
"Idish, kalau memang banyak wanita melirik Bapak, kenapa Bapak milihnya saya."
Seketika perkataan Fayra yang asal ceplas-ceplos berhasil membuat Kharel terdiam seribu bahasa, dia tidak tahu harus menjawab apa lagi. Apa yang Fayra ucapkan memang benar, bahkan dia sendiri juga bingung. Kenapa hatinya bisa sampai memilih Fayra untuk menjadi pendampingnya tanpa disadari.
"Lah, dia ge'er dong. Siapa juga yang milih kamu menjadi pendamping hidup saya!" jawab Kharel, menutupi semua kegugupannya.
"Yeee, ada juga Bapak yang ge'er. Siapa juga yang bilang begitu! Wah, jangan bilang Bapak sudah ada niatan, buat menjadikan saya pendamping Bapak yang sebanarnya bukan pura-pura. Iyakan?" Fayra membolakan matanya saat mendengar ucapan Kharel.
Degh!
"Mam*pus. Ngomong apaan sih Kharel, Kharel! Bisa-bisanya asal jeplak seperti itu, mau taruh dimana mukamu ini. Astaga!" gerutuk Kharel didalam hatinya.
Fayra yang melihat Kharel terdiam dalam keadaan wajah mulai memerah, menahan malu. Sama halnya seperti dirinya yang juga merasa terkejut, tetapi berusaha untuk tetap menutup perasaannya.
Sampai akhirnya kesunyian mulai menyelimuti mereka, membuat keduanya merasa canggung satu sama lain.
Tanpa disengaja Fayra menatap kearah mangkuk soup tersebut, membuatnya langsung mengambil alih dan segera menyuapin Kharel.
Fayra mengarahkan sendoknya kearah mulut Kharel, hingga membuatnya membuka secara perlahan. Rasanya ini baru pertama kali Kharel kembali mencicipi soup dari sekian lamanya soup menjadi musuh bebuyutannya.
Satu suapan lolos masuk kedalam mulut Kharel, dan membuat bibirnya seketika terdiam tanpa bergerak untuk mengunyah makann yang ada didalam.
"Ya, ampun Pak. Kalau makan itu di kunyah jangan diem begitu. Apa perlu saya harus turun tangan untuk mengunyahi makanan itu biar Bapak tinggal telen gitu!"
Kalimat yang Fayra ucapkan kali ini benar-benar membuat Kharel langsung menelan bulat-bulat makan yang ada didalam dmulutnya tanpa aba-aba.
__ADS_1
Semua itu berkat keterkejutan Kharel setelah mendengar ucapan Fayra. Seakan-akan Kharel malah berpikir bahwa setelah Fayra mengunyah makanan tersebut, kemudian dia akan menyuapini dirinya menggunakan mulut secara langsung.
"Yakk, tidak tidak tidak! Saya tidak mau, bibir saya ini masih disegel, jadi jangan pernah menodainya!" sahut Kharel tanpa sadar membuat Fayra yang sedang menatap kearah mangkuk sambil menyendokkan soupnya, langsung terlepas begitu saja.
"Hahh, a-apa maksud Bapak?" tanya Fayra dalam keadaan suara terdengar sangat terbata-bata. Bagaikan seseorang yang berada didalam kepanikan.
Saking Kharel sudah tidak bisa menutupi wajah malunya, dia langsung merebut soup dari tangan Fayra. Kemudian dia memakannya sangat lahap, akibat rasa gugupnya sudah mulai membara didalam hatinya.
"Lah ini orang kenapa, perasaan tadi minta disuapin kok sekarang malah makan sendiri. Dan lihat itu, cara makannya kaya orang enggak makan sebulan. Bilang enggak doyan, tapi malah lahap begitu."
"Aneh kan? Ya memang begitulah dia, klau bukan aneh ya menyebalkan. 2 sifat itu menjadi ciri khas seorang Bapak Kharel yang terhormat."
Fayra bergumam kecil, bahkan terdengar sangat lirih bagaikan orang yang sedang berbisik-bisik.
Fayra pergi kearah kamar mandi sebentar untuk menutupi rasa gugup didalam hatinya. Sementara Kharel dia masih terdiam mencoba untuk menetralkan degup jantungnya yang mulai tidak sehat.
Disaat Kharel sedang memainkan ponselnya, tiba-tiba pintu kamar ruangannya pun terbuka bersamaan dengan pasangan paruh baya dalam keadaan cemas.
"Kharel, kamu gapapa, Nak?" ucap seorang wanita paruh baya yang mana itu adalah Mamah Xavia.
Dia terlihat begitu panik ketika mengetahui kondisi anaknya saat beberapa menit lalu, ketika mereka menghubungi Kharel dengan tujuan untuk menanyakan tentang perjodohan.
Kharel menatap kedua orang tuanya dengan bola mata yang menatap tajam dan hampir saja keluar dari tempatnya. Kharel tidak menyangka jika orang tuanya datang menjenguknya disaat yang tidak tepat.
__ADS_1
"Ma-mamah, Pa-papah? Ka-kalian nga-ngapain kesini?" tanya Kharel, dengan wajah terkejut.
"Ya kami khawatirlah saat denger kamu ada disini, apa lagi Mamahmu itu. Dia langsung kaya kebakaran jegot, ketika tahu anak kesayangannya lecet." celetuk Papah Jerome, cuek.
Papah Jerome berjalan perlahan mendekati bangkar anaknya, sambil melihat istrinya sedang mengecek kondisi anaknya.
"Ya, ampun Baby Boyku. Apa yang terjadi sama kamu, Sayang." ucap Mamah Xavia, sambil memegang wajah Kharel sambil mengelus kepalanya.
"Yakk, Mamah! Stop memanggilku seperti itu. Aku ini sudah besar tahu, cukup panggil namaku Kharel!" tegas Kharel.
"No, sampai kapanpun kamu tetap Baby Boy Mamah yang menggemaskan." sahut Mamah Xavia, mencubit pipi Kharel gemas.
"Aarghhh, Mamah!" rengek Kharel, mencoba melepaskan tangan Mamah Xavia dari pipinya.
"Hihi, lutuna anakku. Utu, utu, utu, tayang ...." ucap Mamah Xavia, yang sudah tidak bisa menahan rasa kangennya. Apa lagi, semenjak perjodohan itu Kharel memilih untuk tinggal di Apartemennya guna menghindari pertanyaan yang membuatnya pusing.
Namun, ketika Mamah Xavia ingin memeluk Kharel lantaran dia sudah sangat merindukan Baby Boynya yang sudah hampir 3 bulan ini tidak tinggal bersamanya, tiba-tiba saja seseorang menarik Mamah Xavia hingga membuatnya menjauhi Kharel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️
__ADS_1