
"Hem, bo-boleh. Ta-tapi, cuman 1 ya. Dan jangan aneh-aneh, ingat!" ancamnya. Perasaan Fayra benar-benar tidak karuan, ada rasa takut tersendiri ketika tatapan Kharel berhasil membuatnya curiga.
"Siap, Sayang. Cuman 1 kok. Tidak lebih, dan tidak boleh kurang," balasnya.
"Ya udah, katakan apa mau Kakak?"
"Hem, aku mau---"
Kharel meneruskan sisa ucapannya tepat di telinga Fayra. Sehingga membuat tubuhnya langsung menegang dan terasa begitu kaku.
Matanya pun membola, jantungnya berdetak kencang, dan juga wajah mulai memerah menandakan bahwa, Fayra seperti salah tingkah ketika mendengar apa yang diminta oleh calon suaminya.
"Hem, aku mau malam ini aku tidur layaknya seorang bayi yang menyusu pada Ibunya. Bisa? Fyiuhh ...." bisiknya.
Kharel sedikit meniup telinga Fayra, hingga membuat tubuhnya seperti tersengat listrik.
"Di-dia bilang apa? Nyu-nyusu? I-itu artinya dia ... Arghh, tidak, tidak, tidak! Dasar tidak tahu diri, dikasih hati malah minta jantung. Enggak sekalian aja tuker nyawa!" gerutunya.
Fayra begitu kesal didalam hatinya saat mencerna ucapan Kharel.
"Gimana, Sayang. Boleh?" ucap Kharel kembali.
"Yakk, tidak! Enak aja main boleh-boleh, dikata aku ini pabrik susu kali. Udahlah jangan macem-macem kalau mau susu nanti aku belikan saja ke kantin, ya!" jawabnya. Wajah Fayra semakin terlihat kesal.
"Ja-jadi enggak mau nih, katanya apapun yang aku minta akan di kasih, asalkan 1 permintaan. Cuman, sekarang? Sekarang ... Huaa, kamu jahat hiks ...."
Tiba-tiba saja tidak ada angin ataupun badai, Kharel langsung merengek bagaikan anak kecil yang sangat menginginkan sesuatu. Melihat Kharel seperti itu, membuat Fayra sedikit kasihan.
"Ckkk, udah deh. Jangan drama, Kak. Ingat ini udah malam, mending tidur. Besok baru aku buatkan susu yang banyak biar Kakak puas." jawabnya sedikit tegas.
__ADS_1
Bukannya Kharel terdiam, malah tangisannya semakin menjadi-jadi. Fayra melihat itu semakin terdengar berisik, sampai seorang suster masuk dalam keadaan sedikit panik.
Akan tetapi, saat melihat posisi mereka membuat sang suster sedikit terkejut. Fayra segera menjelaskannya pada sang suster agar tidak salah paham.
Setelah itu sang suster mencoba untuk memberitahu Kharel agar dia mau terdiam, tapi nihil. Tangis Kharel malah semakin berisik, membuat Fayra segera mengambil tindakan.
"Sudah, Sus. Gapapa biar saya yang coba membuatnya mengerti, terima kasih sudah memberitahu kami dan terima kasih suster sudah tidak berpikir buruk tentang kami." ucap Fayra.
"Baik, Nona. Saya mohon untuk membuat Tuan menjadi tenang, karena ini sudah malam. Banyak pasien yang sedang beristirahat, termasuk Tuan juga agar kondisinya semakin pulih." ucap suster.
Fayra tersenyum menganggukkan kepalanya sambil berjalan menemani sang suster untuk sampai di pintu keluar.
Kemudian, setelah perginya sang suster Fayra kembali menutup pintu utama, menuju kamar Kharel dimana dia langsung mengunci kamar itu.
"Huhh, terpaksa enggak ada cara lain. Jika tidak seperti ini bisa-bisa semua pasien akan mendemonya secara terang-terangan!" gumam batin Fayra.
"Hiks, kamu jahat Sayang jahat hiks! Katanya tadi boleh, tapi kenapa saat aku meminta susu saja kamu malah menolaknya. Padahal 'kan aku tidak macam-macam loh, kamu juga bentar lagi akan menjadi istriku."
"Cuman, huaaa ... Aku mau susu, mau susu, mau susu hiks! Kamu jahat kalau enggak membe---"
"Hempt ...."
Rengekan Kharel terhenti ketika mulutnya sudah tersumpel apa yang dia mau. Kok bisa? Bagaimana caranya? Bukanya tadi Fayra membantah semua itu? Lantas apakah dia tidak malu?
Jawabannya hanya 1. Semua itu karena Fayra sudah jengah dengan suara rengekan Kharel yang terdengar begitu menyebalkan.
Saat sang suster pergi, Fayra mengunci pintu kamar Kharel lalu berjalan perlahan mendekati bangkar. Dimana Kharel terus mengoceh tanpa henti, membuatnya sangat pusing.
Fayra naik ke atas bangkar, lalu memiringkan tubuhnya mendengar setiap ucapan Kharel yang rasanya ingin sekali membuat Fayra membekap mulutnya itu dengan tangan.
__ADS_1
Namun, nihil! Dengan menyampingkan rasa malu dan egonya, segera mungkin Fayra membuka 3 kancing kemejanya hingga dia mengeluarkan salah satu miliknya yang sebelah kanan. Lalu, menyumpel mulut calon suaminya dengan sedikit menarik Kharel agar mau menoleh kearahnya.
Dan, hap!
Kharel melahap gundukan kenyal itu dengan sangat agresip, sehingga membuat Fayra sedikit meringis akibat gigitan yang Kharel berikan sedikit mengagetkannya.
"Awsshh, yakk! Jangan di gigit bo*doh! Gimana kalau milikku putus, hah!" pekiknya kesal.
"Hihi, maaf Sayang. Habisnya gemes sih, jadi enggak sengaja aku gigit deh. Cuman tenang aja itu refleks aja kok, aku janji enggak di gigit lagi, cuman kalau gemas maklumin aja ya hehe ...." jawabnya.
Cengiran kuda menghiasi Kharel membuat Fayra yang tadinya ingin marah, sekarang malah terkekeh geli. Rasanya Fayra benar-benar seperti memiliki Big Baby yang baru, setelah Big Baby yang dulu menghilang ditelan bumi.
Anehnya, ada sensasi perbeda tersendiri antara Kharel dan Ace. Membuat Fayra bisa merasakan getaran cinta diantara keduanya memang sangatlah jauh.
Apapun hal kecil yang Kharel lakukan mampu mengukir senyuman di bibir Fayra, walaupun dia rasanya ingin marah. Akan tetapi, semuanya kandas saat melihat wajah polos seorang Kharel yang saat ini sedang menikmati mainan barunya.
"Sehat-sehat ya, Sayang. Jangan sakit lagi, kita sama-sama berjuang untuk membuka pintu kebahagiaan itu. Aku janji aku tidak akan meninggalkan Kakak!" ucap Fayra.
Tangannya mengelus kepala Kharel dengan lembut sambil tersenyum. Sementara Kharel yang menikmati suasana baru hanya bisa mengangguk, tangan satunya menganggem milik Fayra yang sebelah kiri. Benar-benar persis seperti anak bayi yang sedang menyusu.
Awalnya Fayra cukup risih, dan kesal. Setelah menyaksikan Kharel begitu nyaman di dalam dekapannya, langsung membuat Fayra merasa senang.
Perlahan mata Kharel mulai menutup, saat merasakan usapan tangan Fayra sangat nyaman. Hingga mainan yang ada di dalam mulutnya semakin nyaman. Dan tak terasa Kharel memejamkan kedua matanya.
Kurang lebih 15 menit berlalu, Fayra mulai menguap menandakan bahwa dia pun sudah mulai mengantuk. Bagaimana tidak, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi.
Saat Fayra mau melepaskan miliknya dari mulut Kharel, membuatnya semakin menyesap kuat.
Seakan-akan Kharel tidak mau melepaskannya, meskipun rasanya cukup sedikit perih. Fayra sudah tidak mau ambil pusing, dia malah memilih untuk tertidur akibat matanya sudah tidak bisa dikondisikan lagi dan posisinya masih dalam keadaan menyusuin Big Babynya.
__ADS_1
Untung pintu kamar sudah dikunci, jadi jika mereka kesiangan pun tidak akan ada yang bisa melihat keadaan mereka yang seperti ini.
Hanya pintu utama yang tidak di kunci, semua ini berkat pesan kedua orang tua Kharel yang mewanti-wanti Fayra agar tidak sampai membiarkan orang tak dikenal masuk tanpa sepengetahuannya.