
Penegasan kata demi kata membuat orang tua Fayra menjadi sangat senang, karena anaknya sudah berani mengambil keputusan. Dengan ini Fayra bisa melanjutkan masa depannya dengan pria yang kembali memenangkan cintanya.
"Fayra mohon, Appa Amma. Kasih tau Fayra dimana Kak Kharel? Bagimana keadaannya saat ini, tolong kasih tahu Fayra. Fayra mau bertemu Kak Kharel, Appa Amma Fayra mohon hiks ...."
Fayra menangis didalam pelukan Appa Daniel sambil memukul dadanya beberapa kali, terlihat jika Fayra memang sangat mengkhawatirkan keadaan Kharel yang saat itu memeluknya.
Bayangan akan kejadian itu terus terlintas didalam ingatannya, Fayra takut jika perasaan cinta yang dia rasakan semuanya menjadi terlambat.
Kedua orang tua Fayra terdiam sejenak melihat reaksi Fayra yang semakin merasa bersedih. Ketika Fayra ingin menginjakkan kakinya, tetapi dia malah hampir terjatuh ketika kakinya yang sebelah kiri sangat sakit untuk digerakan.
Cuman tenang saja, itu hanya cedera sedikit. Nanti juga setelah beberapa hari pun Fayra akan kembali pulih seperti sedia kala.
Kecemasan orang tua Fayra kembali bertambah saat melihat anaknya tak berdaya, satu sisi dia ingin mencari Kharel dan satu sisi lagi kakinya terasa menyakitkan.
"Arrrghhh, Fayra benci ini! Fayra benci! Pokoknya Fayra mau ketemu Kak Kharel, hiks ...."
Fayra memukul kakinya yang terasa begitu menyakitkan, melihat itu kedua orang tua Fayra menjadi tidak tega. Sehingga perlahan mereka memberikan kabar bahwa keadaan Kharel mengalami koma, akibat cedera di tubuhnya dan juga habis melakukan operasi tulang sumsum.
Mendengar kondisi Kharel seperti itu membuat Fayra begitu syok, dia langsung bergegas ingin menemui Kharel. Aka tetapi kedua orang tuanya melarang dan menahan Fayra tetap berada diatas bangkarnya.
Namun, apa daya. Semakin Fayra terdiam semakin pikiran dan juga perasaannya menjadi tidak karuan. Akhirnya mau tidak mau Amma Trysta mencoba menenangkan anaknya disaat Appa Daniel sedang mengambil kursi roda sambil meminta izin kepada sang dokter.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Fayra pun diperbolehkan keluar dari kamarnya asalkan jangan terlalu lama. Hanya sekitar kurang lebih 30 menit, dan diharuskan kembali ke kamarnya untuk beristirahat karena kondisinya belum begitu fit.
...*...
...*...
Di kamar sebelah, Mamah Xavia dan Papah Jerome sedang menunggu anaknya yang tak kunjung bangun. Wajah pucat dan sayu membuat Kharel terlihat begitu menyedihkan, meskipun seperti itu wajah Kharel tetap masih sangat tampan.
"Big Baby Boy, bangun dong Sayang. Mamah enggak tega lihat kamu seperti ini, Mamah pengen lihat kamu bahagia Sayang. Please, bangun ya!"
"Kamu pasti masih ingat kan, Sayang. Ketika kamu masih kecil kamu pernah bilang ...."
"Mah, Pah nanti kalau Kharel sudah besar restuin Kharel nikah sama Fayra ya. Kharel enggak mau nikah sama wanita lain, kalau bukan Fayra. Jika Mamah sama Papah enggak setuju, Kharel akan nikah lari sama Fayra bersama penghulu, biar Mamah Papah tidak bisa mengejar Kharel, kan Mamah sama Papah enggak bisa lari jauh-jauh hihi ...."
"Hanya tinggal satu impian lagi loh, dan kamu akan berhasil menggapai semua itu. Pertama kamu sudah menjadi pria yang sukses karena memiliki Perusahaan sendiri, kedua kamu pria yang pintar karena sudah menjadi seorang dosen. Tinggal yang terakhir, yaitu menikah bersama wanita impianmu."
"Mamah dan Papah berharap kamu cepat bangun, Sayang. Kami rindu kamu, meskipun kamu terbilang cuek dan juga dingin, tetapi didalam lubuk hatimu kamu sangat menyayangi kami melebihi kamu menyayangi dirimu sendiri."
"Tidak perlu sebuah kata manis terucap dari bibirmu, untuk membuktikan kalau kamu sangat menyayangi kami. Prilakumu yang diam-diam menghanyutkan, berhasil membuktikan bahwa, kami adalah orang tua yang sangat beruntung bisa memiliki anak sepertimu terlepas dari sifatmu yang menyebalkan!"
"Ingat, Sayang. Kamu iru pria yang sangat kuat, pria yang baik, pria yang semangat pantang menyerah, dan juga pria yang memiliki kasih sayang luar biasa. Bahkan Papahmu sendiri saja kalah."
__ADS_1
"Maka dari itu, Mamah mohon sama Kharel bangun ya. Fayra udah nunggu kamu Sayang, jangan tinggalin dia. Mamah takut hatinya akan semakin hancur ketika dia baru melangkah menuju masa depannya, kamu kembali membuatnya terluka."
Mamah Xavia mengusap pipi anaknya sesekali menciumi tangannya, air mata terus mengalir tanpa henti ketika menyaksikan anaknya yang selama ini terlihat begitu gagah dan juga kuat. Sekarang terbaring lemah tak berdaya, hidupnya hanya tergantung dengan alat medis dan juga takdir.
Sementara Papah Jerome, dia hanya bisa memeluk istrinya yang sedang duduk dari arah belakang. Tak terasa meneteskan air mata juga ikut menetes, yang mana Papah Jerome hampir sama seperti Appa Daniel yang bisa menangis hanya karena keluarga.
Seberapapun besarnya kekuatan yang ingin menghancurkan, tetapi mereka akan tetap masih bisa setia dengan senyumannya. Berbeda jika sudah menyangkut keluarga apa lagi anak istrinya, mereka tidak bisa menahan air mata yang ingin mengalir deras.
Disaat mereka sedang menatap wajah anaknya, tiba-tiba pintu terbuka lebar membuat mereka menoleh satu sama lain.
"Fa-fayra? Ka-kamu sudah bangun, Sayang? Astaga, Tante seneng banget hiks ...." Mamah Xavia langsung bangkit dari tempat duduknya dan berlari kecil memeluk Fayra, kini tumpahlah isak tangisnya saat mengadu tentang kondisi Kharel.
Mata Fayra melirik kearah bangkar, dimana orang yang dia cintai sedang tertidur pulas dalam keadaan terbujur kaku.
"Ta-tante, ba-bagaimana keadaan Kak Kharel? A-apa dia sudah bangun?" ucap Fayra, bibirnya bergetar hebat dimana matanya terus menatap Kharel. Hatinya begitu hancur ketika tidak bisa lagi mendengar suara orang yang dia cintai untuk beberapa waktu ke depan.
"Kabarmu bagaimana, Raa? Apa kamu sudah jauh lebih baik?" tanya Papah Jerom saat istrinya sudah melepaskan pelukannya.
Fayra menatap Papah Jerome dan tersenyum dibalik tangisannya. "Aku baik-baik aja, Om. Sebelumnya maafin Fayra, karena Fayra Kak Kharel sekarang menjadi seperti ini. Coba saja kalau Fayra tidak mengajak Kak Kharel ke taman, dan langsung pulang pasti saat ini Kak Kharel masih bisa berkumpul dengan kita."
"Sekali lagi maafin Fayra, Om Tante. Jika perlu, Fayra mau kok menggantikan posisi Kak Kharel. Biar Fayra saja yang ada di posisi itu, Fayra tidak bisa melihat Kak Kharel seperti ini hiks ... Pokoknya Kak Kharel harus bangun lagi gimana pun caranya, Fayra siap melakukannya. Maaf Om, Tante maaf hiks ...."
__ADS_1
Fayra menangis sambil menunduk diatas kursi rodanya, sementara Amma Trysta mencoba menenangkan Fayra dari belakang. Sedangkan Mamah Xavia langsung berjongkok sambil meraup wajah Fayra, menatapnya dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.