
Sampai akhirnya terdengar suara pintu yang akan terbuka, dia langsung menghapus kembali air matanya dan berusaha terlihat baik-baik saja dalam keadaan tersenyum.
Pintu terbuka bersamaan dengan masuknya Fayra yang membawa seorang dokter dan bergegas mendekati bangkar Kharel, lalu mengecek keadaan Kharel.
Tak membutuhkan waktu yang lama, sang dokter pun selesai memeriksa keadaan Kharel dengan ekspresi wajah yang tidak terlihat baik-baik saja.
Begitu juga Kharel, dia melihat wajah sang dokter pun sudah mengerti jawaban yang akan ingin dia sampaikan.
"Sebelumnya saya mau minta maaf, setelah saya mengecek keadaan Tuan, ternyata Tuan mengalami kelumpuhan akibat syaraf kakinya ada yang terjepit. Kemungkinan ini akibat kecelakaan yang membuat kaki Tuan terhempit bagian bawah mobil."
"Namun, Tuan dan Nona tenang saja. Selagi Tuan mau berusaha untuk sembuh dan mengikuti metode yang akan kami siapkan, Tuan akan bisa kembali berjalan. Meski harapan itu sangatlah kecil. Cuman kita harus tetap mencobanya dan terus berusaha untuk sembuh."
Penjelasan sang dokter membuat Fayra menoleh ke arah Kharel, dimana Kharel hanya bisa tersenyum meratapi cobaan hidupnya.
Fayra tidak tega melihat Kharel seperti itu langsung memeluknya begitu erat, membuat tangis Kharel pecah sepecah-pecahnya. Kali ini dia tidak bisa menahan semuanya karena hidupnya telah hancur.
"Hiks, ma-maafkan aku, Raa. Maaf karena aku sudah tidak sempurna lagi untuk menjadi suamimu, sekali lagi maafkan aku. Aku rela jika kamu mencari pria lain untuk menggantikanku, karena aku sudah tidak bisa menjadi suamimu yang akan selalu menjagamu. Maafkan, aku hiks ...."
Melihat isak tangis keduanya membuat sang dokter langsung menyuruh suster untuk keluar dari ruangan agar memberikan mereka waktu berdua.
Setelah keluarnya sang dokter, Fayra melepaskan pelukannya dan meraup wajah Kharel begitu serius. Dimana tatapan Fayra sangatlah dalam, layaknya pancaran cinta yang berasal dari hatinya.
"Stop, Kak. Aku bilang stop mengatakan hak burukntentang dirimu sendiri! Mau Kakak lumpuh, cacat bahkan tidak memiliki kaki sekalipun aku tetap akan menjadi istri Kakak sampai kapanpun!"
"Jika Kakak tidak bisa menjagaku, itu artinya Kakak cukup mencintaiku sebanyak-banyaknya dan akulah yang akan menjaga serta menemani Kakak setiap waktu!"
"Rasa cinta di dalam hatiku tidak akan pernah hilang hanya karena kejadian ini, malah aku bersyukur Kakak bisa bangun lagi setelah beberapa hari lamanya Kakak tertidur."
"Dan jika aku boleh memilih, aku lebih baik memilih keadaan Kakak seperti ini asalakan Kakak bisa membuka mata. Dari pada tubuh Kakak sehat, tetapi Kakak cuman bisa tertidur!"
__ADS_1
"Kalau Kakak tidak percaya dengan cintaku, maka aku akan membuktikannya dengan pernikahan kita yang akan diadakan selama 5 bulan lagi akan acara diselenggaran di Indonesia!"
"Siap tidak siap, mau tidak mau kita akan menikah di hari, tanggal, bulan dan tahun yang cantik. Yaitu, 08-08-2008!"
"Angka yang cantik itu adalah lambang cinta kita yang tidak akan pernah putus, karena angka 8 merupakan angka gabungan dari 0 dan 0 yang menyambung menjadi satu kesatuan. Sama halnya seperti cinta kita yang tidak bisa di pisahkan!"
"Sampai sini Kakak paham, kalau aku tidak akan pernah meninggalkan Kakak. Walau Kakak mengusirku sekalipun, aku akan tetap ada di samping Kakak!"
Penuturan kata yang Fayra ucapkan berhasil membuat Kharel yakin, jika dia memang tidak salah pilih. Cinta pertama yang hadir disaat dia masih kecil, ternyata tidak berakhir penderitaan.
Impian yang selalu dia panjatkan setiap malam tidak sia-sia, meski harus mengorbankan waktu yang cukup lama, tetapi hasilnya benar-benar sangat memuaskan.
Kharel kembali memeluk Fayra dan mengucapkan beribu-ribu terima kasih, karena sudah mau menerima kondisinya yang tidak sesempurna sebelumnya.
Hampir 15 menit Fayra berdiri dalam keadaan memeluk Kharel, membuat kakinya sedikit pegal. Bahkan mata keduanya pun sudah mulai sembab akibat tangisan yang tiada henti.
Saat Fayra mau melepaskan pelukan Kharel, cuman Kharel malah tidak mengizinkannya. Kini, semakin membuat Fayra kesal karena kakinya sudah mulai terasa melemah.
Wajah Fayra terlihat kesal dan sedikit di kekuk, menyadari perubahan nada dari Fayra membuat Kharel perlahan melepaskannya dan mendongak menatap Fayra.
"Hihi, ma-maaf aku lupa. Ya sudah sini, naik di bangkarku. Aku mau memelukmu sambil tidur, boleh?" ucapnya.
Mata Kharel berkaca-kaca membuat Fayra tersenyum menganggukan kepalanya antusias.
"Boleh, tapi bagaimana jika Kakak kesempitan kalau bangkar yang kecil itu di bagi menjadi 2? Apa lagi badan Kakak 'kan besar, sedangkan aku kecil?" tanyanya.
"Tak apa, bangkar ini masih lebih besar dari pada tubuhku. Toh, tubuhmu yang kamu bilang kecil itu bisa di sempilkan di tubuhku bukan? Jadi, amanlah. Hem?" balasnya.
Kharel mengedipkan sebelah matanya sambil memainkan alisnya, layaknya menggoda Fayra yang seketika mulai malu.
__ADS_1
"Yakk, dasar menyebalkan! Ya sudah ayo, tapi kalau kesempitan bodo amat ya. Aku tidak mau mengubah posisiku jika aku sudah nyaman!" ancamnya.
Fayra segera beranjak dari sisi kiri Kharel, lalu menaiki bangkar yang berada di sisi kanannya. Kemudian Fayra membantu Kharel merebahkan tubuhnya, sambil dia pun ikut merebahkan.
Namun, bukan Kharel namanya jika dia tidak jahil untuk menggoda calon istrinya.
Berbagai cara dia lakukan, sampai mereka bisa tertawa geli bersama di dalam satu bangkar. Tidak tahu bagaimana caranya, kini bibir mereka sudah mulai menyatu satu sama lain.
Ternyata di balik kesedihan yang Kharel berikan, masih banyak kebahagiaan yang mengelilingi dirinya. Jadi, Kharel tidak lagi merasa bersedih atas takdirnya. Dia malah tambah bersemangat untuk bisa segera memiliki Fayra seutuhnya.
Gigitan, lu*matan serta permainan lidah mereka lakukan secara bergantian. Tak terasa sudah hampir kurang lebih 10 menit, Fayra mulai kehilangan napasnya.
Tangan mungil Fayra memukul kecil dada Kharel beberapa kali, membuat Kharel paham dan segera melepaskan bibirnya dalam keadaan dahi mereka menempel satu sama lain.
Selang beberapa detik saat Fayra sedang menarik napasnya secara perlahan, tiba-tiba satu perkataan Kharel berhasil membuatnya sedikit gugup.
"Ohya, tadi 'kan kamu bilang. Jika aku sudah bangun, kamu akan memberikan aku 1 permintaan. Boleh aku meminta sekarang?" tanyanya.
Tangan Kharel mengusap perlahan pipi Fayra, semakin membuatnya salah tingkah.
"Hem, bo-boleh. Ta-tapi, cuman 1 ya. Dan jangan aneh-aneh, ingat!" ancamnya. Perasaan Fayra benar-benar tidak karuan, ada rasa takut tersendiri ketika tatapan Kharel berhasil membuatnya curiga.
"Siap, Sayang. Cuman 1 kok. Tidak lebih, dan tidak boleh kurang," balasnya.
"Ya udah, katakan apa mau Kakak?"
"Hem, aku mau---"
Kharel meneruskan sisa ucapannya tepat di telinga Fayra. Sehingga membuat tubuhnya langsung menegang dan teras begitu kaku.
__ADS_1
Matanya pun membola, jantung berdetak kencang, dan juga wajah mulai memerah menandakan bahwa, Fayra seperti salah tingkah ketika mendengar apa yang diminta oleh calon suaminya.