
"Ssstt, stop berkata seperti itu! Ini sudah sebagaian tugas dari seorang istri, paham? Jadi tunggu di sini, jangan berpikir aneh. Awas kalau berbicara yang tidak-tidak, nanti aku akan jewer kuping Kakak sampai putus, mau?"
Kharel langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, membuat Fayra gemas dan sedikit mencubit pipi calon suaminya itu penuh kegemasan. Kemudian dia bergegas pergi meninggalkan Kharel untuk menebus obat tersebut.
Selepas perginya Fayra, tiba-tiba ada seseorang yang mendekati Kharel. Dia menyapanya penuh senyuman, sementara Kharel yang menatap orang tersebut hanya bisa terdiam datar, tanpa ekspresi apapun.
"Loh, Kharel? Astaga, kok kita bisa ketemu di sini sih?" ucapnya langsung memeluk Kharel dan menempelkan pipi kanan dan kurinya.
"Yakk, apaan sih! Kau ini siapa, hah! Main sentuh orang aja, dasar enggak sopan!" pekik Kharel sambil mendorong wanita itu.
"Ishh, Kharel. Kamu jahat banget sama aku, untung aku enggak jatuh. Dan ini, kenapa kamu ada di kursi roda?" tanyanya penasaran.
Kharel menatap orang itu dengan kesal, dahinya mulai mengerut, bahwasanya Kharel sama sekali tidak mengenalinya. Wajahnya begitu asing untuk Kharel yang memang tidak mengenal siapapun di Indoneaia ini.
"Kau sebenarnya siapa, hahh! Kenapa tiba-tiba memeluk saya, dan dari mana kau bisa tahu namaku?" tanya balik, Kharel.
"Astaga, Kharel. Kamu lupa sama aku? Aku ini Luna loh, mantan kekasihmu yang cantik dan juga sangat kamu cintai," jawab Luna, meyakinkan.
Tangan Luna memegang rahang Kharel sambil badannya sedikit membungkuk memperlihatkan belahan dadanya.
__ADS_1
Kharel langsung mengalihkan pandangannya sambilenangikis tangan Luna, bukan berarti Kharel menginginkannya. Melainkan dia sangat jijik dengan wanita yang selalu mengumbar tubuhnya layaknya kupu-kupu malam yang mengenakan pakaian kurang bahan.
"Cepat pergi dari hadapan saya, atau saya akan bertindak kasar lebih dari tadi!" ancam Kharel.
"Uhhh, takut hehe ... Aduh, Sayang. Kamu manis banget sih, gemes deh. Aku jadi kangen, masa-masa kita pacaran dulu. Ayolah, Rel. Kita baikan lagi yuk?" ucap Luna, menggoda Kharel.
"Dari tadi gua udah berusaha nahan ya! Tapi, lu masih aja enggak ngerti bahasa manusia. Haruskah gua pakai bahasa binatang biar lu paham, hahh!" pekik Kharel, langsung menatap tajam ke arah Luna.
"Ssttt, Sayang. Jangan berisik nanti disangkanya aku ngapa-ngapain kamu lagi. Padahal aku 'kan cuman kangen doang loh, masa iya enggak boleh. Hem?"
Luna terus saja menggoda Kharel dengan segala sentuhan yang dia berikan, meski beberapa kali Kharel selalu memberontak Luna tetap tidak gentar. Seakan-akan dia memiliki 1000 cara untuk mengambil hati Kharel.
Sampai akhirnya mereka mulai tetap menatap satu sama lain, beberapa ancaman Kharel tidak berlaku untuk Luna. Apa lagi kondisi Kharel hanya bisa berada di kursi roda, membuat Luna sagat mudah untuk mempermainkan perannya.
Selama ini Kharel tidak pernah memiliki kekasih, jadi siapakah Luna ini? Kenapa dia mengaku mantan kekasih dari Kharel? Ada apa ini? Entahlah, semua masih tanda tanya besar bagi Kharel sendiri.
Mereka mulai melontarkan percekcokan satu sama lain dengan suara kecil penuh penekanan. Dimana rasanya Kharel ingin sekali menendang bahkan menampar wanita itu, cuman sayangnya. Karena selalu ingat dengan pesan yang Fayra berikan padanya.
Sekesal-kesalnya Kharel, semarah-marahnya Kharel dan sebenci-bencinya Kharel terhadap seorang wanita. Fayra berpesan agar tidak menyakiti wanita itu menggunakan tangannya. Semua itu karena Fayra tidak menyukai seorang pria yang ringan tangan atau pun seorang pengecut.
__ADS_1
"Pergi dari sini, sebelum gua bertindak lebih dari apa yang tidak pernah lu bayangkan!" tegas Kharel menatap tajam Luna, sedangkan Luna cuman bisa tersenyum manis.
"Aduh, aduh, Sayang. Janganlah begitu, kita 'kan pernah bersama jadi jangan memungkiri itu semua. Aku kangen satu malam bersamamu lagi, jadi---"
"Stop berbicara omong kosong di hadapan gua, ja*lang! Ingat baik-baik, gua bukan orang bo*doh yang bisa lu jebak seperti apa yang udah lu rencanain!"
"Gua tahu, lu itu cuman seorang wanita bayaran yang di suruh oleh seseorang untuk merusak hubungan gua dan Fayra, bukan? Haha, dasar murahan!"
"Lu boleh menjebak gua sepuas lu, tapi ingat! Gua sangat percaya bahwa kekuatan cinta ini sangatlah besar, apapun rintangannya cinta ini akan selalu menjadi pemenangnya!"
Tatapan Kharel begitu remeh, perkataannya penuh penekanan membuat Luna cuma bisa tersenyum. Dan disaat Luna memiliki kesempatan, dia langsung memanfaatkannya tanpa menunggu lama.
Cup!
Satu kecupan mendarat di pipi Kharel, membuat Kharel langsung membolakan matanya. Dia tidak percaya bahwa seorang wanita yang tidak dia kenalnya bisa mencium pipinya semudah itu.
Namun, yang membuat Kharel dan Luna terkejut adalah kedatangan Fayra secara tiba-tiba sudah berada di dekat Kharel. Perasaan Kharel campur aduk, dia takut jika Fayra sampai salah paham padanya.
Kharel tidak mau pernikahan yang tinggal selangkah lagi, bisa sampai kandas cuma karena kesalah paham yang Fayra lihat saat ini.
__ADS_1
Sementara Fayra dia tersenyum penuh arti menatap Kharel dan juga Luna, kini semakin membuat Kharel tidak tenang. Bahkan ketika Kharel mau berbicara untuk menyangkal semuanya, Fayra mencoba melarangnya.
Luna kembali berdiri dengan sikap anggunnya seperti merasa tidak bersalah, padahal dia sudah menjadi duri di dalam hubungan Kharel dan juga Fayra.