
Terdengar suara teriakan, tangisan bersamaan dengan suara pecahan lampu kristal yang sangat nyaring.
Prangg!
Pyaarrr!
Suasana semakin gaduh dan tidak karuan. Tubuh Ace langsung melemas dan terjatuh ke lantai saat dia tidak bisa menyelamatkan lampu itu. Artinya saat ini Fayra sudah tertimpa lampu dengan tubuh yang sudah tertancap beling-beling pecahan lampu.
Namun, siapa sangka. Ada seseorang yang telah berhasil menyelamatkan Fayra hingga membawanya menjauhi tempat tersebut tepat pada waktunya.
Hanya saja, tangan mulus Fayra berhasil tergores akibat pecahan beling tidak sengaja lompat mengenainya. Tetapi, itu tidak seberapa. Yang terpenting nyawa Fayra telah selamat dari kejadian yang mengerikan.
Fayra menoleh ke arah sampingnya, dimana dia terjatuh bersama seorang pria yang berhasil membuat jantungnya berdebar setiap menatap manik matanya.
"Ka-kak, Kharel? Hiks, a-aku takut Kak. Aku takut, hiks ...." Fayra menangis di dalam dekapan Kharel yang saat ini sedang tiduran di sampingnya.
"Tenang, Sayang. Tenang! Kamu sudah aman bersamaku, ingat bukan! Aku tidak akan pernah membiarkanmu menghadapi masalah sendirian!"
"Untuk itu, aku minta maaf kalau aku sedikit lama buat menyelamatkanmu karena kakiku---"
Kharel menghentikan perkataannya saat dia baru menyadari akan satu hal, yaitu bagaimana bisa dia menyelamatkan Fayra. Sementara kakinya lumpuh?
Kharel terdiam, begitu juga Fayra yang mulai sadar. Bagaimana Kharel bisa menyelamatkannya tanpa kursi roda?
"Ka-kakiku?" gumam Kharel, saat matanya melirik ke arah kakinya yang sudah dia gerakkan sebebas mungkin.
Degh!
Jantung Kharel berdetak sangat kencang, air matanya tak terbendung ketika melihat kedua kakinya sudah kembali bisa di gerakkan.
__ADS_1
"Ka-kakak, ka-kaki Kakak su-sudah bisa bergerak?" tanya Fayra.
Dia sangat terkejut sambil meneteskan air matanya menatap kaki Kharel. Sedetik kemudian mereka saling menatap satu sama lain.
"Ya, Sayang. Ka-kakiku sudah sembuh, Raa. Aku sudah bisa berjalan lagi, astaga. Aku seneng banget, Raa. Aku senang, hiks ...."
Tangis bahagia Kharel langsung pecah, dia tidak menyangka kejadian tragis ini bukan hanya membawa kesedihan, melainkan juga kebahagiaan.
Fayra dan Kharel langsung duduk, lalu mereka berpelukan satu sama lain. Rasa syukur mereka panjatkan atas kebahagiaan yang selama ini mereka nanti-nantikan akan kesembuhan kaki Kharel.
Appa Daniel dan Papah Jerome yang baru sampai dihadapan mereka sangat bersyukur, melihat Fayra dalam kondisi baik-baik saja. Hanya keadaan Kharel yang behasil membuat mereka syok.
"Rel, ka-kakimu--" Belum selesai Papah Jerome berbicara, Kharel melepaskan pelukan Fayra dan menatap Papah Jerome sambil mengangguk sedikit tersenyum.
Sama halnya dengan Amma Trysta dan Mamah Xavia, mereka sudah berlari mendekati anaknya, dimana mereka juga terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Baby Boy, bi-bisakah kamu berdiri untuk meyakinkan kita semua kalau kamu sudah sembuh?" tanya Mamah Xavia, yang sudah meneteskan air mata bahagia.
Suara teriakan pilu yang membuat semuanya ketakutan, kini berganti menjadi teriakan kebahagiaan atas kesembuhan Kharel.
Mereka semua saling berpelukan satu sama lain dengan air mata yang terus mengalir deras. Mereka tidak menyangka di balik musibah yang terjadi, ada sebuah hikmah tersembunyi yang sangat membahagiakan.
Sahabat Fayra melihat kebahagiaan itu menjadi terharu, baru kali ini mereka melihat betapa besarnya kekuatan cinta yang mereka miliki. Sehingga kaki yang awalnya mati rasa, bisa kembali hidup hanya karena cinta.
Jika boleh memilih, mereka juga ingin sekali bisa merasakan kekuatan cinta sebesar itu pada pasangan. Walaupun salah satunya terpuruk, satunya tetap berusaha menguatkannya.
Dari sinilah semua orang percaya bahwa jodoh itu memang sebuah misteri, banyak orang harus melewati fase sakit hati lebih dulu, barulah mereka bisa mendapatkan jodoh sesuai dengan apa yang Tuhan berikan.
Disaat semuanya sedang tersenyum bahagia, seseorang datang dalam keadaan menyedihkan. Siapa lagi jika bukan Ace yang dibawa oleh kedua penjaga untuk menunjukkan bahwa dalang di balik kecelakaan ini adalah Ace.
__ADS_1
Senyuman bahagia mulai memutar ketika mereka merasa kecewa sama apa yang Ace lakukan di pernikahan Kharel dan Fayra.
Semua tidak menyangka, mereka kira Ace sudah berubah akibat musibah yang sudah menimpanya. Sehingga musibah itu akan di jadikan sebuah pembelajaran, bahwa apa yang kita taman maka itulah yang akan kita tuai kemudian hari.
Akibat terobsesi akan cintanya pada Fayra, Ace menggunakan segala cara, baik buruknya pasti Ace akan lakukan asalkan tujuan utamanya bisa tercapai.
Kekecewaan terlihat jelas di wajah, Kharel, Fayra, kedua orang tua mereka dan juga sahabatnya. Mereka sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain meyerahkan Ace kepada pihak berwajib.
Apa yang di lakukan Ace kali ini sudah masuk tindak kriminal, atau bisa juga masuk dalam pasal pembunuhan berencana. Yang mana pasti Ace akan mendapatkan hukuman cukup berat di usianya yang terbilang masih sangat muda.
Ace menangis di bawah telapak kaki kedua orang tua Fayra, dia meminta ampun agar tidak dibawa ke kantor polisi.
Ace masih ingin selalu melihat perkembangan Mommy Rosa yang masih berada di rumah sakit, tetapi sayang. Semua permintaan maaf di tolak mentah-mentah oleh kedua orang tua Fayra.
Akhirnya Ace kembali meminta maaf dan menjelaskan semuanya kepada Fayra, kalau dia begini itu karena dia menyasal telah menyia-nyiakan waktu dan juga kesempatan yang Fayra berikan.
Sayangnya, mau beribu-ribu kali Ace meminta maaf, bahkan sampai nangis darah pun tetap saja mereka akan berpegang teguh pada pendirian.
Yaitu, menyerahkan Ace kepada pihak berwajib supaya mendapatkan hukuman sesuai sama apa yang dia perbuat hari ini.
Ace berteriak sekeras mungkin dengan rasa penyesalan yang amat mendalam, Appa Daniel mencoba untuk memeluknya begitu erat. Tak disangka, sekecewa apapun Appa Daniel, sama Ace. Dia tetap anak dari sahabatnya yang sudah tiada.
Appa Daniel berhak untuk memberikan sedikit wejangan kepada Ace bahwa dia harus bisa merelakan semua yang sudah terjadi. Tidak semua bisa Ace dapatkan dengan cara seperti ini, karena semua efeknya akan kembali pada dirinya sendiri.
Disitulah Ace tersadar, dia benar-benar sadar bahwa sudah banyak kejahatan yang di lakuakan hanya demi mempertahankan cinta obsesinya terhadap Fayra.
Sampai dia melupakan, bahwa kekuatan terbesar di sini adalah sebuah takdir yang sudah Tuhan tuliskan di garis tangannya.
Ace melepaskan pelukan Appa Daniel, membuat Appa Daniel memberikan Ace suport dan juga semangat. Kalau suatu saat nanti dia bisa menjadi orang yang jauh lebih baik, setelah melewati masa hukumannya.
__ADS_1
Ace pamit, lalu berjalan bersama kedua penjaga gedung untuk segera menyerahkan diri ke kantor polisi untuk bisa segera di proses.
Sementara acara Kharel dan Fayra tetap akan berjalan, meski mereka harus menunda beberapa jam kedepan. Semua itu karena gedung tersebut harus segera di bereskan dan juga di bersihkan dari sisa-sisa kejadian yang mengerikan tadi.