Learn to Love You

Learn to Love You
Kecurigaan Sheila


__ADS_3

Wajah mereka menatap satu sama lain tersenyum dan cekikikan, saat mengingat kejadian beberapa saat lalu. Sampai seketika Fayra mau berdiri mengganti seprainya, tetapi Ace malah melarangnya.


Akhirnya Acelah yang mengganti seprai tersebut dengan susah payah. Kemudian mereka pun kembali tertidur tepat di jam 4 pagi, dalam posisi Fayra berada di dalam dekapan pelukan Ace.


...*...


...*...


Pagi hari, jam sudah menunjukkan pukul 8. Dimana Ace dan Fayra masih tertidur, sedangkan yang lainnya sudah terbangun lebih dulu. Bahkan mereka pun sudah menyemil di ruang televisi.


"Mentang-mentang sehati, bangunnya juga harus kompak. Dasar duo bucin!" gumam Arsyi, kesal.


"Lu kenapa dah, ngedumel mulu pagi-pagi." sahut Eric.


"Lu lihat aja, kita di sini udah rapi udah siap. Lah tuh kunyuk 2 masih pada belum bangun!" jawab Arsyi, sambil makan cemilan.


"Udah biarin aja, lagian kita juga belum tahu mau kemana." celetuk Sheila.


"Kita ke pantai, yuk! Kayanya seru deh, kapan lagi kita mantai." sahut Nata, antusias.


"Kalau ngomong pakai otak, Cok! Kita lagi di puncak, ya kali ke pantai. Orang tuh kalau ngasih ide yang bener dikit lah!" ujar Arsyi, terlihat begitu dongkol.


"Ya mangap, namanya juga khilaf hehe ...." sahut Nata cengengesan membuat Sheila hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Di saat suasana ruang televisi mulai ricuh akibat perdebatan Arsyi dan Nata. Tiba-tiba Sheila pergi ke arah kamarnya untuk mengambil ponselnya.


Setelah selesai mengambil ponselnya, Sheila melangkahkan kedua kakinya untuk keluar kamar. Cuman sayangnya, dia kembali masuk ke dalam kamar dalam keadaan terkejut.


"Ace? Nga-ngapain dia bisa keluar dari kamar Fayra?" gumam kecil Sheila sambil mengintip Ace yang mulai menuruni anak tangga.


"Apa jangan-jangan Ace dan Fayra ...." Sheila menghentikan ucapannya, lalu membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangannya sambil matanya membola besar.


"Yakk ... Enggak, enggak, enggak! Gua enggak boleh mikir jelek tentang mereka, siapa tahu aja Ace masuk ke kamar Fayra cuman buat cek dia udah bangun apa belum!"


"Ayolah, Sheila! Please, lu jangan mikir yang aneh-aneh tentang sahabat lu sendiri. Gua yakin enggak mungkin Fayra melakukan hal sekotor itu, lu tahu dia. Jadi jangan sampai lu punya pikiran negatif sama dia."


"Lu cuman cukup ingat, kalau Fayra adalah wanita baik-baik. Apa lagi dia masih polos, jadi enggak akan mungkin dia bermain sejauh itu!"


"Alaah, pikiran macam apa sih yang ada di otak gua, nj*ir! Dahlah, mending gua balik aja ke yang lain biar pikiran gua enggak kemana-mana!"


"Lagi pula gua juga bisa kan, nanya langsung ke orangnya, dari pada nebak-nebak kaya gini, yang ada malah mikir yang enggak-enggak tentang sahabat gua sendiri."


Sheila mengoceh panjang kali lebar, ketika dia menyadari jika saat ini pikirannya sedang melambung tinggi. Keluarnya Ace dari kamar Fayra membuat Sheila, memiliki pikiran buruk mengenai sahabatnya sendiri.

__ADS_1


Sheila mencoba menenangkan dirinya sendiri, disaat sudah mulai tenang. Dia kembali memasang wajah datarnya, kemudian berjalan ke ruang televisi.


Namun, ketika Sheila kembali ke ruang televisi. Lagi-lagi dia di kejutkan dengan kejadian yang sangat membuatnya bingung.


"Duduk woi, lu ngapain berdiri aja udah kek patung." ucap Arsyi.


"Tahu lu, mana mukanya enggak enak banget lagi. Berasa kek di perhatiin mantan." sahut Nata, berhasil membuat Louis sedikit tersedak.


Uhukk ... Uhukk ...


"Eh, Koko kenapa?" sambung Nata terkejut.


"Lu sih, pakai bahas mantan. Jadi keselek tuh bocah." sahut Nicho.


"Hehe, ma-maaf Ko. Cuman asal ngomong aja kok, lagian Koko kan tahu kalau aku enggak punya mantan. Palingan juga nanti Koko yang jadi mantan."


Degh!


Ucapan Nata berhasil membuat mata Louis membola besar, wajahnya kian memerah menahan gejolak amarah di dalam hatinya.


Rasanya dia ingin sekali menyumpel mulut kekasihnya itu, menggunakan kursi supaya tidak lagi berbicara sembarangan.


"Nj*ir, lu kalau jadi cewek ngomong enggak ada otak! Liat noh, temen gua langsung berubah jadi moster." ucap Nicho, kesal.


"Ishh, bener tahu. Toh, Koko sendiri yang bilang kalau habis selesai kuliah nanti mau langsung ngelamar aku, kan? Nah itu tandanya kita akan menjadi mantan, lebih tepatnya mantan kekasih menuju halal. Haha ...."


Glek!


Louis yang awalnya ingin marah, langsung menelan bulat-bulat amarahnya. Ucapan Nata berhasil membuatnya menjadi salah tingkah.


Ya memang sih, dia akan melamar Nata ketika lulus kuliah. Tetapi, jika di bicarakan kembali semakin membuat Louis ingin segera cepat-cepat memiliki Nata.


"Ekhem, ekhem. Kayanya kali ini wajahnya merah bukan karena panas, Bro. Melainkan ada yang lagi terbang tinggi, setelah mendengar gembalan kekasihnya untuk pertama kali haha ...." sindir Nicho.


"Haha, ya bener. Tuh liat mukanya udah kek tomat busuk, nji*ir hahha ...." timbah Eric, semakin membuat mereka tertawa.


Ketika mereka lagi asyik bercanda, Sheila langsung duduk dan berkata. "Dimana Ace? Bukannya dia udah turun ke sini?"


"Hah? Sejak kapan Ace ke sini? Lagian kamar dia dibawah bukan di atas kali. Wah fiks sih, kayanya daya ingatan lu udah mulai melemah." ucap Nicho.


"Se-serius? Terus tadi yang gua liat Ace baru keluar dari kamar Fayra itu, tandanya gua halu gitu?" ujar Sheila, bingung.


"Apa!" pekik semuanya kecuali Sheila.

__ADS_1


"Jangan ngadi-ngadi njir! Mana mungkin Ace keluar dari kamar Fayra?" celetuk Nicho, tidak percaya.


"Jangan-jangan Ace ...."


Ucapan Eric terhenti, ketika seseorang datang dalam keadaan wajah datarnya. "Lu semua ngapain pada ngomongin gua, hahh!"


"Kata cewek gua, dia liat lu keluar dari kamar Fayra. Emang bener?" ucap Nicho, penasaran.


"Hahh? Ka-kata siapa? Sa-salah liat kali lu. O-orang gua di-di kamar gua sendiri." jawab Ace gugup, sambil duduk.


"Kalau enggak, kenapa wajah lu gugup gitu? Jangan bilang lu udh jebolin sahabat gua!" tegas Arsyi.


"A-apan sih nying! Gua enggak gitu ya, lagian lu tuh salah liat kali!" jelas Ace, masih berusaha tenang.


Baru saja Sheila mau mengatakan sesuatu pada Ace, tiba-tiba dia melihat ke arah atas tangga dimana Fayra baru saja turun dari kamar atas.


Namun, yang membuat semua heran kenapa jalan Fayra seperti pinguin. Disinilah kecurigaan Sheila mulai terarah pada Ace, dia melirik tajam kearahnya.


Ace yang merasa ditatap cuman bisa mengalihkannya sambil memakan cemilan yang ada diatas meja.


"Sorry ya aku telat bangun, habisnya tadi aku enggak sengaja ja-jatuh di kamar mandi, jadi jalannya agak pincang." ucap Fayra sambil duduk di samping Sheila.


"Gua mau kalian jujur! Apa kalian semalam udah melakukan hal senonoh!" tegas Sheila menatap tajam Fayra.


"Ma-maksudnya?" ucap Fayra terkejut, perasaan gugup serta panik, sekarang mulai menjalar ke tubuh Fayra dan juga Ace.


Bahkan Ace sendiri terlihat berkeringat di pelipisnya, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang dia umpeti dari semua sahabatnya.


"Gua bener-benar kecewa sama lu, Ace! Gua kira lu cuman pria pengecut yang bisanya nyakitin Fayra, tapi nyatanya lu juga pria breng*sek yang berani ngehancurin masa depan Fayra!" ucap Louis, penuh penekanan.


"Gua enggak nyangka sih, lu bisa melakukan hal itu sama Fayra. Pasti lu udah ngerayu tuh bocah, kan? Gua paham Fayra polos, tapi seharusnya lu enggak usah manfaatin dia nying!" tegas, Eric.


"Seburuk-buruknya gua jadi playboy, tapi gua enggak pernah sedikit pun nyentuh wanita. Karena bagi gua wanita bisa di sentuh, ketika kita sudah mengucapkan janji suci di depan Pendeta!" sahut Nicho penuh kekecewaan.


Semua terlihat kecewa dengan apa yang mereka lihat saat ini, ya memang mereka tidak tahu betul tentang hubungan badan. Tetapi, mereka paham gerak-gerik Ace dan Fayra yang habis mencetak gol.


Fayra hanya bisa menatap semua sahabatnya dengan tatapan penuh ketakutan, sedangkan Ace dia terdiam membeku saat sahabatnya menyalahkan dirinya.


"Kenapa jadi begini sih! Terus gua harus jawab apa sama mereka, enggak mungkin kan gua jujur. Pasti nanti mereka malah menertawakan gua, lantaran masih muda udah nikah!" gumam batin, Ace.


Fayra meneteskan air matanya, melihat sahabatnya merasa kecewa dengannya. Bahkan mereka semua sampai memutuskan persahabatannya kepada mereka berdua.


Dari situ Fayra terus berusaha meminta maaf kepada sahabatnya, dengan alasan khilaf. Karena dia tidak mau rahasianya terbongkar, apa lagi Fayra ingat jika suaminya tidak mau sampai rahasianya pernikahan diketahui siapa pun.

__ADS_1


__ADS_2