
Namun, dia malah dengan santainya bernyanyi, meski suaranya tak sebagus para penyanyi kelas atas, tetapi makna dari liriknya bisa sampai menusuk kedalam hati.
Pria itu, terus berjalan mendekati salah satu wanita cantik yang setiap hari berhasil membuatnya jatuh cinta.
Sebagian tamu undangan ada yang merekam kejadian langka ini, dan ada pula sebagian yang penasaran dengan sosok pria dibalik topeng tersebut.
Langkah pria tersebut semakin dekat, sampai akhirnya dia berhenti tepat didepan wanita yang sangat cantik.
Wanita itu terlihat benar-benar syok, saat pria bertopeng sudah berlutut dihadapannya. Kemudian tangan pria itu mulai memegang tangan kanan sang wanita, sampai membuatnya sedikit memberikan efek kaget.
"Sudah lama aku menunggu momen-momen seperti ini, cuman disaat aku mau mengutarakan perasaan ini. Mulutku selalu terkunci dengan embel-embel takut akan penolakan."
"Sampai pada akhirnya aku mulai mengumpulkan semua keberanian, kepastian dan juga tekat yang kuat didalam diriku, demi mengutarakan semua perasaan ini padamu."
"Mencintaimu adalah sebuah anugerah terbesar yang Tuhan berikan kepada manusia. Cinta bukanlah tentang berapa lama kamu mengenal seseorang, melainkan tentang seseorang yang mampu membuatmu tersenyum sejak saat kamu mengenalnya."
"Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa kamu sangat spesial. Dan satu-satunya alasanku memberitahumu adalah karena aku tidak yakin sebelumnya ada pihak lain yang sudah pernah memberitahumu."
"Aku ingin menceritakan kepadamu tentang hari-hariku. Dimana aku ingin tertawa bersamamu tentang dirimu."
"Namun, semua hari dimulai dan berakhir sama. Bahkan ada gelap dan juga terang. Sehingga hari-hariku akan dimulai dan berakhir tanpamu. Maukah kamu menerima pria yang penuh dengan kekurangan ini, untuk menjadikan dirinya sempurna dengan keberadaanmu didalam hidupnya?"
Pria bertopeng tersebut, perlahan mulai membuka penutup topengnya hingga muncullah wajah tampan seorang pria yang sangat wanita itu kenal.
"Ni-nicho? Lu-lu nga-ngapain sih kaya gini, ma-malu maluin tahu emggak!" tegas wanita itu, wajahnya mulai memerah melihat kearah sekelilingnya. Dimana semua orang sedang menatap penuh kagum kearah mereka.
__ADS_1
"Aku tahu, Shel. Aku memang mantan seorang playboy, tetapi apakah aku tidak berhak merasakan kebahagiaan yang abadi bersama dengan wanita yang aku cintai? Salahkah aku, jika aku berharap banyak padamu, tentang cinta ini? Salah? Tidak, kan!"
"Jika aku bisa memilih, maka aku akan meminta waktu kembali berputar dimana aku bisa bertemu denganmu untuk pertama kalinya. Sehingga tidak akan ada luka masa lalu diantara aku ataupun dirimu."
"Hanya saja Tuhan berkata lain, Dia mempertemukan kita disaat yang seperti ini agar kita bisa mengerti jika cinta bukan hanya sekedar kebahagiaan, tetapi cinta juga soal perjuangan. Tidak akan ada pria yang tidak memperjuangan wanitanya, jika wanita itu tidak penting didalam hidupnya."
"Dari masa lalu aku belajar bahwa cinta bukanlah sebuah pemainan, melainkan perasaan yang terukir didalam hati. Cinta tidak bisa ditentukan untuk siapa dan bagaimana cara mengendalikannya."
"Untuk itu ...."
Nicho menghentikan ucapannya, sambil melepaskan tangannya dari tangan Sheila lalu meraba saku jas yang berada didalam.
Sebuah kotak kecil berwarna merah berbentuk hati, telah keluar dari saku jas milik Nicho.
Tanpa berpikir panjang, Nicho membuka kotak tersebut bersamaan munculnya sebuah cincin berlian yang sangat cantik. Kilauan sinar yang terpantul dari cincin itu, berhasil membuat semua orang terpikau akan keindahannya.
"Namun, di masa ini dan masa depan aku ingin menjadi pria yang selalu menghargai keberadaanmu, cintamu, dan juga kesetiaanmu. Maka dari itu, apakah kamu bersedia menjadi kekasihku, teman hidupku, sahabatku, teman berantemku, bahkan Ibu dari anak-anakku kelak?"
Nicho mengatakannya dengan tegas dan lugas, meski dalam hatinya bagaikan genderang perang. Terlihat jelas wajah Nicho yang teramat menegang penuh kepanikan.
Sheila tidak percaya sama sekali, jika Nicho yang dia kenal benar-benar terlihat berbeda dari biasanya. Pria yang terlihat selalu bercanda untuk menggodanya, kali ini terlihat penuh keseriusan.
Kedua bola mata Nicho terlihat begitu indah, dihiasi oleh air mata yang hampir saja tumpah. Sedangkan Sheila, dia lebih memilih diam dengan semua pikirannya.
Ada perasaan haru dalam hati Sheila, dia tidak menyangka akan mendapatkan pernyataan cinta seperti ini.
__ADS_1
Perlahan Sheila mengigit bibir dalamnya akibat rasa bahagia yang membuncah, kedua matanya sudah berkaca-kaca hingga pelupuk matanya menggenang air mata.
Hanya saja semua bayangan akan masa lalunya yang begitu menyakitkan, kini kembali terngiang-ngiang didalam ingatannya.
Semua para tamu yang hadir berteriak memberikan suport, kepada kedua pasangan yang ingin meresmikan hubungannya.
Kata 'terima' selalu telontar keras dari para sahabat dan juga tamu undangan.
Sayangnya, Sheila masih enggan untuk berbicara dan memberikan jawaban isi hatinya kepada Nicho.
Kurang lebih 10 menit lamanya, Sheila enggak untuk mengatakan tentang perasaannya. Sementara Nicho sudah berjuang keras untuk mengukir cinta serta mencoba menanamkan kepercayaa padalnya.
Namun, Nicho yang sudah bisa menebak jika Sheila akan menolaknya langsung berdiri sambil menutup kotak cincin tersebut. Kemudian Nicho memberikannya pada Sheila, sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa, jika kamu mau menolakku. Setidaknya aku sudah berjuang sampai dititik ini, sudah membuatku sangat bangga. Ya, mungkin semua perjuanganku kali ini belum ada artinya apa-apa bagimu. Cuman, aku tidak akan pernah menyerah demi mendapatkanmu."
"Aku janji, suatu saat nanti aku akan kembali berlutut dihadapanmu dengan semua kepercayaan didalam hatimu. Jika aku bukanlah pria yang ada di masa lalumu."
"Penolakan bukanlah akhir dari segalanya, Meskipun terasa sangat menyakitkan, akan tetapi aku akan terus mempertahankan kamu. Karena bagiku kamu memang layak, untuk aku perjuangan sampai titik darah penghabisan."
"Terima kasih, Shel. Karena kamu aku bisa mengenal apa itu cinta dan apa makna yang tersirat didalamnya. Sehingga banyak pasangan yang berhasil membawa cinta menuju kebahagiaan."
Nicho tersenyum disaat air matanya sudah suntuh tepat didepan Sheila. Untuk pertama kalinya, Nicho menangisi seorang wanita, yang mana biasanya wanitalah yang menangisi dirinya.
Tangan Nicho terarah untuk mengusap air mata yang kini telah membanjiri wajah cantik wanita kesayangannya. Setelah puas, Nicho langsung berbalik melangkahkan kakinya untuk meninggalkan acara tersebut.
__ADS_1
Suasanya yang awalnya terkesan begitu manis, dipenuhi oleh keromantisan Nicho. Sekarang telah berubah menjadi sangat menyedihkan. Ada beberapa dari mereka yang ikut menangis, melihat perjuangan Nicho untuk Sheila.
Sama halnya seperti sahabat Sheila, mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi kalau semua ini menyangkut tentang perasaaan. Lantaran mereka tidak bisa ikut campur terlalu jauh tentang masalah hati.