
Fayra bergegas pergi meninggalkan ruangan Rektor dalam keadaan wajah murung, dan juga kesal. Berbeda dengan Kharel yang ada di dalam kamar sambil memantau CCTV di ponselnya.
Baru ini Kharel bisa tertawa hanya demi melihat sikap wanita yang berhasil membuatnya tertarik dan juga penasaran.
...*...
...*...
Tepat pukul 7 malam, Fayra ingin sekali memakan coklat dan juga eskrim. Cuman, sayangnya kulkas yang biasa nyetok cemilan ternyata sudah habis. Apa lagi Fayra lupa untuk mengeceknya, sehingga mau tidak mau dia harus keluar malam demi memenuhi kebutuhan mulutnya untuk memakan yang manis-manis.
"Stock cemilanku sudah habis, mumpung masih jam 7 mendingan aku segera pergi ke supermarket dekat sini aja. Yang penting kan, bisa buat malam ini ngeganjel mulutku sambil ngerjain tugas. Selebihnya kita akan beli besok sehabis pulang kuliah."
Fayra langsung bergegas bersiap-siap pergi keluar Apartemen dan berjalan santai mengikis dinginnya serta gelapnya malam. Dimana saat Fayra menatap kearah langit sambil berjalan, dia pun tersenyum akan keindahan langit yang sangat cantik.
"Andaikan aku dan Kak Ace masih bisa bersatu, mungkin saat ini aku sedang jalan berdua dengannya. Berpegangan tangan, tertawa bersama dan juga menikmati indahnya malam seperti ini."
"Aishh, ngapain sih masih ingat masa-masa itu, Raa! Sudah cukup semuanya jangan diingat lagi, jika memang Kak Ace mencintaiku dia pasi akan mengejarku kemanapun aku pergi. Tapi, ini tidak bukan?"
"Nah, itu tandanya apapun yang terjadi aku harus bisa hadapi semuanya dengan senyuman seperti saat ini. Sekarang cukup pikirkan bagaimana caranya kamu bisa membuktikan kepada semua orang, jika tanpa dia kamu masih bisa menjalani kehidupan yang jauh lebih baik!"
Senyuman yang terlihat manis, tetapi menyimpan banyak duka tidak membuat Fayra trauma untuk terus mengukirnya. Karena Fayra yakin jika dengan tersenyum, maka rasa beban di pundaknya yang begitu erat seakan hilang diterpa badai angin.
"Hem, laa lalaa laa laalaa ...." Fayra bersenandung ria dengan wajah yang terlihat sangat happy.
Sesampainya di depan pintu masuk, Fayra melangkahkan kakinya masuk mencari semua kebutuhannya hari ini. Yaitu, coklat dan eskrim yang paling utama.
Hampir 10 menit Fayra mengubek-ngubek supermarket itu, dan kini saatnya dia membayarnya. Fayra berdiri di depan meja kasir menunggu serta nemperhatikan Mbak kasirnya.
"Jadi berapa, Kak?" ucap Fayra menunggunakan bahasa Inggrisnya.
__ADS_1
"Semuanya jadi, 20 Euro, Kak." jawab kasir tersebut sambil tersenyum.
Fayra langsung memberikan uang dengan sejumlah 20 Euro, atau bisa dikatakan dengan nominal kurang lebih Rp. 322.000,00,-.
"Terima kasih, Kak." Fayra tersenyum mengambil belanjaannya dan dia pun berjalan keluar dari supermarket dengan perasaan senang.
Akhirnya sebentar lagi Fayra bisa juga mengerjakan semua pekerjaan kuliahnya dengan tenang, bantuan coklat dan juga eskrim serta beberapa cemilan lainnya.
Disaat Fayra ingin berpindah alur, dia melihat bahwa jalanan sudah sangat kosong. Kemudian Fayra melangkahkan kakinya sambil bersenandung ria dan sesekali dia melihat ke dalam kantong belanjaannya.
Rasanya Fayra sudah tidak sabar lagi untuk segera sampai ke Apartemen, lalu memakannya tanpa rasa kasihan.
Namun, baru beberapa langkah seseorang yang sedang mengendarai mobil dengan kecepatan kencang. Tanpa sadar ponselnya terjatuh saat mau mengangkat sambungan telepon dari rekan kerjanya.
Jalanan yang sepi membuatnya sediki gila untuk melajukan mobilnya, sampai akhirnya dia membungkukkan tubuhnya ke bawah dan saat sudah menemukan ponselnya. Tiba-tiba matanya membelalak lantaran tepat 5 meter dari mobilnya ada Fayra yang sedang menyebrang jalan.
Arrrghhhh ...
Braakk!
Orang itu menabrak sebuah pohon yang tak jauh dari tempat kejadian, sehingga Fayra melepaskan tas belanjaannya dan refleks menutup kedua kupingnya sambil berteriak serta memejamkan kedua matanya.
Saat mendengar suara gemuruh tersebut perlahan Fayra mencoba membuka matanya, betapa terkejutnya dia saat melihat mobil itu malah menabrak sebuah pohon.
"Astaga, bagaimana kondisi orang itu ya. Pokonya aku harus segera menolongnya, apapun kondisinya dia udah mengorbankan nyawanya demi menghindariku."
Fayra bergegas pergi berlari ke arah mobil tersebut, lalu dia membuka pintu mobil dengan keadaan tergesa-gesa.
"Tu-tuan, Tuan. Apakah Tuan baik-baik aja?" ucap Fayra wajahnya begitu khawatir saat melihat orang tersebut dalam keadaan sedikit menyedihkan.
__ADS_1
Disaat Fayra mencoba meluruskan tubuh pria itu, dia melihat luka di kepalanya yang sudah penuh dengan cairan berwarna merah membuatnya semakin panik.
Tanpa menunggu lama lagi, Fayra segera menghubungi sebuah ambulans. Sambil menunggu ambulans datang, Fayra kembali menatap orang tersebut dengan wajah yang sulit untuk di kenalin.
"Tuan, bertahanlah. Tuan pasti kuat, sebentar lagi ambulans akan datang membawa Tuan ke rumah sakit terdekat. Jadi aku mohon, Tuan bertahanlah!" ucap Fayra gelisah, terus berusaha membuat pria itu tersadar.
Tanpa di sangka pria itu membuka matanya perlahan menatap Fayra, yang saat ini wajahnya terlihat begitu panik. Bahhkan tingkahnya pun sudah tidak bisa diam. Rasanya Fayra ingin segera menyelamatkan orang itu tanpa membuang waktu seperti ini.
"Ka-kamu ...."
"Tuan! Bangun Tuan, jangan tutup matamu. Ayo bangun Tuan, bangun!"
Teriakan suara Fayra hanya terdengar samar di dalam telinga orang itu, sebelum dia kembali menutup matanya.
Selang 5 menit, ambulans datang dengan bunyi sirine yang sangat kencang. Beberapa para medis turun dan langsung mengevakuasi orang tersebut dan membawanya ke atas bangkar.
Bersamaan dengan bangkar itu masuk kedalam ambulans, ternyata Fayra pun juga ikut masuk kedalamnya. Tanpa sadar dia menunggu orang itu dan ikut ke rumah sakit.
Selama perjalanan, beberapa medis berusaha untuk memberikan pertolongan pertama dengan alat-alat yang ada didalam mobil.
"Kak, tolong Tuan itu Kak. Dia lukanya sangat parah, soalnya dia berusaha menghindariku lalu dia menabrakan dirinya ke sebuah pohon besar." ucap Fayra, penuh kepanikan.
"Tenang dulu, Kak. Kita akan berusaha menyelamatkan pasien semampu kita, Kakak jangan khawatir ya." ucap salah satu medis tersebut dengan mencoba menenangkan Fayra.
Beberapa menit lamanya, akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Kemudian segera turun lalu mendorong bangkar memasuki rumah sakit menuju ruang UGD.
Disana terlihat beberapa suster dan seorang dokter bergegas langsung memasuki ruangan untuk menyelamatkan orang tersebut. Sementara Fayra, dia hanya bisa menunggu di depan ruangan dalam keadaan cemas memikirkan keadaan kondisi orang itu.
Fayra merasa hutang budi kepada seorang pria yang rela mencelakai dirinya sendiri hanya demi menyelamatkan Fayra.
__ADS_1
Padahal jika kita tarik ulur yang sebenarnya bersalah adalah pria itu. Akan tetapi, pria itu menebus kesalahannya dengan menghindari kecelaan dan membuat dirinyalah yang celaka.