
Ace kembali menatap Fayra, melihat semua penampilan Fayra memang benar-benar mirip seperti apa yang dia ucapkan.
Namun, Fayra yang melihat reaksi suaminya tidak seperti tadi malaj semakin bingung. Apa lagi yang salah sama penampilannya? Padahal dia sudah menuruti semua permintaan suaminya.
Ace mengalihkan pandangannya, kemudian memukul keningnya sendiri sambi berkata. "Beginilah resiko punya bini yang rada polos, suruh pakai baju tertutup. Dia beneran ditutup semua dong!"
Ace bergumam kecil, wajahnya terlihat frustasi menghadapi istrinya. Rasanya dia mau ketawa tapi tidak bisa, mau marah pun apa lagi.
Jadi mau tidak mau, Ace hanya bisa menelan air liurnya secara kasar. Layaknya menelan nasibnya malangnya sendiri, saat memiliki istri yang menguras mentalnya.
"Kenapa, Bunny? Salah lagi? Katanya suruh tertutup, gimana sih!" ucap, Fayra.
Huhh ...
Ace menghembuskan napasnya, lalu dia menatap wajah istrinya sambil sedikit mengukir senyuman yang dipaksakan.
"Honey, kamu itu mau ke acara pesta perpisahan yang diadakan Alena atau mau menghadiri acara pernikahan?" ucap Ace, tertekan.
"Ya kata Bunny suruh pakai pakaian tertutup. Lah ini udah tertutup, kan?" jawab Fayra.
"Ya tertutup sih, tertutup. Tapi, enggak begitu juga Honey. Emangnya kamu mau jadi bahan tawaan yang lain?" ucap Ace.
"Ya-ya enggak sih, ta-tapi aku harus pakai gaun mana lagi sih! Aku bingung, Bunny. Bingung! Ini salah, itu salah, ono salah. Terus harus gimana?" ucap Fayra kesal, langsung duduk di tepi ranjangnya.
"Ya maksudku itu kamu cari gaun yang tidak terbuka, jangan kaya gaun pertama dan kedua berasa kaya pakaian kurang bahan aja. Mana ketek sama dadanya kelihatan pula, dikata mau pamer aset kali!" keluh, Ace.
"Terus harus gimana?" tanya Fayra, putus asa.
"Ya yang agak tertutup, Honey. Jangan keliatan ketek, dada atau pun pahanya! Paham?" jawab, Ace.
"Huhh, ganti terus, ganti terus kapan perginya coba!" gumam, Fayra.
"Kalau pakaianmu sudah sesuai sama keinginanku, baru kita berangkat. Tapi, jika belum sesuai, ya sudah kita di rumah aja!" sahut Ace, cuek.
"Ckk, menyebalkan! Yayaya, aku ganti dulu!" Fayra bangkit dari duduknya, kemudian berjalan malas menuju ruangan ganti.
Ace melihat sikap lucu istrinya hanya bisa terkekeh kecil, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tak lama, Fayra kembali muncul di depan Ace dengan penampilan yang sudah sesuai sama ucapan suaminya. Akan tetapi, motif baju yang Fayra gunakan terlalu ramai.
"Apa pakaian seperti ini yang kamu mau, Bunny?" tanya Fayra, membuat Ace langsung menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Astaga, Honey! Kamu mau ke pesta apa mau ke rumah duka sih, malah pakai daster bunga-bunga lagi! Kenapa enggan sekalian merah-putih biyar merdeka!" ucap Ace, kesal.
"Loh kan ini udah enggak kebuka ketek sama dadanya, Bunny. Terus salahnya dimana coba?" jawab Fayra.
"Ya iya sih, tapi enggak banyak motif juga Honey. Udah sana ganti lagi! Waktu kita enggak banyak, ini udah telat 5 menit!" ujar Ace, menatap jam ditangannya.
"Punya laki gini amat sih, kalau ada tukang loak mending aku loakkin sekalian. Kalau perlu tuker tambah sama yang lain!" gumam lirih, Fayra.
"Hahh, apa tadi kamu bilang? Aku enggak denger!" tanya Ace.
"E-enggak. Dahlah ayo berangkat, pasti mereka semua sudah menunggu kedatangan kita." ucap Fayra, sangat kesal.
"Enggak! Pokoknya sampai kamu belum memakai baju yang benar, maka aku enggak mau berangkat ke sana!" pekik Ace.
"Arrghh, dasar suami menyebalkan!" teriak Fayra, wajahnya terlihat begitu geram menatap suaminya. Saking kesalnya, Fayra hanya bisa menghentakan kedua kakinya secara kasar.
"Udah jangan marah-marah. Cepetan ganti!" ucap Ace.
"Nyenyenye ...." sindir Fayra, langsung berbalik dan terus menghentakkan kedua kakinya sambil berjalan menuju ruang ganti.
"Hihi, lucu juga ya kalau lihat dia marah. Wajahnya bukannya menakutkan, tapi malah terlihat menggemaskan."
Ace tertawa geli saat wajah kesal istrinya tadi, terbayang di ingatannya. Kemudian, Ace kembali menatap layar ponselnya sambil mengabari semua sahabatnya.
Hampir 10 menit lamanya, Ace berdiri menggedor-gedor pintu agar Fayra segera keluar, lantaran mereka sudah telat kurang lebih setengah jam lamanya.
Saat Ace kembali berjalan menuju tepi ranjang, tiba-tiba pintu terbuka membuat langkah kaki Ace terhenti.
Dengan perasaan kesal dan juga bete. Ace langsung berbalik dan berkata. "Aku bilang jangan lama-lam ... Ma."
Ace tercenga melihat penampilan istrinya, bagaikan seorang bidadari yang keluar dari ruangan ganti. " I-ini ka-kamu Ho-honey?"
Ace benar-beanr sudah terpana melihat kecantikan istrinya sendiri, yang saat ini gaunnya benar-benar sangat serasi sama tubuhnya yang mulus.
Inilah pakaian yang Ace maksud, tidak terbuka dan juga tidak banyak motifnya. Dimana Fayra sudah memakai pakaian sesuai sama apa yang suaminya inginkan.
"Ya iyalah aku, siapa lagi. Di kata jelmaan Fayra kali! Dahlah ayo kita berangkat, enggak ada akta ganti-ganti lagi!"
Fayra langsung menarik Ace, dan membawanya keluar dari kamar dengan sedikit tarikan.
"Yak, dasar istri ngeselin! Aku ini orang bukan kambing, woi!" teriak Ace, saat tubuhnya mulai tertarik.
"Bodo amat! Aku sudah tidak punya banyak waktu, karena permintaanmu yang begitu menyebalkan membuat waktuku terbuang sia-sia!" sahut Fayra terus menarik tangan suaminya.
__ADS_1
Mereka menuruni anakan tangga, dimana Ace masih terus mendumel akibat dia tidak terima sama sikap istrinya.
Baru saja dia mau memuji kecantikan istrinya, tetapi dia malah mendapat perlakuan yang tidak enak darinya.
Ya mau bagaimana lagi, Fayra benar-benar sudah kesal atas sikap suaminya yang hari ini berhasil menguras emosinya.
Fayra merasa bahwa dia sedang di kerjai oleh suaminya cuman karena, masalah gaun yang akan dia pakai untuk pergi ke pesta.
Fayra dan Ace langsung berpamitan kepada kedua orang tua Ace. Sedangkan kedua orang tua malah terlihat sangat binggung melihat sikap menantu serta anaknya yang begitu aneh.
Setelah selesai beroamitan, Fayra langsung pergi meninggalkan Ace. Ace bergegas mengejar istrinya sambil memekik keras, akibat pujaan hatinya yang saat ini dalam keadaan mode ngambek.
Mereka berdua mulai berjalan ke arah garansi. Cuman saat Ace mau membukakan pintu, tiba-tiba Fayra langsung membukanya sendiri dan masuk sambil menutupnya sangat keras.
Brak!
Ace terlonjak kaget melihat kegarangan seorang istri yang lagi merajuk. Tanpa mau menunggu lebih lama lagi, Ace berlari kecil memasuki mobilnya.
Ace segera menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan perkarangan rumah, menuju tempat perjanjian para sahabatnya yang saat ini sudah menunggu.
Selama perjalanan Ace sesekali mencoba melirik Fayra yang masih menekuk mukanya, serta pipinya sedikit menggembung bagaikan ikan buntal.
Ace terkekeh kecil, membuat Fayra melirik tajam. Lalu dengan cepat kembali mengalihkan wajahnya ke arah berlawan.
Namun, tidak sampai di situ. Entah, terlindah dari mana. Tiba-tiba saja Ace kepikiran untuk menjahili istrinya sendiri.
Ace mencoba sedikit mendekatkan wajahnya ke pipi kanan istrinya dan berkata. "Honey, coba deh lihat sini."
"Apaan sih, malas!" jawab Fayra, cepat.
"Ayolah lihat sini dulu Honey, please ...." rengek Ace sedikit melirik ke arah jalan.
"Apan sih, ganggu aj----"
Cup!
Ketika Fayra menoleh kearah suaminya, tepat di saat itu juga bibir mereka saling bersentuhan. Fayra terkejut dan membolakan matanya, dimana tubuh Fayra mulai membeku.
Berbeda sama Ace, dia kembali duduk normal sambil fokus mengontrol laju mobilnya. Ace terkekeh sendiri melihat wajah istrinya sudah memerah bagaikan buah tomat kematangan.
"Yak, dasar laki ngeselin, ngeselin, ngeselin!" teriak Fayra, memukul lengan suaminya yang semakin membuat Ace tertawa lepas.
Canda serta kejahilan Ace berhasil membuat Fayra kembali tersenyum lebar. Kini mereka terlihat sangat bahagianya menjadi pasangan pasutri tersebut.
Selama di dalam perjalanan Fayra terus menyender di lengan suaminya, menikmati masa-masa yang sangat langka untuknya. Sedangkan Ace, dia cuman bisa mengusap pipi istrinya sesekali mencium pucuk kepalanya.
__ADS_1