
Ace tersenyum kecil, lalu melambaikan tangannya sambil berlari kecil menyebrangi jalan memasuki mobilnya, kemudian pergi begitu saja.
Sementara Tita, dia pun merasa bahagia karena sudah bisa menyadarkan Ace meski tidak sepenuhnya. Akan tetapi dia senang melihat Ace yang sudah tidak sehancur tadi. Tita pun ikut melambaikan tangannya melihat kepergian Ace.
Setelah mobil Ace pergi, Tita perlahan melangkahkan kakinya sambil tersenyum menyebrangi jalan tanpa melihat terlebih dahulu sehingga dia di kejutkan oleh sebuah mobil yang hampir saja menabraknya.
Aarrghhhh ....
Ciiiiitttt
Mobil itu mengerem secara mendadak saat depan mobilnya hampir mengenai tubuhnya. Dimana Tita berdiri sedikit menunduk sambil menutup kuping dan kedua matanya.
Tita merasa bahwa hidupnya sudah berakhir, anggap saja perbuatan baiknya tadi saat menolong Ace adalah kunci untuk memasuki surga.
Namun, sayangnya. Bayangan akan indahnya surga di dalam pikiran Tita memudar saat seseorang keluar dari mobilnya. Dia terlihat begitu tergesa-gesa dan penuh khawatir, tak sengaja memegang pundak Tita. Sehingga membuatnya sedikit terkejut langsung menatapnya.
"Kamu gapapa, apa ada yang sakit? Atau mau aku bawa ke rumah sakit?"
"Aku minta maaf ya karena aku mengejutkanmu dan hampir saja membuatmu celaka. Itu semua akibat aku ceroboh di jalan yang selicin ini malah menyetir sambil memainkan ponsel."
"Sekali lagi maaf ya, aku antar ke rumah sakit aja gimana? Aku takut kalau kamu ada apa-apa atau kamu punya penyakit jantung, nanti bahaya bisa langsung meninggal loh."
Wajah pria itu terlihat begitu polos hingga membuat Tita yang tadinya ingin memarahinya, seketika mengesampingkan semuanya dan malah menyentil keras dahi pria itu hingga dia meringis kesakitan.
Cetakk!
"Awwshh, ckk! Sakit tahu, dikata dahiku ini besi kali!" keluhnya. Pria tersebut terlihat begitu kesal dengan apa yang sudah Tita lakukan padanya. Padahal niat dia ingin menolong, tetapi Tita malah menyentilnya.
__ADS_1
"Lagian siapa suruh kalau ngomong enak banget! Pakai doain aku mati pula, dasar pria aneh! Udah mau mencelakan orang, masih aja doain ma*ti. Enggak ada akhlak emang!" gerutu Tita.
Wajah mereka terlihat sangat kesal satu sama lain, cuman karena melihat baju Tita yang basah kuyub membuat pria itu melihatnya menggunaka matanya yang tidak biasa.
Semua itu akibat baju Tita yang tipis, sehingga tembus pandang ketika dalam keadaan basah. Untung dia menggunakan dalaman yang menutupi isi tubuhnya, jika tidak maka semua asetnya bisa terlihat dengan mata telan*jang.
"Huaa ... Dasar pria me*sum! Ngapain kamu menatap tubuhku kaya gitu, hah! Jangan bilang kamu lagi menerawang bajuku? Astaga, bisa-bisanya---"
"Tutup tubuhmu menggunakan kemejaku, agar tidak terlalu menerawang. Apa lagi bajumu sangat tipis dan basah, itu akan mengundang banyak mata jahat menatapmu." ucapnya.
Pria itu mencopot kemejanya, lalu memberikannya pada Tita sambil melebarkan kemeja itu ke belakang tubuhnya. Tita yang mendapati perlakuan tersebut langsung terdiam mematung.
Padahal Tita sudah berpikir jelek mengenai pria itu, tetapi pria itu malah mencoba melindunginya dari pandangan mata orang jahat.
Disitu Tita bergegas meminta maaf padanya atas semua pikiran negatif yang memicunya untuk berburuk sangka.
"Ma-maaf---"
"Huaaa, tidak! Aku bisa sendiri!"
Tita segera memkai kemeja itu dalam kondisi terburu-buru, membuat pria yang melihatnya hanya bisa terkekeh.
"Astaga, cman di gertak sedikit aja dia langsung ketar ketir. Bagaimana jika aku menggodanya lebih dari ini, pasti wajahnya akan terlihat seperti kepiting rebus hihi ...." batin pria itu.
"Astaga, dasar me*sum bilang me*sum. Aneh!"
"Yaakk, kau tuh yang me*sum! Ckk, menyebalkan. Dahlah aku mau pulang, bye!"
__ADS_1
Ketika Tita berbalik dan mau melangkahkan kakinya, tiba-tiba tangannya malah di pegang oleh pria itu. Akibat terkejut, Tita refleks menoleh sambil berbalik menatapnya dan matnya sedikit melihat tangannya.
"Ada apa?" tanya Tita.
"Aku anterin boleh?" tanya balik orang itu.
"Eeee---"
"Baiklah, ayo kita pulang. Tenang gratis kok, enggak akan keluar biaya."
Tanpa menunggu jawaban dari Tita, pria itu segera menarik lalu membawanya masuk ke dalam mobilnya. Sementara Tita hanya bisa menatapnya dengan perasaan bingung serta mengikuti apa yang pria tersebut lakukan tanpa bisa membantahnya.
Di dalam mobil, tingkah Tita yang menepuk dahinya sendiri berhasil membuat orang disampingnya bingung dan sedikit aneh.
"Kenapa? Pusingkah? Atau mau aku bawa ke rumah sakit?" tanyanya.
Tita menggelengkan kepalanya lalu menunjuk kearah depan di mata sebrang jalan ada sebuah mobil yang masih menunggunya.
"Itu mobil yang tadi aku tumpangi, belum aku bayar!" ucap Tita.
"Loh aku kira kamu jalan kaki, tahunya naik mobil? Tapi, tunggu deh. Bagaimana mungkin kamu bisa basah kuyub kalau kamu menggunakan mobil?" tanyanya.
"Panjang urusannya, nanti aku ceritain. Aku harus ambil tasku dulu sekalian bayar ongkos buat mobilnya. Tapi janji ya kamu anterin aku. Karena aku tidak mau rugi, paham!" jawab Tita.
"Udah enggak usah, kamu di sini aja. Aku yang akan urus semuanya, tunggu sebentar!" titahnya.
"Tidak us---"
__ADS_1
Belum juga Tita mengatakan untuk tidak usah repot-repot memperlakukannya seperti ini, tetapi pria itu malah sudah keluar dari mobilnya dan membayar serta mengambil tas miliknya.
Kemudian pria itu kembali ke dalam mobil sambil menyerahkan tas milik Tita sambil tersenyum. Bersamaan dengan itu, dia menjulurkan tangannya sambil menyebutkan namanya.