergegas pergi meninggalkan Kharel untuk menebus obat tersebut.
__ADS_1
Selepas perginya Fayra, tiba-tiba ada seseorang yang mendekati Kharel. Dia menyapanya penuh senyuman, sementara Kharel yang menatap orang tersebut hanya bisa terdiam datar, tanpa ekspresi apapun.