
Canda serta kejahilan Ace berhasil membuat Fayra kembali tersenyum lebar. Kini mereka terlihat sangat bahagianya menjadi pasangan pasutri tersebut.
Selama di dalam perjalanan Fayra terus menyender di lengan suaminya, menikmati masa-masa yang sangat langka untuknya. Sedangkan Ace, dia cuman bisa mengusap pipi istrinya sesekali mencium pucuk kepalanya.
Hanya berselang berapa menit mereka telah sampai di tempat perjanjian, lalu tanpa basa-basi lagi mereka segera pergi ke acara Alena dengan bermodalkan alamat di ponsel mereka.
Kurang lebih 20 menit, mereka telah sampai di parkiran yang cukup luas. Akan tetapi, ada satu hal yang membuat mereka bingung ketika menuruni mobilnya masing-masing.
"Bro, i-ini bukannya BAR ya?" tanya Nicho kepada semua temannya, saat melihat tempat tersebut tidak terlalu asing.
"Nj*ir, se-serius i-ini tempatnya? Jangan-jangan kita salah alamat?" sahut Eric, bingung.
"Fixs, Ini sih udah kelewatan kalau mereka benar-benar ngadain acara di rumah penuh dosa kaya gini!" ucap Arsyi.
"Sudah gua duga!" gumam kecil, Sheila.
"Sumpah, mereka itu punya otak kaga sih! Tempat beginian malah di jadiin acara perpisahan." imbuh Nata, kesal.
"Ini udah enggak beres, mending kita pulang!" ucap Ace, menarik lengan istrinya.
"Balik!" tegas, Louis membuat mereka sedikit terlonjak kaget.
"Ishh, Honey. Lepasin enggak! Kita itu belum ketemu Kak Alena." pekik Fayra berusaha melepaskan tangannya.
"Tempat ini udah enggak waras buat kita! Jadi ayo kita ba--"
"Hai, kalian udah sampai?"
Ucapan Ace terhenti ketika suara wanita tidak asing terdengar di telinganya, mereka langsung berbalik menatap wanita yang tidak lain adalah Alena.
"Sorry, gua telah. Pasti kalian bingung sama tempat ini ya? Tenang aja, ini tempat Bokap gua kok."
"Hari ini gua pinjam tempat bisnis kecil-kecilan Daddy gua khusus buat kita party. Isinya juga anak sekolah semua, bahkan enggak ada minuman alkohol kok. Jadi kalian enggak perlu khawatir."
Alena berjalan mendekati Fayra, yang saat ini sudah bisa melepaskan tangannya dari genggaman suaminya.
Ace menatap Alena, mencoba membaca sedikit gerak-gerik serta mimik wajah Alena yang terkesan begitu asing di dalam pikirannya.
"Jadi ini tempat bisnis Daddy Kak Alena? Waw, keren ya. Tempatnya besar banget, udah kaya Cafe atau Restoran bintang 5 hehe ...." ucap Fayra, cengengesan.
"Hehe, makasih. Ohya, by the way lu hari ini kelihatan cantik banget, Raa." ucap Alena, tersenyum menatap penampilan Fayra.
"Aghh, Kakak bisa aja. Enggak kok, ini biasa aja. Kak Alena yang lebih cantik, gaunnya bagus banget." jawab Fayra, kagum menatap penampilan Alena.
__ADS_1
"Hehe, iya nih. Gaun ini di beliin sama---"
"Maksud lu apaan, ngadain acara di tempat kotor ini!"
Pertanyaan Sheila mampu membuat percakapan Fayra dan Alena terhenti, mereka langsung menoleh ke arah Sheila yang saat ini menatap Alena begitu tajam.
"Santai aja dong, gua cuman mau ngadain happy fun aja. Ya udah yuk, masuk." jawab Alena, merangkul lengan Fayra begitu manis.
"Jangan pernah sentuh tubuh cewek gua!" tegas Ace, segera menarik lengan Fayra satunya dan membawanya ke dalam dekapannya
"Ups, so-sorry. Ya udah kalian ayok ikut gua masuk, semuanya udah ada di dalam." ajak Alena, berjalan lebih dulu di temani oleh kedua sahabatnya, Violet dan Lydia.
"Ay---"
"Tunggu, Honey. Kita pulang aja ya, perasaanku enggak enak." sambung Ace menatap wajah Fayra dengan tatapan gelisah.
"Udah tenang aja, aku baik-baik aja kok. Kan Bunny ada di samping aku terus, jadi apa yang harus di khawatirkan lagi? Ya udah ayok masuk, enggak enak udah di tungguin di dalam."
Fayra bergelayutan di lengan suaminya dan sedikit menariknya, lalu mereka melangkahkan kakinya memasuki tempat tersebut.
Ini kali pertamanya bagi mereka semua untuk menginjakkan kakinya di tempat yang sangat menjijikkan.
Tempat yang hanya di hiasi oleh lampu kedap-dedip berwarna merah, biru, putih, dan juga gold. Banyak siswa/i yang sudah hadir, sambil menikmati alunan musik jedag-jedug yang terdengar begitu nyaring.
Tempat yang bersih, mewah, elegand dan juga luas memang terlihat begitu indah dimata mereka. Hanya saja kembali lagi, tempat ini bukanlah tempat yang seharusnya mereka datangi.
Kalau bukan karena Fayra yang terlalu bod*doh termakan oleh rayuan Alena, kemungkinan saat ini mereka sedang asyik menikmati kasur empuk yang sudah memanggil.
Mereka terdiam sejenak, menatap serta matanya menelurusi setiap sudut yang ada. Ternyata memang benar di meja bartender pun tidak ada satu pun minuman keras yang terpampang di sana.
Tempat ini seperti di sulap oleh sang pemilik menjadi tempat yang memang khusus party, bukan layaknya apa yang mereka bayangkan beberapa menit lalu.
Dari sini mereka mulai sedikit mempercayai jika tempat ini aman untuk semuanya, lalu perlahan Alena membawa mereka ke salah satu kursi panjang.
Kemudian mereka duduk perlahan, menikmati alunan musik sesekali mengobrol dan menyicipi hidangan yang sudah di bawakan oleh seorang pelayan.
Awalnya mereka ragu sama semua hidangan yang ada, akan tetapi setelah di pastikan aman, mereka mulai menyentuhnya.
Hampir 30 menit mereka mengobrol, tiba-tiba Alena beserta sahabatnya pergi untuk memulai acaranya. Fayra dan semuanya hanya terdiam menatap kepergian Alena.
"Tuhkan, apa yang aku bilang. Kak Alena sudah berubah kan, bahkan dia aja enggak merasa kesal atau cemburu kalau aku dekat sama Bunny."
"Itu artinya, dia sudah mulai merelakan jika cintanya memang sudah tidak bisa di paksakan lagi. Jadi, kalian enggak perlu khawatir, mendingan sekarang kita nikmatin aja acara ini."
__ADS_1
Fayra berusaha membuat mereka percaya, kalau apa yang mereka pikirkan saat ini tentang Alena adalah hal yang salah. Bahkan Ace sendiri pun mulai percaya dengan sikap Alena, lantaran dia benar-benar berubah drastis.
"Gua masih enggak percaya, tatapan yang Alena berikan sama lu itu kaya lagi ngasih sebuat isyarat. Tapi gua enggak tahu apa maksudnya." ucap Sheila, cuek.
"Udahlah, Shel. Jangan berburuk sangka, enggak baik. Bukannya ini pertanda baik ya, jika Kak Alena sudah mulai bisa berteman denganku?" ucap Fayra, polos.
"Huhh, susah kalau punya sahabat kelewatan baik. Pasti apa pun yang menurutnya jelek, bakalan dianggap baik semuanya!" gumam Arsyi.
Hampir semuanya kemakan oleh sikap baiknya Alena, hanya Sheila, Arsyi dan juga Louis. Mereka bertigalah yang belum sepenuhnya, bisa percaya sama apa yang di ucapkan Alena.
Tak lama Alena mengumumkan bahwa party sesungguhnya akan segera di mulai, semua siswa/i berbondong-bondong memenuhi tempat yang tidak asing tetapi cukup luas.
Disana mereka bisa menari, berjoget atau pun menikmati alunan musik yang semakin kencang.
Kemudian Alena kembali mendekati Fayra dan sahabatnya, tanpa basa-basi Alena langsung menarik Fayra untuk ikut bersenang-senang.
"Ayo kalian ikut, jangan duduk aja. Enggak seru loh, kapan lagi kan kita bisa joget bareng." ucap Alena.
Ace melihat perlakuan Alena, kembali menarik Fayra serta sedikit mendorong Alena. "Gua bilang jangan sentuh cewek gua. Bu*dek lu ya!"
Ace menatap tajam ke arah Alena, membuat dia langsung meminta maaf karena terlalu senang bisa menjadi teman Fayra.
"Bunny, jangan kasar-kasar jadi cowok!"
"Maaf ya Kak, kayanya aku enggak ikut deh. Aku di sini aja ya, dari pada suasananya jadi enggak enak."
Fayra tersenyum menatap Alena, yang hanya bisa menganggukkan kepalanya kecil.
"Okelah, gua tinggal dulu ya." ucap Alena, lalu pergi dalam keadaan wajah tersenyum.
Fayra dan Ace kembali duduk di kursinya, sambil melihat semua siswa/i sedang berjoget ria tanpa adanya rasa beban.
"Kita ke sana yuk, kayanya seru deh kita joget. Dari pada di sini cuman duduk aja, bete tahu." keluh Fayra.
"Enggak usah macem-macem, kita udah dateng ke sini aja udah lebih dari cukup buat dia!" tegas, Sheila.
Fayra hanya bisa cemberut ketika semua sahabatnya melarang dia untuk ikut bersenang-senang dengan yang lain.
Namun disaat mereka sedang menikmati suasana tersebut tiba-tiba saja Sheila dan Nata mendapatkan panggilan telepon.
Kedua orang tua mereka, meminta mereka untuk pulang lebih awal lantaran ada sesuatu yang penting.
Kini hanya tinggal pasangan Louis dan juga Ace, sedangkan Fayra yang benar-benar sudah merasa jenuh langsung mengajak Nata untuk pergi ke tempat dansa.
__ADS_1