Learn to Love You

Learn to Love You
Pemandangan Indah


__ADS_3

"Kak, a-apa aku boleh bertanya?" ucap Fayra wajahnya terlihat begitu serius.


"Silakan, apapun pertanyaanmu. Aku akan menjawab sebisaku, tanpa adanya kebohongan." jawab Kharel sambil tersenyum.


Rasanya Fayra begitu ragu ketika dia ingin menanyakan sesuatu, dia takut jika semua jawabannya itu diluar ekspetasinya. Sampai beberapa menit Fayra terdiam dengan segala pemikirannya.


Kharel yang melihat Fayra seakan-akan ragu terhadap pertanyaannya sendiri, membuat Kharel paham. Kemudian Kharel kembali mencoba untuk berusaha menenangkannya supaya Fayra bisa mengatakan apa yang ingin ditanyakan padanya.


Perlahan Fayra mulai menarik napasnya, lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat Kharel hanya bisa tersenyum setiap kali pertanyaan terlontar dari bibir gadis kecilnya ini.


"Ada apa, hem? Katakan apapun yang mau dikatakan, aku akan mendengarkannya lalu menjawab sesuai dengan faktanya." ucap Kharel menatap manik mata Fayra.


"Kak, bisakah Kakak memberikan waktu selama 3 bulan saja. Itu semua hanya demi meyakinkan perasaanku sendiri, apakah ini benar-benar cinta atau hanya rasa kagumku buat Kakak. Aku tidak mau menyakiti Kakak untuk kesekian kalinya, jadi aku mohon Kakak berikan aku waktu untuk menjawab semua perasaan Kakak yang berulang kali Kakak sampaikan padaku."


"Kakak tahu kan masa laluku seperti apa, justru itu. Aku tidak mau menerima Kakak jika itu hanya sekedar rasa kagumku, sementara hatiku tidak memiliki perasaan apapun. Cuman, apakah Kakak siap untuk menunggu dan mendengar jawabku nanti? Bagaimana jika tidak sesuai dengan ekspetasi Kakak? Apakah Kakak akan kembali hancur karena aku? Atau---"

__ADS_1


Jari telunjuk Kharel menempel tepat di bibir Fayra, sehingga membuat mulutnya tak lagi mengeluarkan suara apapun. Semua itu karena Kharel sudah tidak mau mendengar apa yang Fayra katakan.


"3 bulan, 3 tahun, bahkan 3 abad pun aku akan tetap setia menunggumu. Meskipun suatu saat nanti jawabanmu itu tidak sesuai dengan apa yang aku bayangan ya tidak masalah bagiku. Yang penting aku senang saat mendengar bahwa kau mau mencoba untuk membalas cinta ini, walau kau tahu kamu sendiri berat untuk membuka hatimu."


"Namun, kamu rela melawan semua egomu itu demi diriku. Dan itu aku hargai usahamu untuk kembali membuka lembaran baru denganku. Masalah aku hancur atau tidak itu urusan belakangan, mau kamu menerimaku atau menolakku itu tidak akan membuat kedekatan kita menjadi renggang."


"Jika kamu menerimaku maka aku akan pastikan kamu selalu bahagia ditanganku, walau aku harus menukar nyawaku sendiri demi kebahagiaanmu aku rela, Raa. Aku rela! Yang penting buat aku, kamu bisa selalu bahagia, bisa selalu tersenyum dan terus tertawa. Karena kebahagiamu adalah nyawa untukku, sedangkan kesedihanmu adalah kematian untukku!"


"Jadi kamu tidak perlu khawatirkan tentangku, aku akan selalu berusaha tetap berada didekatmu meksipun kamu selalu menolakku. Ingat, Raa. Aku pernah bilang, seberapa banyak wanita yang akan mendekatiku nanti maka hanya akan ada satu wanita yang berhasil menaklukkanku, dan wanita itu ya kamu."


Air mata yang menetes bukanlah air mata yang melambangkan tentang kesedihan, melainkan kebahagiaan. Ya, Fayra tahu. Dia sudah mulai nyaman dengan Kharel, dia sudah mulai sayang dengan Kharel bahkan dia pun sudah mulai mencintai Kharel. Hanya saja dia masih ragu ataupun dilema untuk kembali membuka hatinya.


Maka dari itu, untuk meyakinkan semuanya Fayra meminta waktu yang tidak sebentar dan juga tidak lama. Semua itu hanya untuk memastikan apakah Fayra bisa mencintai Kharel seperti mencintai dirinya atau Fayra hanya terkagum-kagum dengan sifatnya yang hampir sama seperti Appanya.


Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, Fayra segera memeluk Kharel kembali. Dan kali ini sangatlah erat, sementara Kharel yang merasakan itu semua membuatnya memejamkan kedua matanya sambil tersenyum. Hingga air matanya menetes tanpa disengaja, semua karena dia merasa bahagia.

__ADS_1


Ya memang dia tidak tahu apakah nanti Fayra akan menerimanya atau menolaknya. Cuman, entah mengapa hatinya begitu yakin jika cintanya selama ini akan terbalaskan. Dan itu pasti akan terjadi, karena Kharel memiliki pirasat yang kuat bahwa dia bisa menaklukkan hati Fayra yang selalu berusaha menutup diri.


Beberapa menit telah berlalu, tidak disangka-sangka mereka menatap langit yang indah sambil tertawa bersama bercanda bersama dalam keadaan memeluk satu sama lain. Sesekali mereka bercanda persis seperti masa kecilnya.


Kebahagiaan mereka ternyata tertular ke kedua orang tua mereka yang saat ini diam-diam mengintip mereka dari jarak jauh. Ya walaupun tidak bisa mendengar obrolan dua sejoli itu, cuman dari gerak-geriknya mereka paham bahwa Kharel memang ditakdirkan untuk melanjutkan kebahagiaan Fayra yang sempat tertunda.


Air mata tak terasa terlinang dipelupuk mata milik Amma Trysta, dia tidak menyangka akan menyaksikan pemandangan yang indah ini setelah sekian lama berbulan-bulan anaknya selalu murung dan berusaha terlihat kuat, padahal hatinya sangatlah hancur.


Appa Daniel langsung merangkul istrinya mencoba untuk menenangkan perasaannya yang sedikit tergucang melihat anaknya bisa kembali tersenyum lepas bersama orang yang tepat.


Sama halnya seperti kedua orang tua Kharel, dia juga tidak menyangka jika anaknya bisa kembali menemukan cinta sejatinya.


Dari sekian lamanya bertahun-tahun hidup di dalam kegelapan dan juga kesepian, tanpa adanya senyuman ataupun canda tawa. Sekarang, benar-benar telah berubah.


Seakan-akan hidup Kharel telah kembali berwarna, hingga meninggalkan warna gelap yang selama ini menyelimuti setiap langkahnya.

__ADS_1


Setelah merasa lega melihat pemandangan indah itu, kedua oramg tua Fayra dan Kharel pun kembali masuk ke dalam rumah dalam keadaan senang. Mereka tidak mau mengganggu waktu kesenangan anaknya yang sedang merangkai sebuah jalan untuk menuju kebahagiaan.


__ADS_2