
Disaat Fayra mulai lengah, disitulah Kharel berhasil menarik istrinya lalu membantingnya ke atas ranjang dalam keadaan yag sangat dekat. Tubuh Kharel yang berada di atas Fayra langsung mengunci semua pergerakan istrinya.
Kemudian, mata mereka saling menatap satu sama lain. Fayra hanya bisa terdiam merona, ketika matanya melihat wajah suaminya begitu dekat. Satu tangan Kharel mulai mengelus pipi Fayra secara perlahan, sambil tersenyum.
Dimana Kharel mengatakan kata-kata indah yang terucap dari bibirnya, penuh cinta. Fayra mendengar itu hanya bisa tersenyum sambil meneteskan air matanya.
"Terima kasih, Sayang. Aku benar-benar beruntung banget bisa kembali di pertemukan oleh kamu, gadis kecil yang selama ini menjadi impian masa depanku!"
"Aku pun merasa begitu bahagia, ketika aku sudah berhasil mewujudkan impian terakhirku, yaitu menikah denganmu."
"Sekarang waktunya kita untuk menjalankan sambil membangun semua impian bersama membuat sebuah istana. Dimana istana itu akan di huni oleh seorang Raja, Ratu, Pangeran dan juga Putri kecil kita, yang suatu saat nanti akan menjadi pelengkap didalam kisah cinta kita."
"Aku hanya bisa berdoa, semoga kelak. Hubungan rumah tangga kita kedepannya tidak akan ada lagi seseorang yang ingin berusaha menghancurkannya. Bagiku, kamu adalah segalanya. Jadi, aku harap apapun hal buruk yang terjadi diantara kita itu, tidak akan membuat cinta kita melemah!"
Perkataan Kharel berhasil menyentuh hati Fayra, sehingga dia merasa terharu dan meneteskan air mata kebahagiaan.
Betapa beruntungnya Fyra setelah mendapatkan seorang suami seperti Kharel. Andaikan jika waktu bisa di putar kembali Fayra hanya ingin menikah sekali seumur hidup bersama Kharel. Jodoh senungguhnya yang tidak pernah dia sangka-sangka.
"Te-terima kasih, Kak. Atas semua cinta kasihmu yang begitu tulus padaku, aku tidak menyangka bahwa kita bisa kembali di pertemukan dan di perasatukan dengan cara yang sedikit menyebalkan."
"Aku benar-benar sangat bersyukur, Tuhan telah menggantikan semua kesakitan yang aku rasakan dengan bayaran yang lunas, yaitu kebahagiaan tak terhingga. Ternyata Tuhan itu baik ya, Kak. Dia akan memberikan apa yang sudah Dia ambil, dan menggantikannya sama yang jauh lebih baik."
"Untuk itu, aku mohon ya Kak. Jangan pernah mengecewakan aku, karena aku tidak bisa merasakan jatuh berulang kali ke jurang yang sama bhkan lebih dalam lagi. Aku cuman mau ini yang terakhir seumur hidupku!"
"Aku akan menghilangkan doa-doa yang setiap detik aku panjatkn untuk diberikan jodoh yang terbaik. Dan menggantikannya dengan doa supaya rumah tangga kita bisa selalu bahagia dan juga cinta kita bisa semakin kuat."
"Aku pun tidak akan pernah berhenti meminta agar rumah tangga kita cukup diuji dengan masalah perekonomian, ataupun sifat keegoisan. Dari pada harus diuji dengan sebuah perasaan, yang sewaktu-waktu bisa membuka peluang bagi seorang tamu untuk masuk ke dalam rumah kita tanpa permisi, pada akhirnya rumah tangga kita akan han--"
__ADS_1
Perkataan Fayra terhenti ketika jari telunjuk Kharel menempel di bibirnya, selama beberapa detik.
Tak lan berganti dengan jari jempol, yang dia usap lembut ke bibir istrinya sambil menghapus sisa air mata di pipinya.
"Jangan diteruskan lagi, cukup kita berbicara yang baik-baik tentang rumah tangga kita. Agar kelak, bisa menjadi doa baik buat kita kedepannya. Ingat, setiap ucapan merupakan sebuah doa. Jadi, kita harus tetap berjuang demi kebahagiaan menggunakan doa baik."
"Apa lagi sekarang kamu sudah menjadi istriku, maka kebahagiaan dan juga kehidupanmu semuanya adalah tanggung jawabku!"
"Aku tidak akan pernah mau berjanji untuk membuatmu bahagia bersamaku, tetapi aku akan terus berusaha sampai titik da*rah penghabisan untuk membuktikan bahwa hanya kamulah satu-satunya tujuan aku hiidup!"
"Jika aku mengecewakan atau menyakitimu, itu sama saja aku menyakiti diriku sendiri. Karena kita itu bagaikan hembusan napas dan juga jantung, ketika salah satunya berhenti maka semuanya pun ikut terhenti!"
"Sampai sini paham, Nyonya Kharel yang terhormat, hem?"
Senyuman Kharel seketika menular ke arah Fayra, seakan-akan malam ini adalah malam yang khusus untuk mereka mengutarakan perasannya masing-masing. Terlihat betapa bahagianya mereka saat bisa saling memiliki satu sama lain, dengan cinta yang kuat.
"Sa-sayang, bolehkah aku mengambil---"
Belum selesai Kharel mengatakan keinginannya, kedua tangan Fayra mengelus pipi serta rahang suaminya sambil tersenyum dan sedikit mengangguk bersamaan dengan kedipan kedua matanya secara perlahan.
"Ambillah apa yang seharusnya kamu ambil malam ini, Kak. Aku akan siap untuk menyerahkan seluruh hidupku hanya untukmu!"
Jawaban simple, tetapi sangat menyentuh bagi hati Kharel membuat matanya berkaca-kaca.
Namun, dia berusaha untuk tetap menahannya agar tidak jatuh di hadapan istrinya. Sementara Fayra terus mengatakan bahwa ini adalah malam terindah bagi mereka. Jadi, dia tidak akan pernah membiarkan air mata mereka mengalir.
Cukup mereka menikmati malam yang panjang, dengan sentuhan manja dan sedikit goyangan sampai membuat mereka tergila-gila akan kenikmatan yang berasal dari tubuhnya masing-masing.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama lagi, Kharel memulai semuanya dari mencium bibir istrinya, lalu turun perlahan keleher dan juga kuping.
Di rasa permainannya sudah mulai berhasil menggoda hasrat istrinya, kemudian bibir Kharel menyentuh dada istrinya beberapa kali membuat tanda kepemilikan di daerah sen*sitif tersebut.
Perlahan demi perlahan, entah di menit yang keberapa kini posisi mereka sudah sama-sama tidak mengenakan sehelai pun pakaian di tubuhnya. Sehingga mereka bisa melihat betapa indahnya pemandangan yang sangat luar biasa.
Gunung kembar nan indah, yang dihiasi oleh 2 squisy menggemaskan berwarna pink kecoklatan berhasil menjadi tempat ternyaman bagi Kharel.
Dia begitu menikmati tubuh istrinya, membuat Fayra merasakan sengatan listrik bertegangan rendah dan sesekali dia menggigit bibir bawahnya sambil memperhatikan suaminya.
Senyuman indah terukir jelas di wajah Fayra, ketika dia melihat perlakuan Kharel yang sangat lembut dalam melakukan permainan ranjang ini.
Kurang lebih setengah jam, Kharel bermain dan mencoba untuk memancing gejolak hasrat istrinya.
Dimana beberapa kali tubuh Fayra terkalah akan permainan lidah serta tangan suaminya yang begitu nyaman ditubuhnya, hingga dia melakukan pelepasan sebanyak 2 kali.
Kini saatnya puncak dimana Kharel akan menjebol gawang milik istrinya. Ya, meskipun tak bersegel, tetapi Kharel merasa bahwa milik istrinya masih sangat sempit untuk juniornya yang saat ini terlihat begitu gagah, tampan dan juga mengemaskan.
Bagaimana tidak, dari bentuknya saja Fayra yang melihatnya sedikit ragu dan takut. Apakah junior itu bisa memasuki gawangnya? Sementara jika diukur dari bayangan yang ada di pikiran Fayra, junior milik Kharel dengan junior milik mantan suaminya jauh berbeda.
Junior milik Kharel bisa dikatakan 3 kali lipat lebih menggoda dari milik mantan suaminya, sampai akhirnya Fayra berusaha untuk tetap tenang walaupun terasa tubuhnya terasa gugup dan takut.
Setidaknya rasa sakitnya tidak akan sesakit ketika pertama kali gawangnya di jebol oleh mantan suaminya, cuman rasa sakitnya itu hanya berbeda sedikit saja tidak banyak.
Namun, kembali lagi milik lokal dan luar negeri memang memiliki ciri khas masing-masing. Jadi, mau tidak mau malam ini Fayra harus merasakan milik suaminya sambil merem-melek.
Semua itu karena Fayra sedang menahan sesuatu yang ada dibawah sana, akibat junior milik Kharel berusaha untuk menerobos gawang miliknya.
__ADS_1