Learn to Love You

Learn to Love You
Dilema Kharel


__ADS_3

Fayra berbicara kecil, sambil matanya terus menatap ke arah Kharel. Tanpa terasa, mata Fayra mulai terasa mengantuk. Hingga dia pun merebahkan tubuhnya sambil menonton televisi. Lama kelamaan kedua matanya mulai terpejam, dan Fayra pun tertidur memasuki alam bawah sadarnya.


Tak lama dari Fayra tertidur, Kharel mulai menggerakan jarinya perlahan. Lalu, matanya mulai terbuka menyesuaikan sinar cahaya ruangan yang cukup terang.


"Errgh, sstt ...." Kharel meringis kecil memegangi kepalanya yang terasa amat pusing, dan juga sakit.


Setelah terbukanya kedua mata Kharel, dia menatap kenarah samping dan seluruh sudut ruangan. Wajah bingung mulai menyelimuti pikiran Kharel, lalu dia kembali mencoba untuk mengingat kejadian sebelumnya.


Dari situ Kharel paham bahwa dia berada di rumah sakit, akibat pertolongan seorang wanita yang wajahnya pada saat itu tidak terlihat jelas.


"Astaga, ternyata aku dirumah sakit. Siapa yang sudah membawaku ke sini? Terus bagaimana keadaan wanita yang tadi mau aku tabrak? Apakah dia selamat, atau dia juga ikut tertabrak?"


Semakin Kharel mencoba untuk berpikir, membuat kepalanya semakin terasa sakit. Beberapa kali dia mengeluh kesakitan, sampai harus berusaha gimana caranya agar dia bisa mengendalikan dirinya sendiri.


Tanpa sengaja saat Kharel menoleh kearah kanan, tiba-tiba matanya terkejut bukan main. Dia melihat wanita yang pada saat itu bertemu di pesawat, ketika dia sedang ada urusan ke Indonesia.


"Di-dia bukannya wanita itu? Tapi, kenapa dia bisa ada di sini?"


"Ja-jangan bilang, aku lagi-lagi mau mencelakakan dia? Astaga, Kharel. Apaan sih, kenapa demen banget mencelakakan orang!"


Kharel memejamkan matanya sambil memukul keningnya sendiri, hingga membuatnya meringis kesakitan. Sampai suara Kharel berhasil membangunkan wanita yang tertidur lelap.


"Ehh, a-apa yang sakit? Apa? Yang mana, aku panggilkan dokter dulu ya?" ucap Fayra, terkejut. Bahkan tanpa sadar Fayra duduk disamping Kharel sambil menatap Kharel dengan tatap penuh khawatir.


Kharel hanya bisa menatap wajah Fayra tanpa berkedip, entah mengapa. Dalam keadaan panik wajah Fayra terlihat begitu menggemaskan. Rasanya Kharel ingin sekali mencubit hidung Fayra agar dia tidak lagi mengkhawatirkannya.


Namun, Kharel urungkan. Karena dia sadar, mereka hanyalah orang asing yang kebetulan bertemu disaat-saat menegangkan seperti ini.


"Ti-tidak perlu, saya baik-baik aja. Cuman sedikit pusing aja." ucap Kharel lembut.


"Huhh, syukurlah." sahut Fayra yang langsng bernapas lega.


"Apa kamu yang membawa saya ke sini? Dan, apa kamu juga wanita yang mau aku tabrak?" tanya Kharel, tanpa basa-basi sambil menoleh ke arah Fayra yang saat ini duduk di kursi sampingnya.

__ADS_1


"Ya, itu aku! Kenapa sih Pak Kharel itu demen banget ingin mencelakakan aku, apa salah aku sama Bapak? Kenapa selalu aku yang mau dicelakakan? Apa jangan-jangan Bapak punya dendam tersumbat denganku, atau Bapak musuh bebuyutanku?"


Pletak!


"Aawwsshh, sakit!"


Fayra mengeluh saat dahinya di sentil cukup keras oleh Kharel dengan refleks. Jika tidak begitu, kemungkinan besar Fayra tidak akan berhenti berbicara.


Apa lagi semua ucapan yang Fayra lontarkan, seperti tidak melewati sebuah saringan filter. Hingga dia mengatakannya dengan asal berbicara saja.


"Udah selesai berbicaranya, hem? Orang kena musibah bukannya di doain yang baik, ini malah memfitnahnya!"


"Kamu kira enak apa, jadi orang seceroboh saya ini! Saya sendiri aja enggak tahu kenapa akhir-akhir ini selalu ingin mencelakai seseorang, tetapi yang membuat saya heran kenapa yang saya celakain itu selalu kamu, kamu dan kamu terus. Kenapa bukan yang lain?"


Perkataan Kharel berhasil membuat Fara terdiam sejenak, dia juga bingung setiap kali sesuatu yang terjadi dengannya. Kenapa orang itu harus Kharel, Kharel dan Kharel.


Apakah Fayra sudah terKharel-Kharelkan? Atau Kharelkah yang sudah terFayra-Fayrakan? Entahlah, semua kisah tidak bisa ditebak. Terkadang takdir selalu tidak berjalan mulus sesuai dengan apa yang kalian pikirkan.


Ketika suasana terdiam, Kharel teringat sesuatu yang membuatnya sedikit mengganjal. Ada perkataan Fayra yang berhasil menyita perhatian Kharel, hingga dia menyipitkan matanya menatap Fayra.


"Bapak? Kharel? Sebutan yang tak asing ditelingaku. Cuman, dari mana kamu bisa tahu namaku? Jangan-jangan ...."


Kharel menghentikan ucapannya, sambil tersenyum miring. Dimana Fayra malah menatapnya dengan rasa penasaran, takut dan juga penuh khawatir.


"Jangan-jangan apa?" tanya Fayra, antusias.


"Kamu, cenayang?" jawab Kharel, spontan.


"Hahh? A-apa tadi, ce-ce-cena ce-cena yang. Cenayang?" sahut Fayra, terkejut.


"Ya, cenayang sama seperti para panormal, dukun atau semacamnya." ucap Kharel, cuek.


"Yakk, kau kira aku ini apaan, hah! Kalau ngomong enak banget. Mana ada cantik-cantik begini seorang dukung, matamu aja yang rabun!" ucap Fayra, kesal.

__ADS_1


"Yayaya, terserah kamu aja. Ohya, sebelumnya terima kasih ya, kamu udah membawa saya ke sini dan menolong saya. Maaf jika saya selalu ingin mencelakakanmu."


Kharel berbicara sambil menatap lembut ke arahnya. Sementara Fayra dia mencoba untuk memendam perasaan kesalnya, agar dia bisa berdamai dengan seorang pria yang selalu membuatnya kesal.


"Tak apa, aku juga minta maaf jika pada waktu kejadian aku kurang hati-hati dan malah membahayakan nyawamu."


Fayra berusaha tersenyum kesil meskipun rasanya dia ingin sekali mencubit ginjal Kharel, lantaran wajahnya yang selalu berusaha untuk menggodanya.


Apa lagi senyuman yang Kharel ukir saat ini berhasil melelehkan hati Fayra, sehingga dia terkejut dan sedikit salah tingkah.


"Stop!" ucap Fayra spontan, membuat Kharel bingung ketika Fayra berdiri dan menatapnya.


"Stop buat apa? Perasaan aku tidak ngomong apa-apa lagi, setelah minta maaf?" sahut Kharel, tidak mengerti dengan keanehan didalam diri Fayra.


"Stop senyum-senyum seperti itu, jelek tahu! Dahlah aku mau tidur ngantuk, bye!"


Fayra bergegas jalan menuju sofa panjang dan langsung merebahkan tubuhnya membelakangi Kharel. Dimana Fayra masih melek dan berpura-pura tidur sambil memegangi detak jantungnya yang entah kenapa berdetak tidak karuan.


"Ehh, tu-tunggu! Aku belum tahu siapa namamu, boleh aku mengetahuinya. Dan dari mana kamu mengetahui namaku?" ujar Kharel, penasaran menoleh kearah punggung Fayra.


"Aku Fay--, Ehh. Ma-maksudnya Ra-rara. Ya Aku Rara, dan a-aku tahu namamu ya asal tebak aja udah. Jadi stop ganggu aku. Aku mau tidur. Good ginght!" jawab Fayra terbata-bata, menutupi kegugupan hatinya.


"Good night to, Raa." ucap Kharel lembut sambil terus menatap punggung Fayra dengan sedikit senyuman.


"Yak, astaga! Fayra bod*doh. Kenapa kamu malah mengucapkan good night sama Pak Kharel sih! Pasti saat ini dia besar kepala, kan! Arrghh, ngeselin!" gumam Fayra di dalam hatinya.


Kharel tidak tahu kenapa rasanya dia senang banget bisa mengetahui nama wanita itu. Yang membuatnya bingung dan heran adalah kenapa dia bisa tertarik dengan 2 wanita sekaligus secara berbarengan.


Antara Rara dan juga Fayra, karena sebelumnya selama 27 tahun. Belum ada 1 wanita pun yang berhasil menarik perhatiannya seperti ini.


"Fayra, mahasiswi yang selalu menghindariku berhasil membuatku semakin penasaran dibalik sosoknya. Lalu sekarang ada Rara, seorang wanita cantik yang berhasil menarik perhatianku. 2 nama yang hampir mirip, bisa-bisa membuatku gila!"


Kharel berbicara didalam hatinya dengan pikiran yang melambung tinggi. Dilema, pertama yang Kharel rasakan hanya demi seorang wanita.

__ADS_1


Seumur-umur Kharel tidak pernah merasakan hal ini, bahkan hampir dibilang bahwa Kharel adalah pria Gay yang tidak menyukai wanita. Belum lagi sikapnya yang tidak pernah merespon siapapun, menyangka bahwa Kharel tidak tertarik oleh wanita.


Cuman kali ini, pertama Kharel mulai merespon kehadiran wanita dan ternyata dia sedikit bingung. Siapa yang harus dia mulai fokusin, Fayra ataukah Rara? Karena kedua wanita itu benar-benar telah membuatnya terjebak di dunia dilema.


__ADS_2