
Isak tangis Alena pecah dan terdengar sangat memilukan. Dia tidak menyangka bahwa kejadian 1 bulan lalu, berhasil membawa petaka bagi kehancuran masa depannya.
"Arrrghhhh, si*al!" teriak Alena memukul keras perutnya, dia tidak terima sama mimpi buruk yang saat ini terjadi padanya.
Seharusnya ini bukanlah kejadian yang menimpa dirinya, tetapi karena nasib ketidak beruntungannya selalu berpihak padanya. Sehingga membuat Alena benar-benar hancur sehancur hancurnya.
Kedua orang tua Alena terlihat panik mencoba menahan tangan anaknya, agar tidak semakin menyakiti cucu mereka yang ada di dalam perutnya.
Disaat Alena sudah mulai tenang meskipun masih dalam keadaan menangis. Kedua orang tuanya perlahan memintanya untuk menceritakan tentang, kejadian yang sudah menimpanya 1 bulan lalu.
Awalnya Alena merasa sangat berat, ketika dia kembali mengingat kejadian tersebut. Cuman, jika dia tidak menceritakannya maka kedua orang tuanya akan semakin marah padanya.
Jadi, mau tidak mau. Alena terdiam sejenak menetralkan napasnya, sambil menatap kelangit kamarnya.
Dimana semua bayangan mimpi buruknya kembali berputar diingatannya. Perlahan Alena mulai menceritakan tentang kejadian, meski dalam kondisi hati begitu hancur.
...***Flashback On***...
Tian yang sudah di selimuti oleh kemarahan luar biasa, telah berhasil melumpuhkan Andrew sampai fia tak berdaya serta tidak bisa sedikit pun melakukan perlawanan.
"Ayo kita keluar!" titah Tian, saat melihat Andrew sudah tidak bisa berkutik memegangi perut serta rahangnya yang terasa begitu menyakitkan.
Chelsea bergegas membawa Fayra keluar sambil terus merangkulnya, Chelsea bisa merasakan bahwa tubuh Fayra masih terasa begetar gemetar.
Setelah perginya Fayra, Chelsea dan juga Tian. Ternyata Alena masuk ke dalam kamar tersebut dalam keadaan marah besar.
__ADS_1
Melihat Andrew tergeletak di bawah, Alena langsung mencecarnya dengan nada penuh emosi.
"Cowok enggak berguna! Gua udah kasih lu jalan biar bisa dapetin Fayra, tapi malah lu sia-siain. Dasar bo*doh!"
"Percuma gua ngandelin lu, semua rencana gua malah jadi gagal! Tahu gitu gua aja yang ngejebak Ace, pasti gua udah bisa dapetin dia. Enggak kaya lu to*lol dipelihara, mati aja sono lu!"
Alena mengoceh sepanjang jalan kenangan kepada Andrew, dengan penuh kata-kata kasar. Bahkan beberapa kali dia menendang-nendang tubuh Andrew.
Dirasa sudah puas, Alena langsung berbalik berjalan kearah ke luar pintu. Cuman tanpa disadari oleh Alena, ternyata Andrew sudah bangkit dan berdiri tepat dibelakangnya.
Tanpa basa-basi, Andrew bergegas lari lalu menutup pintu tersebut. Tetapi nihil, Alena berhasil kabur dengan cara menginjak kaki Andrew.
"Arrrghhh, si*al!" pekik Andrew berjingkrak-jingkrakan saat merasakan kaki sebelah kanannya terasa nyut-nyutan.
"Mam*pus! Siapa suruh lu macem-macem sama gua, lu kata gua Fayra yang bisa lu bod*dohin. Cih!" sahut Alena sangat sombong. Kemudian dia kembali melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Andrew.
Sengatan listrik, hingga panasnya tubuh Andrew membuatnya tidak nyaman dan juga susah untuk dikendalikan. Apa lagi dia tidak terima dengan semua ucapan Alena yang sangat merendahkan dirinya.
Sampai akhirnya Alena berjalan tepat disebuah lorong, yang mana dia melewati beberapa kamar sepi. Wajahnya terlihat datar, akibat rasa dongkolnya kepada Andrew. Karena dia, semua rencananya menjadi sia-sia.
Tanpa Alena sadari, ternyata Andre langsung menggendongnya dari arah belakang. Lalu membawanya masuk ke salah satu kamar tersebut.
Bugh!
Alena di lempar kearah ranjang dengan sangat keras, kemudian Andrew bergegas mengunci pintu tersebut dan melemparnya ke suatu arah entah kemana larinya.
__ADS_1
"Lu mau ngapain, hahh! Jangan macem-macem ya, atau gua bakalan laporin lu ke polisi!" ancam Alena, mulai memundurkan bokongnya, dan wajahnya pun terlihat sangat panik.
Rasa takut, gemetar, panik dan juga cemas yang Fayra rasakan tadi seketika terlihat jelas diwajah Alena. Bagaikan sebuah balasan karma, atas perbuatannya. Berniat untuk menjebak Fayra, tetapi malah dialah yang saat ini terjebak.
Andrew yang sudah tidak bisa mengontrol tubuhnya, hanya menatap Alena penuh kenap*suan. Dari sini bisa terlihat jika obat yang Alena berikan sudah mulai bereaksi. Awalnya untuk Fayra, tetapi malah terkena Andrew.
"Ja-jangan bi-bilang, o-obat yang se-seharusnya lu ka-kasih buat Fayra. Ma-malah lu yang minum?" tanya Alena penuh kecurigaan.
Meski Alena tidak pernah mengonsumsinya, cuman dia paham dengan efek samping obat tersebut.
Melihat adanya perbedaan dari wajah Andrew, seketika membuat Alena paham. Jika saat ini Andrew berada didalam pengaruh obat.
Andrew sama sekali tidak menggubris perkataan Alena, dia malah langsung menarik kakinya hingga Alena terbaring tepat dibawahnya.
"Lepasin gua bang*sat! Lepasin!" teriak Alena sambil memukul-mukul dada bidang milik Andrew.
"Sstt, jangan berisik! Lu udah ngerendahin gua bukan? Jadi terima dengan senang hati hukuman lu kali ini, lagi pula semua rencana lu. Jadi seharusnya lu yang pantas mendapatkan semua ini!"
"Bod*dohnya gua malah mengikuti semua perintah lu, sampai akhirnya gua kehilangan orang yang gua cintai! Dahlah, lupakan masalah itu untuk sementara. Sekarang waktunya kita bersenang-senang haha ...."
Sreekkk ...
Andrew menarik keras gaun Alena, hingga sobek menjadi dua. Kini, terpampang jelas kedua gunung kembar milik Alena yang masih terbalut oleh kacamata berwarna merah.
Andrew sedikit menduduki paha Alena sambil menatap gunung tersebut. Akibat efek samping dari obat yang dia minum, tanpa permisi Andrew langsung menggenggamnya begitu gemas.
__ADS_1
"Argghh, baji*ngan! Lepasin gua, hiks. Gua bilang lepas, ya lepas mon*yet! Hiks ...."
Alena menangis ketika merasakan kedua tangan Andrew memijit gunung kembarnya, sesekali Alena berusaha melepaskannya. Tetapi nihil, tangan Andrew malah semakin keras untuk memijitnya.