
Ozzie mendumel sendiri di dalam mobilnya saat dia melupakan kontak Tita yang sebenarnya sangatlah penting baginya.
Entah kenapa baru kali ini Ozzie bisa merasakan begitu berbeda saat mengenal seorang wanita, tidak seperti bisanya yang hanya sekedar berkenalan dan besoknya lupa.
Cuman saat bertemu dengan Tita auranya sangatlah berbeda, sehingga Ozzie kembali melajukan mobilnya. Setidaknya dia sudah tahu dimana Tita tinggal, jadi besok pun dia bisa kembali berkunjung dengan alasan ingin menengoki keadaan Tita.
Nyatanya dibalik itu semua ada tujuan tertentu bagi Ozzie sendiri, supaya dia bisa semakin dekat dengannya dan siapa tahu kalau mereka berdua ini adalah jodoh yang baru saja di pertemukan.
...*...
...*...
Kurang lebih 1 bulan telah berlalu, kini Ace sudah tidak bisa lagi kembali ke Amerika di saat perekonomiannya semakin menyusut. Bahkan Perusahaan Daddynya pun sudah benar-benar hancur dan tidak bisa lagi di pertahankan kembali.
Semua aset yang tersisa harus di sita oleh Bank, lantaran Daddy Gerry memiliki hutang yang belum bisa di bayar. Hingga rumah, beserta isinya semua diambil alih.
Saat ini Ace harus tinggal sendiri di rumah yang sederhana, karena hanya itulah yang bisa dia beli dari sisa uang yang masih ada.
Sementara Mommy Rosa, sudah kurnag lebih 1 Minggu berada di rumah sakit akibat mengalami depresi yang cukup berat atas kehilangan suami tercintanya.
Keadaan seperti ini membuat Ace memutar otak bagaimana caranya dia membiayai kehidupan kedepannya. Sampai dia harus mencari kerja kesana kemari hanya demi sesuap nasi yang biasanya dia hanya tinggal telan, kini harus mencarinya dengan keringatnya sendiri.
Nasi yang biasa Ace buang ketika makanannya tidak habis, seketika menjadi sangat sayang jikalau dia melihat ada beberapa butir nasi tersisa di piringnya.
Ace merasa begitu hampa dan sunyi ketika dia tidak memiliki siapa-siapa lagi, di tambah dia harus selalu menengoki Mommy Rosa yang dirawat supaya depresinya tidak semakin berlanjut.
Ace hanya takut kejadian tidak terduga membuat dia harus kembali kehilangan Mommynya, keluarga satu-satunya yang saat ini dia miliki.
"Huhh, gini banget hidup serba berkecukupan. Bagaimana jika uang sisa yang gua miliki habis? Apakah gua harus kelaparan seperti orang-orang yang ada dijalanan? Atau gua harus mencari uang dengan cara mengamen, mengemis atau sebagainya?"
"Ckk, tidak! Hidupku masih panjang,
__ADS_1
gua juga punya frestasi jadi tidak mungkin jika gua harus mengambil jalan pintas seperti itu!"
"Lebih baik gua melamar di Perusahaan teman Daddy saja, siapa tahu mereka bisa membantu. Dari pada gua berdiam diri seperti ini, yang ada uang bukan ngumpul, malah beban yang menumpuk. Huhh!"
Ace membuang napasnya secara kasar sambil duduk di sofa yang lebih kecil dari sofa yang biasa Ace miliki sebelum semuanya menghilang.
Untungnya Ace masih memiliki laptop yang berguna untuk dia mengirimkan CV lamaran ke semua Perusahaan.
Namun, udah beberapa hari ini tidak ada satu pun Perusahaan teman Daddynya yang mau memberikan dia kesempatan untuk bergabung dengan mereka.
Ketika Ace sedang iseng-iseng mencari pekerjaan melalui internet. adia melihat ada satu sekolah yang membutuhkan seorang pelatih Basket handal, untuk mengajar di sekolah yang cukup Elite.
Tanpa berlama-lama Ace segera mencatat semua informasi tersebut, lalu menghubungi salah satu nomor yang tertera di sana.
Ace memang bukan seorang pelatih, akan tetapi dia seorang Kapten Basket yang sangat memiliki frestasi. Sehingga dia memanfaatkan semua frestasinya hanya demi mencari penghasilan untuk sementara.
...*...
...*...
Siapa lagi jikalau bukan Fayra dan Kharel. Mereka sudah berada di Indonesia 1 hari yang lalu, karena harus melakukan fitting baju dan sebagainya.
Meskipun keadaan Kharel masih belum ada kemajuan, dan tetap tergantung dengan kursi roda. Fayra tetap tidak gentar untuk selalu mendampinginya suka maupun duka.
Ada rasa bahagia tersendiri bagi Kharel karena dia mendapatkan calon istri seperti Fayra,
tiada henti dia selalu mengucapkan syukur atas kebahagiaan yang telah Tuhan kembalikan padanya.
Untuk yang pertama kali melakukan fitting baju adalah Kharel, dia ditemani oleh beberapa perias lainnya mempercobakan pakaian pengantin tersebut. Apakah sudah sesuai atau kurang.
Fayra menunggu Kharel berduduk santai sambil meminum sesuatu yang telah di sediakan. Sesekali dia membuka majalah, dimana semua desain baju membuat Fayra terkagum-kagum.
__ADS_1
Hampir semua baju pengantin dia sukai, hanya saja Fayra mau tampil berbeda saat di hari bahagianya nanti, dengan menggunakan desain buatannya sendiri agar terlihat berbeda dari yang lain.
Ya memang sih, Fayra itu tidak pandai dalam menggambar. Cuman, dari apa yang dia inginkan pihak MUA bisa langsung meresponnya dengan sangat baik.
Bahkan hasilnya gambarnya pun sangat memuaskan baginya, membuat Fayra tidak sabar untuk segera mencobanya. pakah itu akan serasi dengan tubuhnya atau tidak.
Selang beberapa lama, akhirnya Kharel keluar dengan penampilan yang sangat tampan. Meski dia menggunakan kursi roda , tetapi pakaian itu benar-benar cocok untuknya. Ternyata apa yang Fayra pilihkan tidak pernah meleset.
"W-waw, is amazing! Ini beneran calon suamiku, 'kah? Astaga, Kakak tampan banget sumpah. Ini kaya bukan Kakak yang biasanya, padahal Kakak cuman memakai bajunya udah terlihat seperti ini. Bagaimana nanti pas diacara kita, pasti Kakak akan menjadi seorang Raja yang begitu tampan hihih ...."
Rasa kagum Fayra ucapkan, dia membungkuk sambil menatap pakaian yang akan Kharel gunakan nanti. Apa lagi akibat kejahilannya Fayra mengunyel-unyel pipi suaminya hingga dia terlihat sedikit malu.
Bagaimana tidak malu, tahu sendiri bukan. Kalau Kharel itu ketika berada di luar pasti akan bersikap dingin, berbeda jika dirumah berdua dengan Fayra pasti sifat manjanya akan segera keluar tanpa di minta.
"Ishh, Sayang! Hentikan itu, malu tahu. Apa kamu tidak lihat aku sudah segagah ini, malah kamu buat bagaikan anak bayi. Huhh, menyebalkan!" gerutu Kharel, sedikit menekuk wajahnya.
"Uluh, uluhh ... Calon suamiku rupanya lagi ngambek, hem? Dengarkan aku baik-baik ya, Sayang. Mau bagaimanapun kamu nantinya, aku akan selalu memperlakukanmu bagaikan Baby. Karena bagiku, kamu itu selamanya akan tetap menjadi kesayanganku."
Senyuman manis yang Fayra berikan berhasil membuat wajah Kharel menjadi merah merona, bagaikan tomat yang sudah matang hingga hampir saja busuk.
Beberapa perias yang ada disana hanya bisa tersenyum melihat keromantisa pasangan ini. Ya, walaupun keadaan Kharel sedikit menyedihkan cuman Fayra bisa membuat semua orang merasa iri padanya.
Ternyata cinta itu bukanlah sekedar kata yang diucapkan oleh kedua pihak agar bisa bersatu. Melainkan cinta itu merupakan perasaan yang mengharuskan kedua pihak hadir, untuk saling melengkapi satu sama lain.
Dari sini terlihat bahwa keadaan seperti itu, tidak membuat cinta mereka menjadi berkurang. Malah semakin hari semakin bertambah besar.
Contohnya saat ini, Fayra tidak lagi malu untuk selalu mengungkapkan kata-kata manis dengan tujuan untuk membuat Kharel lebih percaya diri.
Tahu sendirilah, keadaan Kharel yang kaya gini pasti akan membuat dia berulang kali down dan tidak percaya diri.
Cuman kembali lagi, Fayra begitu hebat menjadi pelengkap Kharel. Dia seperti sangat tahu bagaimana caranya menghibur Kharel ataupun membuatnya selalu merasakan terbang diatas awan.
__ADS_1