
Tita berbicara dengan nada sedikit kecil layaknya orang sedang berbisik, meski dia tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Cuman dia yakin dengan takdir dan keajaiban, jika orang yang benar akan selalu menang walaupun dia harus melewati semua proses yang tidak mudah.
Teman sebelah Tita pun merasa khawatir saat Tita bersin ketika mereka berada di dalam pelajaran. Sang dosen pun yang mendengar Tita selalu bersih, malah menyuruhnya untuk pergi ke ruangan UKS agar dia bisa meminta obat dan sedikit beristirahat.
Namun, Tita menolak semua itu karena tidak mau sampai ketinggalan pelajaran. Apa lagi dia tahu ini bukan bersin orang sakit, melainkan bersin akibat sesuatu yang telah membicarakan tentang dirinya.
...*...
...*...
...Di Paris ...
Kini, keadaan Fayra semakin hari semakin membaik, bahkan dia juga sudah kembali berjalan dan mulai meneruskan pelajaran yang beberapa hari tertinggal.
Sementara kedua orang tuanya sudah kembali ke Indonesia beberapa hari lalu, disaat kondisi anaknya sudah mulai membaik. Mereka juga menitipkan Fayra kepada kedua orang tua Kharel.
Mau bagaimana lagi, jika kedua orang tua Fayra tetap berada di Paris maka Perusahaan Appa Daniel tidak ada yang mengurus begitu juga bisnis kecantikan milik Amma Trysta yang baru di rintis.
Mereka hanya bisa menunggu kabar baik tentang Kharel dari jauh, yang penting semuanya masih dalam keadaan stabil.
Sudah hampir 2 Minggu ini, Kharel tak kunjung bangun. Dia masih dalam keadaan yang sama, dan juga belum ada perubahan.
Hanya saja beberapa kali Kharel pernah menangis ketika Fayra mengajaknya berbicara, entah itu tentang masa kecilnya ataupun perjuangan Kharel yang ingin mendengar kata cinta terucap dari bibir Fayra.
Sayangnya, Fayra ingin sekali Kharel bisa mendengar semuanya secara langsung bukan dalam keadaan masih tertidur seperti ini.
Setiap hari Fayra tinggal di rumah sakit hanya untuk sekedar menemani dan merawat Kharel, sedangkan kedua orang tua Kharel mereka sesekali datang ke rumah sakit menjenguk anaknya.
Semua itu berkat permintaan Fayra, karena dia tidak ingin jika kedua orang tua Kharel malah ikut menjadi sakit. Apa lagi, umur mereka tidaklah muda. Sehingga kindisi tubuhnya akan sangat rentang dalam semua penyakit yang ada dirumah sakit.
Tepatnya di malam hari pukul 10, Fayra duduk di samping Kharel menggenggam tangannya sambil tersenyum dan tangan satunya mengelus pipi Kharel secara perlahan.
__ADS_1
"My Heroku, bangun yuk. Kakak kan udah lama banget loh tidurnya, memangnya enggak kangen sama aku, hem?"
"Sebenarnya aku itu kesepian tanpa Kakak, cuman aku tetap berusaha untuk menjadi kuat demi Kakak. Bukannya Kakak ingin sekali mendengar balasan atas cinta Kakak selama ini padaku?"
"Dan aku sudah menjawab itu setiap saat loh, sayangnya dalam kondisi Kakak yang masih tertidur seperti ini. Sehingga Kakak pasti tidak akan mendengar itu semua, 'kan?"
"Cuman tenang, Sayang. Aku janji, aku tidak akan pernah menyerah. Aku akan tetap mengutarakan cinta ini setiap saat, karena aku sangat yakin. Cintalah yang akan membawa Kakak pulang, kembali bersamaku dan akan segera mewujudkan impian kita yang tertunda."
Bulir-bulir air mata Fayra runtuh saat dia harus menatap wajah pria yang dia cintai hanya bisa menutup matanya.
Rasanya ingin sekali Fayra tertidur nyenyak di dalam pelukan Kharel, karena sudah hampir beberapa hari ini Fayra hanya tertidur ayam, yang bentar-bentar terbangun cuman untuk memastikan kalau kondisi Kharel baik-baik saja.
Fayra sedikit beranjak dari kursinya dan mencium kening Kharel sedikit lama, sambil memejamkan kedua matanya dengan air mata yang menetes tepat di kelopak mata Kharel.
Kurang lebih beberapa detik, Fayra kembali ke posisi awalnya yaitu duduk sambil tersenyum. "Sstt, hei. Kakak sayang, Kakak enggak boleh nangis. Aku tidak suka laki-laki yang cengeng!"
"Ingat, Sayang. Jangan menangisi keadaan, tetapi cobalah berusaha bangkit dan rubah keadaan ini menjadi nyata!"
"Jadi, aku mohon. Tidurnya jangan lama-lama ya. Aku akan tetap setia di sini, untuk menunggumu membuka mata. Dan aku yakin, sebentar lagi kamu pasti akan bangun, karena kamu tidak akan tega melihatku menghadapi semuanya sendirian."
Inilah Fayra, dia tidak akan pernah bosan untuk terus mengajak Kharel berbicara dari menit ke menit, hari ke hari semua dia lakukan demi menyadarkan Kharel kalau Fayra sangat menunggunya untuk kembali pulang bersamanya.
Ya, walaupun Fayra tahu dia seperti ini bagaikan sedang berbicara dengan patung manekin. Cuman hanya dengan cara seperti inilah, Fayra bisa menolong Kharel untuk memberikan arah kemana dia harus memilih jalan pulang yang benar.
Tanpa sadar waktu terus berputar, membuat Fayra pun mulai mengantuk. Tidak disengaja, Fayra mengoceh sambil sedikit menyandarkan kepalanya di bangkar Kharel dan terus memeluk ataupun menjadikan telapak tangan Kharel sebagai bantalan pipinya.
Tak terasa matanya mulai tertutup bersamaan dengan sisa air mata yang masih menetes dipipinya.
...*...
...*...
__ADS_1
Sementara di bawah alam sadar, Kharel sedang menikmati kesendiriannya sambil tersenyum di sebuah Taman yang sangat indah. Dia terus berjalan kesana-kemari tanpa arahan.
"Sayang?" teriak seseorang. Dia berlari sambil tersenyun lebar, membuat Kharel berhenti sejenak lalu berbalik dengan wajah tersenyum.
"Fayra? Kenapa kamu ada di sini, hem?" tanyanya. Dimana Fayra sudah memeluknya begitu erat, menumpahkan semua kerinduan selama ini.
"Kakak kenapa ada disini? Kita pulang, yuk! Kasihan loh Mamah sama Papah mereka sangat sedih nyariin Kakak." ucapnya.
Kharel melepaskan pelukannya dan menyingkirkan anakan rambut Fayra kesela telingannya sambil mengusap pipinya.
"Fayra aja ya yang pulang, Kakak masih betah banget ada di sini. Tempatnya indah, suasananya adem dan juga Kakak bisa merasa begitu tenang saat ada di sini."
Senyuman kecil terukir di bibir Kharel membuat Fayra berkaca-kaca sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak, Kakak harus pulang bersamaku. Titik!"
"Tidak, Sayang. Aku mau di sini saja, lebih baik sekarang kamu pulang ya. Makasih udah kunjungin aku disini."
"Tidak, tidak dan tidak! Aku tidak mau meninggalkan Kakak sendirian di sini, pokoknya aku akan selalu ada disamping Kakak sampai Kakak mau pulang!"
"Jangan egois, Sayang. Cukup sampaikan salamku pada keluargaku, kalau aku baik-baik aja disini, dan mereka harus tetap menjalani hidupnya dengan bahagia meski tanpa diriku."
"Egois Kakak bilang? Kakak itu yang egois, Kakak hanya memikirkan diri Kakak sendiri tanpa mengerti perasaan orang-orang yang sayang sama Kakak. Termasuk diriku!"
"Aku paham, Sayang. Mereka memang sangat menyayangiku, akan tetapi aku sudah lelah. Lebih baik aku disini hidup sendiri dengan damai tanpa---"
"Tidak! Pokoknya Kakak harus ikut sama aku pulang sekarang juga, apa Kakak lupa? Ada satu impian yang belum terwujud!"
"Impian? Impian apa?"
Alis Kharel mengangkat satu, wajahnya begitu bingung. Entah kenapa seakan-akan dia sedikit melupakan tentang impiannya, karena menurutnya semua sudah terwujud.
__ADS_1
Mulai dari pekerjaan, dan juga kesuksesan. Akan tetapi ada 1 impian lagi masih belum terwujud akibat adanya keraguan yang cukup besar dihati Kharel.