
Langkah demi langkah, mereka pijakkan sesekali dihiasi dengan pertengkaran kecil yang membuat semua orang melihatnya, langsung menatapnya dengan tatapan menggoda.
Beberapa dari mereka ada yang mendoakan agar Kharel sama Fayra bisa berjodoh, dan ada beberapa lagi yang membayangkan bagaimana anak mereka nanti. Apakah akan sama seperti Emak-Bapaknya yang seperti ini, atau akan lebih menggemaskan lagi.
"Ternyata mudah sekali ya mengelabuhi Princes Chubby-ku ini. Hanya dengan berpura-pura terjatuh, langsung dapat pelukan seperti ini. Padahal kan dia tahu, yang sakit itu wajahku bukan kakiku, tetapi kenapa dia malah merangkulku? Aishh, tak apalah anggap aja ini adalah sebuah bentuk perhatian dari seorang Ayang, hihi ...." gumam batin Kharel saat matanya sesekali melirik kearah wajah Fayra.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di dekat parkiran mobil Kharel. Fayra terdiam dengan segala pemikirannya, membuat Kharel bingung.
"Ada apa, istriku?" ucap Kharel membuat Fayra langsung melototkan matanya saat menatap manik mata Kharel.
"Sekali lagi kamu panggil aku dengan panggilan itu, langsung aku tarik tuh bibir, mau?" geram Fayra yang sudah kesal.
"Mau dong ditarik, tapi tariknya pakai bibir aja gimana? Kaya waktu itu, cuman kali ini aku bales deh, seriusan ekhem ...." goda Kharel, berhasil membuat Fayra membolakan matanya.
"Yakk, dasar OMES!" pekik Fayra kesal sambil memukul dada Kharel beberapa kali. Berbeda sama Kharel, dia hanya terkekeh melihat ekspresi wajah Fayra.
Disaat perdebatan manis itu terus terjadi, tanpa disangka-sangka Ace malah melihat mereka ketika dia ingin pergi menemui seseorang. Hatinya begitu hancur, melihat orang yang pernah ada didalam hidupnya terlihat bahagia ditangan pria lain.
Ingin sekali Ace segera memisahkan mereka, cuman tidak ada waktu. Dia harus segera ke Perusahaan Daddynya karena ada sesuatu yang harus di bicarakan.
"Arrrghh, sia*alan! Andai aja gua enggak ada urusan, gua akan kasih tuh cowo pelajaran berkali-kali lipat supaya dia tidak lagi mendekati Fayra gua!"
"Tunggu tanggal mainnya, suatu saat nanti gua akan rebut apa yang seharusnya menjadi milik gua!"
Ace pergi dalam keadaan emosi menuju mobilnya, sedangkan Fayra dan Kharel sudah menyudahi perdebatannya.
__ADS_1
Ketika Fayra ingin pergi, tangannya langsung dipegang oleh Kharel dan berkata. "Mau kemana? Please, jangan tinggalin aku. Aku minta maaf kalau aku udah jahil, janji enggak lagi-lagi. Cuman, aku mohon jangan pergi lagi," Mata Kharel berkaca-kaca menatap lekat manik mati indah milik Fayra.
Fayra menangkis tangan Kharel dengan kesal, dan membalas perkataannya sedikit cuek. "Ckk, apaan sih. Aku ini mau cari taksi, gimana caranya kita bisa pulang kalau keadaan kamu sendiri aja lagi sakit begitu. Sedangkan aku sama sekali enggak bisa menyetir."
Kharel yang menyadari itu, hanya bisa terkekeh sembari menatap wajah bingung Fayra. Rasanya ingin sekali Fayra menjambak rambut Kharel saking dia kesalnya melihat sikap Kharel yang hari ini benar-benar menyebalkan.
"Kenapa ketawa, hahh! Ada yang lucukah dari ucapanku!" Fayra bertolak pinggang menatap Kharel, dengan mata membola besar.
"Hihi, apa kamu lupa. Lukaku ini hanya ada wajah bukan di kakiku, jadi ya aku masih bisa mengendalikan mobilku sendiri. Kenapa harus repot-repot mencari taksi?"
Seketika ucapan Kharel membuat Fayra terdiam merenung, dia sedikit ngeblank saat mengingat kejadian beberapa menit lalu.
"Ji-jika yang sakit hanya wajahmu, terus kenapa kamu terjatuh? Yang lebih bo*dohnya lagi, aku malah memapahmu seperti menolong orang yang kakinya terluka?" gumam Fayra dalam keadaan terdiam menatap Kharel.
Degh!
Fayra terpanah, tubuhnya langsung mematung di tempat dengan keadaan mata hampir saja copot saat Kharel berhasil mencium pipi Fayra dengan leluasa.
"Hihi, Sayang kok diam. Oh, aku tahu. Pasti kurang ya, sini aku tambahin hemm--"
Plakk!
"Arrghhhh, sa-sakit Ayang. Kenapa bibirku di pukul sih, ishh jahatnya. Belum jadi istri aja udah KDRT, bagaimana jadi istri? Bisa-bisa aku jadi tahanan." ucap Kharel asal jeplak, entah mengapa sikap dingin Kharel seketika hilang di telan bumi.
Eitts, jangan khawatir. Sifat yang seperti ini hanya khusus di tunjukkan kepada Fayra, bukan yang lain. Keluarganya sendiri pun tidak akan melihat sikap langka ini jika tidak ada Fayra disamping Kharel.
__ADS_1
Ya, inilah sifat Kharel yang sebenarnya sebelum mereka berpisah. Kharel sering kali menjahili Fayra ketika kecil, beberapa kali dia selalu membuat Fayra menangis lalu pada akhirnya pun kembali tertawa.
"Ya, tahanan. Tahanan hatiku, puas!" sahut Fayra tanpa sadar dan langsung berbalik mendekati mobil Kharel. "Yakk, bukain pintunya!" Fayra menoleh kearah Kharel yang masih terdiam.
"Ekhem, tadi apa yang kamu bilang, tahanan hatimu? Huaaa, aku jadi meletot dong hihi. Kalau bisa jangan dilepas ya, aku rela kok jadi tahanan dihatimu. Bahkan di vonis selamanya pun aku tidak keberatan, malah aku senang. Asalkan jangan ada tahanan yang lain, jika ada pun aku akan membu*nuhnya biar aku semakin lama di hatimu, eaakk hahah ...."
Kharel tertawa puas saat melihat wajah cengo Fayra yang kini menatap Kharel dengan tatapan tidak percaya. Pria dingin, cuek dan juga sangat irit berbicara. Seketika berubah menjadi sangat menyebalkan, ngeselin, kang gombal dan juga omes.
"Lah, itu orang kenapa dah? Kesambetkah atau kabel otaknya konslet? Lagi pula sejak kapan sikapnya berubah 180 derajat seperti ini, kok aku jadi ngeri ya."
Fayra bergidik ngeri saat melihat Kharel terus tertawa, sampai seketika Fayra masuk ke dalam mobil dan terus memantau Kharel dari dalam.
Ada rasa senang saat Fayra mengingat kejadian tadi, dimana dia menatap pipinya di spion sambil memeganginya. Serasa melayang ketika kecu*pan itu kembali dia dapatkan dari sekian lamanya tidak pernah dia dapatkan dari Kharel. Karena terakhir Fayra mendapatkan ciuman itu ketika mereka masih kecil, dan saat memerankan seorang pasutri.
Fayra kembali membayangkan akan masa-masa kecil yang cukup membuatnya merasa malu, jika dipikir-pikir kenapa bisa Fayra melakukan itu bersama Kharel seolah-olah mereka memerankan pasutri dengan sangat baik.
Sementara Kharel yang sudah capek, segera masuk ke dalam mobilnya sambil menoleh ke arah Fayra yang tersenyum memegangi pipinya menatap ke arah depan.
Beberapa kali lambaian tangan Kharel tidak berhasil membuyarkan lamunan Fayra. Semua itu karena Fayra lagi mengingat masa kecilnya bersama Kharel yang sangat berkesan. Malu sih, tapi itu kenangan-kenangan terindah yang tidak akan bisa Fayra lupakan sampai detik ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️
__ADS_1