
Satu permintaan telah Kharel penuhi, bahkan ada beberapa kejadian lucu yang terekam layar akibat Kharel hampir saja membuat ikan itu menelan alat sikat giginya. Sempat juga beberapa kali bokong Kharel di sundul oleh moncong ikan tersebut yang membuatnya kesal.
Setelah selesai, kini Kharel segera berganti pakaian dan kembali berkumpul bersama istri beserta kedua orang tuanya. Dimana dia mendapat pelukan bahagia serta ciuman bibir dari istrinya karena bangga dengan keberaniannya tanpa rasa malu sedikit pun.
Kini, sudah saatnya mereka kembali keluar dari tempat itu menuju tempat yang terakhir. Yaitu, rumah raja hutan Simba.
...*...
...*...
Rasa tegang dan juga ketakutan mulai menyelimuti hati Kharel serta Papah Jerome, mereka mulai gelisah ketika di hadapkan dengan kandang singa.
Singa jantan berkulit oranye bercampur hitam dengan bulu-bulu yang sangat lebat berhasil membuat Kharel sangat ketakutan.
"Su-sumpah, i-ini aku suruh memandikan he-hewan buas itu? Gi-gila, sama aja namanya mengantarkan nyawa dengan cuma-cuma."
"Astaga, ada dendam apa sih kamu sama Ayah? Kenapa kamu suka banget siksa Ayahmu seperti ini, memangnya apa salah Ayah sampai-sampai kamu selalu minta yang aneh-aneh. Perasaan Ayah selalu baik deh, tapi kenapa Ayah kena sasaran Bundamu terus."
"Aarrgghhh, tenang Kharel, tenang! Ingat, ini semua demi calon anakmu. Anggap saja dia kucing kecil yang comel seperti apa yang dibilang istrimu!"
Kharel berbicara di dalam hatinya saat melihat hewan buas itu tiduran di kandang paling pojok.
Rasanya Kharel ingin sekali pergi dan menghilang dari sana, cuman mau bagaimana lagi. Jika tidak keturutan maka Fayra akan kembali merasakan sedih.
Papah Jerome yang merasa merinding langsung mendekatkan tubuhnya ke arah Kharel, kemudian membisikkan sesuatu.
"Rel, kamu yakin akan melakukan apa yang istrimu minta? Memangnya kamu bisa menjinakkan hewan buas itu agar dia tidak menggigit, ketika kita sedang memandikannya?"
"Papah kok merasa enggak yakin ya, kamu lihat aja taring giginya. Serem 'kan, dan itu lihat bagaimana cara dia mencabik-cabik daging itu. Aaa, Papah enggak mau ikut-ikutan akhh. Yang ada jantung Papah bisa kumat ini. Jadi kamu sendiri aja ya di dalam, Papah akan kasih semangat dari sini. Okay?"
Perkataan Papah Jerome berhasil membuat gejolak rasa kesal dan juga amarah di dalam diri Kharel mulai keluar melalui lirikan mata tajamnya.
"Apa Papah bilang barusan, hahh? Papah udah janji ya mau bantuin Kharel, jadi Papah harus tepati janji itu. Titik!" balas bisikan Kharel pada Papahnya.
"Kakak, ayo cepat aku sudah tidar sabar lihat Kakak memeluk kucing lucu itu. Arrrghh, rasanya Fayra ingin memeliharanya. ***---"
"Tidak, boleh!"
__ADS_1
Fayra terkejut mendengar jawaban Kharel dan kedua mertuanya secara serentak dengan nada yang begitu tegas.
"Isshh, belum juga nanya udah langsung aja dijawab. Dasar jahat, uhhh. Padahalkan Fayra mau punya hewan lucu itu, supaya bisa jadi teman main anak-anak nanti." sahut Fayra, cemberut.
"Yaaa, tidak, tidak, tidak! Anak kita cukup main dengan hewan-hewan yang jinak layaknya kelinci, kucing anggora dan burung. Bukan malah hewan buas ini yang nantinya malah akan membahayakan nyawa mereka!"
Kharel memekik keras, membuat singa yang tadinya tiduran dalam posisi terdiam kini langsung meraung begitu keras.
"Aawwwrggg, aawwrrgg ...." raungan Simba terdengar mengerikan. Sehingga mampu membuat Kharel dan Papah Jerome melompat penuh keterkejutannya.
"Aaaa, gemoy banget sih kamu. Sini peyuk dulu dong, aarrghh ... Fayra mau masuk ke dalam boleh?"
"Sekali tidak tetap tidak! Lihat hewan itu, Sayang. Dia itu hewan buas, bukan hewan comel yang kamu lihat. Bagaimana jika kamu dimakan olehnya, hahh!" ucap Kharel, kesal.
"Isshh, menyebalkan! Dahlah, ayo cepat mandikan singa gemoy itu. Terus kalau udah nanti kalian langsung berfoto untuk kenang-kenangan. Okay?" jawab Fayra, sedikit dengan nada cuek tetapi kembali tersenyum.
"Nah, boleh tuh. Nanti 'kan bisa di cuci, terus di abadikan kalau ini merupakan ngidam Bumil yang paling extrem. Haha ...."
Mamah Xavia tertawa saat melihat wajah anak dan suaminya sangat kesal. Cuman mereka berusaha untuk menahannya, semua dilakukan hanya demi cucu dan juga anak pertama di keluarga mereka.
Tanpa berlama-lama lagi, setelah Simba selesai dengan makanannya yang terasa menyenangkan. Membuat salah satu pelatih masuk untuk menenangkan Simba.
Beberapa menit berlalu, semua alat untuk memandikan Simba sudah di persiapkan agar Kharel bisa segera memulai ritualnya.
Perlahan demi perlahan Kharel mulai melangkahkan kakinya mendekati kandang, serta memasukinya bersama pawang lainnya.
Simba yang awalnya kembali tiduran dengan rasa malasnya, kini langsung mengubah posisinya membuat Kharel kembali keluar dari kandangnya.
"Yakk, nga-ngapain bangun sih! U-udah tiduran aja yang manis, nanti aku belikan daging yang banyak. Asalkan jangan dagingku!" ujar Kharel, wajahnya memerah penuh ketakutan.
Simba kembali tiduran dalam posisi yang sangat enak, layaknya seseorang yang sedang kekenyangan jadi bawaannya malas sekali untuk gerak.
Kemudian, Kharel masuk lagi di temani oleh beberapa pawang yang ada. Sampai akhirnya perlahan sang pawang yang memulai lebih dulu untuk menyiram Simba dengan air.
Awalnya Simba tidak bergerak sedikitpun. Akan tetapi, ketika Kharel yang mengambil alih semuanya Simba langsung memberontak dan bangun membuat Kharel refleks langsung memanjat kandang tersebut.
"Awwrgghh, arrwghh ...." Simba meraung tepat di bawah Kharel. Sementara dia malah nemplok di atas kandang layaknya seekor cicak yang ada di dinding.
"Aaa, kenapa ketika aku yang memandikanmu. Kamu langsung marah? Sedangkan mereka yang memandikanmu, kamu malah diam? Ada masalah apa kamu denganku? Ayo jawab!"
__ADS_1
"Aawrrgg ...."
Simba berusaha berdiri di kandangnya membuat Kharel semakin memanjat ke atas, sambil menoleh ke arah bawah agar memastikan jika Simba tidak bisa mendekatinya.
Badan gemetar, kaki lemas dan juga wajah penuh ketakutan membuat Kharel menangis tidak karuan.
"Aaa, Sa-sayang. A-aku nyerah hiks, a-aku tidak mau mati sekarang. Aku masih mau hidup, kasian anakku yang akan lahir nanti jika Ayahnya tidak ada di sampingnya. Huaa, hiks ...."
Raungan Simba semakin membuat Kharel panik, hingga tidak sadar ada air mancur berwarna kekuningan terjun ke bawah. Dimana itu semua berada dari Kharel yang mengompol, akibat rasa takutnya yangs sudah benar-benar berada di ujung tanduk, sampai Kharel sudah tidak bisa lagi berkata-kata.
Dia hanya bisa mempertahankan tubuhnya diujung kandang, karena sampai detik ini Simba masih menunggu Kharel di bawahz sesekali meraung dan juga lompatan Simba yang membuat Kharel semakin mendaki keatas.
"Yakkk, huss huss huss!"
"Pergi sana, pergi! Aku tidak mau ma*ti muda, sebentar lagi anakku mau lahir. Bagaimana jika tidak dia punya Ayah, hahh!"
"Ingat, jangan sampai emosiku naik ya. Kalau aku udah marah, kau akan habis di tang---"
"Awwrghh, aawrghh ...."
"Aaaa, ya-yaa ... A-ampun, e-enggak jadi deh."
"Huaa, Sayang tolong aku hiks ... A-aku nyerah, sumpah aku enggak kuat. Aaa, Mamah, Papah tolong Kharel hiks!"
"Dasar Papah tidak adil, kenapa Papah masih di luar sana, hahh! Lihatlah anakmu ini hampir ma*ti di makan oleh binang tidak tahu diri it---"
"Awwrrgg, awwrrgg ...."
"Hyaakk, ma-maaf i-iya aku tidak lagi-lagi mengataimu. Jadi, sekarang cobalah menjauh dariku kucing comel, yang baik dan juga berwibawa. Cepat minggir ya, please hiks ...."
Kharel terus menangis, sementara yang lain hanya bisa tertawa layaknya melihat sebuah film komedi yang sangat lucu.
Hanya ada satu orang yang membuat kewibawaan seorang Kharel jatuh sejatuh-jatuhnya, ialah Simba. Seekor singa jantan yang memiliki raungan begitu menggemaskan.
Namun, ada satu orang yang berhasil membuat Simba terdiam tak berkutik hingga perlahan beberapa pawang membantu Kharel untuk turun dari atas kandang.
Awalnya Kharel tidak mau, seolah-olah badannya sudah menyatu dengan kandang itu. Cuman apa daya, tidak mungkin Kharel selamanya ada diatas sana dengan konsi tubuhnya yang sudah mulai melemah.
Sampai akhirnya Kharel berhasil keluar dari kandang, setelah beberapa kali Kharel harus naik turun ketika melihat Simba selalu ingin memeluk tubuhnya. Di sini terlihat jelas jika Simba sangat agresif sama Kharel.
__ADS_1